
“Wah aku tidak menyangka seorang nona besar dari keluarga Sanari yang bermartabat malah dicurigai sebagai pencuri oleh seorang pelayan toko...ckckck….jika sampai ketahuan orang lain, apakah menurutmua semua orang akan tertawa terbahak-bahak? Tetapi itu sih wajar ya jika si pelayan toko salah paham karena kau berasal dari pedesaan. Aku akan membelikan gaun ini untukmu! Pelayan, tagihan gaun ini masukkan saja ke rekeningku.” ujar Emma dengan sinis.
Pelayan toko itu juga seorang yang licik, begitu dia mengetahui status Anastasya yang tidak biasa diapun terkejut. Tapi dia melihat sikap permusuhan diantara Emma dan Anastasya lalu si pelayan segera merapikan pakaiannya dan tersenyum. “Nona biar aku bungkuskan pakaian ini untukmu.”
Anastasya tidak peduli pada kesombongan Emma. “Tidak perlu. Aku akan membayar sendiri.”
Emma sangat membenci Anastasya didalam hatinya karena apa yang telah dikatakan Keenan padanya waktu itu. Melihat Anastasya yang tidak menunjukkan ekspresi baik, Emma pun tak lagi berpura-pura dengan sikap baiknya. “Aku berubah pikiran. Aku ingin membeli pakaian ini.”
Si pelayan toko tertegun, dia tidak menyangka ternyata Emma sangat tidak menyukai Anastasya dan sama sekali tidak menjaga martabat Anastasya.
Jika dibandingkan antara kedua wanita itu, Anastasya yang tidak jelas statusnya, Emma adalah ratunya dan klien penting di tokonya. Hampir semua bonus yang diterimanya tahun lalu bergantung pada pembelian dari Emma. Si pelayan toko hanya tercengang sesaat lalu tersenyum. “Baiklah Nona Jatmika! Aku akan segera membungkusnya untumu.”
“Tunggu!” Anastaasya menghentikan si pelayan toko dan berkata, “Aku yang duluan ingin membeli pakaian ini, sudah seharusnya diberikan padaku.”
Melihat sikap Emma yang seperti itu memang sudah jelas jika dia sengaja ingin mencari masalah. Jadi jelas bahwa perselisihan yang pernah terjadi diantara keduanya tidak terselesaikan. Karena masalah tidak selesai lantas mengapa dia harus mengalah?
Tidak pernah ada dalam kamusnya bahwa barang-barang yang diinginkannya harus diberikan pada orang lain dan dia hanya diam dan mengalah. Emma mencibir memandang Anastasya dengan sinis dan merendahkan.
“Dasar udik! Kau pikir desamu, hu? Disini adalah wilayah Emma Jatmika! Pelayan cepat bungkus pakaian itu untukku!”
“Ini----” si pelayan toko lalu menatap Anastasya dengan canggung lalu melihat kembali pada Emma, dia terjebak dalam dilema pertikaian dua wanita itu.
Sudah seharusnya pakaian itu diberikan pada Anastasya karena dia yang duluan mengambil dan ingin membelinya. Lagipula status Anastasya juga sepertinya tidak biasa….tapi dia tidak bisa menyinggunf Emma.
Lalu si pelayan toko menggertakkan gigi, “Maaf nona. Nona Jatmika adalah klien VIP kami, pakaian yang dia suka harus diberikan padanya lebih dahulu. Bagaimana jika nona melihat-lihat pakaian yang lain?”
Mendengar ucapan si pelayan toko, Emma pun tersenyum puas sambilmelipat kedua tangan didada.”Apa kau dengar itu udik?”
Saat Anastasya hendak bicara tiba-tiba manajer toko datang, “Apakah tokonya sudah rapi? Desainer akan segera datang untuk memeriksa kondisi dan situasi toko. Cepat bereskan dan rapikan semua pakaian.” ujar manajer toko itu. Setelah berbicara manajer itu melihat Emma dan tersenyum.
“Oh Nona Jatmika apakah kau datang untuk memberli pakaian?”
Emma mengangguk dengan arogan llau menunjuk kearah Anastasya. “Tadinya aku memang ingin membeli pakaian tapi gadis itu bersikeras berebut pakaian denganku. Manajer, menurutmu pakaian berlengan pendek ini akan kau jual pada siapa? Padaku atau dia?”
Manajer toko itu melirik Anastasya dan melihat bahwa dia memiliki aura yang elegan meskipun hanya mengenakan pakaian yang sederhana. Tapi tampaknya gadis itu bukan dari keluarga biasa.
Setelah berpikir sejenak lalu manajer itu terbatuk ringan dan berkata pada Anastasya, “ Toko fisik Couture hanya memiliki satu pakaian setiap modelnya tapi pakaian ini juga dapat di stok ulang. Bagaimana jika anda berikan dulu pakaian ini pada Nona Jatmika, anda bisa meninggalkan alamat anda dan ketika stok barang tiba aku langsung mengirimnya ke alamat anda.”
Anastasya mengeryitkan kening dan berkata, “Tadinya kupikir hanya pelayan toko ini saja yang bermasalah tetapi tak kusangka manajernya juga sama. Sekarang aku jadi khawatir dengan kemajuan merek ini.”
Setelah mendengar ucapan pelayan toko itu, ekspresi wajah Emma semakin sombong dan mengangkat dagunya. “Kau dengar itu? Anastasya, jika kau tak mau membelinya kau pergi saja dari sini. Tidak perlu khawatir tentang merek pakaian orang. Kau tidak pantas!”
“Benarkah aku tidak pantas?” ujar Anastasya dengan geli. Lalu dia menoleh pada manajer toko. “Barusan kau mengatakan bahwa desainernya akan datang, iyakan? Desainer yang mana itu?”
Manajer toko itu sangat geram pada Anastasya. “Itu bukan urusanmu!” ujarnya kesal dengan nada sinis.
Emma pun tak mau tinggal diam, “Pintu toko ada disana, silahkan pergi sekarang, kau mengganggu bisnis toko ini!”
Anastasya memandang sekelompok orang itu dengan tatapan dingin seperti sedang menatap musuhnya. Tepat ketika dia baru saja hendak bicara, tiba-tiba terlihat seorang wanita berpakaian rapi berjalan dengan diiringi segerombolan pengawal.
Saat manajer toko melihat kedatangan wanita modis itu, dia langsung mendorong Anastasya keluar dan memperingatkannya dengan suara rendah. “Jika kau masih mencari masalah lagi aku akan memanggil polisi! Pelayan bawa dia keluar dari pintu belakang!”
Si pelayan toko melangkah maju dan menarik Anastasya kepintu disisi lain. Lalu si manajer toko dengan cepat merapikan penampilannya dan membisikkan beberapa kata pada Emma.
Dia menghampiri wanita modis itu bersama Emma dan teman-temannya. Si manajer toko menyambut dengan senyum diwajahnya. “Desainer Vera! Anda datang cepat sekali, kebetulan klien VIP kita juga ada disini jadi anda bisa mengobrol dengannya.”
Kemudian sambil tersenyum, Emma berkata. “Desainer Vera, aku sudah lama mengagumimu dan sangat menyukai pakaian yang anda rancang. Terlebih lagi produk baru yang tadi kulihat di majalah. Aku sengaja datang untuk membeli produk baru hari ini.”
Vera tersenyum dengan datar dan tidak akrab lalu bertanya, “Barusan aku mendengar ada seseorang berdebat didalam toko? Apa yang terjadi?”
Manajer toko langsung gugup, konsep pelayanan di Couture adalah “Klien adalah raja dan kami harus melayani setiap klien dengan baik.”
Lalu dia tertawa dengan perasaan bersalah. “Bukan apa-apa hanya seseorang yang sengaja datang mencari masalah saja. Kami sudah mengusirnya pergi.”
Vera mengeryitkan keningnya, “Mencari masalah katamu? Mengapa mencari masalah? Apakah ada yang salah dengan pelayanan kita?”
“Oh tidak….tidak….” jawab manajer itu cepat sambil mengibaskan tangan. “Dia hanyalah seorang klien iseng saja.”
Pada saat itu, Anastasya yang sudah hampir ditarik keluar oleh si pelayan toko tetapi tenaga pelayan toko itu tidak bisa menandingi tenaga Anastasya. Tadi dia hanya terkejut sejenak karena tidak menyangka kalau pelayan toko akan langsung mengusir orang begitu saja.
Saat Anastasya tersadar, dia langsung menghentakkan tangan si pelayan toko yang menyeretnya dan melangkah mundur. “Apakah seperti ini pelayanan di tokomu?” Anastasya bertanya dengan nada kesal karena sejak awal si pelayan toko itu sudah menghinanya, pelayanannya juga pilih kasih dan sekarang malah mengusirnya.
Tetapi saat berikutnya dia melihat Vera sedang berdiri ditengah toko. Vera yang saat itu secara kebetulan memandang kearah Anastasya pun terkejut. Tetapi manajer toko dan Emma tidak memperhatikan ekspresi Vera.