THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 74. NATASHA DIUSIR DARI RUMAH



Anastasya bicara dengan nada dingin yang membuat Clarissa tiba-tiba merasa sangat gugup. Dengan mendongakkan dagunya, Anastasya pun buka suara, “Masalah ini berawal dari kartu nama Kenneth, karena aku adalah Brand Ambassador Moonlight Cafe, Kenneth memberiku kartu namanya. Tadinya aku ingin memberikan kartu nama itu pada papa tapi aku sama sekali tidak menyangka ketika aku keluar rumah, kartu nama itu hilang.”


“Apa?” Danendra terkejut dan merasa sakit hati. “Mengapa kau tidak menyimpan kartu nama yang berharga itu dengan baik?”


Tanpa mau bertele-tele lagi, Anastasya pun langsung menjelaskan semuanya. “Karena adikku mencuri kartu nama itu kemudian menggunakan kartu nama itu untuk mendapatkan posisi pemeran utama wanitanya….”


“Diam kau!” teriak Natasha yang sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan dan untuk membungkam Anastasnya. Dia tidak ingin kakaknya itu menceritakan semua lebih terperinci.


Danendra langsung memelototi Natasha, “Kau yang diam! Biarkan kakakmu bicara! Tutup saja mulutmu!”


Natasha pun tidak berani lagi menyela ucapan ayahnya. Lalu Anastasya menceritakan bagaimana Natasha menggunakan kartu nama itu untuk menipu kru film untuk mendapatkan posisi pemeran utama wanita. Kemudian dia menceritakan bagaimana Kenneth yang tak sengaja mengetahuinya dan segera membawa Anastasya menemui tim kru untuk menjelaskan masalah itu. Setelah semua orang mengetahui permasalahannya, mereka pun minta Natasha segera mundur.


Setelah Anastasya menceritakan semua, dia menghela napas lega, “Tadinya Natasha hanya kehilangan posisi pemeran utama wanita saja tapi dia malah melemparkan kartu nama Kenneth ke lantai karena marah dan membuat Kenneth marah dan tersinggung. Jadi dia langsung mengumumkan bahwa dia akan membatalkan semua kerjasama perusahaannya dengan perusahaan keluarga kita. Dia mengumumkannya di lokasi syuting didepan semua orang. Saat pulang aku sudah berusaha membujuk Kenneth tapi dia menolak mendengarkan ucapanku.”


Anastasya berbicara dengan memasang wajah sedih dan menyesal namun dia melirik Natasha dengan penuh kebencian. Natasha yang sudah tidak tahan lagi berkata dengan marah, “Kau bohong! Kau pasti tidak membujuk Kenneth! Kau sengaja membuatku dimarahi oleh papa, iyakan?”


Anastasya menggelengkan kepala dengan wajah semakin sedih, dia bermain seolah dia adalah korban dan merasa bersalah atas apa yang menimpa keluarga itu.


“Tasha sampai sekarang kau masih tidak mengerti apa kesalahanmu dan kenapa kau masih ingin menjebakku ha? Ini adalah rumahmu dan rumahku juga. Apa mungkin aku menghancurkan keluargaku sendiri demi melihatmu dimarahi papa?”


“Bukan itu masalahnya! Jelas-jelas kau tidak mengatakan sepatah katapun untuk membelaku tadi!”


“Cukup!” teriak Danendra menghentikan pertengkaran kedua anaknya. Dia sudah tidak bisa lagi menahan amarah yang berkobar didadanya. Napasnya berat dan sesak seolah oksigen tidak masuk keparu-parunya.


Natasha semakin panik melihat ekspresi wajah ayahnya yang seolah siap memakan siapa saja. Dia meraih lengan baju Clarissa lalu menangis, “Mama….tolong bantu aku. Anastasya sialan itu….”


“Diam!” teriak Clarissa lalu mengulurkan tangan dan menampar wajah Natasha dengan keras.


Plakkkkk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Natasha, dia pun langsung tercengang. Tamparan itu benar-benar kencang dan untuk sesaat kepala Natasha dipenuhi bintang-bintang yang melayang dihadapannya. Sisi wajahnya yang kena tamparan itu terasa kebas dan sakit.


“Mama….”


“Cepat berlulut!” teriak Clarissa kencang. Natasha benar-benar ketakutan, tanpa berani mengatakan apa-apa lagi diapun berjalan kedepan Danendra dan berlutut didepannya. Sedangkan pria itu merasa sangat marah dan sama sekali tidak ingin melihat Natasha lagi. Proyek kerjasama dengan Archilles Corp yang telah dikembangkan olehnya dan tim sejak lama dan menghabiskan hampir semua energi dan dananya tiba-tiba saja dibatalkan sepihak oleh Archilles Corp padahal tinggal selangkah lagi untuk menyelesaikan penandatanganan kontrak itu.


Semuanya gara-gara ulah putrinya yang bodoh Natasha. Kini dia tidak menginginkan putrinya itu lagi, baginya Natasha sangat tidak berguna. Andai saja dia bisa, dia sangat ingin membunuh Natasha tapi karena Clarissa sudah menghukumnya dengan menamparnya jadi dia pun terlalu malas membuang-buang energinya.


Dia memasang raut wajah dingin dan tanpa ekspresi, “Tak perlu berlutut didepanku, kau mengotori pandangan mataku saja. Jika kau ingin berlutut sebaiknya kau pergi ke kampung dan berlutut di makam leluhur selama setengah tahun disana bersama bibimu, setelah itu jika kau masih sama seperti sekarang maka lebih baik tinggal disana seumur hidupmu saja!”


Mata Natasha membelalak lebar tak percaya mendengar ucapan ayahnya. Ada tatapan mengerikan dibinar matanya membayangkan dia harus berlutut dimakam leluhurnya dan membersihkan area pemakaman itu selama setengah tahun.


Keluarga mereka mempunyai area makam keluarga yang luas dan tak jauh dari area pemakaman itu terdapat paviliun untuk tempat tinggal bagi keluarga saat berziarah dan juga rumah tempat tinggal para pekerja dan penjaga makam. Disana juga ada tempat berdoa dan bersemedi. “Papa apakah kau ingin mengusirku?”


“Pergilah kekamarnya dan bantu dia berkemas kemudian antar dia kesana secepatnya.” ujar Danendra pada pelayan. Dia sangat lelah dan stress, dia tidak ingin bicara dengan Natasha lagi. Tanpa sadar pelayan itu menatap Clarissa setelah mendapat perintah dari Danendra.


Tadinya Clarissa ingin membuka mulutnya untuk memohon belas kasihan suaminya tetapi setelah dia melihat ekspresi wajah suaminya akhirnya dia hanya diam dan menutup mata meskipun hatinya sangat sakit. “Pergilah dan bantu dia mengemas barang-barangnya.” ujarnya pada pelayan itu.


“Mama! Kau tidak boleh membiarkanku pergi kekampung dan tinggal bersama bibi disana. Aku tidak mau tinggal dipedesaan, aku masih ingin tinggal disini dan menikah.”


“Diam! Sampai sekarangpun kau masih tidak sadar juga dimana letak kesalahanmu dan masih tidak tahu cara bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Sekarang kau harus pergi kesana dan tinggal bersama bibimu untuk intropeksi diri. Mungkin itu jalan terbaik bagimu, belajar agama dan bermeditasi.” ujar Clarissa sambil menatap Natasha. Pelayan datang menyeret Natasha keluar dari rumah dengan tangisan pilu, hingga suara tangisnya hilang.


Clarissa tidak bisa melakukan apapun, dia hanya menutup mata dan pasrah dengan rasa sakit hati. Sebenarnya dia tidak rela tapi dia harus melakukannya. Jika saat ini dia tidak membantu Danendra melampiaskan kemarahannya maka dia tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukan oleh orang seperti Danendra yang sulit ditebak dan saat memberi hukuman dia tak sungkan-sungkan. Clarissa hanya takut jika suaminya tidak bisa mengendalikan diri.


Itulah alasan dia menampar Natasha lebih dulu untuk membuat Natasha luput dari pukulan Danendra. Hanya saja dia tidak yakin jika Natasha menyadari niat baik dibalik tindakan ibunya. Perlahan Clarissa membuka matanya dan menatap Anastasya dengan tatapan tajam dan dingin penuh kebencian.


Sedangkan Anastasya berpura-pura tak melihatnya dan memasang wajah polosnya. Sejak awal dia sudah menduga jika Danendra akan menghukum atau mengurung Natasha atau juga mengirimnya ketempat lain tapi dia tak emnyangka Natasha malah dikirim ke pedesaan untuk mengurus area pemakaman leluhur mereka.


Pemondokan adalah tempat yang baik dan jika Natasha berada disana maka dia akan mendapatkan penderitaan yang cukup menyiksa. Dia harus melakukan semua pekerjaan yang sama seperti orang lain dan harus belajar agama. Kebetulan para pelayan sudah selesai mengemasi barang-barang bawaan untuk Natasha dan sudah turun kebawah.


Ada sekitar enam koper ditangan mereka, lalu dengan polosnya Anastasys bertanya, “Apakah akan membawa begitu banyak barang kesana? Seharusnya ditempat bibi juga ada pakaian dan sejenisnya kan? Lagipula itu adalah daerah kota kecil yang tidak sedikit lebih besar dari desa, dia disana untuk intropeksi diri, lalu untuk apa membawa semua barang-barang mewah kesana toh tidak bisa dipakai?”