THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 82. BIARKAN DIA MENCOBA



Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Perlahan dia berjingkat-jingkat ke dekat pintu dan mendengarkan suara-suara yang ada diluar pintu. Anastasya bisa mendengar suara Kenneth yang membuka pintu dan bertanya dengan suara dingin, “Sudah selarut ini, ada masalah apa?”


Anastasya langsung menegang, mereka benar-benar bukan anak buah Kenneth. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika saja tadi dia yang membukakan pintu. Untung saja Kenneth sudah berpengalaman jika tidak maka masalah mereka berduaan dikamar hotel pasti ketahuan.


Sambil menghela napas lega, Anastasya mendengar suara pria paruh baya yang berbicara denagn nada rendah. “Aku hanya ingin memeriksa apakah kau baik-baik saja setelah banyak minum tadi. Aku membawakan penawarnya untukmu.”


“Aku tidak minum terlalu banyak. Sudahlah ini sudah larut malam, jangan ganggu aku lagi, aku masih ada hal lain yang sangat penting harus kukerjakan.” ujar Kenneth dengan suara dingin dan datar.


“Baiklah. Baiklah aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu, aku juga akan pergi tidur.” ujar pria itu dengan tersenyum penuh arti.


Setelah itu Anastasya mendengar suara pintu ditutup. Setelah menunggu sekitar tiga menit, Anastasya keluar dan bertanya dengan bebrisik, “Itu tadi siapa?”


“Pria yang melakukan proses desain dan dia juga sering bekerjasama dengan perusahaan keluargamu. Seharusnya orang ini bersama dengan papamu yang merencanakan kedatanganmu kesini malam ini. “Apakah kau baik-baik saja?” tanya Kenneth


“Apa?” Anastasya bingung dan tidak mengerti maksud Kenneth. Bibir tipis Kenneth terbuka dan tertutup setelah mengulanginya dua kali lalu dia terbatuk kecil dan berkata, “Setelah papamu merencanakan ini dan mengatur sendiri semuanya dan kau masuk dalam situasi seperti ini, aku tanya apakah kau tidak merasa sedih?” Dasar gadis bodoh, haruskah aku mengatakannya dengan begitu jelas?


“Tidak. Aku tidak sedih karena dia memang seperti itu ornagnya. Aku juga sudah mengetahui sejak awal.” jawab Anastasya menggelengkan kepala dengan ekspresi dingin.


Kenneth mendnegus, dia tidak percaya dengan ucapan gadis itu. Sambil mengayun-ayunkan bola kertas ditangannya Kenneth berkata, “Tidak sedih? Tapi kenapa kau masih ingin melakukan tes ini?”


“Aku…..”


“Anastasya, kau tak perlu menunjukkan betapa kuatnya dirimu didepanku. Tak perlu berpura-pura seperti itu.” kata Kenneth tapi sejenak dia menyadari ucapannya barusan agak berlebihan dan tidak seperti dirinya yang biasanya, lalu dengan cepat dia menambahkan, “Tak ada gunanya kau berpura-pura didepanku, tidak ada satupun penyamaran yang lolos dari mataku. Jadi sebaiknya kau simpan saja energimu itu.”


Tadinya Anastasya sempat merasa tersentuh dengan ucapan Kenneth tetapi sekarang dia menunjukkan ekspresi dingin dan berkata, “Terimakasih telah membantuku tapi aku tidak merasa sedih sama sekali.” Dia memang tidak pernah menunjukkan pada orang lain kesedihannya. Kenneth menatapnya lekat-lekat, dia merasakan kekesalan didalam hatinya. Baru saja dia akan berbicara lagi tiba-tiba pintu kamar diketuk kembali.


“Sssstttt…..” Kenneth memberu isyarat agar Anastasya diam.


Anastasya pun langsung mengerti dan kembali bersembunyi didalam kamar. Tetapi baru saja dia masuk, tiba-tiba Kenneth berkata, “Keluarlah ini anak buahku.”


Anastasya langsung mendorong pintu kamar dan kembali keruang tamu. Dia melihat pria berkacamata yang pernah dia lihat di rumah Brandon sedang berdiri diruang tamu memegang tisu yang membungkus rambut Danendra.


Pria itu mengambilnya dan mencium tisu itu, dia mengeryitkan hidungnya, “Mengapa ada bau?”


Wajah Anastasya memanas, dia meletakkan tisu berisi rambut itu di sol sepatunya tentu saja agak sedikit bau….Tepat ketika dia merasa canggung dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tiba-tiba dengan tenang Kenneth berkata, “Gejala OCD mu benar-benar parah. Aku hanya memegang beberapa menit saja ditanganku. Jika ada bau, mungkin itu bau badanku yang wangi ini.”


Ekspresi Anastasya langsung membeku mendengar ucapan Kenneth. Mendengar ucapannya itu, pria bernama Diego itu tidak berpikir lebih banyak lagi, dia segera memasukkan bola kertas itu kedalam sakunya lalu matanya menatap Anastasya.


Setelah beberapa detik, dia menatap Kenneth yang sedang dibungkus dengan handuk dengan tatapan terkejut. “Kalian ini…...”


“Ada sedikit masalah pribadi. Kau harus merahasiakan hal ini dari orang lain.”


Lalu Anastasya mencabut sehelai rambutnya dan memberikannya pada Bagas.


Diego mengeluarkan secarik kertas dan membungkus rambut itu. Dia menatap Kenneth dan berkata, “Orang yang berada dirumah sakit itu….aku telah mencoba segala jenis perawatan dan terapi tapi masih belum berhasil juga. Kata dokter dia menderita gangguan stress pasca-trauma yang parah.  Sangat sulit disembuhkan dan akan memakan waktu sekitar satu tahun.”


“Apa? Satu tahun? Itu terlalu lama, kita tidak bisa menunggu selama itu.” Kenneth mengerutkan keningnya.


Dan tepat saat itu Anastasya melangkah menghampirinya dan bertanya, “Gangguan stress pasca-trauma?”


Celetukan Anastasya itu membuat Diego tidak senang lalu menurunkan kacamatanya sedikit dan menatapnya. Menurutnya wanita ini adalah sumber masalah dan dia tidak menyukainya. Hanya saja karena Anastaya adalah teman Kenneth jadi dia bersikap lebih sabar terhadapnya dibanding dengan wanita lain.


Tetapi karena dua orang lain yang bertengkar beberapa kali dirumah sakit gara-gara masalah Anastasya hari ini dan membuat kepalanya sakit sehingga dia bersikap sedikit tidak sabar terhadap Anastasya. “Ini urusan pribadi kami, lebih baik Nona Anastasya jangan….” Diego belum sempat menyelesaikan ucapannya langsung dihentikan oleh Kenneth dengan mengangkat tangannya. Bagas merasa heran, kemudian dia melihat Kenneth menatap Anastasya dan bertanya.


“Apakah kau tahu mengenai gangguan stress pasca-trauma?”


Anastasya mengangguk, “Gangguan stress pasca-trauma disebut juga dengan PTSD. Salah satu temanku yang berada diluar negeri, tepatnya sepasang suami istri. Mereka sedang melakukan riset mengenai penyakit ini dan mereka ingin menggunakan metode pengobatan tradisional untuk mengobati penyakit ini. Biasanya kalau aku ada waktu luang, aku juga ikut belajar bersama mereka. Jadi kurang lebih aku tahu mengenai penyakit ini.”


Diego bertanya dengan heran, “Ini adalah penyakit mental. Menggunakan metode pengobatan tradisional? Apa kau bercanda?”


Ekspresi Anastasya berubah menjadi serius. “Pengobatan tradisional memiliki sejarah panjang dan mendalam. Orang-orang di luar negeri sedang berusaha untuk mempelajari pengobatan tradisional. Mengapa kalian yang berada dinegara ini malah menganggap remeh pengobatan tradisional?”


Latar belakang keluarga Diego dimulai dari mendirikan rumah sakit yang berorientasi pada sistem pengobatan medis modern. Tentu saja dia menganggap remeh pengobatan tradisional. Lalu dengan tersenyum dan merasa konyol dia berkata, “Aku tidak mengatakan bahwa metode pengobatan tradisional tidak berguna sama sekali. Memang benar kalau metode pengobatan tradisional bisa menyembuhkan pilek, demam, batuk tapi untuk penyakit mental jika kau katakan bisa disembuhkan dengan pengobatan tradisional apakah itu tidak terlalu berlebihan?”


Anastasya mengeryitkan keningnya, kedua orangtua angkatnya sedang melakukan riset untuk metode penyembuhan ini. Dan setelah beberapa kali percobaan mereka mendapati bahwa metode ini cukup efektif.  Tapi metode itu sepenuhnya ditolak oleh Diego. Anastasya tidak setuju dan berkata, “Aku tidak merasa ini berlebihan. Tapi kalau kalian mau, aku bisa membantu kalian untuk mencobanya.”


Tanpa pikir panjang Diego langsung menolak usulannya.


“Tidak perlu! Jika kau merasa pengobatan tradisional begitu hebat, kau dapat menggunakan metode pengobatan itu untuk melakukan tes DNA-nya.”


“Kau----” geram Anastasya.


“Biarkan dia mencobanya.” ujar Kenneth.


Diego dan Anastasya serentak menatap Kenneth bersamaan.


“Kenneth, kau bukannya tida tahu kalau orang itu begitu penting artinya bagi kita.”


“Karena dia penting makanya aku biarkan dia mencobanya, jika metode pengobatan medis modernmu ini kita harus menunggu satu tahun, sedangkan masalah kita semakin lama semakin banyak. Aku dan Brandon bahkan mendapatkan ancaman dari mereka. Tetapi kita masih tidak mengetahui siapa dalangnya. Apakah menurutmu kita bisa menunggu hingga satu tahun?”