THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 68. NATASHA KETAHUAN



Sementara itu dikediaman keluarga Bagaskara. Anastasya masih terjebak dengan antusiasme Keenan yang tidak paham mengapa Brandon menatapnya dengan tatapan tajam penuh permusuhan. Sedangkan Keenan malah menatap Brandon dengan ekspresi yang sulit diartikan. Niat Anastasya yang ingin meminjam mobil malah tidak punya kesempatan untuk berbicara karena situasi ambigu yang dihadapinya. Anastasya tidak tahu harus berbuat apa saat itu, tiba-tiba Kenneth berjalan menghampirinya dengan wajah berkerut.


Kenneth meraih pergelangan tangannya lalu menariknya keluar dari rumah itu sambil berkata. “Kita pergi kesuatu tempat. Ada hal penting.”


Anastasya belum sempat berekasi saat Kenneth menariknya keluar dari rumah itu.


“Hei...mau kemana?”


“Hei...”


Brandon dan Keenan berteriak bersamaan menghentikan Kenneth tapi sebelum mereka sempat menghentikan Kenneth, keduanya sudah dihalangi oleh Diego. “Apa kalian sudah lupa dengan masalah yang seharusnya kita tangani? Ada apa dengan kalian ini?”


Barulah keduanya tersadar dan ingat kalau ada seorang pria yang sedang dalam perjalanan kerumah sakit. Sedangkan Anastasya sudah dibawa masuk ke mobil Kenneth.


“Kemana kau ingin membawaku?” tanya Anastasya sambil menggosok pergelangan tangannya yang sakit karena genggaman kuat Kenneth. Kenapa tenaga pria ini sangat kuat seolah sedang melampiaskan amarah? Setiap kali dia selalu menggenggam tanganku begitu erat.


Kenneth hanya melirik pergelangan tangan Anastasya yang nampak memerah. Dia tidak tahu kenapa tangan gadis itu merah, apakah kulitnya terlalu putih dan kulitnya tipis?


Hanya digenggam seperti itu saja sudah merah. Tapi memang kulit Anastasya putih seperti salju, pikiran Kenneth pun berkelana entah kemana. Melihat Kenneth yang terus menatap pergelangan tangannya membuat Anastasya sedikit tidak nyaman. “Kau mau membawaku kemana, Ken? Aku mau pulang, aku sangat lelah hari ini.”


“Apakah kau ingin bermain film?” tanya Kenneth tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya. “Aku telah melakukan sebuah kesalahan dan aku harus membawamu kesana untuk memperbaiki kesalahanku.”


Anastasya semakin bingung. “Mengapa kau membawaku pergi? Pasti teman-temanmu heran. Kesalahan apa yang telah kau perbuat hingga aku harus ikut memperbaikinya?”


Tak ada jawaban dari Kenneth dan memberikan isyarat pada Rian agar melajukan mobilnya lebih cepat agar sampai di tempat tujuan secepatnya. Dia harus menyelesaikan semua ini, dia telah gegabah sebelumnya. Dia sedang dalam keadaan galau dan kesal merasa sedang dimanfaatkan seseorang.


Setelah berpikir akhirnya dia pun mengerti dimana letak permasalahannya. “Kartu nama yang kuberikan padamu. Sepertinya dia telah mencurinya.”


Tidak mudah untuk mendapatkan kartu namanya, dia memberikan kartu namanya pada Anastasya waktu itu malah dicuri dengan mudahnya. Dia sangat ingin memarahi Anastasya yang menurutnya tidak bertanggung jawab tapi dia tidak tahu alasan untuk marah padanya. Akhirnya Kenneth hanya diam saja, suasana didalam mobil itu hening tak ada seorangpun yang bicara.


Sedangkan dilokasi syuting.


Natasha yang tidak pernah merasa takut karena sudah menandatangani kontrak, selalu bergaya arogan dan berlagak layaknya seorang bintang film terkenal yang harus disanjung dan dihormati. “Aku sudah bilang berulang kali, aku tidak ingin riasan wajah jelek. Aku tidak suka warna abu-abu itu! Tidak cocok dengan kulit wajahku. Membuat aku terlihat jelek.”


“Nona  Tasha. Film ini bercerita tentang bencana makanya harus dirias sesuai dengan konteks cerita. Kalau tidak sesuai maka penonton pasti protes, bagaimana mungkin anda memakai riasan cantik disaat bencana? Tolong kerjasamanya dengan kami agar semua berjalan lancar. Aku hanya meminta penata rias untuk memberikan anda warna bedak yang sedikit gelap.”


Natasha menampar wajah produser itu sambil menggebrak meja. “Apa kau bilang? Apa kau tidak paham bahasa manusia, ha? Sudah berulang-ulang aku mengatakan hal yang sama dan kau tidak paham juga! Kalau aku tidak mau ya tidak mau. Titik!!!!”


Saat Natasha baru selesai bicara, tiba-tiba pintu terbuka keras. Produser mendonggakkan wajah, dia semakin gemetar ketakutan. Dengan senyum terpaksa dia berkata, “Sutradara Eros, maaf sudah membuatmu dan aktor lain menunggu lama. Mereka akan selesai berdandan sebentar lagi.”


“Tidak perlu mengatakan apapun lagi padaku. Aku tidak mau melanjutkan syuting, kau cari saja sutradara lain. Aku berhenti!” ucap Eros.


Sang produser pun terkejut dan merasakan hawa dingin dan dia hampir berlutut dihadapan Eros. “Sutradara Eros…..tolong jangan lakukan ini.  Anda tidak bisa berhentu sesuka hatimu.” bujur si produser sedangkan Natasha menatapnya dengan tak sabar sambil menyilangkan kedua kaki.


Awalnya dia memang tertarik karena Sutradara Eros memiliki nama hebat tapi setelah dia membintangi film itu, Natasha tidak lagi menghargai Eros Bratadikara sebagai sutradara hebat.


Film ini adalah film pertama yang memuat bencana alam dari cerita novel terkenal yang telah menjadi novel teratas selama tiga tahun terakhir. Selain itu jajaran pendukung pembuatan film ini juga sangat kuat bahkan jika sutradaranya diganti, tidak akan mempengaruhi filmnya sama sekali.


“Cepat ganti sutradaranya. Tidak masalah kalau dia sudah tidak mau syuting lagi.” ujar Natasha ketus.


“Dia selalu memprotesku dan mengatakan kalau aku tidak cocok jadi aktris, aku tidak punya gaya dan tak punya kualitas sebagai aktris tapi sebenarnya dia yang tidak punya kualitas sebagai sutradara. Dia sudah tidak mau syuting kan? Aku juga tidak akan membiarkannya ambil bagian di syuting film ini! Cepat pergi cari sutradara pengganti! Atau aku akan meminta Archilles Corp membatalkan investasinya dan film ini tidak bisa dilanjutkan.” ancam Natasha.


Sang produser semakin sakit kepala mendengar ucapan Natasha tentang pembatalan investasi. Dia merasakan dilema berada ditengah-tengah kedua orang yang tak pernah akur itu. Eros melirik Natasha dengan dingin. “Kau sudah merusak film ini. Jika film ini berhasil dan sukses besar maka aku akan menulis namaku secara terbalik!”


Eros sangat marah dan memaki Natasha dalam hatinya. Aktris satu ini…..bukan dia bukan aktris. Orang ini sama sekali tidak pantas menjadi aktris dengan tabiat buruknya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Kenneth merekomendasikan sejak awal dan terus membelanya.


Dan dia menyetujuinya sejak awal, seharusnya dia menolaknya dari awal. Tak ada seorangpun yang menyukai orang itu, sifatnya sangat buruk dan arogan. Natasha yang mendengar ucapan Eros merasa sangat marah dan terhina. “Apa kau bilang barusan? Coba kau katakan sekali lagi? Kau boleh percaya atau tidak, aku akan meminta Tuan Muda Archilles untuk memecatmu dari seluruh industri perfilman.”


Pada saat bersamaan pintu ruangan terbuka dan sesosok pria bertubuh tinggi dan kekar masuk diikuti seseorang dibelakangnya. “Wow...hebat sekali ya. Kenapa aku tidak tahu ya kalau aku ingin memecat Sutradara Eros? Apa aku pernah bilang begitu?”


Suara pria itu terdengar dalam dan dingin membuat semua orang diruangan itu langsung menoleh kearah pintu.


Natasha yang merasa kesal mendengar seseorang yang berani bicara lancang seperti itu langsung mengangkat wajahnya siap memaki orang itu. Saat matanya bertemu dengan tatapan tajam didepannya, seketika wajahnya pucat pasi dan darahnya berhenti mengalir. Tubuhnya gemetar ketakutan, mimpi buruknya datang menghampiri dan dia tertangkap basah oleh orang yang selalu dia sebutkan namanya.


Kenneth Archilles…...Kenapa dia bisa datang kesini? Wah…..ini benar-benar gawat.


Waduh ini benar-benar gawat. Jika Kenneth datang kesini maka dia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa mereka saling kenal dan berteman baik. Dia mencuri kartu nama itu dari Anastasya dan kini semuanya akan terbongkar. Tapi hal lain yang membuat Natasha semakin terpuruk dan hancur adalah melihat kehadiran seorang wanita cantik bertubuh putih langsing yang keluar dari belakang Kenneth.