THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 90. AKU INGIN MENEMUI MAMA-MU



Ternyata benar kalau Adelia Sanari adalah ibu kandungnya. Anastasya pun menghela napas lega kemudian dia menyadari bahwa mamanya hanya pernah menikah dengan Danendra dan Danendra juga percaya kalau dia adalah putri kandungnya. Kalau seperti itu, bukankah itu berarti mamanya telah selingkuh? Apakah karena Danendra akhirnya mengetahui hal ini jadi dia membunuh mamanya?


Tetapi dengan sifat dan karakter Danendra itu tidak mungkin dia akan mengijinkan orang yang bukan putri kandungnya masuk kedalam rumah. Untuk sesaat, Anastasya merasa seakan-akan ada sebuah misteri besar yang tiba-tiba muncul didepannya. Dia kembali ke negara ini untuk mencari penyebab kematian mamanya. Tetapi sebelum dia menemukan jawabannya, dia malah dihadapkan dengan misteri siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.


Pikiran Anastasya tidak pernah sekacau dan seruwet saat ini. Diego memecahkan keheningan diruangan itu, “Sekarang masih pagi. Kalian….kalian mengobrol dulu saja.Aku akan bertanya pada mereka apakah sudah mendapatkan sesuatu dari pria itu.” Lalu Diego membuka pintu dan keluar meninggalkan hanya Anastasya dan Kenneth di bangsal itu.


Anastasya menatap Kenneth dengan senyum yang dipaksakan, “Sekarang kau pasti ingin menertawakan aku kan? Aku bukanlah Anastasya dengan identitas jelas dan aku juga bukan putri keluarga Hilman. Aku….aku hanya seorang anak diluar nikah.”


Ekspresi Kenneth berubah menjadi serius. Dia mengeryitkan dahinya dan dengan suara dingin berkata, “Aku tidak tahu apakah kau anak diluar nikah atau bukan. Tetapi kalau memang benar lalu kenapa? Buatku, kau adalah kau.” Meskipun ekspresinya dingin tetapi tatapan matanya penuh dengan kekuatan. Jari jemari Anastasya bergerak dengan kaku, ucapan sederhana yang diucapkan oleh Kenneth mampu membuatnya lebih bersemangat dan berani.


Dia adalah dia. Tidak peduli putri siapa dia sebenarnya tapi yang pasti dia adalah dirinya sendiri, Anastasya Sanari. Kenneth melanjutkan ucapannya, “Kau tidak dapat memilih ingin lahir dimana dan dikeluarga mana. Kau tidak bersalah, yang salah itu hanyalah para orang dewasa itu.”


Anastasya mengerucutkan bibirnya, lalu menelan slaivanya,  “Didalam ingatanku, mamaku bukanlah orang yang seperti itu….aku tidak tahu bagaimana…..bagaimana bisa seperti itu.”


Kenneth terdiam selama beberapa detik lalu berkata, “Sebenarnya ada beberapa hal tentang mamamu. Sebelumnya aku tidak mengatakannya karena aku merasa tidak sopan untuk mengatakannya. Tetapi sekarang aku pikir mungkin kau perlu mengetahuinya.”


“Tentang mamaku?” Anastasya membulatkan matanya heran. “Sebelum aku pulang kerumah keluarga Hilman, aku sudah menyelidiki dan mendapatkan ukup banyak informasi, aku cukup tahu semuanya tentang mamaku.”


Kenneth menggelengkan kepalanya dengan ringan, “Ada satu hal yang tidak mungkin dapat kau temukan dalam data-data itu.”


“Apa?”


“Rumor. Rumor-rumor yang beredar dikalangan wanita-wanita penggosip dikota ini. Waktu itu aku tidak terlalu percaya rumor-rumor yang mereka sebarkan tetapi setelah melihat laporan tes DNA mu itu aku rasa kau mungkin harus mendengarnya.”


Anastasya mengepalkan tangannya dengan gugup, “Katakanlah.”


Kenneth menatapnya lekat-lekat untuk melihat ekspresi Anastasya sebelum dia menceritakannya. “Seharusnya kau tahu tentang pernikahan mamau dan Danendra itu terjadi hanya dalam waktu singkat dan status mereka terlalu jauh. Keluarga Hilman berbisnis ditambang batubara dan setelah memiliki cukup uang mereka baru datang ke kota ini untuk membeli rumah. Tak lama setelah itu mereka menetap disini kemudian Danendra menikahi mamamu. Seharusnya kau juga merasa aneh atas hal itu.”


“Ya.” jawab Anastasya singkat.


“Itulah mengapa rumornya beredar dikalangan para wanita penggosip di Jakarta. Mereka mengatakan bahwa pada suatu hari mamamu pergi mendaki gunung dan bertemud engan seorang preman dan kehilangan kesuciannya. Lalu ketika dia mendapati dirinya hamil karena merasa panik lalu dia mencari keluarga Hilman untuk menikah….”


Alis Anastasya mengerut membentuk tiga garis vertikal lalu bertanya, “Maksudmu, mamaku diperkosa oleh preman….dan itu sebabnya mengapa dia hamil? Lalu demi memberikan aku status yang bersih dia menikah dengan papaku?”


“Ya, tetapi dibandingkan dengan rumor itu, aku pikir rumor lain lebih dapat diandalkan. Karena mamau adalah orang yang sangat cerdas dan hebat. Dia juga sangat terampil, dia tidak akan membiarkan dirinya mendapatkan masalah seperti itu.”


“Iya, rumor lainnya itu adalah….dia menjalin hubungan dengan seorang pria misterius saat itu. Hanya saja keluarga pria itu menolak mamamu sehingga si pria tidak dapat menikahi mamamu. Dan mamau juga tidak tega melakukan aborsi jadi dia memilih keluarga Hilman dan menikah dengan Danendra pada akhirnya.” kata Kenneth menceritakan apa yang didengarnya.


Setelah mendengar ceritanya, Anastasya malah bertambah lebih bingung lagi. “Pada saat itu, karena kemampuan mamaku, maka keluarga Sanari sangat menonjol dan bahkan bisa disetarakan dengan keempat keluarga terpandang kalian. Keluarga Sanari waktu itu berada diperingkat kelima. Pria macam apa yang bisa menolak wanita seperti mamaku?”


“Well, aku tidak tahu soal itu. Karena aku juga mengetahui hal ini dari mamaku. Sebenarnya mamaku dan mamamu pernah berteman cukup dekat untuk beberapa waktu. Jadi aku merasa cerita yang berasal darinya itu malah lebih dapat dipercaya meskipun itu adalah hal yang konyol.” ujar Kenneth.


Tiba-tiba Anastasya mengangkat alisnya dan berkata, “Aku ingin bertemu dengan mamamu.”


Ucapan Anastasya membuat detak jantung Kenneth mendadak kencang dan tak beraturan.


Kenneth selalu merasa bahwa membawa seorang gadis untuk diperkenalkan pada orangtuanya adalah hal yang membosankan tetapi entah mengapa ketika Anastasya mengatakan itu, dia malah merasa gembira meskipun dia tahu dengan jelas bahwa Anastasya ingin menemui mamanya bukan untuk masalah pernikahan.”


Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya? Melihat Kenneth yang diam saja, Anastasya menjadi ragu lalu bertanya, “Apakah terlalu merepotkanmu? Jika memang begitu, tidak apa-apa, aku akan mencari kesempatan lain untuk menemuinya sendiri.”


Kenneth tersadar kembali dari lamunannya kemudian menggelengkan kepala, “Tidak. Sama sekali tidak merepotkan, hanya saja kita harus mencari satu alasan.”


“Alasan?” tanya Anastasya bingung.


“Ya. Mamaku ini memiliki semua kejelekan yang dimiliki oleh semua orang kaya. Biasanya dia tidak mau bertemu dengan orang tidak dikenal. Apalagi keluarga Hilman yang sekarang, sudah bukan lagi keluarga Sanari yang dulu. Dia tidak akan mau bertemu anggota keluarga dari keluarga Hilman. Tetapi….bukan berarti tidak dapat mencari alasan untuk menemuinya.”


“Lalu, alasan apa menurutmu?”


“Jadi pacaraku.” jawab Kenneth mantap.


Anastasya tertgun sejenak dan menatap mata Kenneth tak percaya. “Apa kau bilang barusan?”


Dengan ekspresi acuh tak acuh Kenneth berkata, “Sebenarnya mamaku telah memaksaku untuk melakukan kencan buta akhir-akhir ini. Tapi aku tidak tertarik sama sekali dengan masalah percintaan dan sejenisnya. Jadi jika kau bisa berpura-pura menjadi pacarku ini akan menyelamatkanku dari berbagai masalah yang merepotkan. Dan juga, tanpa kau perlu mencarinya dia akan mencarimu dan memintamu untuk bertemu dengannya.”


Sejenak Anastasya tampak ragu-ragu. “Tapi….masalah pura-pura menjadi pacar ini….bagaimana jika nanti malah sulit diakhiri? Maksudku, papaku...itu Danendra. Begitu dia mengira bahwa kita benar-benar pacaran, dia pasti akan melakukan apa saja untuk membuatku menikah denganmu.”


“Itu juga tidak masalah buatku.” ujar Kenneth dengan santai.”Masalah pacaran bisa dipalsukan jadi masalah pernikahan juga sama saja, tidak mesti beneran kan? Aku tidak berencana untuk menikah. Jika kau juga sama sepertiku maka kita dapat bekerjasama. Lagipula keinginanmu itu kan ingin aku berjanji untuk menikahimu.”


Mendengar ucapannya yang terakhir membuat Anastasya hampir muntah darah. “Aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali, kalau aku hanya bercanda...” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. Kenneth melihat bibir itu dan entah mengapa dia ingin menciumnya lagi.