
Brandon menarik kembali tangannya yang sedang dipegang oleh Diego. Dia pun berdiri ke posisinya semula tetapi tatapannya masih tertuju pada pria yang sedang pingsan diatas tempat tidur itu. Diego menekan pelipisnya karena sakit kepala, “Brandon! Kalau lain kali kau masih memukul dia lagi lebih baik kau langsung membunuhnya saja. Jadi kita tak perlu mengkhawatirkan kondisinya dan berusaha menyembuhkan neuropati orang ini.”
Brandon merasa sedikit bersalah dan terbatuk kecil lalu menatap kearah Kenneth dan Anastasya yang berdiri berdampingan, dalam hatinya dia merasa sangat jengkel. Dia mengetahui kalau Anastasya pernah menyelamatkan Kenneth sehingga hubungan mereka agak spesial tetapi tetap saja dia merasa ada luka dihatinya sehingga dia merasa tidak nyaman dimana-mana. Tak lama, Irene pun kembali dengan membawa sebuah koper.
Irene tidak tahu apa yang baru saja terjadi saat dia masuk kedalam ruangan itu dia sudah melihat pasien terbaring diranjang dengan darah mengalir dari hidungnya. Dia tidak tahu apakah pasien itu masih hidup atau sudah mati, dia pun terkejut lalu bertanya, “Ada apa disini?”
Semua orang langsung mengarahkan tatapan mereka pada Brandon. Brandon yang merasa tidak tahan pun berkata, “Aku akan keluar sebentar untuk mencari udara segar.”
Lalu Brandon pun bergegas keluar dari bangsal itu. Irene yang tampak kebingungan pun memeriksa pasien bersama dengan Anastasya. “Dia baik-baik saja kan?” tanya Diego dengan wajah cemberut. Irene menggelengkan kepalanya, “Tidak ada masalah serius, hanya saja dia tidak boleh terluka lagi karena itu akan memperburuk kondisinya. Pasien PTSD sangat rapuh psikologinya jadi jika dia terluka lagi aku tidak tahu apakah dia akan mampu menahan tekanannya itu.”
“Baiklah. Biar aku coba untuk mengobatinya dulu.” ujar Anastasya sambil membuka kotak yang dibawa Irene. Dia memeriksanya sebentar, semua jarum akunpunktur ada didalam kotak itu. Apapun yang dia butuhkan sudah ada disana. Irene pun menatap Anastasya, “Ini semua sudah benar kan?”
“Ya sudah benar, aku akan mulai.Kebetulan dia sedang dalam keadaan koma. Jika dia sadar kondisinya tidak memungkinkanku untuk melakukan akupunktur.”
“Silahkan.” ucap Irene tanpa sadar menggunakan kata sopan.
Sebelum Anastasya memulai pengobatannya, dia mengingatkan Diego, “Tolong bantu aku dengan tes DNA-nya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk memberikanmu hasil yang memuaskan atas pengobatan ini.”
“Baiklah. Aku mengerti.” jawab Diego kemudian berbalik dan pergi dengan dua helai rambut ditangannya. Sebelum dia pergi, dia kembali mengingatkan Irene, “Kau awasi dia. Biarkan saja dia berpura-pura asal tidak menimbulkan masalah saja.”
“Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa.” jawab Irene.
Diego pun keluar dari bangsal lalu menutup pintu. Anastasya mengambil elektro akupunktur untuk melakukan akupunktur dibagian kepala pasien terlebih dahulu. “Apa kau akan menusukkan jarum itu ke kepala pasien?” tanya Irene gugup.”Akupunktur dikepala sangat berbahaya, apa kau yakin bisa melakukannya tanpa resiko?”
Anastasya memutar bola matanya kemudian kembali tenang dan dia meremas jarum ditangannya lalu menusukkannya ke empat titik akupunktur dibagian kepala. Keenan menatap lurus dan memperhatikan setiap gerak-gerik tangan Anastasya. Dia sangat yakin jika Diego ada disini pasti dia sudah mati ketakutan. Karena dia sendiri pun mulai merasa khawatir jika Anastasya membuat pria itu mati.
Keenan pun berjalan kesisi Kenneth dan bertanya dengan suara berbisik, “Itu ditusuk dikepala, apakah aman? Apakah itu tidak akan membuat orang mati kan?”
Kenneth melirik Keenan sambil memberikan isyarat dengan matanya pada Keenan agar diam. Kemudian dia menatap Anastasya yang sedang melakukan akupunktur dengan penuh perhatian. Rasa penasarannya tentang siapa Anastasya pun semakin besar, begitu banyak rahasia yang disembunyikan oleh gadis itu tapi secara perlahan satu persatu mulai terlihat. Setelah akupunktur dibagian kepala selesai, tampak butiran keringat didahi Anastasya yang mulus.
Sebagian besar akupunktur yang ada dipasaran hanya dapat menyembuhkan gejalanya saja tidak sampai ke akar-akar penyebab penyakit. Dan para praktisi akupunktur juga tidak merasakan apa-apa. Meskipun akupunktur ini sebenarnya sangat efektif dan cepat tetapi sangat mudah menguras vitalitas praktisi akupunktur. Setelah selesai menusukkan keempat jarum itu, wajah Anastasya tampak pucat pasi seperti kertas.
Melihat kondisi Anastasya yang lemah, mau tak mau Kenneth pun merasa khawatir, “Kau baik-baik saja?”
Anastasya terengah-engah sambil menggelengkan kepala, “Aku baik-baik saja. Akupunktur kulit kepala memang paling efektif jika dipadukan dengan akupunktur tubuh. Aku masih harus melanjutkan akupunkturnya.” Setelah dia selesai bicara, dia mengeluarkan serangkain jarum perak dari tas. Lalu dia melepaskan pakaian pasien dan menusukkan jarum-jarum perak itu satu persatu.
Anastasya tidak mengerti maksud dari ucapan Keenan jadi dia hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Keenan pun menggelengkan kepala dengan canggung lalu berkata, “Tidak, jangan salah paham. Maksudku berapa lama jarum ini harus ditusuk?”
“Sepuluh ….” jawab Anastasya. Sebelum kalimatnya selesai diucapkan, tiba-tiba seluruh tubuh Anastasya lemas dan lunglai. Dia hanya bisa merasakan egelapan didepan matanya dan jatuh kebelakang.
“Hati-hati!” teriak Kenneth langsung menangkap tubuh Anastasya yang pingsan. Lengannya secara tak sengaja menyentuh leher Anastasya dan mendapati seluruh tubuh gadis itu kedinginan. “Dokter Irene!” teriak kenneth lalu membawa tubuh Anastasya lalu membaringkannya diatas ranjang rumah sakit.
Irene sama sekali tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Kemudian dia bergegas memeriksa kondisi Anastasya. Setelah melakukan pemeriksaan, dengan panik Kenneth bertanya, “Bagaimana kondisinya?”
Irene menghela napas lega, “Dia hanya kehilangan tenaga saja, ini bukan masalah besar. Biarkan dia istirahat sebentar dan tidak akan terjadi apa-apa. Tapi jika kau benar-benar merasa khawatir aku akan meminta suster untuk memberinya sedikit glukosa.”
“Ya sudah cepat pergi.”
“Ok.” Irene pun bergegas pergi.
Begitu dia membuka pintu tanpa sengaja menabrak Diego. “Aduh.”
“Mengapa kau terburu-buru?” tanya Diego tak senang.
Sebelum Irene menjawab, Diego sudah melihat Anastasya yang berbaring diatas ranjang rumah sakit dan pria itu berbaring diranjang lain dengan begitu banyak jarum tertusuk dikepalanya. Dia mengangkat alisnya lalu bertanya pada Irene, “Bagaimana bisa kau mengjinkannya menusuk jarum-jarum itu dikepala pria itu?”
Lalu Diego melangkah dan menghampiri pria itu untuk mencabut semua jarum dari kepala si pria tersebut.
“Diego! Kau mau apa?” dengan cepat Kenneth meraih tangan Diego.”
“Menurutmu? Penusukan jarum dikepala adalah hal yang sangat berbahaya. Kalau penusukan jarum ditubuh tidak apa-apa. Lepaskan tanganku!” ujar Diego marah.
Tapi Kenneth enggan melepaskan tangan Diego, “Tadi Anastasya sudah mengatakan bahwa jarum itu harus ditusukkans elama setengah jam dan iren juga ikut mengawasinya. Kau jangan sembarangan, tidak akan terjadi apa-apa.”
Diego tertawa dengan marah.
“Si Brandon sudah terbuai dengan pesona wanita cantik ini, mengapa kau juga ikut-ikutan? Ini adalah kepala bukan tempat lain! Jika ditusuk lagi kemungkinan besar orang itu akan mati. Kalau sudah begitu bagaimana kita bisa menemukan dalang dibelakang orang ini?”