
Clarissa pun tak mau kalah ingin mempermalukan Anastasya juga.”Ya benar sekali itu Tuan Muda Archilles. Wajar jika kau mengubah kebiasaan dalam pemilihan brand ambassador tapi setidaknya kau harus memberikan pemberitahuan sebelumnya dan tidak mendadak seperti ini! Lagipula dia hanya gadis desa, bagaimana bisa kau memilihnya sebagai brand ambassador?” protes Clarissa.
Keributan pun mulai terjadi diruangan itu, semua yang hadir mulai berbisik-bisik satu sama lain. “Apakah benar gadis itu berasal dari desa?”
“Ya, bukankah wanita itu mengatakannya tadi? Dia bukan saja dari desa tapi juga tidak tahu minum kopi. Bagaimana bisa begitu?”
“Tidak masalah darimana dia berasal tapi sangat tidak cocok untuk mendapatkan gelar itu jika dia tidak tahu apa-apa tentang kopi.”
Melihat protes dari para hadirin membuat Natasha merasa menang dan mengambil mikrofon, “Anastasya bukankah kau hanya bermodalkan kecantikanmu saja untuk mendapatkan gelar brand ambassador? Kau sungguh menyedihkan! Hanya bisa mengandalkan kecantikan saja karena kau tidak memiliki keahlian lain yang bisa kau andalkan! Sungguh tak tahu malu!”
Anastasya menatap adiknya dengan tatapan tajam dan dingin membuat Natasha terkejut. Lalu Natasha menatap kearah Kenneth dan bahkan pria itu menatapnya lebih dingin dan menakutkan. Kini dia merasa ketakutan untuk melihat Kenneth lagi.
Natasha pun menghela napas dalam-dalam, “Bukankah apa yang kukatakan itu benar? Jika bukan karena kecantikanmu mana mungkin kau bisa mendapatkan gelar brand ambassador! Kau bahkan tidak pernah minum kopi!”
“Siapa yang bilang kalau aku tidak pernah minum kopi? Apakah aku pernah mengatakannya atau itu hanya pemikiranmu saja?” tanya Anastasya dengan kesal.
Natasha merasa ini adalah kesempatannya untuk mempermalukan Anastasya lagi, kali ini dia tidak akan memberikan peluang pada Anastasya untuk menang. “Baiklah. Apakah kau berani kutantang untuk membuktikannya? Jika kau menerima tantanganku dan memenangkannya maka aku akan mengikhlaskanmu mendapat gelar brand ambassador!”
Kenneth yang sudah merasa kesal dan muak dengan sikap Natasha ingin mengatakan sesuatu namun tatapan mata Anastasya menghentikannya. “Ok. Siapa takut! Aku terima tantanganmu!” ujar Anastasya penuh percaya diri.
Dia tahu jika ini hanyalah akal-akalan Natasha dan dia ingin mengikuti permainan adiknya itu. Clarissa pun tidak tinggal diam, segera dia menemui penyelenggara acara untuk mempersiapkan semuanya. Diapun ingin melihat Anastasya mempermalukan dirinya didepan semua orang. Penyelenggara acara segerea menyiapkan dua buah meja ke atas panggung beserta peralatan yang diperlukan untuk meracik kopi.
Tatapan Kenneth begitu cemas melihat Anastasya tetapi saat dia melihat Anastasya menatapnya seolah menyakinkannya kalau dia akan baik-baik saja maka Kenneth pun menghela napas lega dan tenang. Pembawa acara melihat kearah kedua gadis itu yang sudah berdiri didepan meja masing-masing.
“Baiklah. Kedua peserta akan memulai kompetisi Coffee Art sekarang. Silahkan dimulai!”
Natasha pun mulai beraksi, untuk membuat coffee art tentunya harus menyiapkan kopi dengan menyeduh kopi dan kedua peserta diwajibkan untuk membuat kopi sendiri. Terlihat Natasha begitu luwes saat menimbang biji kopi dan memasukkannya ke dalam penggiling kopi, gerakannya luwes dan serius. Gadis itu menyempatkan untuk melirik kearah Anastasya dan wajahnya pucat pasi karena terkejut.
‘Bagaimana mungkin dia bisa menyeduh kopi dengan baik? Kenapa dia bisa begitu terampil dengan semua peralatan itu? Batinnya.
Anastasya melipat kertas saring lalu meletakkannya diatas cangkir penyaringan kopi. Lalu dia mengambil air panas yang mendidih dan menuangkannya ke kertas saring dengan gerakan memutar mengikuti arah jarum jam. Melihat itu Natasha semakin gusar dan kehilangan konsentrasinya.
Hanya pembuat kopi profesional saja yang tahu cara itu. Karena cara itu untuk membuat posisi kertas saring dan cangkir lebih pas sekaligus bisa menghilangkan bau kertas saring. Cara itu juga untuk menghangatkan bagian bawah cangkir untuk mendapatkan seduhan kopi yang lebih nikmat.
Anastasya menguasai semua metode dan teknik menyeduh kopi dan caranya bekerja terlihat terampil dan indah. Dia benar-benar terlihat seperti seorang ahli pembuat kopi. Wajah para hadirin yang menatap dari bawah panggung pun terkejut, gadis desa itu benar-benar tahu cara menyeduh kopi dan dia terlihat seperti seorang profesional!
Benak Natasha tertegun sejenak, dia berusaha menyakinkan dirinya jika dia tidak sedang berhalusinasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua yang direncanakannya tidak berjalan sesuai harapannya? Bukankah Anastasya hanya seorang gadis yang tinggal dipedesaan dan tidak berpendidikan?
Tanpa sadar Natasha mencubit tangannya sendiri lalu dia menundukkan kepala untuk fokus membuat kopi. Ah….tidak masalah jika Anastasya bisa menyeduh kopi, itu tidak berarti dia juga tahu cara menghias kopi! Pasti gadis desa itu tidak tahu bagaimana membuat coffee art, bukan? Gumamnya dalam hati.
Natasha sudah selesai menyeduh kopinya dua kali dan dia tersenyum saat melihat Anastasya baru akan menyeduh kopinya kedua kali. Dia pikir bahwa Anastasya tahu cara menyeduh kopi karena dia pernah bekerja diwarung kopi di desa. Kini Anastasya sudah selesai menyeduh kopinya yang kedua kali. Pembawa acarapun mengumumkan kompetisi coffee art dimulai.
Jika kegiatan menyeduh kopi hanyalah kegiatan yang sederhana dan tidak sulit, tapi di tahap coffee art inilah tantangannya. Coffee art menggunakan susu murni dan setiap orang harus membuat tema Latte Art-nya sebelum mulai menghias kopi. Natasha dengan penuh bangga dan tersenyum memperkenalkan tema Coffee Art miliknya, “Aku membuat tema matahari yang bersinar dari balik pengunungan. Pemandangan pengunungan dengan cuaca dingin dan rumah pedesaann yang sederhana.”
Saat giliran Anastasya memperkenalkan tema Coffee Art-nya. Dia memegang mikrofon dan diam sejenak untuk berpikir tema yang tepat untuk Coffee Art miliknya. “Tema milikku adalah hembusan angin musim bunga mengiringi indahnya bunga dan pohon buah yang bermekaran membawa kedamaian.”
Saat mendengar ucapan Anastasya yag puitis membuat Natasha cembetu dan memaki dalam hatinya. ****** kecil itu ikut-ikutan membuat tema puitis….cuihhhh memangnya dia pernah sekolah? Natasha membandingkan dengan dirinya yang lulusan universitas ternama dengan jurusan seni dan dia juga pernah belajar politik untuk meningkatkan pengetahuannya.
Dia mengacuhkan Anastasya yang menurutnya tidak sebanding dengannya. Natasha mulai fokus melukis menggunakan susu murni, dia menutupi permukaan kopi dengan susu murni lalu mengambil alat lukis untuk menggambar matahari dan pengunungan berikut rumah kayu kecil. Lukisa diatas kopi seduhannya terlihat hidup seperti gambaran cuaca dialam pedesaan yang dingin.
Dengan cepat Natasha melukiskan semua imajinasinya tentang tema dari Coffee Art-nya. Layar monitor yang memperlihatkan aktivitas kedua gadis itu menjadi sorotan para hadirin. Saat video lukisan coffee art milik Natasha diperbesar, semua orang menatap dengan kagum. Mereka menilai jika gadis itu benar-benar berjiwa seni.
“Caranya melukis diatas kopi sangat bagus. Kopi seperti itu bisa dijual di cafe dengan harga mahal.” ujar seorang tamu undangan.
“Ini benar-benar karya seni, bukan sekedar latte art.”
“Wah….hebat sekali gadis itu. Pantas saja dia menjadi juara pertama kompetisi kopi.”
“Wajar jika The World Coffee Institut adalah tempat belajar seni kopi terbaik, terbukti para lulusannya punya keahlian yang sangat bagus.”
Clarissa yang mendengar pujian-pujian dari para hadirin pun menjadi bangga dan senang, dia semakin yakin putrinya akan menang dan tidak mengecewakan. Putrinya sangat terampil dan membanggakan.