The Fate Of My Marriage

The Fate Of My Marriage
Hati ini terluka



🤗 Happy Reading 🤗


.


.


Maria dan Betran kembali mendatangi rumah sakit The Royal Melbourne. Mereka melangkah menuju ruangan ICU dan mendapati kamar Aaron tidak ada siapa siapa. Betran mendekati ranjang tempat Aaron berbaring, ia menarik napasnya dalam dalam. Masih tidak ada perubahan.


" Apakah kau senyaman itu Aaron? kau tidak tahu betapa menderitanya Anastasia, anakmu Ivander selalu menanyakanmu. Bangunlah kawan ! " Betran berbicara sedatar mungkin.


Sementara Maria berjalan mendekati perawat yang sedang berjaga.


" Menantu saya dimana ya suster ? " Tanya Maria kepada perawat yang duduk memeriksa buku pasien. Ia bangkit dan menyapa ibu Maria dengan sopan.


" Beliau lagi diruangan dokter Ken nyonya. " jawab perawat tersenyum ketika Maria menghampirinya.


" Terima kasih." Ucap Maria lalu berlalu meninggalkan perawat Ia kembali masuk keruangan tempat anaknya dirawat dan mendekati anaknya yang masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Sementara Betran, duduk di sofa memeriksa email yang masuk. Betran harus bisa memanfaatkan waktu. Banyak yang harus ia selesaikan, Karena semua tugas perusahaan ia sendiri yang menjalankan.


Maria duduk memandang anaknya dengan sedih, Ia membelai rambut Aaron dengan lembut. Terasa berat melihat keadaan anaknya seperti ini. Ia mengambil tangan anaknya, memberikan sentuhan agar Aaron bisa merasakannya. Ia adalah seorang ibu yang berjuang dan merawat anak anaknya dengan kasih sayang. Memori kenangan semasa anaknya di sekolah kembali terlintas didalam pikirannya. Maria tersenyum sekilas,


" Kamu masih ingat nak, waktu ibu dipanggil guru untuk meminta izin dariku. Karena kamu menolak tidak mau mengikuti lomba menyanyi solo antar sekolah saat itu. ibu akui kamu memiliki suara yang bagus. Ingatan ibu begitu jelas, setelah butuh perjuangan membujukmu, akhirnya anak ibu mau dan ternyata benar kamu menjadi juara satu pada saat itu." Samar samar senyum itu hilang. Ia menunduk tubuhnya sudah bergetar menahan tangisannya.


Bagaimana Aaron sekarang? apakah Maria bisa melihat senyum anaknya lagi? tetesan air matanya terjatuh begitu saja mengingat masa kecil Aaron.


Kesedihan yang begitu dalam menyelubungi hati dan jiwanya, mengetahui Aaron berbaring dirumah sakit dan dinyatakan koma. Maria bahkan berpikir jika dirinya mungkin tidak memiliki kesempatan untuk melihat Aaron lagi. Namun hal buruk itu ia tepis dari pikirannya, Maria yakin anaknya masih memiliki harapan. Maria mencium tangan anaknya dan menangis didepan Aaron.


" Berapa lama lagi kamu


tidur sayang? bangunlah sudah terlalu lama kamu tertidur, sudah waktunya kamu bangkit dan lihat anakmu Ivander yang setiap hari menanyakanmu nak, " Maria berusaha mengatur napasnya, sesak didadanya tidak tertahan lagi. Suaranya terdengar lembut, tapi ia yakin anaknya pasti bisa mendengarkannya. Maria terdiam dan mendongak keatas, menahan air matanya agar tidak terjatuh dipipinya. Namun Maria tidak sanggup ia menatap Anaknya, hatinya begitu hancur.


" Lihatlah nak...Istrimu selalu setia menungguimu berharap kamu cepat sadar. setiap hari selalu menangis, apa kamu tidak kasihan sayang. Badannya semakin kurus nak, ia terlalu memikirkanmu. Bukankah kamu mencintainya? jadi bangunlah nak, berjuanglah untuk bangun sayang! " Tangisan Maria semakin pecah didalam ruangan. Membuat Betran bangkit dan menenangkan ibu mertuanya.


" Sabar bu.." ucap Betran mencengkeram pundak ibunya dengan lembut.


" Jangan tinggalkan Anastasia nak, kami semua menyanyangimu.... " Ucap Maria menundukkan kepalanya ditepi ranjang tempat Aaron tertidur. Isaknya semakin terdengar, membuat Betran ikut menjatuhkan beberapa air matanya.


Betran begitu terkejut, tiba tiba pandangannya tertuju pada mata Aaron yang bergerak ingin membuka matanya, jari jarinya pun begitu.


" ibu... Aaron bu...." ucap Betran terkejut dan membuat Maria mengangkat kepalanya, mereka melihat Aaron membuka matanya berlahan lahan.


" Astagaaa, oh my God ! Anakku.... " Ucap Maria sangat terkejut dan menyeka air matanya yang masih jatuh dipipinya, Ia bangkit dari duduknya melihat Aaron berlahan lahan membuka matanya dengan sempurna. Sementara Betran berlari memanggil perawat untuk memanggil Dokter Ken yang menangani Aaron.


Mendengar itu perawat terjengkit dan hampir menjatuhkan kursi yang ia duduki. ini sungguh kabar gembira buat mereka yang hampir putus asa melihat pasien yang sudah sebulan mereka tangani tidak memiliki perubahan.


Perawat tiba tiba membuka pintu dengan paksa. Perawat muncul, Anastasia dan dokter yang berada di ruangan menoleh kearah pintu, Anastasia sendiri sangat terkejut karena yang ia tahu perawat ini adalah perawat yang berjaga diruang ICU tempat suaminya dirawat.


" Apa yang terjadi? " Anastasia bangkit dari duduknya, pikirannya sudah berkecamuk dan ia begitu takut. Perawat masih mengatur napasnya yang tersengal karena ia berlari. Tangannya masih memegang kenop pintu.


" Dokter !!! tuan Aaron ....tuan Aaron sudah sadarkan diri....."


" Apa ????? " Ucap Anastasia bersamaan dengan dokter. Anastasia tidak mengucapkan sepatah katapun, ia langsung berlari menuju ruangan suaminya. Napasnya mulai terengah-engah mengeluarkan secara cepat dan tidak beraturan. Perasaannya sangat bahagia, rasa sedihnya lenyap begitu saja. Anastasia tersenyum beberapa air matanya tergelincir begitu saja. Ia berulang kali menyeka air matanya.


" Terima kasih sayang, kau kembali untuk kami. Aku bersyukur dan sangat sangat bersyukur." ucapnya berbisik pada batinnya sendiri. Kembali air bening terjatuh kepipinya.


Anastasia membuka pintu, bibirnya gemetar menahan isak tangisnya. Detak jantungnya terpompa lebih kencang ketika Anastasia mendekati ranjang suaminya. Maria dan Betran tersenyum melihat Anastasia datang.


Anastasia menarik napas dalam dalam. Ia kembali melihat mata indah suaminya, mata teduh yang selalu ia rindukan. Anastasia tidak bisa menahan gejolak dihatinya, ia menumpahkan segala beban yang ada didalam dadanya.


Hikssssss Anastasia meraung raung didalam ruangan. Tangisannya pecah, membuat Maria dan Betran ikut menangis, Dokter yang baru masuk juga ikut menyaksikan situasi yang mengharukan. Anastasia memeluk suaminya. Bahunya semakin bergetar, air matanya terjatuh begitu saja.


Anastasia menangkup pipi suaminya, Aaron masih terlihat bingung dan tatapanya kosong.


" Sayangku...terima kasih kau kembali untuk kami. Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. " Ucap Anastasia semakin menangis. Ia mengecup bibir suaminya dengan lembut, ia memejamkan matanya. Kemudian Anastasia mencium pipi suaminya dan memberikan senyuman terbaiknya, ia duduk disamping suaminya ketika dokter mulai mendekat untuk memeriksa pasien.


" Selamat siang tuan, bagaimana perasaan anda sekarang? " Tanya dokter memeriksa Aaron.


Dokter melakukan respon gerakan verbal terhadap perintah. Ia memberikan perintah kepada Aaron untuk mengikutinya. Respon gerakan perintah diikuti Aaron dengan baik. Karena Pasien koma mengalami kesadaran tidak boleh dipaksa untuk melakukan gerakan verbal, dokter bisa melakukannya secara bertahap.


" Oke, sejauh ini respon gerakan verbal tuan Donisius baik nyonya, dia melakukan gerakan perintah dan mengikutinya dengan baik. Sejauh ini tidak ada yang perlu dicemaskan." Dokter menjelaskan.


" Apa yang terjadi dengan saya ? Dimana saya? " Tiba tiba semua terdiam, tubuh Anastasia menegang ketika melihat sorot mata suaminya nampak kebingungan.


" Kamu mendapat kecelakaan sayang." ucap Anastasia.


" Apa kalian mengenalku? " tanya Aaron dengan tatapan kosong.


" Saya ibu nak, Anastasia istrimu dan Betran adik iparmu. " Kata Maria kepada anaknya.


" Saya tidak mengenal kalian."


Semua yang berada di ruangan nampak panik dan terkejut. Nampak dokter menghela napasnya dengan berat.


" Saya rasa tuan Donisius mengalami Amnesia. " ucap Dokter dengan suara terendahnya.


Anastasia menutup mulutnya, ia terkejut dengan apa yang didengarnya. Tubuhnya tiba tiba lemas. Ia diam membisu tidak bicara apa apa.


" Amnesia dokter? " Tanya Maria berusaha memastikan pendengarannya.


" Ya... Amnesia merupakan gangguan yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengingat pengalaman, atau kejadian yang pernah dialami tuan Donisius. Yang saya tahu dalam beberapa kasus penderita amnesia juga akan kesulitan dalam membentuk ingatan baru. Amnesia dapat terjadi tiba-tiba atau berkembang secara perlahan. Kondisi ini bisa menjadi gejala dari kecelakaan yang dialaminya. Itu karena Kerusakan bilateral pada sistem limbik otaknya yang menyimpan." dokter menjelaskan secara sederhana agar keluarga memahami.


Anastasia menatap suaminya, tubuhnya lemas seketika ketika dokter menjelaskan. Air matanya kembali menganak sungai, tergelincir dipipinya begitu saja, tatapannya kosong.


" Saya bisa mengerti perasaan kalian, yang dirasakan tuan Donisius diakibatkan trauma otak. Mudah mudahan yang dialaminya bersifat ringan dan sementara. Saat ini tuan Donisius merasakan bingung atau gelisah, ini biasanya akan hilang timbul dan berulang."


" Apa ada obat yang bisa menyembuhkan dokter? " Tanya Betran.


" Tidak ada obat yang bisa memulihkan ingatan penderita amnesia tuan. Kita hanya bisa memberikan suplemen vitamin untuk untuk mencegah kerusakan sistem saraf saja." ucap dokter Ken.


Anastasia mengambil tangan suaminya, namun reflek Aaron menariknya. Tatapanya tidak terbaca membuat Anastasia kembali menangis, ia terus menunduk dan memejamkan matanya. Tatapannya lemah. Air matanya berulang kali jatuh kepangkuannya.


" Apakah terapi bisa dijalankan dokter? " Tanya Maria mencengkeram tangannya sendiri. Saat ini Maria nampak gugup dan terlihat cemas.


" Bisa saja nyonya, kita bisa melakukan terapi okupasi Terapi ini dilakukan agar penderita bisa memanfaatkan ingatan yang masih ada. Mungkin nyonya Donisius bisa mengingatkan kembali beberapa kenangan. itu akan memudahkan tuan Donisius lebih cepat sembuh." ujar dokter Ken menatap Aaron.


" Saya yakin Amnesia tuan Donisius hanya bersikap sementara saja, trauma akibat kecelakaan itu berdampak buruk buat tuan Donisius, membuatnya ingin menghilangkan kenangan itu. Semoga istri bisa memulihkan ingatannya kembali."


" Terima kasih dokter." ucap Maria menarik napasnya dalam dalam, mereka hanya melihat Anastasia menangis.


Aaron tidak ingin melihatnya, ia masih terlihat bingung dengan dirinya.


Anastasia menekan rasa pahit, hatinya seperti dicengkram oleh sebuah tangan besar membuatnya tidak bisa bernapas. Perasaannya benar benar berantakan sesak dan hampa.


Saat ini ia seperti didalam ruangan kosong yang sedemikian besar, Anastasia ingin berteriak tapi ia tak memiliki suara.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih yang masih setia membaca The Fate Of My Mariage 🤗 salam sehat dari saya yang manis untuk kalian yang paling manis 😍


.


.


🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA 🌾