THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 91. PERYIMBANGKAN DENGAN CERMAT



Kenneth memasang wajah datar, “Tidak peduli apakah kau bercanda atau bukan, kau tetap harus mempertimbangkan saranku. Jika kau menikah denganku maka dengan status sebagai Nyonya Archilles nantinya tidak peduli apakah kau mau mencari tahu kebenaran kematian mamamu atapun membalas dendam semuanya akan jauh lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan statusmua sekarang. Nanti jika semua urusanmu sudah selesai dan aku juga sudah menemukan orang yang ingin aku nikahi, kita dapat bercerai. Bukankah itu hal yang baik?’


 “Ini…..” Anastasya tergagap tak tahu harus mengatakan apa.


Saat itu Diego mengetuk pintu lalu masuk keruangan itu. “Waktunya sudah mau sampai, kalian harus segera kembali ke hotel.” ujar Diego dengan rasa penasaran, “Kalian berdua ini bersikap seperti itu sebenarnya mau menunjukkannya kepada siapa?”


Anastasya menurunkan matanya dan dengan santai berkata, “Papaku atau papaku yang hanya status semua itu saja.”


Diego mengangkat bahunya dan berkata, “Baiklah. Tidak peduli siapapun itu ayo pergi. Tadi aku sudah meminta seseorang untuk membantu kalian mengawasi sebentar. Sekarang di hotel tidak ada siapa-sipa, aku akan meretas kamera CCTV nya sehingga tidak ada seorangpun yang akan tahu kalau kalian pernah keluar dari sana.”


“Terimakasih.” ucap Anatasya dengan tulus.


Diego mendorong kacamatanya dengan sedikit tidak enak hati lalu berkata, “Sahabat sendiri, jangan terlalu sungkan. Ayolah kita pergi dari sini.”


Setelah masalah akupuntur itu, pandangan Diego terhadap Anastasya berubah 180 derajat, dia sudah menganggap Anastasya sebagai sahabat mereka. Dia melihat gadis itu memiliki banyak bakat luar biasa.


Anastasya hanya terkekeh lalu berjalan keluar. Saat dia melewati Kenneth dia mendengar Kenneth berkata, “Kau pertimbangkan kembali masalah ini dengan cermat.”


Anasyasya berhenti sejenak lalu melangkahkan kakinya dan terus berjalan keluar. Diego yang masih merasa penasaran pun mulai kepo dan bertanya, “Masalah apa yang harus dipertimbangkan dengan cermat?”


Kenneth hanya menatap punggung Anastasya yang berjalan didepannya dan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum pada dirinya sendiri dan berjalan keluar.


Diego bergumam pada dirinya sendiri. “Tidak mau kasih tahu ya sudah. Senyum-senyum seperti seekor rubah tua saja. Pasti bukan hal yang baik.”


Dengan cepat Anastasya dan Kenneth kembali ke kamar hotel bersama-sama tanpa menarik perhatian siapapun. Saat pintu suite tertutup, Anastasya menghela napas lega. “Fuuuhhh…..”


Saat dia menoleh, Anastasya melihat ada seorang pria jangkung sedang berada didapur kamar suit itu sambil menggulung lengan bajunya yang panjang dengan rapi. Tangan yang biasanya memegang Ipad itu sekarang sedang memegang wajan penggorengan.


Karena merasa penasaran, Anastasya berjalan menuju dapur dan menghampiri, “Tak kusangka ternyata seorang CEO sepertimu masih bisa memasak.”


Kenneth mengangkat wajahnya sedikit melirik Anastasya, “Hal sepele seperti ini pasti bisalah. Aku hanya bisa masak mie instan, kau mau?”


Kebetulan sekali, Anastasya memang kelaparan sepanjang malam, jadi dia menganggukkan kepala berulang kali, “Mau!”


Hanya dalam waktu singkat mie instant buatan Kenneth pun berubah bentuk menjadi gnocchi, diam-diam Anastasya memalingkan wajah dan menahan tawanya.


“Kalau mau ketawa ya ketawa saja! Tidak perlu ditahan-tahan!” ujar Kenneth dengan tidak senang sambil meletakkan dua pasang alat makan diatas meja. “Ini pertama kalinya aku memasak, wajar kalau gagal!” kata Kenneth lagi membela dirinya.


“Anastasya tidak bisa membedakan antara “memasak” dengan memasak mie instant”, sambil menggelengkan kepalanya dan membayangkan apa yang ada dibenaknya saat ini, dia berkata “Aku tidak menertawakanmu! Pertama kali “memasak” seperti ini….sudah sangat bagus kok. Tetapi dua mangkuk mie ini benar-benar tidak bisa dimakan. Tadi aku melihat ada beberapa bahan makanan di kulkas, lebih baik aku masak sebentar deh.”


Lalu dia menoleh dan menatap Kenneth meminta pendapatnya. “Bagaimana menurutmu? Kau mau?”


“Oke, boleh!” jawab Kenneth cepat. Lalu dia mengambil dua mangkuk mie instant itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan ekspresi datar. Dia sudah tak berselera lagi dengan mie instant yang dia buat sendiri.


Jadi saat Anastasya menawarkan diri untuk memasak, dia langsung menyetujui. Dia berencana mencari kesempatan untuk menertawakan Anastasya yang dia kira tidak tahu memasak.


Kenneth sudah mau repot-repot memasak mie instant malah ditertawakan wanita itu. Dia ingin melihat apa yang bisa dimasak oleh Anastasya dengan bahan-bahan sederhana yang ada didapur.


Dengan karakter seperti Anastasya seharusnya dia tidak pandai memasak, palingan juga hanya bisa bikin kopi atau teh. Kenneth percaya jika wanita itu bisa memasak juga. Lalu Anastasya yang sudah berada didapur memeriksa bahan-bahan makanan yang cukup sederhana tapi semuanya masih segar.


Lalu dia mengambil beberapa macam sayuran lalu mencucinya dengan hati-hati sampai bersih. Anastasya memotong sayuran itu menjadi potongan kecil, lalu dia mengambil daging lalu mengirisnya tipis-tipis. Dia melihat ada udang dan bakso ikan, dia pun membersihkan udang dan bakso ikan.


Anastasya menyiapkan bumbu untuk sayur capcay. Setelah semuanya siap, dia mulai menumis bumbu lalu memasukkan daging, udang dan bakso ikan. Setelah itu dia pun memasukkan sayuran, menunggu capcay nya selesai dimasak, dia mengambil beberapa telur untuk di buat fuyunghai. Aroma makanan pun menguar memenuhi dapur.


Kenneth yang berdiri disana mengawasinya tanpa mengedipkan mata, dia terpesona dengan apa yang dilakukan Anastasya didapur, dia terlihatan cekatan dalam setiap gerakannya. Aroma wangi dari masakan Anastasya sontak membuat Kenneth menelan ludahnya menahan lapar.


Kenneth yang baru pertama kali memasak pun merasa bahwa memasak seperti itu pasti butuh konsentrasi tetapi Anastasya malah terlihat seperti sedang melakukan sebuah seni. Wanita itu memiliki sepasang tangan yang ramping dan jari jemari yang luwes.


Anastasya tidak sadar jika Kenneth menatapnya terus, setelah dia selesai membuat capcay dan juga fuyunghai, dia menyajikan diatas piring dengan hiasan timun dan tomat yang diukir seperti bunga.


Dia juga membuat sambal karena Anastasya menyukai sambal pedas dan kebetulan ada cabai dikulkas. Dia mengecek nasi yang sudah matang lalu Anastasya membuat jus timun campur nenas dan madu. Lengkap sudah makanan terhidang diatas meja. Mata Kenneth membulat menatap takjub makanan yang terlihat cantik dan menggugah selera.


“Kau sering memasak ini?”  tanya Kenneth tak sadar.


“Ya bisa dibilang begitu. Ketika aku diluar…...di pedesaaan maksudku, kadang aku masak sendiri karena lebih irit dan lebih enak juga. Memasak seperti ini tidak butuh waktu lama.


“Oohhhh!” Kenneth pura-pura tidak memperhatikan ucapan Anastasya yang hampir keselip tadi dan dia pun duduk di kursi.