
“Oke,” suara Clarissa terdengar sangat lembut dan binar bahagia terpancar diwajahnya. Di usia yang sudah empat puluh lima tahun namun wajah dan tubuhnya terawat baik. Meskipun wajahnya tidak secantik Adelia kakaknya tapi penampilannya cantik dan dia adalah seorang wanita yang tahu cara merayu pria dan memuaskan mereka. Inilah alasan mengapa Danendra tidak pernah lagi mencari wanita diluaran setelah menikahinya sebagai istri kedua.
Tapi Danendra tidak pernah tahu jika wanita itu tidak pernah mencintainya dengan tulus, bagi Clarissa suaminya itu hanyalah pion saja. Waktupun berlalu dengan cepat dan malam menjelang. Keluarga itupun pergi makan malam bersama di sebuah restoran terkenal.
Danendra memesan meja di sudut restoran yang agak jauh dari meja lainnya. Clarissa memesan dua botol wine dan menungkan wine ke gelas lalu menyodorkan pada Danendra. Sedangkan satu botol wine dia berikan pada Natasha.
Danendra merasa sangat bahagia malam itu dan merasa hari ini adalah hari baiknya. Dia pun meminum wine yang diberikan Clarissa dengan senang hati tanpa tahu apa-apa. Clarissa yang sudah membayar pelayan untuk membubuhkan obat didalam botol wine itupun tersenyum puas melihat suaminya yang minum wine terus menerus. Anastasya tidak peduli melihat danendra yang sudah minum satu botol wine dan tampak sudah mabuk.
Danendra mulai meracau dan tertawa sendiri, dia sudah benar-benar mabuk. “Kalian dengar baik-baik ya. Aku paling tidak suka dikhianati! Jika ada diantara kalian yang mengkhianatiku maka aku akan menguliti kalian hidup-hidup dan membiarkan mati perlahan.” lalu pria itu tertawa. Clarissa yang mendengar ucapan suaminya pun bergidik ngeri, kedua tangannya mengepal.
“Suamiku sayang, kamu minum terlalu banyak. Lebih baik kita pulang, besok anak-anak punya kesibukan masing-masing. Ayo kita pulang.” ucap Clarissa memapah Danendra.
“Ayo…..ayo kita pulang. Kau benar istriku! Kedua putriku harus bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Ha ha ha ha….mereka berdua adalah harta berhargaku. Ayo pulang.” Danendra yang dipapah oleh Clarissa sangat semangat ingin cepat pulang.
Begitu sudah berada didalam mobil, dia langsung tertidur pulas. Sedangkan Anastasya yang lebih banyak diam sejak makan malam, dia pun pura-pura tidur dan memejamkan matanya. Tapi selama perjalanan pulang, ponsel Clarissa terus berdering, dan dia seperti sibuk membalas sms masuk ke ponselnya.
Anastasya memicingkan matanya memperhatikan semua gerak gerik Clarissa. Pasti ada sesuatu dengan wanita itu! Siapa yang menghubungi Clarissa? Tampaknya wanita itu seperti tidak sabaran dan sangat mencurigkan gerak geriknya! Dan dugaan Anastasya pun terbukti, saat mereka tiba dirumah ternyata Clarissa tidak ikut masuk.
“Cepat bawa suamiku masuk ke kamar. Aku harus pergi sekarang, ada urusan perusahaan yang mendadak dan harus kutangani sendiri. Suamiku mabuk berat dia tidak bisa pergi. Kalian urus dia dengan baik ya.” ucap Clarissa pada pelayan rumah.
“Baik, nyonya.” jawab pelayan dengan hormat. Para pelayan membantu Danendra memapahnya masuk kerumah. Anastasya yang selalu memperhatikan gerak-gerik Clarissa melihat wanita itu berjalan kearahnya lalu Anastasya pura-pura menerima telepon sambil pura-pura bicara serius dengan seeorang, “Apa? Harus mengambil jadwalnya sekarang? Baiklah aku akan pergi ke Archilles Corp sekarang juga.”
“Aku harus pergi ke Archilles Corp sekarang dan mungkin akan pulang agak larut karena urusan ini sangat penting dan mendadak.” kata Anastasya pada seorang pelayan rumah.
“Apakah nona mau mengendarai mobil keluarga ini?”
“Tidak perlu paman. Perusahaan sudah mengirimkan mobil untuk menjemputku. Mereka memaksa jadi aku tidak bisa menolak lagipula akan lebih aman bagiku jika pergi dengan mobil perusahaan.” ujar Anastasya menolak.
“Baiklah. Jika ingin supir menjemputmu, silahkan hubungi saya. Saya akan mengirimkan mobil untuk menjemputmu.”
“Ya ya. Aku pergi dulu. Mobilnya sudah sampai dan menunggu diluar gerbang.” ujar Anastasya.
Natasha yang melihat itu langsung mendekati Anastasya dengan mencibir. “Hanya menjadi Brand Ambassador saja apa sih hebatnya? Apa dia ingin semua orang tahu kalau dia bekerjasama dengan Archilles Corp makanya dia sengaja bicara kerasa agar semua orang dengar? Ciihhhh kampungan!”
Sedangkan Anastasya yang tumbuh besar di pedesaan malah terlihat seperti orang berpendidikan tinggi, sikapnya sopan dan elegan layaknya keluarga kaya dan terhormat.
Anastasya berjalan cepat dan tidak mempedulikan Natasha. Clarissa sudah berjalan keluar gerbang villa dan Anastasya tidak ingin kehilangan jejaknya. Langkahnya semakin dipercepat seperti orang tengah berlari, setelah berada diluar gerbang villa dikejauhan dia melihat Clarissa yang sedang berjalan menuju sebuah komplek villa yang berjarak tak jauh dari komplek villa tempat tinggal mereka. Tampak Clarissa sangat berhati-hati dan terus menoleh kebelakang, untungnya Anastasya bergerak cepat dan sembunyi dibalik pohon sehingga tidak terlihat.
Clarissa memasuki sebuah villa no. 02 di komplek villa itu. Clarissa menoleh lagi ke belakang sebelum membuka gerbang villa itu. Pintu gerbang tertutup setelah Clarissa masuk. Anastasya menghela napas lega dan keluar dari balik pohon. Dia lalu menghubungi asistennya untuk mencari tahu siapa pemilik villa itu.
Baru saja sms terkirim, sebuah tangan besar menekan bahunya, Anastasya yang kaget langsung memukul dan menekan pria itu ke tanah. “Tolong jangan sakiti aku.” terdengar suara pria berambut cepak dan bau alkohol dari mulutnya.
Apa apaan ini? Malam-malam begini seorang pemabuk mendekatinya? Saat Anastasya memperhatikan pria itu mengenakan pakaian bermerek. Pria ini bukan orang sembarangan, dia pasti punya banyak uang.
Lalu Anastasya pun melepaskan pria itu, Anastasya mengeryitkan keningnya memperhatikan wajah pria yang tampak tak asing baginya. Sepertinya dia pernah bertemu pria ini sebelumnya.
“Ah…..akhirnya aku menemukanmu! Ini kau! Ini benar-benar kau! Kau adalah Frederika!” ucap pria itu. Frederika adalah nama Anastasya di luar negeri.
“Bukan! Kau salah orang.” ucap Anastasya. Lalu dia berbalik dan hendak pergi tapi pria itu malah berjalan dan menghadangnya.
“Aku tidak salah mengenali orang. Kau adalah Frederika! Atau Anastasya? Aku memang mengenalmu, aku tidak sedang mimpi, bukan?”
“Siapa kau? Apakah aku mengenalmu?” tanya Anastasya. Pria ini tahu namanya diluar negeri adalah Frederika dan mengenalnya juga sebagai Anastasya. Gadis itu tidak bisa mengelak dan menyangkal lagi. Pria itu menggeleng lalu mengganggungkkan kepalanya, dia terlihat linglung karena sedang mabuk.
“Kau mengenalku….oh bukan begitu….aku mengenalmu. Aku sudah lama mencarimu dan tidak kusangka akhirnya aku menemukanmu. Aku...aku benar-benar seperti bermimpi….”
Wajah pria itu tampan dan tubuhnya tinggi kekar, ekspresi wajahnya seperti hendak menangis.
Anastasya masih menatapnya tajam penuh tanda tanya. “Siapa kau sebenarnya?”
Perlahan pria itu mulai melepaskan pakaiannya, Anastasya terkejut melihat aksi pria itu. “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau melepaskan pakaianmu? Hei….kau jangan coba-coba berbuat aneh atau kau akan menyesal!”
Pria itu berhenti dan menatap Anastasya, dia sadar telah membuat Anastasya merasa takut. Dia langsung menghentikan aksinya lalu dia menarik paksa kemejanya dan terlihat bahu pria itu ditutup kain kasa. Pria itupun merobek kain kasa dibahunya dan terlihat ada luka tusukan dibahu itu yang belum sepenuhnya sembuh.