
“Suamiku! Lihat ini kelakuan gadis desa itu sangat memalukan! Semalam tidak pulang kerumah ternyata dia menginap dihotel dan tertangkap basah sama wartawan!”
“Apa? Anastasya menginap dihotel dengan pria? Siapa pria itu?”
“Siapa lagi, pa. Tuan Muda Archilles!”ujarnya kesal.
“A—apa? Tuan Muda Archiles? Wah...bagus….bagus….ini sangat bagus.”
“Bagus apanya? Ini sangat memalukan, beritanya sudah viral!”
“Ini sungguh kabar bagus. Itu berarti hubungan Anastasya dan Tuan Muda Archiles sangat dekat. Dengan begitu aku akan mendapatkan keuntungan dari hubungan mereka. Putriku benar-benar hebat bisa menggaet pria kaya seperti itu.”
Danendra tersenyum puas dan sangat bangga. Dalam pikirannya kini mulai dipenuhi berbagai macam keuntungan yang akan diperolehnya dengan hubungan Anastasya dan Kenneth. Pria paruh baya yang egois itu tak pernah memikirkan orang lain, dia hanya peduli pada dirinya sendiri dan keuntungannnya saja.
Mendengar ucapan suaminya membuat Clarissa sangat marah, dia iri melihat Anastasya si gadis desa yang berhasil menggaet seorang pria tampan dan kaya. Sudah bisa dia bayangkan kehidupan seperti apa yang akan dijalani Anastasya kelak.
“Kabar bagus yang berdampak buruk bagi keluarga kita. Apa kata orang-orang nanti jika mereka tahu gadis itu adalah Anastasya!” ujar Clarissa kesal.
“Tenang saja semua akan baik-baik. Ha ha ha aku tidak menyangka putriku sehebat itu...sungguh hebat.” Danendra tertawa puas sambil membaca berita yang sedang viral dan komentar para netizen. Clarissa mendengus lalu pergi sambil menghentakkan kakinya, dia tak terima jika nasib baik berpihak pada Anastasya. Dia terus berjalan ke halaman belakang dan setelah memastikan tidak ada orang lain disana dia menghubungi seseorang.
“Halo, sayang. Apa kau merindukanku?”
“Aku sedang kesal! Gadis itu semakin menjadi-jadi. Kapan kau bisa menyelesaikannya?”
“Tenang sayang, jangan marah-marah. Datanglah ketempatku, aku akan memuaskanmu. Kutunggu sekarang ya.”
“Hem….aku sedang serius! Berhenti bercanda, mana mungkin aku menemuimu sekarang suamiku ada dirumah. Cepat kau pikirkan bagaimana caranya untuk menyingkirkan gadis desa itu selamanya!”
“Aku punya ide, datanglah kesini kita bisa bicarakan sama-sama. Aku tunggu ya sayang.”
“Arrgggg…..brengsek! Aku harus cari alasan untuk keluar rumah. Mending aku bertemu dengannya biar aku ngak stress.” ujar Clarissa. Agak lama dia berjalan mondar mandir sambil melipat kedua tangan didada, memikirkan langkah apa yang harus dia ambil.
Akhirnya sebuah ide terbersit dikepalanya, wajahnya tersenyum lalu berjalan kembali kerumah. Clarissa tidak melihat suaminya diruang keluarga lalu dia pun melangkah menuju ruang kerja. Saat Clarissa mendekati ruang kerja suaminya, terdengar suara bentakan suaminya dan suara Natasha.
Clarissa pun bergegas mendorong pintu dan terbelalak melihat wajah suaminya yang memerah penuh amarah sedangkan tangannya menunjuk kearah wajah Natasha. “Ada apa ini suamiku?” tanya Clarissa mendekati Natasha, “Kenapa kamu memarahi putriku?"
“Berani-beraninya dia menghina Anastasya perihal berita yang lagi viral! Dasar anak tidak tahu diri! Seharusnya kau mencontoh kakakmu yang bisa mendapatkan pria kaya raya seperti Tuan Muda Archilles!"
“Kenapa sekarang papa membelanya? Dia sudah membuat malu keluarga ini!”
Plak!!!!
“Pa…..” Natasha tertegun, untuk kesekian kalinya ayahnya memarahi dan menamparnya demi Anastasya hingga membuatnya semakin membenci gadis itu.
Clarissa memeluk putrinya yang terisak dan membujuknya, “Tenanglah. Bukankah kamu harus pergi syuting? Ayo ikut mama. Suamiku, aku akan pergi kelokasi syuting bersama Natasha.”
Danendra menatap tajam kedua wanita itu yang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara didalam kepala Clarissa, dia merasa ini adalah alasan yang tepat untuk keluar rumah. “Tasha sayang. Jangan menangis, mama sudah ingatkan kamu berulang kali agar tidak mencari masalah dengan papamu dan juga kakakmu.”
“Tenanglah, papamu sedang emosi. Kamu tahu jika berita itu akan membawa banyak keberuntungan buat keluarga kita? Tidak seharusnya kamu menjelekkan Anastasya pada papa!”
“Keberuntungan? Yang ada gadis desa itu hanya mempermalukan keluarga kita!”
“Ssstt….dengar baik-baik. Jika benar Anastasya dan Kenneth punya hubungan dekat ini sangat menguntungkan papa. Perusahaan papa pasti bisa mendapatkan bantuan dari perusahaan keluarga Archilles. Itu berarti keuangan keluarga kita akan melimpah, kamu juga yang akan menikmati, iyakan? Sudahlah jangan menangis lagi, lihat dari sisi positifnya saja. Wajar papamu marah dengan sikap dan ucapanmu.”
“Huh….akan lebih baik kalau aku yang jadi pasangan Tuan muda itu.”
“Tidak mungkin! Dia tertarik pada Anastasya. Jangan pernah kamu melakukan sesuatu hal yang kelak merugikan kita. Biarkan saja mereka berhubungan dan kamu akan menikmati banyak keuntungan. Masih banyak pria kaya dan tampan diluar sana yang bisa kamu pilih.” ujar Clarissa.
Natasha hanya menghela napas, dalam hatinya tak rela jika semua keberuntungan berpihak pada Anastasya si gadis desa. Tapi ucapan mamanya ada benarnya juga, toh sekarang dia sudah menikmati keberuntungan dengan memakai kartu nama Kenneth Archilles.
Senyum sama muncul dibibir Natasha namun kembali hilang. Mengingat tentang kartu nama itu kembali membuatnya ketakutan jika dia ketahuan. Jalan satu-satunya adalah menyelesaikan syuting dan menikmati peluang yang ada ditangannya.
“Bersiaplah. Mama akan mengantarmu kelokasi syuting.” Natasha pun bergegas masuk ke kamarnya dan berbenah diri, tak lama kemudian sepasang ibu dan anak itu berangkat ke lokasi syuting. Setelah mengantarkan Natasha ketempat syuting, Clarissa melajukan mobilnya kearah sebuah komplek perumahan.
****
Kenneth membawa Anastasya ke apartemen miliknya, saat tiba disana tampak dua orang pelayan sedang memegang paperbag lalu menyerahkan pada Kenneth.
“Tuan Muda, ini pesanan Tuan darri butik.”
“Hem….siapkan makanan sekarang.”
“Semua sudah siap dimeja makan Tuan.” jawab pelayan sambil menundukkan kepala.
“Lebih baik kita makan dulu. Hari ini kamu bisa istirahat disini, pelayan akan menemanimu disini dan jika kamu butuh sesuatu minta saja pada mereka.” ujar Kenneth.
“Bagaimana dengan kamar hotel yang sudah kamu reservasi?”
“Apa kamu mau kembali kesana? Para wartawan pasti masih tinggal disana menunggu sampai kamu kembali. Kamu tinggal saja disini untuk beberapa hari, jika bosan kedua pelayan itu bisa menemanimu keluar. Kamu bisa hubungi keluargamu dan katakan kalau kamu harus keluar kota urusan pekerjaan.”
“Apa kamu tidak ke kantor hari ini?” tanya Anastasya.
“Apa kamu mau aku temani disini? Aku punya waktu luang untukmu hari ini.” senyum Kenneth.
“Ti—tidak….tidak. Kamu bisa pergi ke kantor, aku sudah merepotkanmu sejak kemarin.”
“Tidak apa-apa. Aku bisa bekerja dari rumah, lagipula hari ini tidak banyak kerjaan dikantor dan Rian bisa mengurus semuanya.”
“Lalu pekerjaanku? Aku merasa tidak enak hati jika tidak bekerja. Masih ada syuting yang harus ku selesaikan.”
“Tasya! Bukankah aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu bekerja untuk beberapa hari? Kondisimu belum pulih dan sebaiknya kamu tidak keluar untuk sementara waktu. Istirahat saja dirumah, inikan liburan kamu?”
“Baiklah. Terimakasih Ken!” ujar Anastasya. Keduanya memasuki ruang makan dan duduk berhadapan, berbagai hidangan sudah tersedia dimeja makan. Keduanya makan dalam diam.