THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 77. AYAH YANG KEJAM



Danendra mengeryitkan dahi karena merasa tidak senang. “Nak, mengapa kau mengatakan kalimat yang kasar? Nanti setelah kau dan Tuan Muda Archilles berhubungan dengan baik maka kau akan menjadi nyonya dirumah keluarga mereka. Kau akan bisa menikmati hidup yang berkecukupan. Ini semua demi kebaikan keluarga kita dan juga demi masa depanmu, menikah kedalam keluarga Archilles adalah impian semua orang namun mereka tak berani memikirkannya.”


Anastasya merasakan kepahitan di tenggorokannya, apa gunanya berkata dengan begitu manis padanya? Intinya ayahnya hanya ingin Anastasya naik ke ranjang Kenneth sajakan?


Anastasya tersenyum dengan pahit, “Papa pernahkah kau berpikir jika aku melakukan itu dan tersebar ke seluruh lingkungan pergaulanmu maka orang-orang itu akan mengejek dan menghinaku? Bukankah ini akan jadi masalah besar bagi keluarga kita?”


“Tidak mungkin! Orang-orang itu hanya berani menginjak orang-orang yang statusnya lebih rendah mereka. Begitu kau menjadi nyonya Archilles, tidak akan ada seorangpun yang berani menghina dan mengejekmu.”


Tatapan gadis itu mendadak dingin.


“Lalu bagaimana jika nantinya aku tidak jadi nyonya Archilles dan malah diusir bahkan dipermalukan oleh Tuan Muda Archilles? Apakah kau tidak memikirkan itu?”


Danendra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Tenang saja. Papa dapat melihat jika Kenneth memperlakukanmu berbeda dari gadis lain. Kau harus percaya diri dan raihlah kesempatan yang ada didepanmu dan masa depanmu pasti akan cerah! Kau akan memiliki segalanya dan tidak akan merasakan kesulitan hidup seperti yang kau alami selama hidup di desa.”


Danendra sangat yakin dengan penampilan Anastasya, gadis itu jauh lebih cantik daripada Natasha. Bagi seorang ayah ketika dia melihat Anastasya berpakaian rapi saja matanya tak bisa beralih ketempat lain, apalagi laki-laki lain?


Anastasya mengira dia sudah cukup memahami Danendra tetapi sekarang dia sama sekali tidak mengenal dan memahami ayahnya. Ternyata pria itu adalah orang yang sanggup mengorbankan putrinya dengan mendorongnya naik keranjang pria lain demi kepentingan dan masa depannya sendiri.


Kedua tangan Anastasya mengepal erat, sudut kartu ditangannya langsung menusuk ke telapak tangannya tapi dia sama sekali tidak merasakan sakit. Karena tidak peduli seberapa besar rasa sakit ditangannya tak sebanding dengan perasaan sakit dihatinya. Di mata Danendra, dia tidak pernah dianggap sebagai putrinya. Bahkan mungkin tidak pernah dianggap sebagai manusia tetapi hanya bidak catur yang bisa dia mainkan.


Sungguh konyol sekali jika tadi Anastasya ingin mengungkapkan identitas dirinya dan aset kekayaannya demi membantu ayahnya. Saat Anastasya memikirkannya kembali, dia tersenyum pahit dan tampak matanya berkabut airmata.


“Tasya!” panggil Danendra merasa agak takut saat melihat ekspresi wajah Anastasya. Dengan suara lembut dan manis dia masih ingin merayu putrinya. “Anakku, sayang keluarga kita tidak boleh hancur. Meskipun kau tidak ingin melakukannya demi dirimu tapi tolong pikirkan keluarga kita! Papa tahu kau adalah anak yang baik dan sangat penegrtian. Kau mau berjanji pada papa, kan?”


Anastasya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, merasa engga untuk berbicara lebih banyak lagi. “Bagaimana jika aku menolak untuk pergi?”


Sontak alis Danendra mengeryit kencang sehingga membentuk tiga garis diantara kedua alisnya. Dengan nada dingin dia berkata, “Jika kau tidak setuju maka keluarga ini tidak dapat merawat dan bertanggung jawab padamu lagi. Kau boleh pergi kemanapun kau mau.”


Lalu Anastasya pun tertawa terbahak-bahak, “Wow! Papa….kau benar-benar…..mengejutkanku!”


“Jadi maksudmu kau tidak ingin pergi ke hotel itu?”


“Tidak! Aku akan pergi.” jawab Anastasya menatap Danendra lekat-lekat lalu menggelengkan kepalanya. Jawaban itu membuat raut wajah Danendra berubah seketika, dia langsung tampak gembira.


“Ya….aku akan pergi kesana. Jangan khawatir papa! Aku berkorban untuk keluarga ini.” Anastasya mengangguk dan berubah kembali ke gayanya yang polos dan penurut. Tapi matanya tidak lagi memiliki sedikitpun kehangatan dan ketulusan dari hatinya. Semua itu sudah dihancurkan sendiri oleh Danendra. Tetapa pria itu tidak melihat perubahan di sikap dan binar mata Anastasya dan dia tampak sangat tersentuh dengan ketulusan yang ditunjukkan oleh putrinya itu. Dia mengulurkan tangan menepuk bahu Anastasya.


“Aku sudah tahu kau pasti akan setuju, kau memang putri papa yang paling baik dan pengertian. Kau sangat berbeda dengan adikmu Natasha. Dikemudian hari papa akan menyayangi dan mencintaimu saja.”


“Kapan? Dimana?” tanya Anastasya dengan ringan.


“Kamar suite dilantai atas Hotel Grand International. Kartu kamar itu papa dapatkan setelah berusaha semalaman. Tuan Muda Archilles masih menerima jamuan makan di restoran Grand International tapi papa sudah bicara dengan orang yang mengundangnya. Kau hanya perlu menunggunya Tuan Muda Archilles di kamar itu saja.”


Danendra tiba-tiba mengingat sesuatu lalu menatap Anastasya, “Oh iya hampir saja papa lupa, kau harus mengganti pakaianmu. Pakaian yang kau pakai unu terlalu polos, jika kau memakai itu kau tidak akan berhasil. Tapi sudahlah….sudah terlambat sekarang. Kau pakai saja pakaian apapun yang kau suka, nanti aku akan meminta seseorang untuk mengantarmu ke kamar suite itu.”


Anatasya pun mengerti maksud Danendra yang sibuk dan baru bisa pulang jam segini, ternyata dia bukan sibuk bekerja tapi sibuk  mengurus untuk mendapatkan kartu kamar Kenneth.


Oh….jadi begitu ya permainannya….baiklah…..


Dia mengira hatinya sudah beku pada Danendra tapi saat ini hatinya terasa sakit seperti ditusuk. Ternyata hal-hal yang menyakitkan seperti ini, meskipun kau sudah mengalaminya beberapa kali tapi akan tetap tidak akan terbiasa. Tiba-tiba mata Anastasya melihat rambut putih yang tumbuh dikepala Danendra dan dia pun mengingat apa yang dikatakan Kenneth padanya sehingga dia pun meletakkan tangannya dikepala Danendra, “Papa kau ada uban disini.  Aku bantu mencabutnya ya.”


Tanpa sadar Danendra ingin menolaknya tapi karena melihat Anastasya yang begitu perhatian padanya, mau tak mau dia hanya menundukkan kepala dan membiarkan Anastasya mencabut ubannya. Saat Anastasya sudah mencabut ubannya, dia pun tersenyum.


“Sebenarnya tidak perlu mencabutnya, wajar jika papa punya uban. Asalkan malam ini kau berhasil emlakukannya mungkin papa akan semakin terlihat muda beberapa tahun.”


Anastasya pun memasukkan rambut itu kedalam sakunya dengan tenang dan menganggukkan keppala sambil berpura-pura memasang wajah tertekan dan sedih. “Jangan khawatir papa, aku janji akan melakukannya dan tidak akan mengecewakanmu. Kau sudah memperlakukanku dengan baik, bagaimana mungkin aku tidak membalas budimu?”


Mendengar ucapannya, Danendra merasa tersentuh sehingga airmata mengalir, lalau dia mengulurkan tangannya memeluk Anastasya.


“Putri papa yang baik. Hatimu sungguh mulia, nak. Demi keluarga ini kau harus berkorban!”


Anastasya yang merasa jijik pun memasang wajah datar tapi dia tidak menolak pelukan ayahnya. Dengan acuh tak acuh dia pun berkata, “Papa jika kau tidak bergegas maka Tuan Muda Archilles aka berada dikamar itu sebelum aku sampai disana.”


“Ya ya ya…..kau benar.” dia pun melepaskan Anastasya dan meminta supir serta pelayan untuk menyiapkan satu set pakaian untuknya.


Danendra terlihat sangat sibuk sekali sehingga membuat Clarissa merasa terkejut melihatnya. “Mau kemana kau malam-malam begini?” tanya Clarissa yang berjalan keruang tamu mengenakan piyama. Matanya bergerak merasa curiga melihat Danendra dan Anastasya disana. Saat Danendra melihat Clarissa, dia pun langsung teringat dengan apa yang terjadi pada Natasha. Dengan geram dan wajah marah dia berkata, “Bukan urusanmu! Pergilah kekamarmu dan tidur! Oh satu hal lagi, kau tidak diijinkan mengunjungi Natasha, jangan sampai dia tidak bisa intropeksi diri karena bertemu denganmu.”