
Dasar wanita tidak tahu malu! Dia benar-benar pandai memilih orang untuk mencapai tujuannya!’ kesalnya dalam hati. ‘Pantas saja si Vera Wong desainer terkenal itu dapat mengenal Anastasya ternyata ini ada hubungannya dengan asisten utama bernama Rian Malik itu. Dia pernah mendengar dari Natasha bahwa Kenneth memiliki hubungan tidak jelas dengan Anastasya tetapi sepertinya Natasha salah paham. Orang yang berhubungan tidak jelas dengan Anastasya itu sebenarnya adalah asisten Kenneth.
Emma tersenyum licik, dia ingin tahu bagaimana reaksi Kenneth jika dia tahu bahwa Anastasya berhubungan dengan asisten utamanya itu. Karena Emma sudah menyinggung asisten utama itu maka dia harus mencari cara agar Kenneth memecat asistennya itu. Dan sepertinya Anastasya telah memberinya sebuah ide cemerlang!
Emma yang tadinya merasa ketakutan pun kini merasa tenang saat melihat Anastasya bersama asisten itu. Matanya menggelap lalu dia melangkah maju untuk memberi mereka ultimatum. Dia benar-benar tidak dapat menahan lagi amarah dalam hatinya. Dia ingin melampiaskan semua amarahnya pada kedua orang itu. Anastasnya mengikuti tatapan Rian Malik yang sedang melihat kearah Emma.
Dia dapat melihat kulit wajah Emma berubah dan berjalan kearahnya dengan langkah cepat. “Anastasya! Tak kusangka kau yang hanya seorang desa ternyata sangat pandai merayu pria.” ujar Emma dengan tatapan menghina dimatanya. Dia pun sengaja meninggikan suaranya agar bisa didengar oleh orang lain. Kali ini dia tidak akan melepaskan Anastasya begitu saja sebelum dia melampiaskan semua amarahnya.
Anastasya menatap Emma dengan alis mengerut.”Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?”
Rian yang berdiri disebelah Anastasya pun mengerutkan kening. “Nona! Tolong jaga ucapanmu.”
Rian mengira kalau Emma akan takut padanya dan meminta maaf tetapi Emma malah mengangkat kelopak matanya.
“Asisten Rian! Apakah bos anda tahu kalau anda bergaul sembarangan diluar dengan wanita? Kenneth bukanlah seseorang yang mudah bersimpati jadi hati-hati jika anda ingin bermain api kalau kau tidak mau terbakar sendiri.”
Emma langsung melangkah pergi bersama temannya setelah selesai bicara tanpa menunggu Anastasya dan Rian membalas ucapannya. Teman Emma meliriknya dan berkata, “Emma….apakah kau tidak takut bicara seperti itu pada Rian? Dia adalah asisten utama Kenneth?”
“Memangnya kenapa kalau dia asisten utama Kenneth? Bagaimanapun si asisten itu akan keluar, Kenneth akau memecatnya dan aku ingin tahu apakah Anastasya yang sombong itu masih akan bergaul dengannya!”
Bagi Emma jika Anastasya itu sama seperti Danendra ayahnya, kecuali keangkuhan yang ada dimatanya itu saja yang membedakan ayah dan anak itu. Emma pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelepon kepala pelayan dirumahnya. “Kepala pelayan tolong kau cari tahu dimana keberadaan Tuan Muda Archilles sekarang.”
Si kepala pelayan pun tertegun sekejap saat mendengar ucapannya. “Nona…..apakah maksudmu adalah Tuan Muda dari Archilles Corp?”
“Iya dia. Siapa lagi memangnya?” tanya Emma dengan nada tinggi.
“Emm…..pria terpandang sepertinya bagaimana cara kita mengetahui keberadaannya, nona?”
Kulit wajah Emma langsung menggelap dan marah. “Aku tidak peduli! Segera kau cari tahu keberadaannya atau kau angkat kaki dari rumahku!”
Saat sambungan telepon diputus, si kepala pelayan itu ingin menangis saja tetapi tidak ada airmatanya yang keluar. Bagaimana caranya dia mencari tahu keberadaan pria terpandang itu sedangkan dia hanya seorang kepala pelayan. Kebetulan seorang pelayan keluarga Jatmika yang disuruh mengantarkan hadiah ke keluarga Keenan baru saja kembali dan dia mengatakan pada kepala pelayan kalau Keenan akan pergi kerumah keluarga Bagaskara untuk menemui Kenneth dan yang lain.
Mendengar ucapan pelayan itu, mata kepala pelayan langsung berbinar. Dia sudah mendapatkan informasinya dan dia tidak akan kehilangan pekerjaannya. Dia langsung mengambil ponsel dan menelepon Emma.
“Nona aku sudah tahu dimana Tuan Muda Archilles sekarang. Dia sedang berada dirumah kelarga Bagaskara sekarang!”
“Keluarga Bagaskara?” Emma melepas alat manikurnya dan senyumnya cerah. “Kebetulan sekali kalau begitu masalah Rian yang mengajak Anastasya ke wilayah keluarga Bagaskara biar sekalian saja kubicarakan disana nanti.”
Setelah menutup teleponnya, dia berkata pada teman-temannya yang sedang menggenggam tangannya dengan tak berdaya. “Aku harus pergi sekarang mencari Kenneth. Jika kau takut pulanglah dulu ya, ngomong-ngomong sekalian kau beritahu mereka yang mengundangku untuk acara minum teh nanti sore bahwa aku pergi mencari Kenneth. Jadi aku tidak bisa bergabung untuk minum teh.”
Teman Emma yang tadinya panik kini wajahnya berbinar ketika dia mendengar Emma menyebut nama Kenneth. Karena hubungan antara keluarga Jatmika dan keluarga Pradipa sehingga mudah bagi Emma untuk bertemu dengan keempat pemuda terpandang itu, tetapi bagi dirinya itu adalah hal yang sulit. Temannya itu lalu berpikir sejenak. “Emma….bagaimana aku bisa membiarkanmu sendirian menghadapi masalah itu? Aku akan pergi bersamamu untuk menemanimu.”
Emma melirik temannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tajam. “Selama ini aku pikir kau itu seorang pengecut tapi tak kusangku kau begitu tulus padaku. Oke ayo kita pergi kesana, kita usir dua sejoli tidak tahu malu itu keluar dari kota ini!”
Temannya hanya mengangguk sambil terkekeh dengan cepat. Dia merasa senang karena dia bisa punya kesempatan untuk bertemu Kenneth!
Dia berpikir kalau dia juga tidak lebih jelek dari Emma, siapa tahu Kenneth akan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Itu akan jadi hari paling bahagia dihidupnya, bisa menjadi pacar Kenneth, bahkan sekedar selingkuhan juga dia rela asalkan bisa bersama Kenneth. Meskipun dia tidak memenuhi syarat untuk menikah ke keluarga Archilles tapi ada jutaan gadis diluar sana yang bersedia untuk tidur satu malam bersama Kenneth. Itu adalah impian jutaan gadis-gadis diluar sana. Lalu kedua gadis itupun pergi kerumah keluarga Bagaskara dengan pikiran dan tujuan masing-masing.
Sementara itu di mall, Anastasya tidak mempedulikan ancaman Emma, setelah dia meminta Rian agar tidak mengikutinya lagi kemudian dia menghubungi Vera Wong dan pergi ke mall bersamanya. Dia memberitahu Vera tentang situasinya saat ini dan berharap Vera bisa merahasiakan identitas Anastasya.
Vera Wong pun langsung menyetujuinya.”Ana! Tidak masalah jika kau butuh bantuanku jangan pernah ragu untuk menghubungiku. Untuk sementara ini aku akan menyunting acara mendesain baju di Jepang jadi aku akan tinggal di Jepang selama beberapa bulan.
“Bagus sekali!”
Keduanya pun mengobrol sejenak dan bertukar nomor telepon lalu setelah itu keduanya pun berpisah. Saat Anastasya baru saja ingin naik ke taksi, tiba-tiba saja Rian muncul dengan mobil MPV-nya.
Kaca jendela diturunkan dan tampak wajah Rian yang menatap Anastasya lalu berkata, “Nona Tasya! Tidak mudah menemukan taksi didaerah ini. Aku akan mengantarmu pulang.” ujar Rian.
Anastasya memutar matanya malas dan menghembuskan napas panjang. Sepertinya asisten ini benar-benar mengikutinya sesuai perintah Kenneth.