
“Tetapi…..”
“Jangan lama-lama. Ayo cepat!” desak Kenneth tak sabar. Dia lalu keluar dari mobil dan menarik Brandon masuk kedalam mobilnya kemudian mengeluarkan asistennya dari dalam mobil. Anastasya memandang Kenneth dengan curiga.
“Kenapa lihat-lihat? Tak bisakah orang lain yang menemanimu belanja? Apakah harus Brandon?”
“Bukan begitu…..aku bisa belanja sendiri. Tidak butuh orang lain untuk menemaniku.”
Sebelum Anastasya sempat menyelesaikan kalimatnya, kenneth sudah memerintahkan supirnya untuk melajukan mobil. Hembusan angin bertiup, hanya tersisa Anastasya dan asisten Kenneth yang berdiri disampingnya. Raut wajah asisten Kenneth berbeda 180 derajat dengan raut wajah Kenneth. Dia tampak ramah seolah-olah sedang tersenyum.
“He he he Nona Anastasya, suatu kehormatan bagiku bisa menemanimu berbelanja. Pakaian apa yang kau suka? Chanel? LV? Gucci atau Prada?”
Cahaya mata Anastasya tajam dan dingin, dibawah tatapan Anastasya yang datar suaranya semakin mengecil hampir seperti dengungan nyamuk.
Karena merasa canggung asisten itu terbatuk. “Maaf. Aku tidak akan mengganggumu saat belanja. Aku hanya akan mengikutimu untuk melindungimu saja.”
“Sudah kukatakan jangan ikuti aku. Pergilah mencari Kenneth atau langsung kembali ke perusahaan. Aku ingin belanja sendiri.”
Sikap Anastasya tegas sehingga mau tak mau asisten itu pun pergi.
Mall diseberang restoran bernama Bright Mall itu sangat besar dan luas tetapi hari ini adalah hari kerja jadi tidak terlalu banyak orang disana. Pelanggan yang datang rata-rata adalah para istri pejabat, orang kaya atau ibu bersama anak-anaknya.
Namun saat dia memasuki mall itu Anastasya merasa ada yang memperhatikannya. Dia menoleh kebelakang tetapi hanya melihat beberapa pengunjung mall yang lewat. Apakah itu hanya delusi saja?
Anastasya melihat ke belakang dan memilih toko pakaian yang terlihat bagus dari luar. Begitu dia masuk kedalam seorang pelayan langsung menyambutnya. Tapi karena dia hanya memakai pakaian sederhana saja sehingga antusias dimata pelayan itu langsung memudar. “Silahkan dilihat-lihat saja dan jangan menyentuh barang sembarangan.” ucap pelayan itu dengan nada datar.
Anastasya mengeryitkan keningnya. “Bagaimana aku tahu bahan pakaiannya tanpa menyentuh?”
Wajah si pelayan toko pun cemberut, “Apakah anda tidak tahu tentang merek Couture? Merek pakaian kami menggunakan bahan katun dan linen, tentu saja harganya sangat mahal. Harga minimal dimulai lima digit. Jika anda merasa tidak cocok silahkan pergi ketempat lain.”
Couture adalah merek pakaian yang sering dipakai Anastasya saat dia tinggal diluar negeri karena nyaman dipakai. Dan ketua desainernya adalah temannya sendiri, karena pakaian itu nyaman dan desainernya adalah teman sendiri jadi dia tidak terlalu mempedulikan ucapan pelayan yang meremehkannya. Dia lanjut memilih pakaian dengan seksama.
Karena dia tahu merek itu jadi dia tidak perlu menyentuh bahannya, cukup mencari model baju yang cocok saja. Saat si pelayan toko melihat Anastasya tidak pergi tapi malah memilih pakaian, warna wajahnya langsung menggelap.
Dia sering bertemu dengan pelanggan yang keras kepala demi menjaga imejnya dan dia benar-benar tidak tahu orang seperti apa yang berani masuk ketoko pakaian Couture dengan penampilan berantakan dan sepatu kanvas. Kulit muka orang ini benar-benar tebal!
Diam-diam pelayan toko itu mengejek Anastasya dalam hatinya. Dia terus mengikuti Anastasya dari belakang seolah takut dia akan mencuri pakaian ditoko itu. Anastasya cukup sabar dan menjaga emosinya.
Dia tahu apa yang dipikirkan oleh pelayan toko itu dan membiarkan pelayan itu mengikutinya dengan santai. Dia terus melanjutkan memilih pakaian untuknya. Yang penting dia ingin beli pakaian bukan si pelayan toko.
Saat itu terdengar suara tajam namun tak asing ditelinga Anastasya. “Halo pelayan toko apakah ada produk terbaru? Apa baju yang aku pesan waktu itu sudah kau simpankan?”
Si pelayan toko yang tadinya mengikuti Anastasya langsung mengabaikannya dan menyambut sipelanggan ramah.
“Oke. Cepatlah aku ada acara minum the nanti sore dengan temanku.”
“Tunggu sebentar ya, tidak lama kok.”
Anastasya yang mendengar pembicaraan mereka merasa suara itu agak tak asing baginya, sepertinya dia pernah mendengar suara itu disuatu tempat tapi dia lupa dimana. Tanpa sadar dia menoleh kearah suara….Anastasya melihat seorang gadis dengan riasan wajah ringan mengenakan rok mini model A line duduk menyilangkan kakinya dengan bangga sambil memegang secangkir teh dan menyesapnya.
Beberapa teman wanitanya berada disebelahnya sedang memainkan jari-jari tangan mereka dan tampak angkuh. Sekilas Anastasya mengenali gadis itu, bukankah dia adalah Emma Claresta Jatmika yang membiarkan anjing itu menggigitnya? Anastasya pernah mendengar gosip diantara pelayan rumah bahwa Emma pernah memiliki kontrak pernikahan dengan salah satu pria dari empat keluarga terpandang di kota ini. Lebih baik dia tidak meladeni orang seperti itu.
Jika dia tidak diganggu terlebih dahulu maka dia juga tidak akan mencari masalah dengan orang itu saat dia sibuk menyelidiki kebenaran dibalik kematian ibunya. Lalu Anastasya mengalihkan tatapannya dan melanjutkan kegiatannya memilih pakaian. Secara kebetulan dia melihat pakaian biru berlengan pendek dengan model yang lumayan bagus. Anastasya mengambilnya dan berjalan kearah kasir.
Pakaian merek Couture semuanya satu ukuran jadi Anastasya tidak perlu mencobanya. Namun baru saja melangkah beberapa langkah, sipelayan toko yang sedang mengambil pakaian untuk Emma datang dan melihat Anastasya memegang pakaian itu dan matanya langsung melotot.
“Apa yang kau lakukan? Mencuri pakaian? Aku beritahu ya, toko ini penuh dengan kamera cctv.” kata pelayan toko itu sambil mengambil kembali pakaian itu.
Anastasya sama sekali tidak menyangka bahwa pelayan toko itu mengira dia pencuri, tidak peduli seberapa sabarnya dia tapi diapun sudah tak tahan lagi dengan sikap pelayan toko itu. “Aku mau membayar pakaian itu.” kata Anastasya.
Si pelayan toko malah menertawakannya karena dia tidak percaya dengan ucapan Anastasya.
“Kau? Membayar? Apa kau tidak bisa membaca label harganya? Pakaian ini seharga sembilan puluh juta!”
“Jadi kau pikir aku tidak mampu membelinya?” tanya Anastasya dengan tatapan mata sedingin es. Saat pelayan itu melihat mata Anastasya yang tajam dan dingin, jantungnya berdetak kencang. Tatapan mata wanita ini sangat dingin…..
Lalu dia menatap Anastasya dengan seksama dan mendapati bahwa meskipun gadis itu mengenakan pakaian biasa saja tapi auranya memancarkan sifat dan gaya elegan. Aura itu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki sembarangan orang. Apakah….jangan-jangan dia telah menyinggung seorang klien besar dengan penampilan sederhana.
Si pelayan toko itu sejenak merasa takut bicara dan pada saat itu Emma berjalan mendekat. “Ada apa ini? Mana produk baruku?”
Si pelayan toko langsung tersadar dan menjelaskan. “Tidak…..hanya ada sedikit kesalahpahaman.”
Lalu dia menoleh pada Anastasya lalu bertanya. “Apakah kau benar-benar akan pergi membayar?”
Anastasya mengeryitkan keningnya dengan tidak senang.
“Apa menurutmu aku akan mencuri pakaian ditokomu yang banyak cctv dan banyak orang ini?”
“Hem...kalau begitu silahkan langsung ke kasir.” ujar si pelayan toko sambil menelan salivanya.
“Oh ternyata kau….” ucap Emma tiba-tiba.
Anastasya mengangkat matanya melihat keatas, kebetulan tatapan mereka bertemu. Dia pun mengangguk dengan tenang dan berkata, “Ya ini aku Nona Emma apa kabar?”