
Anastasya berjalan kembali masuk kedalam toko, simanajer toko yang melihatnya kembali lagi langsung memelototi pelayan toko yang tampak berdiri dibelakang Anastasya. “Hei kenapa kau kembali lagi dasar pembuat onar! Aku sudah katakan tadi jika kau sengaja mencari masalah disini maka aku akan langsung memanggil polisi.” ujar manajer toko dengan angkuh.
“Anastasya, mengapa kau tidak tahu malu, ha? Kau tidak diterima di toko ini! Mengapa kau masih kembali lagi dan mengganggu bisnis orang? Dasar udik tidak tahu malu!” ujar Emma menambahkan sengaja memperkeruh suasana.
Tak disangaka disaat bersamaan Vera justru berjalan mendekati Anastasya dengan ekspresi terkejut. “Nona Ana? Apakah ini benar-benar kau? Apakah aku tidak salah orang?”
Anastasya pun tak kalah kagetnya.”Apakah ini kau?”
Vera mengangguk-angguk dengan senang dan wajahnya berbinar. “Kau benar-benar ingat denganku?”
Si manajer toko dan Emma terkejut melihat mereka saling menyapa. ‘Apakah desainer itu mengenal Anastasya?” gumam Emma dalam hati. Bahkan Emma lebih terkejut dibandingkan dengan simanajer toko.
Bagaimana mungkin seorang gadis desa bisa mengenal seorang desainer terkenal? Emma pun mendengar semua perkataan Anastasya.
“Tadi kudengar dari mereka kalau desainer Couture akan datang tadinya kupikir itu Elsire…..tak kusangka ternyata kau.”
Vera mengangguk. “Ya tadinya aku adalah asisten Elsire tapi sekarang aku seorang desainer. Beberapa wakt lalu Elsire mengatakan padaku bahwa tanpa keberadaanmu disana dia bahkan tidak dapat menemukan inspirasi untuk desainnya.”
Manajer toko yang mendengar ucapan Vera pun langsung membelalakkan matanya tak percaya. Sipelayan toko yang berdiri disebelahnya pun ikut berumam pelan, “Bukankah Elsire adalah pendiri sekaligus ketua desainer Couture kita?”
Si manajer toko langsung bergidik ketakutan dan tubuhnya lemas tak bisa berdiri dengan kuat. Dia kini menyadari kalau sudah membuat kesalahan besar. Siapa sebenarnya gadis itu yang sudah mereka singgung?
Emma yang terkejut tak bisa menggambarkan suasana hatinya dengan kata-kata. Seorang gadis desa tidak hanya mengenal desainer Vera tapi juga mengenal pendiri merek Couture yang terkenal itu? Atau apakah Vera salah mengenali orang? Tapi setelah dia pikir-pikir, tak mungkin Vera salah mengenali orang karena keduanya berbicara banyak dan seakan-akan sudah melupakan orang-orang disekitarnya.
Vera yang tersadar akan kejadian yang dilihatnya tadi pun langsung bertanya dengan nada serius. “Nona Ana, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa mereka mengatakan kau mencari masalah?”
Anastasya langsung melirik kearah manajer toko dan pelayan toko yang bergidik ketakutan. Lalu Anastasya pun menceritakan apa yang terjadi tanpa memberikan ruang pada kedua orang itu untuk membela diri.
“Begini, aku tertarik dengan salah satu pakaian tapi kedua wanita di tokomu ini mengatakan aku adalah pencuri dan yang satunya mengatakan aku harus memberikan pakaian itu pada pelanggan VIP dulu dan bahakan meminta pelayan toko untuk menyeretku keluar.”
“Vera Wong! Jika mereka pakaianmu meneruskan pelayanan seperti itu pada pelanggan maka aku rasa kau tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk mencari desainer yang hebat. Lebih baik luangkan saja waktumu untuk mencari karyawan yang berkualitas baik untuk tokomu dan memberi mereka pelatihan yang lebih baik.” Begitu Anastasya selesai bicara, si manajer toko dan pelayan toko merasa seperti ditampar oleh Anastasya dengan kata-kata.
Saat keduanya mendonggakan wajahnya melihat Vera Wong sedang menatap mereka dengan tatapan tajam dan dingin. Kini mereka berdua menyesali perbuatannya, mereka takut kehilangan pekerjaannya karena tunjangan karyawan di Couture sangat baik. Untuk seorang manajer toko, gaji yang diberikan juga sangat tinggi. Bahkan pendapatan bulanan pelayan toko saja sangat tinggi belum lagi ditambah dengan bonus penjualannya. Mereka sangat tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Tidak ada tempat kerja lain yang lebih baik daripada Couture.
Tiba-tiba si manajer toko meraih lengan Anastasya.”Nona aku benar-benar minta maaf. Aku telah buta karena tidak melayanimu dengan baik, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku janji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi.”
“Maaf nona! Aku akan bersikap adil pada pelanggan dikemudian hari dan akan melayani pelanggan dengan baik. Aku mohon berikan aku kesempatan, sekali ini saja.” ujar pelayan toko menangis tak ingin kehilangan pekerjaannya. Keduanya berlutut dihadapan Anastasya.
“Memperlakukan pelanggan dengan baik dan adil adalah persyaratam mendasar dalam berbisns. Tapi mengapa kau malah melupakan itu? Kau malah bersikap seakan-akan sedang membuat janji. Apakah sulit bagimu bersikap adil dan baik pada semua orang?” ujar Anastaya.
“Tidak….tidak...” ujar si pelayan toko dengan cepat. “Aku salah! Aku benar-benar sadar aku telah berbuat salah. Aku akan bersikap adil dan baik pada semua pelanggan serta memperlakukan mereka seperti raja dikemudian hari.”
Anastasya menepis tangan kedua orang itu dan menatap dengan sinis. “Jangan katakan itu padaku! Yang aku tahu jika aku tidak bertemu dengan Vera Wong hari ini maka kalian sudah menangkapku sebagai pencuri. Untuk hal lainnya kalian bicarakan saja dengan Vera.”
Kedua orang itu langsung menatap Vera Wong dengan ketakutan. Wajah Vera bahkan lebih dingin dibandingkan wajah Anastasya.
Tak lama kemudian Vera memberikan instruksi pada asistennya yang berdiri dibelakangnya. “Beritahukan pada kantor pusat untuk menghapus nama kedua orang ini dari perusahaan Couture dan semua toko yang berada dibawah manajemen Couture tidak boleh diijinkan merekrut mereka lagi!”
“Baik.” jawab asistennya sambil melambaikan tangan memanggil pengawal yang langsung datang menyeret kedua orang itu keluar dari toko.
Anastasya masih bisa mendengar kedua orang itu memohon belas kasihan tapi dia merasa tidak perlu untuk bersimpati pada mereka. Dia hanya bersimpati pada orang yang pantas untuk itu. Sedangkan pelayan lain yang berada di toko itu langsung menatap Anastasya dan merasa senang karena tadi mereka tidak ikut menyinggung Anastasya. Seorang pelayan yang cerdik langsung mengambil pakaian yang disukai Anastasya dan membungkusnya.
Sedangkan Emma yang sejak tadi diperlakukan sebagai pelanggan VIP malah sekarang tak ada yang mempedulikannya lagi. Dia seperti anak buangan yang tak dilirik oleh siapapun. Emma berasal dari keluarga berada dan dibesarkan seperti seorang putri sejak kecil, dia biasa dimanjakan dan mendapatkan semua yang dia mau. Dia bahkan memiliki janji pernikahan dengan keluarga Pradipa. Selain itu dia juga juara pertama sosialita tahun lalu sehingga menjadi pusat perhatian. Tapi hari ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa ditinggalkan dan diabaikan.
Perasaan tidak berdaya saat anjingnya dipukul sampai mati didepan matanya terasa kembali dan membuatnya sesak. Namun perasaan tidak berdaya itu kini berubah menjadi kemarahan. ‘Merek apa, desainer apa, Anastasya itu siapa. Apapun yang Emma inginkan akan terwujud maka dia akan membuat orang-orang ini akan keluar dari kota Jakarta!’
Emma mengepalkan kedua tangannya karena marah. Teman-temannya yang berada disampingnya melihat bahwa suasana hatinya buruk. Mereka mencoba membujuknya tapi saat tangan mereka menyentuh lengan baju Emma, gadis itu langsung mendorong mereka.