
Emma menghampiri Anastasya dengan langkah lebar. Dia tak percaya bagaimana mungkin Anastasya bisa mengenal orang-orang ini? Vera Wong pasti sudah salah mengenali orang. Dia terus menerus memanggil Anastasya dengan sebutan Ana dan Anastasya pasti tahu hal itu karena namanya hampir sama jadi dia memanfaatkan kesempatan itu.
“Anastasya!” seru Emma sambil berjalan dan berdiri didepan Anastasya lalu bertanya dengan kasar.
“Bukankah kau berasal dari desa? Bagaimana bisa kau mengenal desainer terkenal seperti mereka? Jangan coba-coba menyamar sebagai orang lain ya, kau pikir disini tidak ada orang yang mengenalimu? Dasar udik tak tahu diri!”
Tapi saat Anastasya hendak bicara, Vera Wong sudah mendahului. “Nona, apakah menurutmu mataku ini tidak berfungsi dengan baik dan salah mengenali orang? Semua pelanggan diterima di toko kami tapi pelanggan yang tidak sopan dan tidak terdidik seperti anda tidak diterima disini!”
Emma menatap Vera Wong dengan tatapan tak percaya. ‘Apakah dia tidak salah dengar barusan? Desainer ini secara terang-terangan mengusirnya? Apa dia tidak tahu siapa aku?’ gumamnya dalam hati. “Siapa yang kau bilang tidak sopan dan tidak terdidik?” bentak Emma penuh amarah. “Percaya tidak kalau aku bisa membuat tokomu ini diitutup selamanya?”
Vera mengangkat dagunya dengan angkuh. “Coba saja, aku mau lihat seberapa hebat kau!”
“Kalian----” Emma menjadi ragu-ragu tapi dia dengan tergesa-gesa berkata. “Kalian akan menyesalinya. Lihat saja!”
Setelah dia selesai bicara, dia berbalik dan pergi. Dia harus segera menemui ayahnya untuk mengusir Couture! Tidak…..tidak….dia harus memberitahu keluarga Archilles. Mall ini adalah milik keluarga Archilles dan tunangannya Raden Keenan Pradipa adalah teman dari CEO Archilles Corp, Kenneth Archilles. Dia akan pergi mencari Keenan!
Keenan dan yang lainnya selalu bersikap sopan padanya, Emma sangat yakin mereka pasti akan membelanya karena dia adalah tunangan Keenan. Emma berjalan keluar dengan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan jalan. Tiba-tiba dia menabrak sesorang pria yang melewati sebuah tikungan. Kebetulan pria itu memegang segelas kopi ditangannya.
Kopi yang ada ditangannya pria itu pun jatuh dan menciprat ke Emma. “Aahh….” teriaknya kesakitan.
“Emma, apakah kau baik-baik saja?” tanya seorang temannya lalu menoleh dan memarahi pria itu. “Kau tidak punya mata ya?”
Pria itupun tercengang, sudah lama dia tidak diperlakukan kasar seperti itu. Pria itu mengeryitkan keningnya. “Kau yang menabrakku duluan dan tak melihat jalan malah menyalahkan orang lain.”
Emma melihat rok mini A line yang baru saja dibelinya itu kotor terkena noda kopi, dia menatap kearah pria itu dengan marah. “Apakau kau tahu berapa harga rok ini? Apakah kau tahu siapa aku? Lain kali jangan harap kau bisa masuk ke mall ini lagi!” ujarnya angkuh.
Senyum pria itu langsung sirna dan mencibir. “Apakah kau tahu siapa aku? Aku yang salah malah memaki orang! Dasar perempuan tidak berakhlak! Seharusnya kau yang tak perlu berharap bisa masuk ke mall ini lagi.”
“Kau…..” Emma sangat marah tetapi dia menengadahkan kepalanya, dia melihat ada manajer mall yang berdiri dibelakang pria itu. Tag nama manajer itu terlihat dari samping bajunya. ‘Aha…..kebetulan sekali!’
Emma lalu berjalan menghampiri si manajer mall. “Hei kau! Cepat kau usir orang ini dari sini! Aku tunangannya Keenan dan CEO Kenneth Archilles adalah temanku!”
Manajer mall tertegun mendengar ucapan Emma lalu tanpa sadar pria itu menatap pria disampingnya kemudian berkata pada Emma. “Maaf, nona. Silahkan pergi dari mall ini secepatnya atau aku akan meminta bagian keamanan untuk menyeret anda keluar.”
“Apa katamu? Apa kau tak salah, ha? Aku bilang aku ini teman dari CEOmu! Siapa orang ini? Mengapa kau malah membelanga, ha?”
Si manajer mall kembali menoleh menatap pria tersebut lalu dengan satu tangannya dia menunjuk si pria itu dan berkata, “Aku tidak tahu apakah kau teman CEO kami tapi pria ini adalah asisten utama dari CEO Archilles Corp, namanya Bapak Rian Malik.”
Kenneth adalah seseorang yang bahkan ayahnya sendiripun masih harus menyanjungnya. Tetapi Kenneth bukanlah orang yang mudah ditemui dan diajak bicara.
Emma juga pernah mendengar bahwa ayahnya telah memberikan hadiah kepada asisten utama ini berharap bisa mendapatkan jalan pintas….tapi gagal. Sedangkan dia baru saja menyinggung sang asisten utama yang ingin disanjung ayahnya Emma. Dia bahkan mengusir asisten itu? Emma tampak ketakutan saat ini sehingga urat biru didahinya berkedut.
“Emma….apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya temannya dengan ketakutan. Bagaimana Emma bisa tahu apa harus dilakukannya sekarang? Dia sendiri juga merasa pusing dengan situasi ini. Baru saja dia diusir dari toko Couture dan sekarang dia malah menyinggung seseorang yang seharusnya tidak dia singgung. Emma merasa kepalanya pusing dan merasa sudah mau gila.
Perlahan Emma menelan salivanya dan mengubah ekspresi wajahnya.”Maaf Pak Rian kami sudah bersalah. Maafkan kami pak, tolong jangan dimasukkan kehati ucapan saya tadi. Kami hanyalah gadis kecil yang tidak tahu apa yang kami pikirkan. Tolong jangan pedulikan kami.”
“Aku tidak peduli dengan kalian!’ ujar Rian Malik sambil menatap noda kopi di rok Emma. “Masalahnya adalah kopi itu! Aku sudah membelinya jauh-jauh, apakah kau tahu kopi untuk siapa?”
Saat membahas soal kopi itu ekspresi Rian berubah menjadi cemberut. Emma sangat terkejut langsung berpikir pasti kopi itu akan diberikan pada Kenneth? Diantara keempat tuan muda dikota itu, Kenneth adalah orang yang paling jelek sifatnya dan tidak bisa disinggung. Dia merasa hidupnya diujung tombak sekarang. Dia telah menumpahkan kopi bahkan memaki asistennya.
Emma semakin ketakutan sehingga tubuhnya bergetar. “Dimana…..dimana anda membeli kopi itu? Aku akan pergi kesana membelinya sekarang.”
“Ya...ya...ya betul! Kami akan pergi untuk membelinya.” ujar temannya.
Dibandingkan dengan Emma, keluarga mereka sama sekali tidak dapat menyinggung Archilles Corp. Jika Archilles Corp ingin mmebunuh keluarganya maka itu sangat mudah untuk mereka lakukan seperti membunuh seekor semut saja.
Saat Rian hendak mengatakan sesuatu, sudut matanya menangkap sosok yang dikenalnya dan kilatan terkejut terlihat dimatanya.
“Nona Tasya.”
Rian Malik langsung mengabaikan gadis-gadis yang tidak sopan itu. Dia meninggalkan Emma begitu saja dan langsung berjalan kearah toko pakaian Couture seperti layaknya seekor anjing golden Retriver yang sedang merasa senang.
Emma lalu mengikuti asisten itu dengan curiga. Benaknya langsung dipenuhi banyak pertanyaan. Anastasya? Kopi yang dibeli Rian tadi itu untuk Anastasya? Ini tidak mungkin! Selain Kenneth siapa lagi yang bisa menggerakkan asisten utama ini? Emma tidak dapat memeprcayainya tapi matany benar-benar melihat Rian Malik berhenti tepat didepan Anastasya dan melambaikan tangan padanya.
“Nona Tasya aku baru saja lewat didepan sebuah cafe. Aku pikir anda pasti sangat menyukai kopi dari cafe itu jadi aku membelikannya untuk anda.”
Anastasya tidak percaya jika asisten utama Kenneth akan kembali, dengan wajah tak berdaya dia tersenyum. “Baiklah tapi mana kopinya?”
Rian yang sangat senang melihat Anastasya pun lupa kalau kopi yang dibelinya telah tumpah. Dia tertegun sejenak dan menatap Emma dengan penuh kebencian.
Otak Emma kosong seketika-----dugaannya benar bahwa kopi itu untuk Anastasya. Tapi bagaimana mungkin asisten utama Archilles Corp membelikan kopi untuk Anastasya? Apa sebenarnya kehebatan gadis desa itu hingga bisa memerintah asisten utama membeli kopinya? Tapi dasar Emma yang selalu berpikiran buruk dia pun mengira kalau Anastasya pasti sudah menggoda asisten itu dengan wajah cantik mempesonanya itu!