
“Oh….jadi itu maksudmu?” Anastasya tersenyum lalu berkata “Keluargaku memang berbeda, hubungan kami sedikit rumit. Sepuluh tahun yang lalu aku diculik dan hilang. Aku baru saja kembali dan malah diculik lagi dan aku baru saja ditemukan sekarang. Lagipula aku tidak peduli tentang kelas bisnis dan kelas ekonomi. Bukankah sama saja?”
Kenneth mengeluarkan kartu nama dengan tinta emas dan menyerahkannya pada Anastasya. “Ini kartu namaku jika kau membutuhkan sesuatu, kau dapat menghubungiku. Atau kau boleh membawa kartu ini ke Archilles Group untuk mencariku. Aku tidak memberi kartu ini kesembarang orang jadi aku harap kau bisa menyimpan kartu itu.”
“Tidak perlu. Terimakasih.” kata Anastasya menolak sambil melambaikan tangannya tapi Kenneth menyelipkan kartu nama itu ke tangan Anastasya lalu melangkah pergi.
Anastasya bingung menatap kartu nama ditangannya. Benarkah ini? Pria itu benar-benar meninggalkan kartu nama bertinta emasnya padaku? Percaya diri sekali dia kalau mengira aku membutuhkan kartu nama ini? Tak ada seorangpun yang tahu jika Anastasya adalah gadis kaya yang memiliki perusahaan diluar negeri. Meskipun perusahaannya diluar negeri tidak sebesar perusahaan milik Keluarga Archilles tapi Anastasya memiliki reputasi yang sangat baik. Selain itu dia juga dikenal sebagai model bertopeng.
Dia selalu tampil di peragaan busana internasional dengan memakai topeng untuk menutup wajahnya, sehingga dia dikenal sebagai model bertopeng. Dia sengaja melakukan itu untuk menutup identitas pribadinya, hanya para desainer dan orang dekatnya saja yang tahu jika Anastasya lah si model bertopeng.
Sekilas dia melihat kartu nama itu dan hendak membuangnya tapi dia malah memasukkan kartu nama itu kedalam tasnya. ‘Bukankah tadi Kenneth bilang mungkin dia akan membutuhkan bantuannya di kemudian hari?
Bagaimanapun dia masih baru disini, dia sama sekali tidak paham tentang Indonesia karena sudah lama meninggalkan negara ini. Saat dia berjalan kearah kaunter informasi, dia melihat ekspresi wajah Danendra yang marah karena menunggunya lama dan tampak sudah tak sabar lagi.
“Kemana saja kamu? Jangan sampai gara-gara kamu membuat adikmu terlambat sampai ke acara penghargaan. Kalau sampai itu terjadi maka kau yang akan menanggung konsekuensinya!”
“Tidak akan terlambat. Ini masih pagi, lagipula ini pertamakalinya Anastasya ke Bali jadi wajar jika dia tidak tahu jalan dan tersesat. Anastasya lihatlah adikmu menunggumu sejak tadi dan dia merasa cemas hingga menangis mengkhawatirkanmu.” kata Clarissa dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Anastasya menoleh kearah Natasha, nampak matanya merah dan masih menangis. Natasha pun kembali berakting sebagai adik yang baik “Tidak apa-apa kakak. Aku bersyukur kau sudah datang. Aku takut sekali tadi.” ujarnya terisak.
Anastasya tak peduli dengan akting sepasang ibu dan anak itu. Dia pun melihat kebawah dan ada bercak merah dipaha Natasha. Adiknya itu ternyata berakting sempurna sampai tega mencubit dirinya sendiri agar dia dimarahi oleh Danendra.
Natasha merasakan jika mata Anastasya tertuju ke pahanya, dia pun langsung menutupi dengan tangannya. Anastasya mengalihkan pandangannya seolah dia tidak melihat apa-apa. Sikap acuhnya menunjukkan betapa tidak pedulinya dia dengan ketiga orang itu.
“Maafkan aku papa karena sudah membuat kalian khawatir. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Lain kali aku akan duduk bersamamu agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.” ujar Anastasya menatap ayahnya dengan wajah polos.
“Uhukkk…..” Danendra terkejut dan terbatuk mendengar ucapan yang menyindirnya. Dia pun teringat kejadian di pesawat saat kursi mereka diupgrade ke kelas bisnis dan meninggalkan Anastasya di kelas ekonomi. Meskipun masih marah tapi dia juga malu akibat perbuatannya dia tidak bisa menikmati naik jet pribadi keluarga Archilles.
Danendra pun langsung mengalihkan pembicaraan. “Ayo kita pergi. Kita tidak boleh terlambat pergi ke acara penghargaan. Kita masih harus berkemas di hotel.”
Lalu Anastasya kembali bersikap seperti seorang anak yang patuh dan polos,dia membantu membawa barang bawaan mereka. Melihat sikap Anastasya membuat kemarahan Danendra pun hilang. Tapi pria itu berpikir bahwa Anastasya memang tidak pantas diajak keluar. Dia harus lebih fokus lagi pada Natasha agar kelak Natasha bisa menjadi pion untuk menaikkan reputasinya.
Namun Clarissa tampak kurang senang dengan sikap putrinya. “Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukan apapun tanpa sepengetahuanku!”
“Aduh mama…..jangan marah-marah. Bukankah ini sangat menyenangkan? Papa mengacuhka gadis desa itu lagi.” kata Natasha membuat Clarissa teringat bahwa Danendra telah memesan kamar standar termurah dihotel itu untuk Anastasya. Mengingat itu membuatnya senang dan tersenyum.
“Dasar anak nakal. Jika ingin melakukan sesuatu kau harus memberitahuku lain kali, ya.” katanya memencet hidung Natasha. “Ingat itu! Apapun itu harus sepengetahuanku.”
“Iya mamaku sayang. Tenang saja. Anastasya itu bodoh dan mudah dihadapi. Dia tidak seperti yang mama katakan, iyakan? Mungkin sekarang dia sudah mati lemas mengangkat barang-barang dan tidur dikamar kecil.”
Clarissa terdiam. Dia memikirkan sikap Anastasya yang selalu tenang dan tidak pernah berontak. Biasanya siapapun yang terkenal ulah nakal Natasha pasti berontak dan membalas balik tapi sangat berbeda dengan Anastasya. Dia malah mengalah dan berusaha keras untuk selalu bersikap baik.
Itu menunjukkan kalau Anastasya adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Hal itu membuat Clarissa makin khawatir. Bukankah biasanya, orang yang penyabar itu lebih menakutkan saat dia marah dan melawan?
“Sayang dengarkan mama.” kata Clarisa menyentuh bahu putrinya. “Sebaiknya kau cukup menerima penghargaan ini dengan baik dan jangan mengatakan apapun. Usahakan untuk tidak memprovokasinya, nanti setelah kita memahami karakter Anastasya maka saat itulah kita pergunakan untuk membalasnya.”
“Ok mama. Aku cukup paham maksud mama mengatakan ini padaku.” ujar Natasha sambil menggangguk patuh, tapi dalam hatinya dia berontak dan sama sekali tidak peduli sedikitpun dengan ucapan ibunya. Baginya ibunya terlalu lemah dan lambat dalam bertindak, sedangkan dia ingin secepatnya melenyapkan Anastasya dari kehidupan mereka. Membuat Anastasya menderita dan menangis adalah kebahagiaan dan kepuasan baginya.
...*...
Sementara itu didalam kamar Anastasya. Gadis cantik itu memandangi kamar hotelnya yang hanya berisikan perabotan sederhana. Dia merasa tidak senang dan ketidakadilan didalam hatinya. Bisa saja dia menyewa kamar hotel terbaik untuk dirinya tapi saat ini dia tidak bisa melakukan itu.
Tidak masalah jika dia kehilangan kasih sayang Danendra untuk sementara ini. Kemunculannya kembali dikeluarga itu telah mengganggu keluarga itu, dia hanya bisa bersabar hingga saat kekacauan dimulai maka dia akan menemukan kebenaran yang dia cari selama ini.
Acara penghargaan akan dimulai satu jam lagi. Sebelum meninggalkan kamarnya, Anastasya berjalan ke cermin untuk menata rambutnya dan memberikan riasan tipis diwajahnya. Dia menggerai rambutnya dan menggulung asal namun tampak alami.
Merias wajahnya dengan warna nude dan memoles bibirnya dengan warna senada. Anastasya tahu jika Natasha pasti akan tampil sesempurna mungkin untuk pamer. Anastasya tersenyum, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan kecantikan alaminya.
'Hai para readers.....selamat membaca novel terbaruku. Semoga kalian suka ya, mohon dukungannya buar author tambah semangat nulis. Terimakasih 🙏🙏😘