THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 94. KETAMAKAN



Cahaya ketamakan diwajah Danendra tampak berkilauan membuat Anastasya merasa jijik melihat pria itu. Benar! Ucapannya benar sekali. Lalu Danendra menoleh dan memberikan instruksi kepada pelayan, “Minta supir untuk menunggu didepan pintu. Aku akan pergi mencari Tuan Muda Archilles!”


 


Clarissa pun buru-buru menghentikan Danendra dan berkata, “Suamiku, masalahnya bukan di Tuan Muda Archilles. Tidak peduli seberapa hebatnya dia, tetap saja dia harus mendengarkan kata-kata orang tuanya dalam hal pernikahan. Sebaiknya kita langsung saja pergi kerumah keluarga mereka dan menemui Nyonya Archilles.”


 


Saat Danendra mendengar bahwa dia disuruh istrinya untuk langsung pergi kerumah keluarga Archilles, tiba-tiba saja dia merasa ragu. Seperti yang diketahui semua orang bahwa nyonya Archilles hanya memperdulikan keluarganya saja. Jika orang-orang kaya biasa yang mendatanginya untuk meminta secangkir kopi pun tidak akan diberikan olehnya.


 


“Langsung menemui Nyonya Archilles? Aku rasa itu tidak terlalu baik. Wanita itu…...sebelumnya aku pernah mencoba untuk mengatur agar kau bisa ikut arisan grupnya, tapi kau tahu bagaimana reaksinya.” ujar Danendra menggelengkan kepalanya. Wajah Clarissa pun langsung berubah, dia ingat beberapa hal yang sangat memalukan itu.


 


Clarissa mengingat waktu itu Danendra membantunya mencari keberadaan Nyonya Archilles yang ternyata berada di ruang VIP hotel milik keluarga Archilles tempatnya berkumpul bersama geng sosialitanya. Pada saat itu Clarissa ingin ikut bergabung dengan mereka namun Nyonya Archilless sama sekali tidak memandangnya dan malah mengusirnya keluar dengan kasar.


 


Saat itu Nyonya Archilles berkata pada Clarissa, “Mengapa orang-orang yang tidak jelas kelasnya seperti ini juga dapat merasa kalau dia pantas bergabung di grup yang sama denganku?”


Dan ucapan itu benar-benar mempermalukan Clarissa karena semua orang menertawakannya dan mencemoohnya. Dia menjadi olok-olokan para sosialita kelas atas sejak hari itu/


 


Sejak hari itu dia tidak pernah lagi berencana berhubungan dengan Nyonya Archilles sampai sekarang. Clarissa menyembunyikan ketidaknyamanannya didalam hati lalu dengan tatapan penuh tekad dia berkata, “Meskipun keluarga Archilles sangat berkuasa tetapi mereka juga tetap takut dengan rumor. Sekarang adalah jaman digital jika beritanya terebar dan viral, aku rasa mereka tidak akan mungkin menolak pernikahan begitu saja.”


 


“Ya ya kau ada benarnya juga! Kita harus pergi kerumahnya saja kalau begitu.” ujar Danendra kembali mendapatkan semangat dan percaya dirinya. Lalu dia menoleh pada Anastasya dan berkata, “Pergi ganti pakaianmu dengan yang lebih bagus lagi. Kita akan pergi kerumah keluarga Archilles sekarang!”


 


Anastasya memicingkan matanya dan menggelengkan kepala, “Aku tidak ikut.”


Danendra mengangkat alisnya, tepat ketika dia baru saja berbicara Clarissa sudah berbicara lebih dulu.


“Tasya, jangan bodoh ya. Tante dan papamu melakukan ini juga demi kebaikanmu sendiri. Hanya dengan menikah ke keluarga Archilles, kesucianmu baru dapat dihargai. Dan di masa yang akan datang kehidupanmu juga pasti akan sukses dan lancar. Tidak ada sesuatu hal pun yang perlu kau khawatirkan.”


 


Dia harus membawa Anastasya pergi menemui keluarga Archilles agar mereka mengakui Anastasya dan setelah itu jika Anastasya membuat sedikit skandal saja maka keluarga Archilles tidak akan melepaskannya! Ini sangat bagus! Dan dengan keributan yang akan ditimbulkan hari ini maka semua orang akan mengetahui bahwa Anastasya adalah wanita yang suka gonta ganti pria.


 


Lalu dengan status dia di keluarga Achilles, jika dia pergi berhubungan dengan pria lain diluaran maka reputasinya akan benar-benar hancur dan disaat itulah Clarissa akan menyingkirkannya dengan sangat mudahnya. Benak Clarissa sudah dipenuhi dengan rencana-rencana yang telah diaturnya dengan begitu rapi. Danendra melirik istrinya dengan tatapan setuju lalu menatap Anastasya.


 


“Semua yang dikatakan tantemu itu benar. Kami melakukan ini demi kebaikanmu juga. Cepat pergi berganti pakaian dan bersiap-siaplah.” kata Danendra penuh penekanan.


 


Tetapi jika dia pergi kerumah keluarga Archilles hari ini maka dia akan menjadi topik pembicaraan orang lain untuk waktu yang cukup lama. Anastasya sedang sibuk dengan misinya untuk menyelidiki kebenaran jadi dia tidak ingin terlalu banyak orang yang mengetahui tentang dirinya. Sekarang waktunya belum tepat untuk mengungkapkan identitasnya.


 


Anastasya melirik Clarissa dengan santai lalu ujung bibirnya terangkat membentuk senyum dan berkata, “Papa, bukannya aku tidak mau pergi tetapi karena aku tidak perlu pergi kesana!”


“Apa maksudmu? “ tanya Danendra bingung.


Anastasya menghela napas dan berkata, “Sebenarnya tadinya aku tidak ingin memberitahumu karena aku masih mempertimbangkannya.”


 


Danendra pun bertambah bingung lagi, “Mempertimbangkan apa?”


“Sebelum aku meninggalkan hotel hari ini, Tuan Muda Archilles memintaku untuk mempertimbangkan apakah aku mau menjadi pacarnya.” jawab Anastasya malu-malu.


“Apa?”


“Apa?”


 


Danendra tampak begitu gembira namun Clarissa tampak terkejut dan tak senang mendengar itu. Lalu dengan cepat Danendra bertanya, “Benarkah yang kau katakan itu Tasya? Tuan muda Archilles mengatakan itu kepadamu? Dia memintamu?”


 


Sambil mengangguk malu-malu Anastasya berkata, “Ya itu benar papa. Hal seperti ini aku tidak akan menggunakannya untuk menipumu. Jika tak percaya, kau boleh bertanya kepada Tuan Muda Archilles. Aku akan meneleponnya sekarang untukmu.” setelah selesai bicara Anastays memberi isyarat untuk menelepon Kenneth.


 


“Jangan-jangan!” ujar Danendra dengan cepat menghentikannya. Karena Kenneth sudah mengatakan itu maka ini adalah kesempatan emas bagi Anastasya. Jika dia meneleponnya dan bertanya mengenai hal itu maka bisa saja kesempatan emasnya akan hilang. Sebagai seorang wanita, dia hanya perlu sedikit pendiam sehingga si pria akan terus mengingatnya.


 


Didalam hatinya, Danendra merasa sangat senang lalu dia berpura-pura marah dan berkata, “Kau ini benar-benar anak bodoh! Hal penting seperti itu mengapa baru mengatakannya sekarang? Bagaimana mungkin bisa ada rahasia diantara seorang anak dengan papanya?” ujar Danendra menunjukkan sikap seperti seorang ayah penyayang dan pengertian.


 


Dengan polosnya Anastasya berkata, “Aku juga belum mempertimbangkannya lagi. Lagipula aku belum mengenal Tuan Muda Archilles dengan baik jadi sepertinya agak terlalu terburu-buru jika aku langsung menyetujui permintaannya.”


 


“Benar-benar! Sudah benar kau tidak langsung menyetujuinya. Jangan sampai dia merasa bahwa kau adalah gadis yang bisa dipermainkan dengan seenaknya.” Danendra tampak sangat puas, dia merasa meskipun Anastasya bodoh tetapi dia sangat beruntung.


 


Mungkin orang-orang kaya seperti mereka itu sekarang menyukai tipe gadis seperti Anastasya yang konyol dan manis. Anastasya melirik Clarissa dengan tersipu dan sudut mulutnya berkedut sedikit kemudian dia bertanya kepada Danendra, “Jadi bagaimana? Apakah kita masih perlu pergi kerumah keluarga Archilles sekarang?” tanya Anastasya tersenyum tipis.