THE PROMISE

THE PROMISE
01



USA


Matahari terbit seperti biasanya, memancarkan sinarnya untuk setiap makhluk dibumi. Yang tidak biasa adalah gadis yang tengah berlari menaiki anak tangga yang entah untuk apa.


"Krystal, ternyata kau di sini... Mr.Yixing memanggilmu." ujar gadis tersebut terbata-bata akibat lelah berlarian menaiki anak tangga.


Krystal mendesah pelan setelah mendengar ucapan emannya yang masih berdiri di depan pintu sambil menetralkan nafasnya. "Aku pergi dulu Ra. Bye." Krystal meloncat turun dari selusur tiang pembatas. Berlari meninggalkan tempat itu.


Syera yang melihat itu hanya menggelengkan kepala,temannya itu selalu begitu. Ia melangkah mendekati selusur pembatas. Melihat kebawah dengan pandangan ngeri dan takut. "Apa dia tidak takut jatuh dari sini?". Ia bertanya ntah pada siapa dan memilih meninggalkan atap, tempat itu terlalu ngeri baginya.


Ketukan pintu terdengar. Membuat Mr. Yixing yang ada diruangannya berdehem. Memberi tanda bahwa sang pengetuk boleh masuk.


Krystal yang mendegar deheman Mr. Yixing, menghela nafas pelan kemudian membuka pintu. Krystal berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan meja Mr. Yixing.


Mr. Yixing yang melihat Krystal yang berdiri di depannya, mempersilahkannya agar duduk dengan gerakan tangannya. Menyadari itu Krystal segera duduk dikursi yang berada disampingnya.


"Ada apa Mr memanggil saya?" tanya Krystal sopan.


"Saya langsung ke Intinya saja. Bulan depan, akan diberlakukan pertukaran pelajar. Dan kamu masuk salah satunya. Jika kamu setuju, kamu bisa tandatangani surat ini --" ia mengeluarkan selembar surat dari laci mejanya dan meletakannya di depan Krystal.


"-- Dan jika kamu tidak setuju. Kamu tidak perlu menandatangani surat itu. Cukup kembalikan pada saya.Kau boleh pergi. Dan pikirkan tawaran itu baik-baik. Sekarang, ambil surat itu dan kembali ke kelasmu."


Krystal yang sedari tadi diam, mengambil surat di depannya, memberi salam pada Mr. Yixing dan keluar dari ruangan itu.


Krystal memandang surat itu lekat-lekat. Memikirkan berbagi hal yang membuat dia bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Mengingat dirinya adalah siswi biasa dan tidak terlalu berprestasi.


Krystal memandang kertas itu lekat-lekat. Dengan jelas ia bisa membaca namanya tertera di kertas itu. KRYSTAL JUNG.


Apa ada kesalahan?


Tak ingin berlarut dalam pembahasan tersebut, ia memilih mempercepat langkahnya. Ia sudah terlambat sekitar 5 menit. Tiba-tiba mengingat siapa yang masuk kelas saat ini, ia memilih berlari sepanjang koridor kelas.


Aish, sial...!


...


Sudah 1 minggu berlalu semenjak Krystal menerima surat pertukaran pelajar tersebut. Namun ia belum juga menandatanganinya.


Ia masih bingung harus mengambil pertukaran itu atau tidak. Ia sudah memikirkan banyak alasan yang membuat dia bisa mendapatkan kesempatan ini namun tak satupun yang dapat membuatnya yakin.


Ia menatap formulir itu penuh tanya.


"Apa mungkin karena ada kesalahan?"


Seyra yang tak sengaja melewati taman melihat Krystal dudul sendiri dan menghampirinya.


"Kau akan ikut? Maksudku... Itu. " tunjukknya pada kertas yang di pengang Krystal. Membuat Kryatal terkejut akibat kedatangan Syera yang tiba-tiba.


Krystal melihat Syera yang menatap surat di tangannya.


"Kau membacanya?" ia berdiri, mensejajarkan pandangan nya dengan Syera.


Syera mengangguk. Kemudian mengambil Surat itu dari tangan Krystal. "Kau akan mengambil nya?" tanya lagi.


"Aku tidak tau." ia kembali duduk di ikuti Syera yang duduk disampingnya.


"Why? This ia nice Chance. You can visit your origin country."


Perkataan Syera tidak seperti yang diharapkannya, ia cukup terkejut akan hal itu. Ia pikir Syera mungkin akan marah padanya.


"I know this a nice chance, But this isn't as easy as it looks. I can't leave you and I can not communicate using Korean. What should I do? "


"I'm okay. Don't worry. This is just for 1 year. Come on... you don't have to worry about me, I can take care of myself. Now, sign the letter and give it to Mr.Yixing.This is a last day"


"I can communicate using korea. You know about that." Krystal menunduk, tak lagi melihat kearah Syera.


" Are you kidding? That's not a problem. We use English, international languages. So you don't have to be afraid."


Krystal membenarkan perkataan Syera tadi, mereka menggunakan Bahasa Inggris, Bahasa Internasional. Seharusnya ia tidak perlu khawatir untuk itu.


Mungkin untuk bahasa, ia tidak takut lagi. Tapi mengenai Syera? Itu hal yang lain.


"Bagaimana jika aku ikut dengan mu --" Syera menggantungkan kalimatnya, membuat Krystal mengernyit binggung. "--Sebenarnya, aku juga mendapatkan surat itu. Tapi aku tidak ke Korea, tapi Jepang."


Dalam hitungan detik setelah Syera merampungkan kata-katanya, Krystal menarik tangan Syera dan pergi meninggalkan taman.


Syera yang ditarik begitu saja, pasrah mengikuti alur kemana Krystal membawanya.


"Kenapa kita kemari? " ia menatap pelakat kelas XII-1 diatas pintu.


"Kita akan mencari penirima surat seperti ini dan tentu saja yang ingin bertukar denganmu. Dia yang ke Jepang dan kau ikut denganku ke korea."


"Wait, kenapa harus seperti ini. Lebih baik kita datangi Mr. Yixing dan memintanya untuk mengganti negara pertukaran milikku. Itu lebih mudah." Syera memberi saran. Ia tidak bisa membayangkan harus menjalani setiap kelas. Naik turun tangga, itu melelahkan.


Krystal mendengus pelan, "Kau kira Mr. Yixing akan mau? Dia tidak akan mau mengganti itu. Ayo. "


Syera memilih mengalah, ia menemani Krystal keseluruh kelas XII dan akhirnya menemukannya di Kelas terakhir.


Namanya Marcelino. Setelah berbicara mengenai pertukaran negara yang mereka tuju dan ketiganya menuju keruangan Mr. Yixing.


Mr. Yixing yang hendak keluar dari ruangannya terdiam mendapati ketiga muridnya tengah berdiri di depan pintu seperti mempersiapkan diri sebelum masuk.


Melihat hal itu, Mr. Yixinh akhirnya mengurungkan niat untuk pergi dan memilih meladeni siswa-siswinya itu.


Mr. Yixing berjalan kearah kursi kerjanya dan duduk, menatap ke tiga muridnya yang berdiri kaku di depannya. "Jadi ada perlu apa kemari?" tanyanya.


Ketiganya saling menundukkan kepala. Binggung harus menjelaskannya bagaimana. Padahal mereka sudah membicarakannya sebelum memdatagi kantor.


Mr. Yixing tiba-tiba teringat sesuatu, membuatnya refleks berseru. "Ah... Kalian pasti ingin memberikan surat pertukaran itu bukan?"


Krystal tiba-tiba mendongak melihat kearah Mr. Yixing. "Mr begini...itu...Mengenai pertukaran itu...ada yang ingin kami sampaikan." jawabnya gugup.


Meskipun Mr. Yixing terlihat baik dari sisi wajahnya, tapi itu hanyalah anugrah dari Tuhan untul menutupi sifatnya yang galak.


"Jadi kalian menolaknya?" lagi-lagi Mr. Yixing mengeluarkan kesimpulannya.


"Bukan begitu." sanggah Syera cepat.


"Jadi?" tanya Mr. Yixing heran pada ketiga murid didepannya.


"Kami ingin mengganti negara pertukaran kami. Tepatnya milikku dan juga milik Syera." jelas Marcelino.


"Jadi kalian ingin saya menggantinya?" tanya Mr. Yixing.


Ketiganya menunduk, takut membayangkan apa yang terjadi jika mereka menjawab ia.


Tak kunjung mendapatkan jawaban, Mr. Yixing mengambil map di atas meja. Memeriksa data milik Syera dan Marcelino.


"Jadi,Marcelino ingin ke Jepang dan Syera ke Korea?" tanyanya melihat kearah ketiga muridnya yang masih menunduk.


Ia menghela nafas pelan, melihat kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah. Kalian boleh pergi."


Ketiganya terkejut, tak menyangka akan semudah ini. "Terimakasih Mr, permisi." ucap ketiganya serentak dan keluar dari ruangan yang mengerikan itu.


Selepas perginya murid itu, Mr. Yixing langsung mengedit data kedua murid tersebut.


...


Dua hari berlalu setalah merima surat pertukaran yang baru dari Mr. Yixing membuat Sera dan Krystal berada dalam satu pesawat dengan tujuan yang sama. KOREA.


Syera sungguh semangat semenjak menginjakkan kakinya di Korea. Berbanding terbalik dengan Krystal yang sedikit kikuk dengan kembalinya ia ke Korea.


Krystal memandangi sekitarnya, melihat orang-orang yang berlalu lalang.


Aku berharap ini tidak berakhir buruk seperti sebelumnya.


Ia menutup mata dan mengembuskan nafas pelan kemudian menarik kopernya di sebelah kiri, tangan kanannya menggenggam tangan Syera. Menuntun gadis itu agar tidak tersesat keluar dari bandara.


Apapun akhirnya nanti, aku tidak akan menyesal telah kembali.