
“Terimakasih, Ken.” ucapnya.
“Kenapa kamu memanggil namanya? Kamu tidak sopan!” geram Danendra.
“Tidak apa-apa. Dia bisa memanggil namaku sesukanya jika dia mau. Aku yang harus berterimakasih pada Anastasya karena bersedia bekerjasama dengan kami.” ujar Kenneth. “Aku ingin bicara berdua saja dengan Anastasya mengenai kerjasama kami. Anda bisa menunggu diruang sebelah bersama anak buahku sekalian menandatangani kontrak.
“Baik...baik. Silahkan kalian bicara dengan santai. Aku akan menunggu diruang sebelah.” ucap Danendra kesenangan. Akhirnya apa yang diimpikannya berhasil didapat, setelah ini dia akan bebas keluar masuk gedung itu dan punya kesempatan untuk dekat dan berada dilingkungan bisnis kelas atas.
Dengan senyum diwajahnya, danendra pergi keruang sebelah dengan seorang karyawan Kenneth. Kini hanya mereka berdua saja diruangan itu.
“Ken...maafkan papaku. Dia sudah bertingkah konyol tadi.” kata Anastasya menggigit bibir bawahnya. Mata Ken menatap bibir gadis itu yang menarik dimatanya. “Kenapa minta maaf?” Tanya Kenneth.
Anastasya menatap Kenneth, tidak tampak ejekan maupun penghinaan dimata terlihat Kenneth sangat menghormatinya.
“Terimakasih Ken.”
“Sudah cukup berterimakasih. Kamu sedikit-sedikit mengucapkan ‘maaf’ dan ‘terimakasih’. Duduklah, kita harus bicara bisnis.” kata Kenneth menunjukkan kursi disebelah Anastasya.
Anastasya duduk dikursi itu, mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya, Anastasya bisa melihat bulu mata Kenneth dengan jelas.
“Cafe Moonlight adalah proyek besar yang kami utamakan tahun ini. Tugas-tugasmu akan banyak, selain syuting ada juga webcasting, pemotongan pitang dilokasi, pemotretan untuk promosi dan juga menjadi pembicara mewakili Cafe Moonlight dan lainnya.” Kenneth menyodorkan tangannya, “Ini jadwalmu untuk minggu ini. Silahkan baca dulu.”
Anastasya membaca jadwalnya yang padat, dia membacanya dengan cermat dan menggangguk. “Baiklah. Aku akan bekerja dengan baik. Tidak ada masalah bagiku dengan jadwal ini.”
“Aku tahu kalau kamu tidak pernah berkeinginan untuk menjadi Brand Ambassador kami, iyakan? Jadi kenapa tiba-tiba kamu mau bekerjsama denganku?” tanya Kenneth. Anastasya melemparkan senyum ringan, “Aku punya alasan sendiri kenapa menerima pekerjaan ini. Kamu tidak perlu khawatir, aku janji akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakanmu.”
“Hem….” Kenneth berdiri “Mereka mungkin sudah selesai menandatangani kontrak. Kamu bisa pulang dan beristirahat untuk hari ini. Mulai besok akan ada tim yang akan bersamamu dan kamu bisa memberitahu mereka apapun yang kamu perlukan.”
“Baik. Terimakasih Ken.”
Kenneth menatapnya dengan mata tajam “Aku sangat penasaran, apakah Danendra Hilman itu benar-benar ayah kandungmu? Aku rasa kamu perlu menyelidiki tentang itu. Ayahmu tidak mirip denganmu, kalian berdua sangat berbeda dalam banyak hal.”
Anastasya terdiam, memang betul yang dikatakan Kenneth. Danendra dan Anastasya tidak memiliki kemiripan dalan wajah maupun karakter.
Saat Kenneth menyinggung soal itu, secara tidak sadar telah tertanam benih keraguan didalam hatinya. Anastasya mulai meragukan jika Danendra itu ayah kandungnya. Anastasya berjalan keluar ruangan bersama Kenneth, Danendra sudah selesai dengan tandatangan kontrak. Tampak dia memegang kontrak ditangannya sambil tersenyum seolah dia menggenggam harta karun ditangannya.
“Ini proyek penting bagi Archilles Corp, jadi aku yang akan menindaklanjuti langsung seluruh prosesnya.” ujar Kenneth tanpa menoleh pada Danendra.
Penanggung jawab proyek yang berjalan dibelakang mereka terkejut mendengar ucapan Kenneth. Tidak biasanya CEO mereka turun tangan langsung menangani proyek itu. Apakah proyek Cafe Moonlight ini adalah proyek pribadinya? Lalu dia memandang Anastasya sejenak dan memahami situasi itu. Kini dia sudah mengerti ada sebuah rahasia besar yang telah ditemukannya. Rahasia antara Kenneth dan Anastasya.
Kenneth benar-benar mengantar Anastasya dan Danendra sampai ke pintu masuk perusahaan. Dia bahkan tersenyum hangat dan mengucapkan salam perpisahan pada Anastasya.
***
Di sebuah gedung pertunjukan terbesar yang merupakan salah satu proyek investasi dari Archilles Corp, audisi film sedang berlangsung. Natasha berada disana untuk mengikuti audisi. Film ini juga salah satu proyek dari Archilles Corp yang menceritakan tentang bencana besar yang menimpa negeri ini, film itu berjudul “Akhir Kejayaan”. Film itu menggambarkan tentang serangan bencana alam dan invansi asing. Di film itu pemeran utama berprofesi sebagai seorang detektif polisi yang membantu semua orang melarikan diri dan bekerja sebagai mata-mata untuk mendapatkan informasi dari musuh.
Film semacam itu jarang dibuat, dengan membaca naskah cerita dan tim produksi saja, Natasha yakin jika film itu akan populer. Jadi dia ingin mendapatkan posisi pemeran utama! Dengan begitu dia akan terkenal dan bisa semakin dekat dengan Kenneth. Dia juga bisa membanggakan diri dikalangan sosialita kelas atas. Akhirnya sampailah giliran Natasha untuk audisi.
Tampak sutradara Eros Bratadikara sedang membaca profilnya dan mendapati bahwa Natasha pernah ikut sebagai model untuk sebuah lagu dan juga penari, dia sama sekali tidak punya pengalaman akting. Natasha berjalan dari belakang panggung dengan percaya diri dan saat tiba diatas panggung dia mendonggakkan wajah. Eros mengeryitkan keningnya melihat ekspresi Natasha. “Langsung berakting saja, jangan membuang waktuku. Kau tidak punya pengalaman akting sama sekali.” ujarnya dingin.
“Kau akan berperan sebagai pemeran utama wanita dan dalam ceritanya ibumu ditangkap oleh musuh dan disiksa lalu dibunuh dengan sadis. Mulailah!”
Natasha yang belum pernah berakting tidak tahu harus bagaimana, dia juga tidak tahu bahwa dia harus cepat tanggap dan mulai berakting. Dia diam membeku dan berpikir ‘ibunya ditangkap musuh dan disiksa lalu dibunuh dengan sadis.’ Itu berarti dia harus merasa sedih….ya sedih. Dia harus menangis. Lalu Natasha mencubit pahanya kuat-kuat lalu tersungkur dilantai lalu menangis histeris.
“Mama…..mama…...hiks hiks hiks…...kenapa kau tinggalkan aku? Huuuuu…...aku tidak bisa hidup sendirian mama…..”
Wajah Eros langsung terpana, seluruh ruangan mendadak hening melihat akting Natasha yang menangis histeris. Ini sangat keterlaluan…..sang sutradara pun tidak bisa berkata-kata. Bukankah karakter pemeran utama adalah seorang wanita kuat dan gagah berani.
Wanita itu seorang detektif dan agen rahasia. Seharusnya dia membalas dendam dengan kematian ibunya…..tapi kenapa wanita itu malah menangis histeris sambil berbaring dilantai? Mengapa wanita itu sangat bodoh? Ini bukan karakter seorang pahlawan wanita! Dunia sedang dilanda masalah dan pemeran utama wanita malah menangis seperti orang bodoh? Musuh pasti sudah membunuhnya kalau begitu! Bodoh sekali wanita itu! Siapa sebenarnya dia? Mengapa dia tidak paham perannya padahal sudah diberikan naskah cerita untuk dibaca sebelum audisi.
Sutradara itu menjadi kesal karena merasa waktunya terbuang percuma. Apakah orang sekarang bisa seenaknya datang audisi? Sedangkan diatas panggung, Natasha yang meratap membuat Sutradara Eros tak tahan lagi mendengarnya, lalu membunyikan bel. “Hentikan.”
Karena tiba-tiba disuruh berhenti, membuat Natasha tertegun. Dia mengira aktingnya sangat bagus sehingga sutradara langsung menghentikannya.
Natasha langsung berdiri dengan tersenyum gembira, “Sutradara Eros, bagaimana penampilanku? Maaf karena aku tidak berlatih cukup sebelum audisi jadi akting menangisku belum sempurna tapi aku janji akan memperbaiki. Anda bisa langsung memberitahuku apa yang harus kulakukan.” Dia tampa snagat percaya diri seolah-olah dia sudah mendapatkan posisi pemeran utama wanita.