
🤗 Happy Reading 🤗
Aaron menunda rapat hari ini,Ia benar benar tidak semangat melakukan aktifitasnya. Aaron merasa tidak tenang, ia tidak bisa meredam segala gejolak didalam dadanya.
Setelah hubungan kerja samanya dengan perusahaan xx berakhir, ia tidak akan melihat Anastasia lagi.
Ia merasa frustasi tak bisa berkata apa-apa, hatinya kembali sakit, semuanya sudah berakhir. Hidupnya seperti ditepi jurang.
Ia kembali merasakan hal yang sama dua tahun yang lalu. Ia kembali seperti patah hati lagi, hatinya kembali sedih..
Rasa galau yang dirasakannya sangat sulit ia ungkapkan, Aaron menyampaikan perasaannya melalui minum. Selama Anastasia disini ia sudah berhenti tidak minum lagi.Sekarang terulang lagi...
Ya, Keluarganya tidak tahu hal itu. Jika Perasaan sedang kacau yang harus dilakukannya adalah minum, ia tak perduli walau itu masih pagi atau siang.
Ia memanggil Rebecca melalui Intercom yang ada diruangan nya.
Tak butuh lama, Rebecca datang dan mengetuk pintu.Tak ada jawaban sehingga ia masuk.
"Ada apa pak?"
"Ambilkan aku wine sekarang." perintah Aaron.
"Wine pak?" Tanya Rebecca mengernyitkan keningnya.
"Apa kamu tidak dengar, ambilkan Aku wine." Perintah nya kembali berucap, Aaron sudah terlihat marah karena Rebecca mengulangi pertanyaannya.
"Kita dua jam lagi berangkat pak, anda belum makan dan minum tidak baik buat keseha..." belum lagi Rebecca melanjutkan kata katanya, Aaron sudah bangkit dan mengebrak mejanya.
"Jangan kau mengatur hidupku, jika aku perintahkan ambil sekarang kau harus ambil,jangan banyak pertanyaan,mengerti! "Aaron sudah menyeringai dingin, tatapan predator sudah menyala dimatanya.
Karena kemarahan Direktur utama,ia langsung keluar dan mengambil wine yang ada diruang khusus, Aaron sengaja membuat ruangan ini.Direktur utama sangat menyukai Wine untuk dijadikan koleksi.
Rebecca melihat macam macam minuman berkelas sudah berjejer rapi disana.Ia mengambil salah satu yang disukai Direktur utama itu.
Rebecca sudah kembali membawa minuman yang dipesan Direktur utama.
" Ini pak! " Rebecca sudah meletakkan wine diatas meja.
"Kau boleh keluar.." Perintah Aaron dengan tatapan kosong.
Belum lagi Rebecca menutup pintu, terdengar suara keras menghantam dinding ruangan. Wanita itu membeku, jantungnya seperti terpompa lebih kencang.
Rebecca sangat terkejut matanya menatap pintu yang ia tutup dengan pelan. Rebecca tidak percaya jika Aaron melempar botol wine yang ia bawa tadi. Ia memegang jantungnya yang masih berdetak, sungguh lelaki yang dikenalnya dulu tidak seperti ini. Ia terlihat rapuh, Rebecca kembali duduk kemeja kerjanya.Ia tidak berani masuk untuk melihat keadaan Direktur utama itu.
"Ada apa dengan dia, kenapa lelaki itu seperti frustasi..." ucap Rebecca masih nampak bingung seperti orang bodoh.
"Apa Direktur utama ada? " Tanya Betran dengan tatapan tanpa ekspresi dan tidak terbaca, Rebecca kembali kaget ia memegang dadanya kembali.Ia mendengus kasar.
"Pak direktur tidak bisa diganggu." ucapnya dingin.
"Berarti dia ada?" ucapnya langsung melangkah meninggalkan Rebecca yang berusaha mencegahnya masuk. Namun Betran tidak perduli dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Betran diam terpaku ditempatnya, dia masih dalam posisi berdiri sambil melihat keadaan ruangan yang sudah hancur. Betran mendengus kasar, ia nampak menggeleng.Selama bertahun tahun mengenal Aaron, dia tau apa yang dipikirkan lelaki ini.
"Kenapa lagi kamu Aaron?" tanya Betran melangkah mendekati lelaki yang sudah terlihat kacau.
Tak ada jawaban, sehingga Betran mendekat dan duduk disebelah Aaron yang terduduk dilantai.
"Jawab aku Aaron.Apakah ini mengenai Anastasia lagi? " tanya Betran kembali. Namun masih sama lelaki itu masih diam menatap keluar kaca yang ada diruangannya.
"Kejadian yang sama dua tahun lalu, aku kembali melihatmu seperti ini Aaron, jika kamu mencintainya katakan semua apa yang ada dihatimu, jangan kau pendam sendiri Aaron." Ucap Betran mencengkeram lengan lelaki itu.
"Aku tidak bisa.." jawabnya dengan perasaan hancur. Betran sudah melepaskan cengkramannya.Ia sudah habis kata kata.
"Kenapa tidak bisa, kalian saling mencintai, aku yakin Anastasia mencintaimu. Pergilah Aaron kejar Anastasia kembali." ucap Betran menatap lelaki itu.
Aaron masih menggeleng, ia takut Anastasia menolaknya seperti dua tahun yang lalu.
"Kamu bodoh Aaron.." kata Betran sudah mulai kesal.
"Aku tidak tahu lagi Betran, semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak sanggup. aku pikir dengan tidak melihatnya hati ini bisa sembuh, tapi luka ini selalu bertambah dan bertambah. Aku sangat mencintainya Aku sangat...." Tubuh Aaron sudah bergetar karena menahan isak tangisnya.ia terus menunduk dan memejamkan matanya, beberapa tetesan air mata sudah terjatuh dipipinya. Betran hanya menarik napasnya dalam dalam.
Ya..mungkin dengan melupakan Anastasia ini adalah jalan yang terbaik. Melupakan wanita yang dicintainya.
Aaron akan memulai hidup barunya..
**********
"Hei..bangun Isabel kenapa kamu tidur, kita belum selesai dengan pembicaraan kita tadi, ini aku balikin barang kamu yang tertinggal dikamar ini.." ucap Anastasia membangunkan Isabel, ia mendengus kasar.
"Hei.. aku tidak tidur." Ucap Isabel duduk dan berhadapan dengan Anastasia.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, kenapa kamu takut menggangguku? hayoo jawab..." Ucap Anastasia penasaran.
"Apa kau sudah ungkapkan perasaanmu tas? saya yakin kau sudah mengatakan cintamu.Iakan?" isabel sudah tersenyum dan dan ia ingin mencari kebenaran dari mata sahabatnya.
Tubuh Anastasia menegang, sementara Isabel sudah menggelitik Anastasia.
"Hayooo ceritakan semua.." ucap Isabel lagi.
"Apa maksudmu Abel? " ucap Anastasia membeku tanpa ekspresi.
"Astaga Anastasia apa kamu hilang ingatan?"
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan, Apa maksudmu Isabel?" Anastasia kembali mengulang pertanyaannya, perasaannya seperti mengatakan sesuatu terjadi pada waktu ia sakit.
Isabel mengernyitkan keningnya, ia melihat mata Anastasia tidak ada kebohongan.
"Tasia, jangan katakan kalau kamu tidak tahu Aaron datang merawatmu waktu kamu sakit."
ucap Isabel sudah membulatkan matanya dengan sempurna.
DEG....
Anastasia nampak pucat, ekspresi wajahnya tiba tiba berubah.Wajahnya menegang. Anastasia seperti terkena serangan jantung, ia sudah memegang dadanya. Ia sangat terkejut sangat terkejut
"Jadi benar kau tidak tau Tasia? " ucap isabel membelalakkan matanya kembali.
Tak ada jawaban, Ia seperti orang bodoh pada saat ini. Jantungnya semakin terpompa berdetak lebih kencang.
"Jadi yang aku dengar bukan halusinasi? kata cinta yang begitu jelas ia dengar tidak mimpi? bubur yang dimakannya adalah buatan Aaron? cacatan kecil itu...?" Anastasia terus berbisik pada dirinya sendiri. Kepalanya menunduk dan menggeleng pelan. ia tidak percaya.Air mata yang sudah mengkristal penuh di kelopak matanya, berhasil jatuh kepipinya.
"Maafkan Aku Tasia, aku pikir kamu tahu. sungguh...aku minta maaf ! pada saat itu aku tidak tahan melihatmu menangis dan mengigau memanggil nama Aaron. Aku yakin kamu merindukan lelaki itu tasia, jadi aku menghubungi mantan Asistennya dan menyuruhnya datang kesini. Mungkin dengan adanya Aaron kamu bisa sembuh cepat dan berani mengatakan cintamu.Sumpah..aku tidak bermaksud lain Tasia.." Ucap Isabel merasa bersalah karena yang pikir sahabatnya itu sudah kembali menjalin hubungan.
"Ya, aku langsung sembuh Abel. Aku dirawat lelaki yang kucintai." ucap Anastasia bergetar, matanya kembali berkaca kaca,air bening menetes dipipinya.
"Maafkan aku.." ucap Isabel ikut sedih. Bahu Anastasia bergetar, tatapannya lemah.
Ia semakin tersedu sedu. Tangisannya semakin pecah memenuhi ruangan kamarnya.Perasaannya benar benar kalut, bingung, takut dan resah.
"Ia mengatakan mencintaiku Abel, aku pikir hanya mimpi ternyata itu nyata." Anastasia semakin menangis.
napasnya mulai berhembus tidak stabil, bibirnya gemetar.
"Kalau begitu kau juga harus mengatakan cintamu Tasia, jangan menunggu lagi. Kau harus mengejar cintamu.Ayoo Tasia ..." Ucap Isabel memberikan dorongan untuk Anastasia agar pergi menemui Aaron.
"Jangan menunggu lagi, pergilah temui dia."
ucap Isabel dengan tatapan memohon kepada sahabatnya. Agar Anastasia tidak bodoh lagi, untuk memendam perasaan cintanya.
Tanpa berpikir panjang Anastasia langsung berlari meninggalkan Apartemennya. Isabel terharu ia ikut menangis.
" Kejar lah cintamu Tasia, aku ingin melihatmu bahagia." Ucap Isabel menghapus air matanya.
Anastasia membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia kembali menangis,tatapanya lemah.
"Tunggu aku Aaron" ucapnya masih terisak,
beberapa kali tetesan air matanya terjatuh di pangkuannya.
"Kenapa aku bodoh menahan perasaan ini?Aku semakin tidak bisa untuk menahannya, tunggu aku Aaron..." Anastasia terus berbisik pada batinnya. Ia seperti memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
Ia terus membawa mobilnya membelah jalan menuju perusahaan Donisius grup.
Anastasia memarkir mobilnya dengan asal. Ia langsung berlari menuju lift khusus menuju ruangan direktur utama, Tak menunggu lama Anastasia langsung masuk dan membuka pintu ruangan dengan kasar.
AARON.........!!!
Bersambung.....☹️😟
#Part ini saya benar benar terbawa suasana bangat, Sedih sampai saya nangis 😭 mengingat perasaan mereka yang selalu terpendam.
Aaron sangat mencintai Anastasia tapi ia tidak sanggup untuk memulai dari awal karena telah menyakiti Anastasia, karena masa lalu.
#Anastasia juga begitu, ia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena telah terlanjur menolak untuk bersama dan menceraikan lelaki yang dicintainya.
#Semoga sedihnya dapat ya...karena saya sudah berusaha untuk membuat para readers ikut terbawa suasana.
🌾JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA🌾
🌾 KASIH BINTANG JUGA YA 🤗