
Namun semua orang justru menatapnya dengan acuh tak acuh dan mencibir dan menatapnya penuh penghinaan. Agnes mengalihkan pandangannya kearah mobil hitam itu. Dia melihat Kenneth memeluk Anastasya lalu menggendongnya dan memasukkanya kedalam mobil. Seorang pengawal berkata padanya, “Nona, Tuan Muda tidak akan berbelas kasihan pada siapapun yang mencoba melukai wanitanya.”
Wajah Agnes pucat pasi mendengar ucapan pengawal itu. Baammm! Terdengar bunyi pintu mobil ditutup dengan keras seiring dengan harapannya yang tertutup. Hancur! Kali ini dia benar-benar hancur! Perlahan airmatanya mengalir membasahi pipi, tak ada seorangpun yang mengasihaninya.
Dia merasakan penyesalan, seharusnya dari awal dia tidak mencegah penanggung jawab proyek Cafe Moonlight masuk ke kantor CEO hingga dia tidak akan dipecat dari kantor CEO.
Setelah itu jabatannya diturunkan menjadi penanggung jawab syuting, jika jabatannya tidak diturunkan maka dia tidak akan berakhir seperti ini, dikeluarkan dari semua perusahaan. Tapi penyesalan selalu datang terlambat kalau datangnya diawal namanya pendaftaran! Dan belum ada obat penyesalan di dunia ini. Hatinya juga sakit melihat Kenneth yang memeluk Anastasya dan menggendongnya ala bridal style membawanya masuk kedalam mobilnya.
Sementara itu didalam mobil MPV hitam. “Kita ke hotel terdekat,”
“Baik.” ucap asistennya. Dia memahami situasi lalu dia menaikkan penyekat didalam mobil sehingga ruangan depan dan belakang mobil pun terpisah dibatasi sekat. Anastasya yang masih dalam pelukan Kenneth tidak dapat melihat apa-apa. Dia merasakan tangan pria itu masih memeluk pinggangnya, tak lama Anastasya tersadar dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Kenneth.
Tapi dia merasakan tidak ada tenaga, Kenneth makin mengeratkan pelukannya. Anastasya berusaha melepaskan jaket yang menutupi wajahnya. Seketika dunia pun menjadi terang benderang, mata Anastasya berusaha beradaptasi dengan cahaya.
Dia menyipitkan matanya, Kenneth melirik wajah cantik dalam pelukannya. Dia merasakan kehangatan tubuh Anastasya dan pinggang ramping yang dilingkari tangannya.
“Euhmmm….” Anastasya merasa sakit dibagian perutnya.
“Apa kau merasakan sakit?” tanya Kenneth dengan suara lembut.
“Hem….badanku agak meriang.” ucapnya dengan suara lirih tapi di telinga Kenneth malah terdengar seperti *******. Bagian tubuhnya langsung bereaksi, tanpa sadar tangan Anastasya malah memeluk tubuh Kenneth membuat pria itu bergetar menahan gairah yang mendadak muncul.
Tadinya Kenneth mengira dia tidak akan pernah tertarik pada wanita ini karena di kepalanya hanya ada bisnis dan karir. Tetapi tiba-tiba dia menyadari bahwa dia sama saja seperti yang lainnya yang merasakan ketertarikan pada wanita. Apalagi wanita dalam pelukannya ini sangat cantik dan seksi.
“Terimakasih Ken,” ucap Anastasya menoleh pada Kenneth.
Namun siapa sangka saat menoleh, Kenneth sedang menundukkan kepalanya sehingga wajah mereka sangat dekat dan bisa merasakan hembusan napas masing-masing. Anastasya terpaku, ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan pria.
Wajah pria ini terlihat sangat jelas bahkan dia bisa melihat pori-porinya. Anastasya pun menyadari betapa tampannya pria yang sedang memeluknya itu.
Bibir Kenneth menyentuh bibirnya, Anastasya terpaku dan tak menolak. Keduanya tanpa sadar berciuman dan saling membalas. Pelukan Kenneth semakin erat seolah takut jika dia melepaskan maka gadis itu akan meninggalkannya. Anastasya pun tak sadar mengeratkan pelukannya ditubuh Kenneth.
Suasana di kursi belakang semakin panas dengan cumbuan dua orang berbeda jenis itu. Mereka berhenti saat merasakan kekurangan oksigen. Napas keduanya memburu menghirup udara sebanyak mungkin. Pipi Anastasya merona merah merasa malu karena dia malah membalas ciuman Kenneth. Tanpa sadar dia membenamkan wajahnya ke dada pria itu.
Aroma tubuh Kenneth membuatnya merasa tenang dan melayang, diapun tertidur pulas. Kenneth yang tidak merasakan ada pergerakan lagi pun melirik dan melihat kedua mata Anastasya terpejam dan deru napasnya teratur.
Kenneth tersenyum menatap wajah Anastasya yang sedang tertidur. Dia meringkuk dalam pelukannya bagaikan anak koala, wajahnya sangat tenang dan polos seperti anak kecil. Mobil pun berhenti didepan sebuah hotel bintang lima, asistennya membukakan pintu dan melihat Kenneth menggendong Anastasya turun dari mobil.
Sang asisten bernama Rian itu baru menyadari kalau Anastasya tertidur, dia berusaha menahan senyumnya. Untuk pertama kali dia melihat atasannya itu menggendong seorang wanita dengan penuh kasih sayang. Apakah ini berarti pewaris Archilles Corp akan segera lahir?
“Aku akan menghubungimu nanti jika butuh sesuatu. Pesankan saja makanan untuk Tasya, badannya meriang.” ucap Kenneth lalu melangkah masuk kedalam hotel. Manajer hotel yang sudah mengenalnya langsung mengambil kunci dan membukakan pintu lift untuk Kenneth.
Tatapan mata manajer hotel itu tertegun melihat sang CEO datang ke hotel menggendong seorang wanita cantik. Sadar jika manajer hotel itu melihat wajah cantik Anastasya, Kenneth pun semakin memeluk gadis itu hingga wajahnya makin terbenam didadanya seakan dia tidak rela jika pria lain melihat wanitanya.
Kenneth yang tak ingin siapapun melihat wajah cantik Anastasya segera mendorong petugas hotel keluar dari kamar dan membawa troli berisi makanan masuk kedalam.
“Tasya….bangun. Kamu harus mengganti pakaianmu.” ujar Kenneth tapi tak ada respon dari Anastasya yang sudah tertidur pulas. Dengan bingung, Kenneth mengambil handuk lalu membasahi dengan air dan mulai mengelap tubuh Anastasya. Gadis itu hanya menggeliat sedikit saat dia merasakan sentuhan dingin ditubuhnya tapi tetap tak terbangun.
Kenneth menghubungi staff hotel untuk membelikan pakaian wanita untuk Anastasya, hotel mewah yang memiliki outlet butik brand ternama dan pihak butik pun mengantarkan beberapa pasang pakaian sesuai perintah Kenneth.
“Bagaimana ini…..huffff kalau aku mengganti bajunya nanti dia marah.” Kenneth memijit pelipisnya dan berpikir. Tanpa pikir panjang lagi dia pun meminta pihak hotel mengirimkan seorang staf perempuan untuk membantu membersihkan tubuh Anastasya dan mengganti pakaiannya.
Tak butuh waktu lama seorang wanita berpakaian seragam hotel pun datang. “Tolong kamu bersihkan tubuhnya lalu ganti pakaiannya, kamu pilih salah satu pakaian yang ada di paperbag itu.” Kenneth keluar dari kamar setelah dia memberikan perintah pada wanita itu apa yang harus dilakukannya. “Lakukan dengan cepat!”
“Baik, Tuan.”
Lima belas menit kemudian. “Sudah selesai Tuan. Anda boleh masuk sekarang.”
“Apakah dia terbangun?”
“Tidak sama sekali Tuan. Apa masih ada lagi yang lain, Tuan?”
“Tidak. Kamu boleh pergi sekarang, ambil ini.” ujar Kenneth sambil memberikan tips pada wanita itu.
“Terimakasih Tuan. Saya permisi.”
Kenneth menutup pintu kamar lalu berjalan mendekati Anastasya yang terlihat mulai menggeliat. “Hmmm…..a...” matanya perlahan terbuka dan tampak bingung melihat ruangan itu.
“Kamu sudah bangun?”
“Dimana aku? Kenapa kamu ada disini?”
“Apa kamu lupa kalau aku yang membawamu tadi? Kamu tertidur dimobil dan badanmu meriang jadi aku membawamu kesini.”
Anastasya menatap pakaiannya lalu mengeryitkan kening, pakaiannya sudah diganti. Pikirannya melayang dan pipinya merona merah karena malu memikirkan jika Kenneth yang mengganti pakaiannya. Seakan tahu kecemasan gadis itu, Kenneth tak bisa menahan tawa dan ingin menggodanya. “Maaf kalau aku sudah lancang membawamu kesini. Aku berusaha membangunkanmu, tapi---”
“A—apa kamu yang mengganti pakaianku?”
“Menurutmu?”
“Ha?” Anastasya terkejut dan menunduk malu. ‘Ya Tuhan! Memalukan, dia sudah melihat tubuhku.’ Anastasya sangat malu dan merasa ingin membenamkan tubuhnya kedalam lubang. Kenneth tersenyum puas melihat wajah malu dan rona merah dipipi Anastasya.
“Ha ha ha ha…..apakah kamu sepemalu itu?”
“Kenneth! Kamu keterlaluan! Bagaimana bisa kamu dengan lancang mengganti pakaianku tanpa seijinku?” ujar Anastasya marah dan malu.