THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 88. SEMAKIN KAGUM



Sekarang orang itu sudah bisa berkomunikasi dengan normal sehingga mereka sudah bisa menginetrogasinya. Irene menghampiri Anastasya dengan tatapan kagum dan memujinya.


“Nona, keterampilan medismu membuatku sangat takjub! Memang benar yang dikatakan guruku, mereka memberitahu jika pengobatan tradisional memang sangat luas dan mendalam. Ada banyak hal yang harus dipelajari dari kami yang berasal dari barat mengenai pengobatan ini. Sejujurnya pada awalnya aku juga menganggap remeh pengobatan tradisional. Aku merasa tidak ada gunanya kedua guruku jauh-jauh datang ke Asia hanya untuk mempelajari metode pengobatan tradisional. Sekarang sepertinya pengetahuanku sendiri yang terlalu dangkal.”


Dengan rendah hati dan tidak sombong Anastasya berkata, “Metode pengobatan barat juga memiliki banyak hal yang harus dipelajari oleh orang yang menguasai pengobatan tradisional. Kedua metode saling melengkapi hanya saja ada beberapa orang yang memiliki prasangka jelek terhadap pengobatan tradisional sehingga tidak ingin memahaminya lebih jauh lagi.”


Diego merasa sangat malu dan tidak enak hati ketika mendengar ucapan Anastasya yang memang sengaja menyindirnya.


Tetapi Diego juga seorang yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri. Setelah merasa galau beberapa saat, dia berkata pada Anastasya, “Nona Anastasya, akulah yang picik. Aku benar-benar minta maaf padamu, tolong maafkan aku ya. Aku harap kau mau memaafkanku karena sudah asal bicara sebelumnya!”


Anastasya yang melihat ketulusan Diego meminta maaf pun tidak benriat untuk melakukan perhituangan dengannya, dengan murah hati dia berkata, “Tidak apa-apa, kau hanya tidak mengerti saja. Aku harap kedepannya kau jangan berprasangka terhadap metode pengobatan tradisional.”


“Tenang saja.” ujar Diego dengan bersemangat, ”Besok pagi aku akan berdiskusi dengan papaku, aku akan memintanya untuk menambahkan fasilitas pengobatan tradisional kedalam rencana pengembangan rumah sakit kami untuk tahun ini.”


Anastasya tersenyum senang, “Jika metode pengobatan ini bisa berkembang dengan baik dibawah pimpinan keluargamu tentu saja ini adalah hal baik.”


Kenneth mengeryitkan keningnya, “Apa hubungannya perkembangan pengobatan tradisional denganmu? Irene cepat panggil  suster untuk menginfusnya!”


“Aku baik-baik saja!” Anastasya menolak.


Kenneth mengingatkannya dengan ekspresi datar, “Jangan memaksa, nanti kau masih harus memanjat tali untuk kembali ke kamar hotel.”


Mendengar ucapan Kenneth, dia pun langsung terdiam dan menundukkan wajahnya. Anastasya menyadari jika tubuhnya memang lemah kondisinya saat ini dan membutuhkan infus.  Melihat Anastasya yang tidak menolak lagi, wajah Kenneth terlihat melunak. “Kau istirahatlah sebentar. Diego cepat selesaikan tes DNA nya.”


Sekarang Diego memandang Anastasya dari sisi lain dan sudah tidak berprasangka buruk lagi. “Aku akan pergi sekarang dan mendesak mereka sekarang juga menyelesaikan tes DNA itu. Biasanya sih paling cepat satu hari tapi jika aku sendiri yang pergi kesana seharusnya aku bisa mendapatkan hasilnya besok pagi.”


“Maaf telah merepotkanmu.” ujar Anastasya.


“Tidak apa-apa, kau juga sudah membantu kami.” balas Diego.


Dia lalu menoleh ke pria diatas ranjang, “Berapa lama jarumnya baru boleh dicabut?”


Keenan tanpak kesal karena Diego sudah merebut pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Siapa juga tadi yang sibuk menyuruhnya mencabut jarum-jarum itu?


Anastasya melirik pria itu dan berkata, “Jika kesadarannya sudah baik dan kalian tidak memerlukan aku untuk menyembuhkannya sepenuhnya lagi maka jarumnya bisa dicabut sekarang. Aku saja yang mencabutnya---”


“Tidak, kau baringan saja istirahat. Aku yang cabut.”


Keenan ingin mengatakan sesuatu tetapi dia teringat kalau dia juga sama seperti Diego yang sebelumnya tidak mempercayai Anastasya. Dia jadi merasa tak percaya dirin dengan diam-diam dia menyingkir. Dan disaat yang sama Brandon masuk dengan beberapa pengawal. Dia langsung bertanya, “Apa orang itu sudah sembuh?” Lalu dia melihat seisi ruangan yang berantakan dan Anastasya yang berbaring diranjang rumah sakit.


Brandon menatap Diego, “Bocah ini, apa yang sudah kau lakukan, ha?”


“Aku----” Diego menundukkan kepalanya dan diam karena merasa malu dan tak enak hati.


Setelah Kenneth selesai mencabut jarum-jarum itu, “Anastasya perlu beristirahat, kalian semua keluarlah.”


“Apa yang terjadi?” tanya Brandon gugup.


“Tidak ada apa-apa. Jika kau masih mau tanya lagi, Diego sudah tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Sudahlah ayo pergi, pindahkan orang itu. Otak orang itu sudah normal lagi, sudah waktunya kita sibuk mengurus masalah ini.” Keenan mendorogn Brandon pergi.


Kini hanya tersisa Kenneth dan Anastasya didalam ruangan itu. Anastasya melihat botol infus yang ada diastas kepalanya dan dengan suara lemas dia bertanya pada Kenneth, “Sekarang sudah larut malam, kau juga harus beristirahat. Aku akan mengawasi sendiri botol infusnya.”


Kenneth memasang ekspresi datar, “Aku tidak suka berhutang budi pada orang lain. Tidurlah, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan menjagamu disini.”


Anastasya masih ingin mengatakan sesuatu tetapi karena dia terlalu lelah akhirnya tidak jadi mengatakannya. Perlahan matanya tertutup rapat dan dia tertidur pulas hanya dalam hitungan menit. Setelah beberapa saat, napasnya terdengar teratur dan dia benar-benar terlelap. Kenneth yang sedang duduk membelakangi Anastasya membalikkan badannya dengan perlahan setelah mendengar nafasnya yang teratur. Tatapannya tertuju ke wajah Anastasya.


Dalam tidurnya, Anastasya melepaskan semua kewaspadaannya dan tampak patuh seperti kucing persia yang sedang tertidur. Keneth merasa jika wajah Anastasya seperti memiliki magnet dan ketika dia tersadar kembali, tangannya hampir menyentuh pipi Anastasya. Kenneth terkejut dan dengan perasaan kesal dia segera menarik tangannya. Memangnya dia belum pernah menyentuh seorang wanita sebelumnya ya sehingga jadi gatel?


Meskipun begitu, Anastasya memang jauh lebih baik daripada wanita-wanita kaya dan bangsawan yang diperkenalkan mamanya kepadanya. Jika gadis itu adalah Anastasya, mungkin dia juga tidak akan begitu anti dengan yang namanya tinggal dengan seorang wanita sepanjang hidupnya. Tanpa dia sadari benaknya kembali dipenuhi oleh Anastasya tetapi Kenneth segera menggelengkan kepalanya.


Dia tidak ingin berduaan dengan Anastasya lagi karena kalau tidak maka dia harus mandi air dingin lagi. Lalu Kenneth berdiri dan berjalan ke jendela untuk merokok.  Dia membuka jendela dan meluruskan kaca penutupnya untuk mencegah asap rokok masuk tetapi malah angin malam yang dingin yang berhembus masuk sehingga kepalanya sakit.


Setelah Kenneth selesai merokok dan baru saja hendak menutup jendela tiba-tiba mamanya, Anika Kayani menelepon. Kenneth melirik jam sudah jam tiga pagi. Untuk apa mamanya meneleponnya dipagi buta begini? Kenneth mengeryitkan keningnya dan bertanya dengan suara rendah, “Ada apa ma?”


Suara Anika terdengar tidka senang saat mendengar suara Kenneth, “Aku kan sudah memberitahumu untuk pulang lebih cepat malam ini? Aku sudah mengajak Nyonya Sudana untuk makan malam dan kami main kartu sampai sekarang. Mengapa kau belum pulang juga?”


Kenneth terlihat tenang dan suaranya santai, “Ada pesta makan malam dan aku minum anggur jadi aku menginap dihotel dan tidak bisa pulang.”


Suara Anika langsung naik satu oktaf lebih tinggi, “Pesta makan malam? Kau jangan coba-coba bawa pulang wanita yang tidak jelas dari pesta makan malam itu ya! Aku lihatgadis sulung keluarga Sudana ini memiliki kepribadian dan pendidikan yang baik dan juga dia tampak cantik. Mereka sekeluarga akan pulang ke Denpasar besok, kau harus pulang sekarang!”


Dengan tidak sabar Kenneth berkata, “Ma, aku tidak berencana untuk menikah dalam beberapa tahun kedepan jadi mama tidak perlu memperkenalkan wanita-wanita itu padaku.”