
Kenneth masih tak bergeming, hanya menatap Emma dengan dingin. Siapa Anastasya itu? Dia sama sekali tidak mengenal Anastasya dengan baik tapi dia pun tidak percaya sedikitpun dengan ucapan Emma. Jika Emma bukan tunangan Keenan mungkin Kenneth sudah mengusirnya sejak tadi dan tak memberinya peluang untuk bicara. “Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan barusan? Kau tidak perlu mendikte bagaimana caraku mengatur asistenku. Dia bekerja untukku dan aku yang berhak.”
Sebenarnya Kenneth hendak mengatakan “Anastasya” tapi dengan beberapa pertimbangan dia mengganti ucapannya menjadi “asisten utama”.
Mendengar ucapan Kenneth sontak membuat wajah Emma pucat pasi. “Aku…..” dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak ada satu kalimat pun yang bisa dia ucapkan. Dia sama sekali tak menyangka jika tak ada satu orangpun di ruangan itu yang membelanya padahal dia tunangan Keenan, setidaknya begitulah yang dia pikir.
Yang satu lebih mempercayai asisten utamanya sedangkan yang lain malah lebih menyukai gadis udik desa itu. Emma benar-benar menyesali keputusannya untuk datang ketempat itu. Seharusnya lebih baik dia menyuruh seseorang menculik Anastasya dan mengikatnya lalu memukulinya sampai babak belur untuk meredakan semua kemarahannya.
Hanya memikirkan semua itu sudah membuat Emma semakin membenci Anastasya, dia sama sekali tidak mengerti mengapa bisa seperti itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa terhina terlebih lagi dihadapan Keenan, tunangannya yang bahkan tidak mau melihatnya sejak tadi.
Saat Emma merasa sangat putus asa untuk mencari jalan keluar agar dia tidak terlihat terlalu memalukan, matanya melirik kearah Keenan. Matanya berbinar, masih ada Keenan disana yang mungkin bisa dia manfaatkan! “Tuan Muda Pradipa!” Emma memanggil Keenan dengan suara lembut sambil mengerjapkan mata.
Beberapa tetes airmata sudah jatuh dipipinya, matanya berkabut dengan raut wajah sedih. “Aku sama sekali tidak tahu jika Tuan Muda Bagaskara dan Anastasya berteman, maafkan aku ya. Lain kali jika ada baju ataupun barang yang disukai Anastasya maka aku tidak akan berebut dengannya. Aku mohon maaf dan tolong jangan salahkan aku.”
Emma memang seorang ratu drama, dia sangat pandai berakting dengan memasang wajah polos. Keenan menjadi tidak tega saat melihat Emma terisak dengan bahu bergetar. Meskipun Emma hanyalah tunangan dalam status saja tapi menurutnya Emma tidak melakukan kesalahan dan tidak sepatutnya mempermalukan dan mengusirnya dari mall.
Saat dia memikirkan kembali alur ceritanya, setelah pakaian Emma direbut orang lain kemudian dia berinisiatif datang mengadu pada temannya lalu diusir oleh temannya. Keenan merasa malu karena bagaimanapun status pertunangan mereka belum diputus secara resmi. Ekspresi wajah Keenan mulai melunak lalu melirik pada Kenneth dan Brandon. “Bagaimana jika masalah ini anggap saja berlalu. Jangan lagi dipersoalkan.”
Baru saja Keenan selesai bicara, kepala pelayan keluarga Bagaskara bergegas masuk dan menghadap Brandon. “Tuan Muda kedatangan dua orang tamu. Katanya dia ingin meminjam mobil.”
“Siapa?” tanya Brandon dengan tak sabar karena masih diliputi amarah.
“Katanya dia asisten Tuan Muda Archilles. Namanya Rian Malik.” ucap kepala pelayan itu.
“Asisten Rian?” Brandon menatap Kenneth. “Bukankah kau menyuruh asistenmu untuk membantu Anastasya? Kenapa dia malah datang kesini untuk meminjam mobil?”
Kenneth pun merasa bingung, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. “Suruh mereka masuk!” ujar Brandon setelah melihat tidak ada jawaban apapun dari Kenneth. Kepala pelayan pun bergegas keluar, tak lama dia kembali bersama dua orang. Saat Brando mengangkat wajahnya, dia melihat Anastasya yang sedang melihat ke sekelilingnya. Dia berdiri tepat dibelakang Rian Malik. Brandon sama sekali tidak menyangka jika Rian akan datang bersama Anastasya.
“Anastasya, mengapa kau juga ada disini bersama Rian?” tanya Brandon.
Emma dan Natasha adalah dua orang yang memiliki sifat yang sama. Anastasya sama sekali tidak menyukai Emma apalagi setelah kejadian di mall hari ini. Anatasya mengalihkan pandangannya, “Begini, kami dalam perjalanan pulang dari mall tapi mobil kami mogok tidak jauh dari sini. Asisten Rian bilang agar kami datang kesini untuk meminjam mobil. Aku tidak tahu kalau kalian sedang berkumpul, maaf kalau aku merepotkan.”
“Di garasiku ada beberapa mobil yang bisa kau pilih. Pilihlah mobil mana yang kau suka.” ucap Brandon ramah, sikapnya sangat berbeda dibanding saat dengan Emma. Emma yang berdiri dibelakang Keenan pun terkejut dengan suara ramah Brandon. Dia melirik Anatasya dari balik bahu Keenan. Mengapa ****** ini malah datang kesini? Ah….tidak apa-apa. Kedatangannya tepat waktu. Keenan baru saja membelanya maka dia akan mempergunakan kesempatan ini agar Anastasya dibentak oleh Keenan dan mengusirnya!
“Tuan Muda Pradipa! Perempuan ini yang mrebut pakaianku dan mengusirku!”ujar Emma melirik Keenan sambil telunjuknya menunjuk kearah Anastasya. Keenan yang tidak terlalu mempedulikan Rian pun tidak menyadari kehadiran Anastasya disana. Saat Emma menunjuk Anastasya, tanpa sadar matanya mengarah menatap Anastasya. Sekejap matanya terbelalak. Itu dia! Itu gadisnya…..sang dewi pemikat hatinya!
Emma sama sekali tidak menyadari ekspresi Keenan saat menatap Anastasya, dia malah mengadu untuk membela dirinya. “Iya perempuan ini sangat jahat! Kau harus menghajarnya untukku!”
Keenan sontak menyadari siapa yang dimaksud oleh Emma. Keenan memicingkan matanya tak suka dengan ucapan Emma. “DIAM!!! bentaknya menatap tajam pada Emma. Wanita itu sangat terkejut dibentak oleh tunangannya, sebelum dia sempat bereaksi Emma melihat Keenan sudah menghampiri Anastasya dengan wajah ceria penuh semangat sambil menyodorkan tangannya.
“Halo…..apa kau masih mengingatku? Aku Keenan, kita bertemu saat aku kerumahmu waktu itu! Aku yang membunuh anjing itu.” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Bagaimana tidak? Dia sangat mengharapkan pertemuan ini, sang dewi pujaan hatinya!
Wajah Emma mendadak pucat! Apa-apaan ini? Kenapa malah tunangannya pun begitu bersemangat bertemu Anastasya dan sikapnya juga manis. Tidak pernah sekalipun Keenan bersikap seperti itu pada Emma sebelumnya.
Anastasya yang awalnya terkejut namun setelah mendengar penjelasan Keenan barulah dia ingat pria itu. “Oh…..ya ternyata itu kau. Maaf kalau aku lupa.”
Emma yang melihat interaksi keduanya pun tak senang, kedua alisnya mengeryit dan bibirnya mengerucut. Dia bisa melihat sikap Keenan yang berbeda pada Anastasya. Emma belum pernah melihat seorang Raden Keenan Pradipa terlihat begitu lemah lembut didepan lawan jenisnya. Emma mengepalkan kedua tangannya dan tak mengucapkan sepatah katapun.
Kenneth yang merasa diacuhkan oleh Anastasya pun merasa tidak senang melihat kedua orang itu berbicara, hatinya panas merasa cemburu. Dia sudah tidak tahan lagi, lalu pura-pura terbatuk untuk mengalihkan perhatian kedua orang itu. “Ada apa kau datang kesini? Apa tadi ada sesuatu yang terjadi saat kau berada di mall?”
Rian yang tidak menyukai Emma pun lantas menceritakan semuanya, meluapkan semua emosi yang tertahan sejak tadi. Dia bahkan menambahi sedikit bumbu untuk membuat Emma terlihat semakin buruk. Dia menceritakan semuanya sejak awal sampai akhir pada Kenneth.
“Pak Kenneth, Nona ini barusan membuat onar di mall. Dia bahkan sangat berani mengusirku dan Nona Anastasya dari mall. Oh satu hal lagi, ternyata Nona Jatmika ini ingin merebut pakaian yang ingin dibeli oleh Nona Anastasya. Intinya, dia sengaja memprovokasi dan mengikuti Nona Anastasya. Setiap barang yang disukai oleh Nona Anastasya pun direbut olehnya.”