
Lalu Kenneth mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya dan menyalakannya. Dia menghela napas dalam-dalam lalu setelah dia merasa tenang kembali dia berjalan kearah jendela dan mendorong jendela itu hingga terbuka lebar. Dia menghembuskan asap rokok keluar jendela, setelah merokok beberapa saat dan menghembuskan asap rokonya berkali-kali sambil memunggungi Anastasya, “Tasya katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”
“Uhuk….uhuk….” Anastasya terbatuk mencoba melupakan insiden kecil yang tadi terjadi. Lalu dia pun mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewatkan. “Aku juga ingin melakukan tes DNA. Aku sudah mengambil helai rambutnya.”
Kenneth sudah selesai merokok lalu berbalik menatap Anastasya dan dimatanya ada sinar emosi yang tidak dilihat oleh Anastasya. Dia merasa sangat marah dan wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Anastasya takut dia akan melemparkannya keluar dari sana, dengan cepat dia menjelaskan lagi, “Ken, jangan khawatir aku tidak akan mengganggu tidurmu. Aku akan duduk diam diruang tamu dan ketika waktunya tiba aku akan...”
“Mana rambutnya?” tanya Kenneth sebelum Anastasya bisa menyelesaikan kalimatnya.
Anastasya tertegun sejenak lalu dia melepas sepatunya dan mengeluarkan bola tisu dari dalam sol sepatunya. Didalam bola tisu itu adalah rambut yang dia cabut dari kepala Danendra dan dia simpan di sol sepatu dengan diam-diam sebelum dia pergi.
“Untung saja aku cukup hati-hati menyembunyikan rambut ini di sol sepatuku. Aku hanya takut jika rambut ini hilang dengan tak snegaja jika kutaruh disaku atau di tas.” Dia pun mengelarkan rambut yanga da didalam tisu kemudian dia mendekati Kenneth dan memberikan rambut itu padanya.
Kenneth menatap gulungan rambut itu dengan jijik dan berkata, “Tunggu sebentar ya.” Dia pun mengeluarkan ponsel dari saku lalu menghubungi seseorang. “Kirim seseorang kesini sekarang. Aku perlu melakukan tes DNA.”
Orang yang berada disisi lain telepon adalah Diego, langsung mengerutkan kedningnya dan bertanya dengan heran, “Yang benar saja Ken? Kau ini bermain apai diluar sampai punya anak diluar nikah? Tak kusangka, kupikir kau bukan orang seperti itu.”
“Diamlah! Bukan aku yang mau tes. Jangan banyak bicar lagi, cepat kirimkan seseornag kesini. Aku sekarang berada di Penthouse Suite Hotel Grand International. Jangan berisik dan biarkan orang itu datang kesini diam-diam jangan sampai ada yang tahu.” Seetlah bicara, Kenneth langsung menutup teleponnya.
“Terimakasih, Ken...” ucap Anastasya.
“Hem...Terimakasihnya…..” Kenneth langsung menggaruk telinganya dan dengan tidak sabar dia berkata, “Aku kan sudah sering bilang jangan ucapkan dua kata itu lagi. Menyebalkan tahu!”
“Kau ini benar-benar…..” Anastasya tahu kalau Kenneth adalah orang yang baik hati tapi kadang mulutnya itu membuat orang tidak menyukainya.
“Ada apa memangnya denganku?” tanya Kenneth mengangkat dagunya menatap Anastasya.
“Tidak! Aku cuma mau bilang kau orang baik.”
Kenneth mencemberutkan wajahnya dengan jijik lalu berkata, “Aku tidak menyukaimu, jadi jangan memberikan predikat orang baik padaku. Aku juga bukan orang yang baik.”
Anastasya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak, Ken! Aku merasa kau benar-benar orang baik. Jika hari ini bukan kau yang ada dikamar ini, aku juga tidak akan berani datang kesini. Mungkin aku sudah tamat!”
Kenneth mengeryitkan keningnya. Jika hari ini yang ada dikamar itu adalah orang lain dan Anastasya berani pergi maka dia pasti akan mematahkan kakinya. Memikirkan kakinya, Kenneth langsung melirik ke kaki Anastasya lagi. Kakinya yang jenjang,putih dan bercahaya tampak begitu ramping membuat orang ingin mencoba menyentuhnya.
Tiba-tiba Kenneth merasakan suhu diruangan itu naik beberapa derajat, dia merasa kepanasan. Sambil menelan salivanya dia berkata, “Tunggu aku diruang tamu. Aku mau mandi dulu.”
Kenneth tidak menjawabnya, dia berjalan ke kamar mandi. Setelah beberapa saat terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Tadinya Anastasya mengira hanya duduk diposisinya sekarang dia akan merasa nyaman tetapi entah mengapa dia tiba-tiba merasa panas dan gelisah.
Perasaan berada diruangan yang sama dengan seorang pria dan mendengarkan suara gemericik air dari orang yang sedang mandi itu benar-benar terasa aneh. Anastasya berusaha menahan diri untuk berdiri dan berjalan mondar mandir diruang tamu seperti orang linglung. Setelah beberapa menit, suara gemericik air berhenti dan dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamar tidur. Saat ini jantung Anastasya berdetak semakin kencang seiring dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Tanpa sadar satu tangannya menekan dadanya yang berdebar tak karuan.
“Apa-apaan sih ini? Mengapa dia malah jadi gugup begitu? Kami kan tidak benar-benar akan melakukan itu.” tetapi semakin dia mencoba untuk menenangkan diri, Anastasya menyadari dia semakin tak terkendali. Dia merasa jantungnya berdetak seperti lompat-lompat. Dan saat pintu kamar tidur berderit kemudian terbuka, jantung Anastasya seolah-olah melompat keluar dari tenggorokannya. Tangannya mengepal dengan erat dan dia tidak bisa lagi menahan dirinya untukmenelan salivanya dengan suara, “Glek”.
Disaat bersamaan terdengar suara ketukan dipintu.”Itu mungkin anak buahmu.” kata Anastasya,
“Tunggu!” cegah Kenneth berjalan cepat kearahnya.
Tanpa sadar Anastasya menoleh kebelakang dan melihat Kenneth berjalan keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya, bentuk tubuhnya kekar sama sekali tidak tertutupi hingga Anastasya bisa melihat otot-ototnya. Dia kembali menelan salivanya melihat pemandangan didepannya. Terutama lekukan V-line yang seksi dipinggang bawahnya, tetesan air tampak meluncur diarea V-line itu dan terserap handuk mandi yang membungkus hanya bagian bawah tubuhnya.
Wajah Anastasya memerah lalu dengan perasaan malu dia bertanya, “Mengapa kau tidak pakai baju?”
“Aku tidak membawa baju ganti.” jawab Kenneth dengan ekspresi biasa saja.
“Biar aku saja yang membuka pintunya.” Anastasya tak ingin menatap Kenneth jadi dia memilih melangkah pergi untuk membuka pintu. Tetapi disaat berikutnya, dia dirangkul kedalam pelukan Kenneth. Rasa panas ditubuhnya terasa semakin jelas menjalar dipunggungnya, suhu yang panas terasa hangat. Perasaan ini benar-benar aneh.
Kepala Anastasya serasa mau pecah dengan ledakan perasaan yan berkecamuk. Secara reflek dia mendorong Kenneth menjauh dan melingkarkan tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Dia menatap Kenneth dengan tatapan ngeri. “Kau mau apa?”
Kenneth membeku, barusan dia menarik Anastasya kedalam pelukannya dengan terburu-buru, sama sekali dia tidak memikirkan hal lain. Tapi saat dia memeluk gadis itu, dia merasakan betapa rampingnya pinggang Anastasya sehingga membuat nafsunya yang telah reda setelah mandi air dongin berangsur-angsur naik kembali.
Dengan kesal Kenneth berkata, “Memangnya aku bisa buat apa? Aku hanya ingin mencegahmu membuka pintu, jangan pikir macam-macam.”
Anastasya melirik Kenneth dengan curiga, “Untuk apa kau mencegahku?”
“Anak buahku tidak mungkin secepat itu bisa sampai disini. Kau bersembunyi saja dulu dikamar biar aku yang melihat siapa yang mengetuk pintu.” ujar Kenneth sambil memalingkan wajah ke kamar sebagai isyarat pada Anastasya untuk bersembunyi disana.
Anastasya langsung tertegun kemudian mengangguk dan dengan cepat dia berjalan masuk kedalam kamar. Aroma sabun mandi Kenneth masih berbekas dikamar itu. Didalam benaknya Anastasya tidak berhenti membayangkan tubuh Kenneth, tapi tak lama kemudian dia menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri dan membuang semua pikiran dan bayangan dibenaknya.