THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 48. TANPA RIASAN



Agnes menatap tak berkedip, hatinya mengerut menahan rasa cemburu melihat kecantikan Anastasya tanpa riasan. Dia malah lebih cantik tanpa riasa? Apa-apaan ini? Tuhan tidak adil menciptakan gadis secantik ini, protes Agnes dalam hati.


Modal wajah saja dia bisa jadi terkenal! Mengapa bisa begini? Bukannya terlihat jelek kenapa dia malah terlihat jauh lebih cantik? Bagaimana mungkin dia masih cantik tanpa riasan? Saking kagetnya, ponsel ditangan Agnes terjatuh ke lantai. Dia semakin marah dan tubuhnya bergetar menahan kecemburuan.


Dia sudah bersemangat ingin membuat Anastasya jelek sehingga kena tegus tapi yang terjadi malah sebaliknya. Semakin dia membenci Anastasya. Melihat reaksi Agnes membuat sudut bibir Anastasya terangkat dia merasa puas.


Lalu dia dia membungkuk mengambil ponsel Agnes yang terjatuh. “Nona Agnes, mengapa kau menjatuhkan ponselmu? Apakah kau tidak membutuhkannya lagi?” ujar Anastasya tersenyum mengejek.


“Cepat syuting! Jangan buang-buang waktu lagi! Kau sudah banyak membuang waktu hari ini!


Agnes melotot dan mencibir, alaa…..buat apa cantik kalau tidak bisa bergaya didepan kamera! Dia masih belum puas hati dan tak sabar ingin protes lagi saat syuting dilakukan. Dia akan membuat banyak masala agar syuting Anastasya tertunda terus dan membuat Anastasya terpaksa membayar denda sampai mati!


Setelah itu baru Agnes merasa puas! Untuk syuting pertama akan dilakukan di outdoor dengan latar belakang sebuah kastil kuno. Harga sewa kastil itu sangat mahal, sepuluh juta per menit. Jika syuting tertunda lama maka Anastasya harus membayar denda yang besar.


Bukankah dia hanya gadis desa? Uang sepuluh juta itu pasti sangat besar untuknya. Wajah Agnes kembali ceria membayangkan berapa banyak denda yang harus dibayar Anastasya nanti. Tak lama seorang fotographer datang dan terkejut melihat wajah cantik Anastasya. Lalu dia mulai menjelaskan pada Anastasya tentang konten syuting yang akan dilakukan.


“Pertama kita akan mengambil foto dulu lalu dilanjutkan dengan video. Adegan pertama anda harus berjalan didepan pintu masuk cafe lalu mendorong pintunya sambil menoleh kebelakang dan tersenyum manis.”


“Oke!” jawab Anastasya sambil tersenyum ringan. Dia mengikuti tim fotographer keluar menuju lokasi pemotretan. Dekorasi Cafe Moonlight bernuansa hutan dengan pancaran sinar matahari disela-sela pepohonan. Bagian depan pintu cafe terbuat dari kayu jati berukir. Ada banyak tanaman disisi kanan dan kiri serta tanaman merambat. Jika dilihat dari kejauhan maka tempat itu tidak terlihat seperti cafe tetapi sebuah pintu pohon.


“Ok kita mulai. Anda mendorong pintu lalu menoleh kearahku dan tersenyum. Anda rileks saja dan jangan tegang agar terlihat alami.”


Anastasya hanya menggangguk, ini hal biasa baginya. Lalu dia mulai bergaya, tangannya menyentuh pintu kayu untuk mendorong, tangannya mendorong pintu hingga terbuka setengah lalu dia menoleh kearah fotographer sambil tersenyum tapi tiba-tiba angin bertiup. Rambutnya bergerak sedikit menutup pelipis, fotographer langsung mengambil gambar.


Agnes yang tidak terlalu memperhatikan, menundukkan wajahnya berbisik pada fotographer. “Bagaimana hasilnya, apakah tidak sesuai dengan SOP?”


Fotographer itu melihat hasil jepretan dikameranya dengan tertegun, dia tidak mampu berkata-kata. Melihat ekspresi itu membuat Agnes semakin yakin jika hasil jepretan foto Anastasya sangat jelek. “Anastasya, gaya apa yang kau buat itu, ha? Dasar kau tidak pandai bergaya tapi sok! Ulangi sekali lagi! Fotomu jelek sekali tidak memenuhi syarat!” teriak Agnes marah.


“Tidak...tidak perlu. Hasilnya sempurna! Sangat memuaskan! Gayamu alami dan ekspresi wajahmu juga sesuai.” ujar fotographer itu memotong ucapan Agnes.


“Apa kau bilang? Apa kau tidak salah…?” tanya Agnes.


Fotographeer itu langsung menyodorkan kameranya pada Agnes dan memperlihatkan hasil jepretan foto Anastasya. Di layar kamera terlihat seorang gadis cantik yang tersenyum cerah secerah mentari pagi dengan tatapan mata polos dan lugu. Lirikan matanya seolah memanggil orang-orang untuk datang ke cafe.


Rambutnya yang sedikit berantakan akibat tertiup angin malah terlihat alami, pas sekali! Penampilan yang sedikit berantakan itu justru membuat pesona kecantikannya bertambah. Tangan Agnes gemetar memegang kamera, dia semakin marah dan membenci Anastasya.


Agnes tidak pernah mau mengakui kecantikan Anastasya, dia tidak suka melihat hasil foto itu yang memperlihatkan wajah fotogenic Anastasya. Gayanya didepan kamera juga luwes dan tampak seperti orang yang sudah terbiasa berhadapan dengan kamera.


Agnes hanya bisa diam tak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya dia malah memarahi fotographer dan membentaknya, “Ini tidak memenuhi syarat! Lanjutkan pemotretan dan ambil banyak foto. Semua foto ini tidak bisa diterima!”


Dia percaya kali ini Anastasya tidak akan beruntung, tidak mungkin keberuntungan datang berkali-kali, bukan? Mana mungkin seseorang tanpa pengalaman syuting bisa melewati semua rintangan dengan mudah. Untuk adegan video singkat akan diambil terakhir dengan kondisi hujan sebagai latar belakang. Sebagai pelayan Cafe Moonlight, Anastasya melihat pelanggan datang ke cafe dengan menerobos hujan lebat, dia harus membukakan pintu sambil memegang payung.


Fotographer menjelaskan detailnya pada Anastasya. “Sebenarnya adegan ini menunjukkan level pelayanan cafe moonlight. Saat anda melihat ada pelanggan datang ke cafe ditengah hujan lebat, anda harus segera bergegas keluar menjemputnya.”


“Proses ini mencerminkan bagaimana tingkat pelayanan cafe dimalam hari ditengah hujan deras. Inti ceritanya tidaklah sulit, yang sulit adalah bagaimana menunjukkan emosi yang pantas sesuai dengan suasana. Anastasya harus terlihat cemas dan tetap terlihat ceria menyambut pelanggan.


Anastasya mengerti dan menggangguk, “Baiklah. Aku mengerti, ini akan mudah bagiku.”


Pemotretan pun dimulai, Anastasya memegang payung dengan ekspresi wajah cemas berlari keluar cafe menghampiri pelanggan dengan payung terbuka untuk melindungi pelanggan dari hujan. Air hujan tidak mengenai kepala Anastasya tapi sedikit membasahi bahunya.


“Cut!” seru sutradara dan fotographer tersenyum sambil bertepuk tangan. “Bagus sekali! Anda benar-benar sempurna!”


Anastasya menghela napas lega, proses syuting pun selesai setngah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Saat dia hendak pergi mengganti bajunya yang basah, terdengar kembali teriakan Agnes. “Semua tidak ada yang benar! Tadi foto sekarang videonya pun tidak memenuhi syarat. Aku heran bagaimana bisa dia terpilih jadi Brand Ambassador? Ulangi lagi!”


Anastasya mengeryitkan keningnya dan secara jelas dia sadar jika Agnes terang-terangan mencari masalah dengannya.


“Nona Agnes, mungkin anda yang tidak paham akting. Adeganku barusan sangat sempurna bahkan sutradara dan fotographer mengatakan video ini lulus dan sudah memenuhi syarat.” ujar Anastasya. Sutradara dan fotographer pun menggangguk tanda mengiyakan ucapan Anastasya.


Agnes yang tak mau kalah, melipat kedua tangan didada dan mengangkat wajahnya dengan angkuh, “Aku adalah penanggung jawab atas syuting hari ini jadi jika kubilang tidak lulus ya tidak lulus! Kalian hanya mendengar perintahku saja! Apa yang kalian tahu, ha?”


Anastasya sudah merasa jengah dan tak ingin bersikap baik lagi pada Agnes. “Nona Agnes jika memang ada yang salah dengan videonya, coba anda tunjukkan padaku dan aku akan mengulanginya. Tapi jika kau ingin mengulang syuting tanpa alasan yang jelas maka aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini karena aku tidak bisa bekerjasama dengan orang tidak jelas sepertimu!”


“Apa kau bilang! Asal bicara kau bilang?” teriaknya. Berani sekali si ****** ini mengatainya. Apa dia tidak tahu kalau aku bisa saja mencari alasan agar brand ambassador ini diganti? Wajah Agnes menjadi pucat dan dia melihat semua orang juga menatapnya dengan tatapan aneh dan sinis.


Akhirnya dia tidak jadi memaki Anastasya. Dia masih tidak ingin kalah, diapun memikirkan alasan lain. “Syutingmu ini memang tidak berkualitas! Harusnya kau lebih detail dalam hal konten video!”


“Oh ya? Bisa tunjukkan padaku seperti apa?” tanya Anastasya mengejek.