
“Ehemmm….ada penanggung jawab proyek diluar. Dia mengatakan bahwa Brand Ambassador telah tiba untuk tanda tangan kontrak. Jika anda masih sibuk saya akan mengatakan padanya.” kata asisten muda itu dengan suara lembut. Dia sudah melihat video Coffee Latte Art dan tahu betapa cantiknya Anastasya dan dia merasa iri sehingga dia tidak ingin Kenneth untuk menemuinya. Itulah alasan mengapa dia dengan sengaja menunda waktu sampai sekarang. Tapi satu hal yang dia tidak tahu bahwa Anastasya sangat penting bagi Kenneth.
Asisten muda itu hendak beranjak pergi karena yang dia tahu biasanya sang CEO sering menolak tamu.
“Tunggu!” suara Kenneth terdengar dingin. Asisten muda itu berhenti lalu membalikkan badan. “Tuan CEO apakah ada hal lain yang anda inginkan?”
Namun dia kaget saat melihat Kenneth sudah berjalan dan berdiri tegak didepannya. Jantung si asisten muda itu berhenti sejenak, dia menatap wajah tampan Kenneth yang selalu membuatnya sulit tidur itu. Dia sangat dekat! Apakah dia ingin menciumku? Pikirnya.
“CEO….” ucapnya dengan wajah tersipu malu. Sengaja dia memanggilnya dengan suara manja dan serak-serak basah dan menjulurkan tangan kanannya ke pinggang Kenneth. Tetapi saat tangannya hampir menyentuh Kenneth, tiba-tiba tangan itu digenggam oleh Kenneth dengan kuat hingga terasa tulang tangannya retak.
“Aaahh….” teriak asisten muda itu dengan wajah pucat menahan kesakitan dan menatap Kenneth dengan tatapan tak percaya. “CEO...”
“Apa yang mau kau lakukan ha?” tanya Kenneth dengan wajah datar, mata gelapnya yang dingin membuat asisten itu bergidik ngeri.
Dia kesakitan dan merasa tangannya patah. “CEO….tanganku sakit.”
Kenneth mengibaskan tangan asisten itu dengan jijik “Kau sudah melewati batas! Ingat siapa kau!” ujarnya dengan suara dingin.
“Ma—maaf.” asisten itu sama sekali tidak menyangka bahwa semua hanyalah imajinasinya. Kenneth sama sekali tidak bermaksud menciumnya. Dia terlalu berkhayal tinggi. “A—aku sebenarnya merasa sedikit pusing tadi karena aku menderita darah rendah. Aku tidak sengaja ingin….”
Kenneth mendengus malas mendengar penjelasannya, jelas dia tahu maksud asisten itu. “Penanggung jawab proyek apa yang menungguku?”
“Penanggung jawab Cafe Moonlight.” jawabnya menghela napas lega.
“Sudah berapa lama dia menunggu?” tanya Kenneth tiba-tiba sambil menatap tajam.
“Se…..sekitar setengah jam.”
“Setengah jam? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang, ha? Sialan!” bentak Kenneth.
“Aku….”
“Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa. Pergi ke departemen personalia sekarang juga dan ambil gajimu. Kau tidak perlu datang lagi besok!”
Asisten muda itu langsung membelalakkan mata tak percaya, dia yang mengira sudah lewat dari bahaya kini malah kehilangan pekerjaan yang sudah diperjuangkannya dengan berbagai cara. Dia sudah menyinggung Kenneth dan dia dipecat karena dia telah menunda waktu si penanggung jawab itu selama tiga puluh menit.
Tubuh asisten muda itu bergetar dan keringat dingin mengucur disekujur tubuhnya. Dia merasa lemas dan lunglai lalu merosot ke lantai. Dia merasa menyesal telah melakukan kesalahan besar dengan keisengannya hingga harus kehilangan pekerjaan bagus dan bergaji tinggi. Semua ini gara-gara ulah nakal dan isengnya.
“Kapan kami akan bertemu dengan orang yang bertanggung jawab dari Archilles Corp?” tanya Danendra pada karyawan itu.
“Maaf Tuan. Saya tidak tahu soal itu. Silahkan menunggu sebentar lagi, mungkin mereka masih sibuk.”
Setelah menunggu sesaat, Danendra mulai panik. Apakah Archilles Corp akan membatalkan kontrak karena sudah tahu kalau Anastasya berasal dari desa?”
Jangan-jangan mereka merasa Anastasya tidak pantas jadi Brand Ambassador. Kacau kalau begini! Aku tidak akan punya kesempatan untuk berhubungan dengan perusahaan ini! Gumam Danendra dalam hati. Danendra pun berdiri. Anastasya sudah menandatangani kontrak dan hanya butuh tandatangan serta stempel dari Archilles Corp. Apa jadinya jika mereka kehilangan kontrak ini?
Danendra menatap kearah Anastasya dengan muram dan mulai mengeluh dalam hatinya. “Apa pendidikan terakhirmu? Apakah kau lulus SMA? Atau kau tidak pernah sekolah?” tanya Danendra dengan suara dingin dan agak ketus. Anastasya ingin mengarang jawaban dan saat dia ingin bicara, pintu ruangan itu terbuka dan melihat Kenneth masuk diikuti selusin eksekutif senior Archilles Corp.
Orang-orang yang datang bersama Kenneth adalah para petinggi terkenal dilingkungan bisnis. Mata Danendra langsung berbinar, hatinya bahagia. Akhirnya dia bisa bertemu langsung dengan orang-orang hebat ini! Ini sungguh luar biasa! Tapi rasa panik tiba-tiba menyerang Danendra.
“Tuan----Tuan Muda Archilles….” ucap Danendra terbata-bata. “Apakah kau masih menginginkan putriku untuk jadi Brand Ambassador? Apakah pendidikannya yang rendah tidak masalah bagimu? Aku akan mengirimnya untuk belajar. Anak ini memang tidak pintar tapi jika dipoles sedikit aku rasa tidak akan ada masalah dan kita masih bisa melanjutkan kerjasama ini. Soal bayaran untuknya bisa kita diskusikan lagi….”
“Apa kau bilang? Otaknya tidak terlalu pintar dan dia penakut?” Kenneth merasa geli dan mendengus ringan. Apakah pria ini bicara tentang Anastasya yang sama? Sepertinya sang ayah sama sekali tidak tahu apa-apa tentang putrinya. Tapi Kenneth memang mendapatkan informasi jika Anastasya baru kembali ke keluarga Hilman belum lama ini.
Jika dia memang sengaja menyembunyikan identitas asli dan karakternya maka akan sulit untuk mengetahui karakter aslinya. Kenneth sendiripun belum mengenal karakter Anastasya yang sebenarnya, dia bahkan tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang gadis itu.
Danendra melihat Kenneth tertawa dan yakin jika tebakannya benar. “Putriku sangat jujur, dia masih muda dan bersemangat. Dia pasti akan rajin bekerja, Tuan Muda tolong berikan kesempatan pada putriku. Dia baru kembali dari desa dan ini kesempatan pertamanya bekerja.” Lalu Danendra membalikkan badan dan menatap Anastasya, “Cepat kemari dan berlutut pada Tuan Muda Archilles! Kau harus memohon padanya.”
“Apa? Berlutut memohon?” tanya Anastasya heran. Ucapan Danendra sungguh tidak masuk akal dan dia semakin bingung dengan cara pikir pria itu.
“Kenapa hanya berdiri? Kemarilah!” perintah Danendra tak sabar saat melihat Anastasya hany diam tak bergeming. Dia benar-benar tidak lagi mempedulikan perasaan Anastasya dengan caranya bicara.
Anastasya menggigit bibirnya, untuk pertama kali dalam hidupnya di merasakan penghinaan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Selama ini dia tidak pernah berlutut pada siapapun, tetapi demi misinya untuk mendapatkan kebenaran dan membalaskan dendam ibunya maka Anastasya akan melakukan apapun.
Dengan mengepalkan tangan, dia melangkah ke depan. Tetapi tiba-tiba Kenneth bicara, “Tuan Hilman, kau sudah salah paham. Kenapa kau menyuruh Anastasya berlutut? Untuk apa? Aku tidak masalah dengan semua kekurangan Anastasya, bagiku dia yang pantas untuk jadi Brand Ambassador kamu. Tetapi ada beberapa hal penting yang harus kubicarakan dengan Anastasya.”
Anastasya menatap Kenneth heran, wajah pria itu terlihat seperti menahan amarah. Apakah dia sedang marah? Tapi kenapa dia marah? Apakah dia marah padaku? Batinnya.
Mendengar ucapan Kenneth, wajah Danendra pun langsung berbinar dan tersenyum. Dia lega karena kontrak tidak dibatalkan. “Bagus kalau begitu! Tasya ucapkan terimakasih pada Tuan Muda!”
Anastasya menatap danendra dengan tajam dan tidak habis pikir dengan karakter ayahnya yang cepat berubah-ubah. Ketika Danendra merasa Anastasya itu berguna maka dia memanggilnya ‘Tasya’ tapi saat dia tidak berguna untuknya maka dia memanggilnya “Anastasya.” benar-benar ayah yang baik.
"Hai readers terkasih 👋👋 smoga kalian suka novel2ku ya. Ayo dukung author ya like, komen dan follow 👍 biar author tambah smangat nulisnya. Terimakasih 🙏🙏😘