THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 34. BATALKAN PERTUNANGAN



Clarissa menatap horor melihat Emma yang dikejar anjingnya sendiri. Wanita itu bahkan tidak percaya pada apa yang dilihatnya, selama ini Roxy hanya patuh pada Emma tapi sekarang malah mengejar dan ingin menggigitnya.


Emma yang terus berlari menghindari Roxy pun sudah kehabisan tenaga, langkah kakinya pun semakin melambat karena sudah tak sanggup berlari. Tiba-tiba Roxy menyerang lalu menggigit punggung Emma hingga bajunya koyak. “Tolong! Tolong aku!” teriak Emma ketakutan.


Clarissa melirik kekiri dan kekanan lalu mengambil batu lalu melempar Roxy. Kepala Roxy menoleh lalu jatuh kesamping tapi tak lama kemudian Roxy bangkit lalu berlari cepat kearah Clarissa. Wanita itu ketakutan dan bersembunyi dibelakang pelayan. “Tolong! Usir anjing itu! Tolong!”


Sementara pelayan itu pun ketakutan dan tak mempedulikan Clarissa lalu pelayan itu berlari ke arah Anastasya dan bersembunyi dibelakangnya.


Clarissa yang terkejut dan ketakutan tak sempat lari. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan “Dor!” Lalu tubuh anjing itu jatuh menimpa Clarissa, cairan darah menetes diatas wajahnya. Saat Clarissa membuka mata, dia melihat kepala pitbull itu kena tembak.


Clarissa menoleh dan melihat dikejauhan ada seorang pria yang berdiri sedang menonton sebuah pertunjukan yang bagus. Dia adalah Raden Keenan Pradipa. Dialah pria yang dijodohkan dengan Emma Claresta Putri Jatmika.


Emma yang tersadar dari keterkejutannya melihat pria itu, “Keenan!”


Keenan memegang sebuah pistol ditangannya, dia melipat tangannya didada dan terlihat tenang. Tadinya dia dipaksa oleh keluarganya untuk menjemput Emma untuk pergi makan malam. Tapi saat dia tiba disana dia malah melihat hal yang menarik. Dan juga orang yang menarik!


Keenan mengalihkan pandangannya dari Anastasya lalu menatap tajam kearah Emma, “Ternyata kau punya hobi membawa anjingmu keluar untuk menggigit orang. Jika mamaku mengetahui ini mungkin dia akan lebih menyukaimu.”


Emma langsung pucat dan membela diri, “Bukan begitu Keenan. Aku hanya membawa Roxy jalan-jalan tapi tak kuduga jika wanita itu melakukan sesuatu pada Roxy. Jadinya Roxy malah menyerangku.”


Tak ada seorangpun yang menyadari kehadiran Keenan, dia sudah melihat semuanya dari awal dengan jelas. “Ohhh begitu? Sekarang dia sudah mati jadi kau tidak perlu takut lagi. Anjing itu tidak akan menggigitmu lagi.”


Raut wajah Emma semakin pucat, Keenan sudah menembak mati anjingnya. Dia sudah membesarkan Roxy dengan kasih sayang selama beberapa tahun dan mati begitu saja. Emma pun mulai menyalahkan Anastasya. Dia mendelik pada Anastasya, dia tak ingin melepaskan gadis itu begitu saja.


Sedangkan disisi lain, Natasha membantu Clarissa bangun. Wanita itu memandang kearah Keenan dan berkata, “Maafkan putriku. Dia baru saja kembali dari desa dan aku tidak mendidiknya dengan baik.”


Keenan menatap Anastasya yang masih berdiri tak bergeming, dia bahkan tidak membela dirinya. Keenan menatapnya penuh arti, “Aku mendengar kabar bahwa ada seorang gadis cantik yang kembali ke keluarga Hilman. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya hari ini dan aku akui kalau dia benar-benar cantik.”


Wajah Clarissa, Natasha dan Emma berubah menjadi gelap mendengar Keenan memuji kecantikan Anastasya. Tapi Keenan tak peduli, dia masih saja menatap Anastasya lalu berkata pada Emma, “Pertunjukan sudah selesai! Sebaiknya kau pergi kerumahku sekarang, mamaku menyuruhmu untuk datang kerumah. Jangan hanya diam saja. Pergi sana!” Meskipun Keenan mengatakan itu pada Emma tapi tatapannya tak beralih dari Anastasya. Keenanpun pergi tanpa menyapa Clarissa dan Natasha.


Clarissa tidak berani mengatakan sepatah katapun meski Keenan tak menyapanya. Lalu Emma memerintahkan pengawal untuk membawa mayat Roxy dan dia berlari mengejar Keenan. “Tuan Keenan, tunggu aku!”


Tapi Keenan mengacuhkannya dan mempercepat langkah tapi saat dia berada didekat Anastasya, langkahnya melambat sejenak. “Cantik sekali!” lirih Keenan tapi masih bisa didengar oleh Anastasya atapi gadis itu mengabaikan. Dia pun langsung masuk ke villa tanpa mempedulikan Clarissa yang memanggilnya. Clarissa jadi marah karena Anastasya mengacuhkannya tapi saat ini dia merasa sedikit takut pada gadis itu.


...***...


Keenan dan Emma tiba dirumah kediaman keluarga Pradipa, Emma turun dari mobil tapi Keenan tidak turun dari mobil. Dia menatap Emma dengan jijik. Gadis itu merasa bingung melihat ekspresi Keenan, “Tuan Muda Keenan, kenapa menatapku seperti itu? Apa kau tidak turun bersamaku?”


Keenan tertawa sini, “Nona, disini hanya ada kita berdua jadi tidak usah berpura-pura. Aku ingin mengatakan padamu kalau aku belum ingin menikah karena aku belum puas menikmati masa mudaku. Oh iya…..kau adalah gadis yang menjijikkan dan bukan tipeku! Jadi masuklah kedalam dan bicara pada mamaku, kau harus membatalkan pertunangan sebelum aku membuka mulut dan memberitahu mamaku. Kau akan lebih terhina dan ditertawakan nanti.”


“Dulu aku tidak peduli akan menikah dengan siapa. Tapi setelah kejadian hari ini aku memutuskan tidak akan pernah menikahimu! Aku akan menikahi wanita pilihanku!”


Emma merasa sakit hati dan marah “Apa salahku? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?”


“Kau mau tahu apa salahmu? Aku tidak suka calon istri yang suka membunuh dan arogan!” ujar Keenan dengan tatapan redup.


“Apakah maksudku aku….?”


“Ya aku sedang membicarakan dirimu. Kau begitu angkuhnya membawa anjingmu untuk menggigit orang hari ini. Gadis itu bisa saja mati tadi gara-gara anjingmu. Apa kau paham itu?” bentak Keenan.


“Kenapa kau menuduhku? Tadi aku sudah bilang kalau aku tidak membiarkan anjingku menggigitnya tapi dia yang malah membuat anjingku berbalik menyerangku.”


Kesabaran Keenan sudah habis menghadapi Emma yang keras kepala. “Emma apa kau pikir aku ini bodoh, ha? Aku melihat semuanya, aku sudah berada disana sejak awal! Ingat baik-baik apa yang aku katakan tadi! Jika kau tidak ingin dipermalukan maka batalkan pertunangan kita.” lalu Keenan menaikkan kaca jendela mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Emma yang berdiri sendirian di keheningan malam.


Wajah Emma pucat ketakutan dan juga marah atas nasib yang menimpanya. Tangannya memukul-mukul diudara, “Anastasya ini semua salahmu! Aku akan membalasmu! Aku akan menghancurkanmu! Sialan kau perempuan ******!”


...***...


Di sebuah hotel bintang lima, Nox Bar.


Keenan meletakkan kepalanya dimeja bar, dia melihat seorang pria berbadan kekar berjalan kearahnya. Keenan langsung menegakkan tubuhnya saat melihat pria yang ternyata adalah Kenneth. “Selamat malam Tuan CEO Archilles. Sulit sekali untuk bertemu denganmu.”


Kenneth menatap Keenan tanpa ekspresi. Ada empat orang pria yang duduk dimeja bar, mereka adalah para pemuda terkenal yang berasal dari keluarga kaya raya.


Mereka adalah Kenneth Archilles, Raden Keenan Pradipa, Brandon Bagaskara dan Diego Satoshi. Keempat pemuda itu berasal dari keluarga terkaya di negeri ini, dalam bisnis mereka adalah saingan tapi keempatnya memiliki hubungan pertemanan yang sangat baik.


“Ada apa kalian mengundangku malam ini?” tanya Kenneth.


“Tuan Muda Keenan telah menemukan cinta sejatinya, Tadi dia mengatakan bahwa dia sudah benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis, jatuh cinta pada pandangan pertama.” kata Brandon.


Ekspresi Kenneth biasa saja dan merasa tidak ada hal yang penting, diapun berkata “Aku pergi dulu. Kalau tidak ada hal yang penting jangan membuang waktuku.”


Kenneth buru-buru pergi, dia ingin menyelidiki latar belakang Anastasya. Menurutnya gadis itu tidak sesederhana itu. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuat Kenneth merasa tertantang untuk mencari tahu.


Biasanya dia hanya membutuhkan sepuluh menit untuk memeriksa latar belakang seseorang. Tapi kali ini berbeda, sudah seminggu dia menyelidiki Anastasya tapi belum menemukan apapun.


“Ken….tunggu!” teriak Keenan. Tangannya meraih bahu Kenneth menghentikannya, “Tadi aku pergi kerumah keluarga Hilman. Kau tahu keluarga itu kan? Rumah sepupu tunanganku. Tahukah kau aku bertemu dengan seorang gadis cantik disana…..gadis itu sangat cantik dan istimewa. Aku jatuh cinta padanya.”