
Tidak ada lampu yang dinyalakan didalam rumah itu. Lampu diluar juga hanya dapat menerangi bagian bawah wajahnya saja. Dan jika ada orang yang bisa melihat bagian bawah wajahnya itu pasti akan sangat mengejutkan siapa saja yang melihatnya.
"Ada apa?" tanya pria itu dengan logat Inggris yang tidak terlalu baik.
Orang yang mendorong pintu tadi masih terengah-engah dan menjawab, "Akhirnya aku menemukanmu! Sudah kubilang kau pasti akan berada dirumah tua ini. Si Marvi itu tetap saja bersikeras mengatakan kalau kau sudah pergi berburu dengan beberapa serigala. Membuatmu begitu lama baru bisa ditemukan....."
Pria itu dengan tidak sabar mengetuk lantai dengan jari-jari kakinya dan berkata, "Tak perlu berbasa basi! Katakan inti masalahnya!"
"Oh ya? Marvimeminta anda untuk segera datang. Dia mengatakan bahwa server telah diserang. Dan IP si penyusup itu berasal dari gedung Hilam Group. Tempat kita menyiapkan jebakan....."
Pria itu segera bangkit dan sebelum orang itu sempat bereaksi lagi, dia hanya merasakan hembusan angin yang lewat dan orang itu tidak bisa lagi melihat bayangannya. Hanya serangkaian jejak kaki terburu-buru saja yang terlihat tercetak diatas salju itu.
"Luvo! Tunggu aku!" ujar orang itu lalu dengan cepat memakai topinya dan mengejarnya. Beberapa menit kemudian pria bangsawan itu datang ke kastil yang bergaya arsitektur abad pertengahan dan langsung pergi keruang bawah tanahnya dan masuk keruangan yang terletak paling dalam.
Begitu dia masuk, si pria bangsawan mencium aroma mie instant yang kuat. Si pria bangsawan bernama Luvo itu menurunkan matanya dan melihat mie instant yang tergeletak di lantai serta seorang pria berambut pirang yang seluruh tubuhnya penuh dengan sisa-sia mie instant tetapi tidak sempat membersihkannya.
"Apa yang terjadi?" Luvo bertanya pada pria itu yang bernama Marko. Dia melangkahkan kakinya dan berkata dengan dingin.
Sedangkan Marvi memasang ekspresi wajah sedih dan berkata dengan tidak percaya, "Program firewall dan penghalang yang telah kupasang dengan cermat semuanya telah berhasil ditembusnya...."
"Katakan saja inti masalahnya! Aku tidak peduli dengan prosesnya. Aku hanya ingin tahu hasil akhirnya." ujar Luvo.
Marvi tergagap dan berkata, "Hasilnya.....hasilnya diperkirakan sekitar dua menit lagi. Mereka akan segera menemukan kita."
Ekspresi wajah pria itu menjadi serius. Dia tahu bahwa Kenneth dikelilingi oleh banyak orang berbakat. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang dia ketahui tetapi sebagian lainnya dia tidak mengetahuinya. Dan ada seorang pria yang sangat ahli mengenai masalah internet dan dia adalah Brandon.
Jadi dia sengaja memilih Hilman Group lalu memblokir semua sinyal gedung itu sehingga Kenneth tidak bisa menghubungi Brandon. Dan karena Brandon sudah dihalangi seharusnya tidak ada lagi masalah seperti itu. Ada apa sebenarnya......?
Apakah jangan-jangan ada orang disekitar Kenneth yang tidak dia ketahui? Marvi menunjuk dengan jarinya dan berkata, "Luvo! Kita harus membuat pilihan secepatnya sekarang....tujuan pihak lain sudah jelas sekarang. Mereka ingin mengambil kendali smart door itu. Jika kita segera mengembalikan kendalinya ke mereka maka tidak akan ada informasi apapun disisi mereka. Tetapi jika kita bersikeras tidak mengembalikan kendalinya ke mereka maka dengan cepat informasi dan lokasi kita akan terekspos."
Dan pada saat itu kita sudah tidak bisa berada dibalik layar lagi. Dan berurusan dengan mereka juga akan semakin sulit....." ujar Marvi menjelaskan.
Luvo terdiam. Jika dia mengembalikan kendali itu kepada mereka maka semua rencananya kali ini akan gagal. Jadi dia harus melepas Kenneth, si brengsek itu begitu saja? Dia tidak rela sama sekali! Kali ini bisa dikatakan itu adalah kesempatan yang sangat baik dengan memanfaatkan waktu dan tempat yang tepat.
Apalagi jebakan itu dibuat ketika Kenneth tidak memiliki pertahanan apapun. Lain kali Kenneth tidak mungkin bisa terjebak dengan mudah didalam gedung bangunan seperti itu lagi. Luvo mengepalkan tangannya erat-erat. Urat-urat biru dilengannya tampak menonjol.
Sedangkan Marvi sedang sibuk mengetik di komputer dan berkata dengan panik, "Luvo! anda harus segera membuat keputusan secepat mungkin! Kecepatan tangan pihak lawan terlalu cepat. Kecepatannya menembus garis pertahanan jauh lebih cepat daripada pertahanan yang baru kubuat. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia akan segera menemukan tempat kita!"
"Luvo!" seru Marvi sambil berdiri denganc emas. Suaranya terdengar meninggi dari biasanya karena kepanikannya.
Akhirnya pria itu mengendurkan giginya yang terkatup rapat dan berkata, "Kembalikan kendali itu padanya."
Ekspresi Marvi mengendur dan dia segera mengoperasikan komputernya lagi. Kali ini dia bisa bernapas lega karena akhirnya mereka tidak terekspos.
Sementara itu, di seberang lautan. Di ruang keamanan di gedung Hilam Group tepatnya dilantai dua. Sudah terdengar suara ledakan yang ketiga. "BOOOOMMM......"
Ledakan yang keras terdengar kembali dari lantai atas. Ledakan itu sepertinya agak jauh dari lantai dua sehingga tidak langsung mempengaruhi lantai dua. Tetapi setengah dari langit-langit dilantai dua sudah runtuh karena terguncang oleh ledakan.
"Sudah tidak sempat lagi! Ayo cepat pergi dari sini! Tempat ini akan segera runtuh dalam sepuluh detik!" teriak Kenenth meraih pergelangan tangan Anastasya.
Anastasya tidak bergerak, matanya masih tetruju pada layar dan berkata, "Segera! Aku hampir berhasil menembusnya!"
"Sudahlah! Jangan pedulikan itu lagi! Kita harus segera pergi dari sini!" teriak Kenneth lagi.
Begitu Kenneth selesai bicara, sepotong besar langit-langit yang terbuat dari beton dan batang baja langsung jatuh dari sudut ruangan. tetapi jendela itu sama sekali tidak bergerak, kokoh seperti gunung.
Anastasya mendorong Kenneth menjauh dan berkata, "Kamu pergilah lebih dulu! Aku akan mencoba seebnatr lagi. Ini sudah hampir selesai!"
Dia ingin bertarung sampai titik darah penghabisannya tetapi dia juga tidak ingin Kenneth terkubur disana bersamanya.
"Sialan!" Kenneth mengumpat dengan suara rendah. Dia tidak lagi mendengarkan Anastasya dan langsung mengangkatnya dari kursi dan melangkahkan kakinya dan berjalan keluar.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lima detik lagi! Aku hanya butuh lima detik!" teriak Anastasya meronta mencoba melepaskan diri.
"Sudah terlambat! Aku tidak mau kamu mati sia-sia disini!" Kenneth memeluknya dan hendak berlari keluar. Tetapi pada detik etrakhir itu tiba-tiba sebuah kotak notifikasi muncul dilayar komputer yang berbunyi dalam bahasa Inggris, "Softwarenya sudah dihapus."
Mata Anastasya berbinar cerah, "mereka telah mengembalikan kendalinya kepada kita."
Kenneth juga melihatnya tetapi langkah kakinya tidak bisa berhenti. Dia harus segera membawa Anastasya keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup! Dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
Dan disaat yang sama Anastasya melepaskan diri dari pelukan Kenneth. Dia berlari kearah komputer lalu dengan cepat menekan beberapa tombol dengan cepat. Sedetik kemudian muncul dilayar komputer tulisan, "Pintu terbuka."
"Sudah terbuka! Pintunya sudah terbuka!" teriak Anastasya tiba-tiba menjadi senang. Tetapi kesenangannya tidak bertahan lama karena langit-langit lantai tersebut telah benar-benar rapuh sekarang dan jatuh dengan cepat. Kenneth tidak sempat bereaksi dengan cepat.
Untung saja Anastasya cukup cepat. Dia berguling untuk menghindari langit-langit yang jatuh dari atas kepalanya dan melemparkan dirinya ke depan Kenneth. Pria itu tersadar kembali dan segera meraih Anastasya dan meneyretnya keluar dari ruangan itu.
Barusedetik mereka meninggalkan ruangan itu ketika langit-langit seluruh ruangan itu benar-benar runtuh. Hanya sepotong reruntuhan saja yang terlihat karena semuanya sudah berubah menjadi lautan debu dan api. Dan bersamaan dengan itu Anastasya mendengar suara pintu dilantai bawah terbuka.
Semua orang berteriak dengan gembira, "Sudah terbuka! Pintunya sudah terbuka! Cepat lari!"
Anastasya menghela napas lega, dia menatap Kenneth dan tersenyum, "Aku sudah bilang padamu, kita tidak akan mati disini kan?"
Kenneth menatapnya lekat-lekat dan berkata dengan tidak berdaya, "Ya benar. Aku berhutang budi lagi padamu Tasya!"
Sudah dua kali dia berhutang budi pada gadis itu yang menyelamatkan nyawanya.
Anastasya mengangguk dan berkata, "Jangan lupa untuk mentransfer uangnya kepadaku ketika sudah keluar dari sini! Aku butuh uang yang banyak."
Dia tidak berani lagi membuat lelucon seperti 'Janji untuk menikah' dan sejenisnya. Jangan sampai Kenneth nanti malah akan mengatakan sesuatu seperti "Kebenaran yang tersembunyi dalam sebuah candaan."
Tetapi Kenneth malah mengangguk dan dengan serius berkata, "Baiklah. Ada berapa banyakpun uangku itu, nanti setelah kita keluar dari sini aku akan memberikan semuanya kepadamu."