
Tuan Muda Archilles memang memintanya untuk menunggu Anastasya dan mengantarnya pulang. Rian berpikir mungkin saja kelak Anastasya adalah nyonya Archilles, bagaimana mungkin dia membiarkan Nyonya Archilles yang terhormat pulang dengan naik.
Anastasya tak berdaya melihat Rian. “Apakah Tuan Archilles yang terhormat tidak sibuk ya sehingga asistennya berada disini?”
Rian hanya tertawa canggung dan mengatakan kalau dia memang sedang tidak sibuk. Dia sudah membuat jadwal kerja sementara untuk besok jadi dia bisa mengikuti Anastasya hari ini. Sambil menunggu gadis itu, Rian juga sudah selesai membaca tiga dokumen perusahaan dan mengirimkannya ke email Kenneth.
Anastasya tak ingin menunda lagi, dia langsung masuk kedalam mobil. Tapi saat sedang dalam perjalanan, tiba-tiba mobil Rian mogok. Keduanya turun dari mobil dan berdiri disisi jalan saling menatap dan menunggu mobil derek. Rian tidak bisa lagi tersenyum, dia merasa sangat malu. “Nona Tasya, aku pikir mobil derek akan datang setengah jam lagi. Bagaimana kalau kita kerumah Brandon untuk pinjam mobil. Kebetulan rumahnya disekitar sini. Didaerah sini sulit mencari taksi, bagaimana menurutmu kalau kita meminjam mobil Brandon saja?” tanya Rian.
Anastasya merasa agak enggan tapi tidak ada pilihan lain, dia pun menyetujui. Rumah keluarga Bagaskara terletak di pinggiran bagian utara dekat dengan taman hutan negara, areanya sangat luas. Rumah bergaya arsitektur kuno kolonial dengan kombinasi warna hitam dan putih dengan dinding warna putih dan jendela-jendela besar dan tinggi.
Sementara itu dirumah kediaman keluarga Bagaskara. Saat Kenneth dan Brandon tiba disana, Diego sudah membawa seseorang ke garasi kosong di lantai bawah tanah. Garasi yang semula gelap sekarang jadi terang benderang. Saat Kenneth memasuki garasi bawah tanah itu, dia melihat seorang pria duduk meringkuk disudut ruangan sambil bergumam tak jelas.
Pakaian pria itu compang camping dan warna kemeja yang dipakainya sudah pudar dengan banyak lubang dan robekan dibaju itu. Pria itu terlihat seperti pengemis yang tidak waras. Meskipun penampilan orang itu terlihat buruk tapi Kenneth masih bisa mengenali pria itu adalah salah satu orang yang mengejar dan ingin membunuhnya di kapal pesiar.
Saat Diego melihat keduanya memasuki ruangan, dia menurunkan kacamata berbingkai emasnya lalu berjalan menghampiri mereka bersama dengan Keenan.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Brandon melirik pria yang terlihat seperti pengemis itu. “Orang ini yang dulu menusukku saat aku berada diluar negeri. Saat itu dia berpakaian formal seperti seorang pengusaha dan mengaku sebagai CEO sebuah perusahaan internasional. Tapi kenapa dia seperti ini sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dia sedang berpura-pura?”
Keenan mengangkat bahu sambil melemparkan tikus palsu ditangannya ke lantai sambil berkata, “Aku sudah mengetesnya berulang kali, dia tidak sedang pura-pura. Dia memang sudah tidak waras.”
Diego menendang tikus palsu yang tadi dilemparkan oleh Keenan dengan jijik.
“Orang ini terombang ambing dilautan selama setengah bulan dan seorang nelayan menemukannya. Menurut nelayan itu, dia juga melihat kawanan ikan hiu dan pria ini beruntung bisa selamat setelah bertemu ikan hiu. Meskipun dia hidup tapi otaknya sudah tidak waras. Sepertinya kita harus mengirimnya kerumah sakit jiwa. Sia-sia saja kalau menanyainya.” ujar Diego.
Namun Brandon tidak setuju dengan usul Diego. “Tidak! Orang ini hampir membunuhku! Aku tidak mau dia dikirim kerumah sakit untuk mendapat perawatan. Apa-apaan kau ini, ha?” teriaknya marah.
“Wow…..sekarang kau sudah bisa memaki orang ya, itu berarti kau sudah kembali normal.” ujar Diego. Brandon hanya melirik Diego lalu berjalan menghampiri pria berpakaian compang camping dan menatapnya dengan dingin.
“Meskipun dengan terpaksa aku harus merawatmu, tapi aku akan tetap membalaskan dendamku. Kutunggu setelah kau sembuh, karena aku hanya membalas dendam pada orang normal bukan pada orang gila! Jangan harap karena kau sudah gila maka aku melepasmu begitu saja!” ujar Brandon lau meninju perut pria itu dengan kuat membuat pria itu memuntahkan darah dan pingsan.
Ketiga sahabatnya terkejut melihat kelakuan Brandon yang tiba-tiba. Brandon adalah seorang yang bersifat terang-terangan dan selalu berpikir lurus. Hanya dengan satu kali pukulan Brandon membuat pria compang camping itu pingsan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Keenan adalah orang pertama yang tersadar dari keterkejutannya lalu bertepuk tangan. “Hebat sekali! Hebat….kami menangkap umpan itu dengan susah payah tapi kau malah membunuhnya.”
Sontak wajah Kenneth menggelap, tujuan mereka bukan untuk menangkap orang itu tetapi hanya menggunakannya sebagai umpan untuk mendapatkan dalang dibalik penculikan Kenneth. Dia berjalan menghampiri pria yang pingsan dilantai lalu mengecek pernapasannya. Kenneth pun bernapas lega mengetahui jika pria itu belum mati. “Dia masih hidup! Aku akan membawanya kerumah sakit. Jangan sampai ada kesalahan lagi dan kita kehilangan umpan kita!”
Baiklah.” jawab Diego lalu mengambil ponselnya dan menghubungi ambulan.
Kenneth menatap Brandon dengan tatapan peringatan. Brandon hanya ingin membalaskan dendamnya saja tapi saat dia melihat tatapan tajam Kenneth, dia merasa agak bersalah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ken….aku juga marah dan tida bisa mengendaikan emosiku melihat pria itu. Dia hampir membunuhku dan juga membunuhmu.”
“Ya aku tahu.” jawab Brandon serius. “Orang ini hanyalah bidak saja. Kita harus menangkap dalangnya dan aku janji akan mengendalikan emosiku.”
“Aku rasa kau jauh lebih baik mengendalikan emosimu saat minum anggur.” sindir Keenan.
“A…...” Brandon memelototi Keenan dan belum sempat dia bicara, seorang pengawal mengetuk pintu.
“Tuan muda, ada tamu yang ingin bertemu denganmu. Katanya ada hal penting.”
Kemudian Brandon melirik Diego, “Apakah ada orang yang mengikutimu saat kau membawa orang ini kesini?”
“Eh jangan bicara sembarangan ya. Aku tidak ceroboh sepertimu Brandon! Tidak mungkin ada yang mengikutiku karena aku sudah memastikan semua aman sebelum membawanya kesini.” ujar Diego.
“Hei….kenapa kau malah menyindirku? Aku hanya bertanya saja, tidak perlu menyindirku!”
“Terserah! Aku bicara fakta dan jika ada yang tersinggung berarti ucapanku benar.” ujar Diego.
“Cukup! Jika kaian henda bertengkar sebaiknya pergi dari sini!” ujar Kenneth marah saat melihat kedua sahabatnya sudah bersiap untuk memulai pertengkaran. “Masih ada hal penting yang harus kita selesaikan!”
Keduanya pun terdiam mendengar ucapan Kenneth. “Siapa tamu yang datang? Seperti apa orangnya?”
Tanya Kenneth pada pengawal itu.
“Ah itu….seorang wanita bernama Emma Jatmika. Dia bilang ingin bertemu dengan Tuan Muda Archilles.” jawab pengawal itu ketakutan melihat kemarahan Kenneth.
“Emma Jatmika?” Keenan terkejut. “Mau apa perempuan itu datang kesini? Untuk apa dia mau bertemu dengan Kenneth?”
“Aku tidak tahu tapi sepertinya Nona Jatmika tampak marah dan cemas. Dia bilang dia ingin membicarakan suatu hal penting dengan Tuan.” jawab pengawal itu.
Pada saat bersamaan anak buah Diego sudah datang dan membawa pria gila itu pergi dengan ambulan.
“Ayo kita lihat apa maunya Nona Jatmika ini.” ujar Kenneth melirik Brandon.
Brandon dan lainnya pun tampak bingung karena Emma Jatmika adalah tunangan Keenan. Untuk apa dia datang mencari Kenneth dan Keenan? Ada urusan apa wanita itu dengan Kenneth? Lau keempat pria itupun berjalan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu tampak Emma Jatmika dan temannya Mariska sudah menunggu, saat mereka melihat Kenneth dan ketiga temannya berjalan memasuki ruang tamu perasaan Emma yang sebelumnya dipenuhi kemarahan pun reda. Melihat keempat pria tampan itu, meskipun Keenan tidak setampan Kenneth tapi melihatnya ada disana membuat Emma sedikit kurang senang. Kepala pelayan sialan dirumahnya tidak memberitahunya jika Keenan juga ada disana.
Keberadaan Keenan disana membuat Emma tidak bisa berpura-pura dihadapan Kenneth dan teman-temannya jika hubungannya dengan Keenan baik-baik saja agar mereka mau membelanya. Karena ini adalah rumah keluarga Bagaskara maka Brandon yang menyapanya terlebih dahulu. “Nona Jatmika sudah lama kita tida bertemu. Ada kepentingan apa anda datang kerumahku hari ini?”