THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 93. SUP TONIK



Setelah menutup teleponnya, Danendra menatap Anastays dengan kagum. “Memang keren sekali putriku yang satu ini. Putri yang pintar dan cekatan! Mereka mengatakan akan meneruskan kerjasamanya dengan perusahaan kita!”


Anastasya hanya tersenyum dengan ringan. Memangnya hanya karena dia pintar dan cekatan? Sebenarnya karena Anastasya telah berjanji pada Kenneth untuk membuatkannya makanan lagi sehingga sebagai gantinya kerja sama itu dilanjutkan.


Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu ketika Clarissa berjalan keluar dari villa dan tersenyum sambil berkata, “Aku sudah dengar semuanya….Tasya kau sudah menyelamatkan kami sekeluarga.”


Dengan hati-hati Anastasya menatap dan memeriksa tatapan Clarissa dan dia mendapat ekspreisnya juga tampak sangat bahagia. Sepertinya dia tidak sedang berpura-pura, tampaknya rencana Clarissa berjalan dengan baik dan dia hanya perlu menunggu Anatasya jatuh dari ketinggian.


Anastasya pura-pura tidak tahu apa-apa. Dia menunduk dengan malu-malu dan tersenyum. Sesaat berikutnya, Clarissa meraih tangannya dan berkata, “Tante sudah meminta dapur untuk membuatkan sup tonik untukmu. Kau telah bekerja keras sepanjang malam jadi harus minum sup tonik itu untuk memulihkan vitalitasmu. Melihat wajahmu yang kuyu, tante juga merasa tidak tega.”


“Tonik itu setelah kau meminumnya tidak hanya memulihkan vitalitasmu tetapi juga untuk hal baik lainnya ditubuhmu.”


Kalimat yang ditambahkan dengan ucapan ‘hal baik lainnya’ mengartikan yang tidak lain dan tidak bukan adalah kesuburan. Sepertinya mereka mengharapkan dia akan hamilsetelah menginap semalam bersama dengan Kenneth.


Anastasya menatap Clarissa lekat-lekat. Dia dapat merasakan bahwa kali ini Clarissa pasti membuat rencana jahat yang sangat dasyat.


Disampingnya, Danendra melihat Clarisssa yang begitu pengertian menunjukkan ekspresi lega diwajahnya. Tidak peduli bagaimana buruknya Natasha tetapi kejadian waktu itu adalah akibat ulah Natasha sendiri.


Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Clarissa. Mungkin tidak seharusnya menyalahkan Clarissa atas ulah anak bodoh itu.


Danendra menatap Anastasya dan berkata, “Jangan kecewakan niat baik tantemu. Pergilah dan minum sup toniknya. Kita akan berbicara lagi setelah kau selesai meminum sup tonikmu.”


Sambil mengatakan itu, Danendra menggenggam tangan Clarissa dengan tangan kanannya. Mereka tampak seperti sepasang suami istri yang harmonis.


Sebelumnya Anastasya merasa mual saat melihat mereka seperti itu dan merasa tidak adil untuk mamanya dan juga merasa sedih atas dirinya sendiri. Tetapi sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan apapun lagi yang bisa memperngaruhi suasana hatinya.


Dia bahkan tersenyum dengan manis dan berkata, “Baiklah. Aku akan pergi meminumnya sekarang.” Sepasang suami istri ini seharusnya langsung dikurung saja agar tidak merugikan orang lain! Tetapi clarissa belum tentu bisa dikurung.


Anastasya sedang berkecamuk dalam pikirannya sendiri kemudian dia berjalan menuju dapur dan meminum sup tonik yang diberikan oleh Clarissa. Dirumah ini Clarissa tidak akan cukup bodoh untuk menaruh sesuatu kedalam tonik yang dia buat sendiri.


Tentu saja, sebelum meminumnya Anastasya lebih dulu mengendusnya sebentar aroma tonik tersebut. Kebetulan bahan obat-obatan didalamnya dapat memulihkan kembali vitalitas Anastasa yang berkurang karena melakukan akupunktur. Begitu Anastasya selesai meminum toniknya, Danendra sudah memanggilnya lagi.


Dia meminta semua pelayan untuk meninggalkan ruangan itu dan hanya menyisakan Clarissa disebelahnya. Lalu sambil tersenyum dia berkata, “Semalam…….setelah berakhir, apakah Kenneth ada menjanjikan sesuatu kepadamu?”


Anastasya mengangguk, “Dia mengatakan kepadaku bahwa dia tidak akan membatalkan kerja sama natara perusahaan kita dengan perusahaannya.”


Mata Anastasya berkilat dingin, Danendra itu semakin ngelunjak saja. Setelah mendapatkan kontrak kerjasamanya sekarang dia emnginginkan menikah kedalam keluarga Archilles.


Anastasya memejamkan matanya dan menggelengkan kepala lalu berkata, “Tidak. Selain menjanjikan kerjasama ini dia tidak mengatakan apa-apa lagi.”


Tatapan Danendra penuh dengan penyesalan, lalu dia menghela napas dan berkata, “Sudahlah lupakan saja kalau begitu. Bisa mendapatkan kontrak kerjasamanya saja juga sudah…..”


“Mana bisa seperti itu?” Clarissa berkata dengan ekspresi yang seolah-olah merasa tidak rela untuk Anastasya. Lalu dengan marah berkata, “Tasya kita adalah gadis yang begitu polos dan lugu. Dia telah menyerahkan kesuciannya kepadanya. Bagaimana bisa bilang lupakan begitu saja? Suamiku, apa kamu sudah pikun? Kita harus minta penjelasan kepadanya.”


Danendra tampak ragu-ragu. Tentu saja dia menginginkan penjelasan itu tetapi masalahnya orang itu adalah Kenneth Archilles bukan orang biasa….Dia khawatir nantinya bukan mendapatkan untung malah buntung.


Kerjasama yang sudah didapatkannya dengan susah payah akan hilang dan masih ditambah dengan masalah lainnya. Kalau sudah begitu yang rugi dia sendiri.


Dengan nada kecewa, Clarissa berkata untuk Anastasya yang duduk disebelahnya, “Suamiku kau tidak boleh hanya memkirkan perusahaan saja tetapi seharusnya juga memikirkan Tasya kita. Seberapa pentingnya kesucian itu? Jika sampai tersebar keluar, nantinya bagaimana Tasya bisa menikah?”


Danendra terdiam. Saat itu dia juga tidak berpikir terlalu jauh jadi dia hanya berpikir untuk menyelamatkan kontrak besar perusahaannya dan tidak mempertimbangkan hal lainnya.


Clarissa sengaja terus menghasutnya, “Ayo, kita pergi cari mereka sekarang. Keluarga Archilles tidak dapat menyangkalnya! Jika mereka benar-benar tidak mengakuinya…..kita bisa laporkankepolisi. Suamiku kau pikirkanlah baik-baik.”


Bola mata Danendra berputar-putar dan berpikir. Didalam hatinya dia merasa sedikit tidak rela tetapi bersamaan dengan itu dia juga merasa khawatir.


Tetapi dia setuju dengan apa yang dikatakan Clarissa, sekarang adalah waktunya untuk mencari mereka mumpung kejadiaannya baru saja terjadi tadi malam. Jika waktunya sudah lewat, polisi juga tidak dapat menemukan apa-apa lagi.


Meskipun kedepannya dia ingin menuntut juga,kenneth pasti tidak akan mengakuinya lagi. Setelah berpikir seperti itu akhirnya Danendra membuat keputusan.


Putriku yang begitu polos tidak bisa begitu saja menyerahkan tubuhnya seperti itu! Anastasya menyaksikan semua ini dengan tatapan dingin. Clarissa sedang membuat pondasi untuk rencana jahatnya sementara pikiran Danendra benar-benar telah dibutakan oleh ketamakannya sendiri.


Kedua orang ini, masing-masing memiliki rencana mereka sendiri. Sangat cocok. Danendra tidak pernah berpikir bahwa dengan membuat keributan seperti itu kesucian Anastasya baru bisa benar-benar hancur.


Memangnya keluarga archilles akan takut dengan ancaman Danendra? Sepertinya tidak mungkin. Dalam hal ini, yang akan terluka tentu saja Anastasya.


Jika awalnya benar-benar telah terjadi sesuatu antara dia dan Kenneth, lalu kebetulan Kenneth juga adalah orang yang tidak punya hati. Anastasya sangat senang bahwa dia pernah memiliki hubungan yang cukup baik dengan Kenneth dan bersamaan dengan itu dia juga semakin membenci kedua orang ini.


Dia terus mendengarkan Clarissa yang terus menerut menghasut Danendra, “Suamiku, jika kau tidak membawa Tasya pergi mencari keluarga Archilles sekarang, aku khawatir nantinya kesempatan seperti ini tidak akan ada lagi!”