The Fate Of My Marriage

The Fate Of My Marriage
Mengidam Parah



πŸ€— Happy Reading πŸ€—


Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Anastasia hanya bisa tertidur di kamar. Ia mengalami muntah cukup parah, keluhannya benar benar tidak memandang waktu. Ia merasakan pada siang atau malam hari, yang lebih parah di pagi hari. Anastasia bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Membuat Aaron sangat mencemaskannya.


Berat badannya turun secara drastis. Aaron sudah mencoba berkonsultasi dengan ahli gizi karena apa yang dimakan Anastasia sama sekali tidak bisa masuk. Hanya air infus lah mengganti cairan tubuhnya yang hilang dan cara untuk menambah asupan makanan bagi tubuh Anastasia.


Kehamilan ini membuat Aaron sangat khawatir. lelaki itu takut akan memengaruhi pertumbuhan janin. Aaron tidak ingin menyesal seumur hidupnya, jika anaknya lahir tidak sehat. Aaron sangat heran Air putih saja tidak bisa masuk, Anastasia menolak dan langsung muntah. Itulah menjadi pemicu mualnya tidak mau berhenti. Bahkan Aaron sendiri sudah meminta dokter agar memberikan obat anti mual yang super mahal, namun hasilnya masih sama.


Aaron menghusap wajahnya, ia sangat mengkhawatirkan istrinya. Anastasia berusaha untuk memejamkan matanya, tubuhnya lemas seperti tak bertulang. Setelah perjuangan panjang berada dikamar mandi. Aaron membantunya dengan penuh kasih sayang.Tangannya tertancap jarum infus. Anastasia tidak mau dirawat dirumah sakit, ia memilih dirawat dirumah saja. Aaron khusus memanggil dokter keluarga datang untuk merawat istrinya.


" Gimana perasaanmu sayangku? " Tanya Aaron melihat Anastasia memejamkan matanya. Anastasia hanya menggeleng, ia tidak ingin bicara tubuhnya lemah.


Aaron menyusul istrinya masuk kedalam selimut, ia berhadapan dengan istrinya dan memeluknya. Dekapan tubuh suaminya membuat Anastasia tenang, ia mengerjapkan matanya, sentuhan Aaron seperti menambah kekuatannya. Dalam tamaramnya lampu, pandangan mereka beradu. Anastasia tersenyum dan memejamkan matanya ketika Aaron mengecup keningnya dengan sayang.


" Sayangku, Jangan menyusahkan istriku ya ?! " ucap Aaron berbisik dan menghusap lembut perut istrinya. Anastasia terkekeh, tatapannya begitu sayu. Anastasia mengangkat tangannya dan membelai pipi suaminya.


" Ini hal biasa sayang, semua ibu hamil pasti merasakan hal seperti ini." lirih Anastasia dengan wajah memelas.


" Kau menderita sayangku, aku tak sanggup melihatmu seperti ini." kata Aaron dengan nada sedih ia membelai pipi istrinya.


" Tidak perlu khawatir sayang, kau terlalu berlebihan." Kata Anastasia tersenyum kecut.


" Bahkan anak kita tidak memandang waktu untuk menyiksamu, bagaimana aku tidak khawatir? " protes Aaron.


" Itu karena bertambahnya usia kandungan sayang, ketakutanmu berlebihan." ujar Anastasia memejamkan matanya kembali.


" Sayang, jangan terlalu memikirkan apapun, aku menjalaninya dengan bahagia. " sambung Anastasia.


" Tidurlah !" bisik Aaron dengan nada lembut. Aaron mencium keningnya. Anastasia mengeratkan pelukannya ia mencium Aroma maskulin tubuh suaminya.


" Jangan pergi sayang ! " kata Anastasia ketika suaminya bergegas turun dari tempat tidur.


" Biarkan aku sampai tertidur." Bisik Anastasia mulai memejamkan matanya.


" Tidak sayang, aku tetap disini sampai istriku tertidur, aku akan menyelesaikan sebagian pekerjaanku setelah kau tidur sayangku." bisik Aaron kembali mengecup puncak kepala istrinya.


Tak menunggu lama , Anastasia sudah tertidur. Aron sudah turun dari tempat tidur, ia sedikit hati hati agar tidak membangunkan istrinya.



Aaron memang sengaja tidak pergi kekantor, ia menyelesaikan pekerjaannya dari rumah dan tinggal mengirim email kepada Betran, Sebagian pekerjaan mengenai proyek baru dan mengecek langsung ke lokasi, Aaron memerintahkan Betran untuk menggantikannya.


Aaron ingin lebih fokus untuk merawat istrinya. Lelaki itu menarik napasnya dalam dalam, Aaron benar benar merindukan kejahilan Anastasia bahkan keagresifan istrinya. Aaron duduk di sofa yang berada dikamar, ia membuka laptopnya dan menyelesaikan beberapa pekerjaannya.


TOK TOK TOK


Tiba tiba terdengar ketukan pintu dari luar,


" Masuk! " ucap Aaron dari dalam , daun pintu terbuka dan terdorong kedalam. Maria sudah masuk, dan melihat Anastasia tertidur. Aaron bangkit melihat ibunya sudah berdiri didekat ranjang.


" Bagaimana keadaannya sayang? " kata Maria berdiri didekat tempat tidur, ia dihubungi Aaron beberapa jam yang lalu.


" Tambah buruk ibu, apakah semua wanita harus merasakan hal seperti ini ibu?" erang Aaron menatap istrinya yang tertidur. ia sungguh merasa bersalah melihat Anastasia mengalami hal terberat selama dua Minggu. Jika ia bisa menggantikannya Aaron siap melalui semua ini.


" Ibu tidak pernah mengalami separah ini sayang, morning sickness itu biasa dialami semua ibu hamil dan itu bahkan normal nak, tidak usah takut." ucap Maria.


" Tapi ini menyakitkan ibu, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini." keluh Aaron duduk disamping istrinya, ia menyelipkan anak rambut ketelinga Anastasia agar wajahnya tidak menutupi rambutnya.


" Apa kata dokter sayang? " tanya Maria.


" Sama seperti yang dikatakan ibu, itu hal biasa yang dialami ibu hamil." jawab Aaron enggan.


" Jadi apa yang kau khawatirkan? " Tanya Maria mendekat anaknya. Ia mencengkram pundak anaknya dengan lembut, seperti memberi kekuatan.


Tubuh Aaron sudah bergetar menahan tangisannya.


" Kamu menangis?" tanya Maria mengerutkan keningnya.


" Anastasia melalui banyak hal terberat semenjak ia mengenalku ibu, bahkan mengandung anakku saja ia mengalami hal terberat seperti ini. Aku seperti pria brengsek." Gumam Aaron berhasil menjatuhkan air matanya.


" Aku tak sanggup melihatnya seperti ini ibu, sudah dua minggu ia mengalami seperti ini. Semua makanan ia muntahkan.Jangankan itu, air saya ia tolak tak bisa masuk." kata Aaron, ia kesal pada dirinya sendiri.


" Benar sayang, penciuman orang hamil memang tajam, hindarilah yang memicu yang membuat Anastasia mual. Nanti dokter keluarga akan datang, untuk memeriksanya kembali." Jelas Maria.


" Aku meminta bantuan Naomi menyiapkan makanan kesukaan Anastasia, bahan makanannya sudah ibu persiapkan. Semoga Anastasia bisa memakannya. " Sambung Maria.


" Terima kasih ibu." jawab Aaron memeluk ibunya.


" Tidak perlu mencemaskan apapun, oke! " ucap Maria membalas dekapan anaknya. Maria tidak menduga jika anaknya yang keras dan tidak terbantahkan bisa menangis. Maria tersenyum, Anastasia benar benar memberikan pengaruh yang besar buat anaknya.


" Ibu ada acara penting yang tidak bisa ditinggalkan Aaron, hubungi ibu jika kau perlu sesuatu." Kata Maria memeluk anaknya sambil mengelus-elus punggung Aaron.


" Terima kasih ibu! " ucap Aaron melepaskan dekapan ibunya dan menghantarkan ibunya sampai di pintu kamar.


Aaron kembali duduk si sofa melanjutkan sisa pekerjaannya. Sesekali ia melirik Anastasia yang masih tertidur.


Tak berapa lama terdengar suara Anastasia memanggilnya.


" Sayang...." panggil Anastasia dengan suara tercekat dileher. Ia terbangun dan langsung duduk, rasanya perutnya kembali mual kepalanya berputar putar. Sakitnya tak bisa Anastasia jelaskan. Pandangannya berkunang-kunang. Penglihatan kabur sesaat, Anastasia semakin pusing dan


sempoyongan.


Aaron melangkah cepat, ketika istrinya menunduk sudah berada dipinggir tempat tidur dan ingin muntah.


" Sayang....! " Aaron berlari cepat dan ingin menangkap tubuh istrinya yang terjatuh pingsan. Namun terlambat, tubuh Anastasia terdorong hingga terjatuh kelantai, jarum infusnya sudah lepas dari tangannya.


Aaron panik dan memanggil Naomi. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.Tak butuh lama Naomi datang.


" Ada apa tuan? " Tanya Naomi yang sudah berada dikamar, wanita paruh baya itu masih mengatur napasnya.


" Tolong hubungi dokter keluarga, sekarang! " Perintah Aaron.


" Baik tuan." jawab Naomi langsung bergegas meninggalkan kamar.


Aaron terlihat ketakutan, wajah istrinya sudah pucat. Aaron memberikan kain kasa untuk menutup tangan Anastasia agar tidak mengeluarkan darah lagi.


Tak butuh waktu lama 15 menit dokter sudah datang dengan satu perawat yang khusus dibawanya dari rumah sakit.


" Apa yang terjadi Tuan Aaron? " Tanya dokter.


" Dia pingsan lagi, apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi rasa sakit istriku? " Tanya Aaron dengan wajah dingin dan kaku, ia terlihat marah kepada dokter yang tidak bisa menangani istrinya. Hatinya sakit melihat Anastasia seperti ini.


" Itu biasa tuan...." belum lagi dokter melanjutkan perkataannya, Aaron sudah mencengkeram baju dokter yang sudah menjadi kepercayaan keluarganya.


" Kau selalu mengatakan itu, apa kau tidak lihat bagaimana sekarang istriku menahan rasa sakitnya, berulang kali pingsan dan ini sudah dua Minggu.Dokter macam apa kau ini? kau sama sekali tidak bisa mengurangi rasa sakit istriku." Geram Aaron dengan nada sangat dingin dan rahangnya sudah mengeras, Aaron sudah sangat kesal.


" Tuan, anda harus bersabar." ucap dokter dengan nada canggung. Aaron melepaskan cengkramanya.


" Tangani istriku bagaimanapun caranya, aku tidak ingin melihatnya seperti ini." ancam Aaron dengan memberikan titah nya, nada suaranya serius, wajahnya kaku dan menatap dokter itu dengan tajam.


" Baik tuan! " jawab dokter itu dengan cepat. lelaki itu tidak bisa menutupi ketakutannya. Sementara perawat diam membeku mengganti jarum infus.


BERSAMBUNG πŸ€—πŸ€—


# Ah babang Aaron bisa aja 🀣 sampai ngancam ngancam dokter lagi, ayo suami siapa seperti ini?🀭


# Siapa juga yang mengalami kehamilan seperti Anastasia ? benar benar tepar sekali ya πŸ™„


# Salam sehat buat kita semua, jangan lupa bahagia ya πŸ€—


# Semoga tetap suka dengan cerita yang Author buat ya πŸ˜‚


🌾🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA SAYANG SAYANGKUUUU 🌾🌾


🌾 BERIKAN BINTANG MU JUGA YA 🌾