
π€ Happy Reading π€
"Sudah siap?" Tanya Lionel ketika dirinya sudah masuk keruangan rawat inap.
Anastasia hanya mengangguk lemah. Isabel sudah merapikan segala perlengkapan Anastasia selama dirumah sakit.
"Sekarang kita pulang,apa kau butuh kursi roda?" tanya Lionel
"Tidak perlu Lionel, aku masih sanggup berjalan." ucapnya mulai melangkah meninggalkan ruangan.
Dua minggu berada disini, sangat membosankan, pengobatan rutin yang dilaksanakan nya selama dirumah sakit membuatnya jenuh.Tapi demi untuk kesehatannya, ia siap menjalankannya.
Lionel mencarikan seorang wanita yang menjaganya dirumah sakit. Sementara Lionel dan Isabel harus bekerja, mereka tidak mungkin menungguinya selama ia dirawat dirumah sakit. Anastasia merasa tidak enak selalu menyusahkan teman temannya, Sungguh ia sangat merepotkan.
Mereka sudah berada di mobil, Lionel melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit, mereka menuju apartemennya.
"Apa kau ingin makan sesuatu? kita bisa mampir ke restoran kesukaanmu." ujar Lionel menatap Anastasia yang nampak diam.
"Sepertinya tidak, kita langsung pulang saja ya." ucap Anastasia kembali.
Anastasia memang banyak diam, entah apa yang dipikirkannya.
"Bagaimana kalau akhir pekan ini kita liburan, sabtu aku bisa izin gak masuk kerja, gimana?" ucap Isabel melirik kedua temannya itu.
"Sepertinya bagus.." ucap Lionel menimpali
"Bagaimana Tasia, kamu mau kan?" tanya Isabel menatap Anastasia.
"Maaf! aku masih malas untuk bepergian. Mungkin lain kali saja ya." jawab Anastasia malas.
"Ayolah Tasia..kamu gak ingat pesan dokter, kamu harus lebih sering liburan.." ujar Isabel penuh harap
Mendengar kata liburan, Anastasia mengingat Aaron, tiba tiba ia menarik napasnya dalam dalam. Ada rasa sakit dan benci, semuanya jadi satu. Anastasia menepis pikirannya, ia tak mau memikirkan Aaron,Ia kembali memikirkan soal ajakan teman temannya.
"Baiklah kita bisa pergi." ucap Anastasia akhirnya.
"Begitu dong.." ucap Isabel kesenangan.
Mobil masih melaju, hingga mereka sampai diapertemen Lionel.
Mereka melihat Aaron sudah berdiri menyenderkan badannya ke dinding Apartemen.Nampaknya ia sudah menunggu kedatangan mereka.
Tatapan mereka bertemu, Anastasia mendengus kesal. Walau hatinya berdesir, ia memalingkan wajahnya. Ya tatapan itu yang tak bisa dilupakannya dan selalu ia rindukan.
"Sudah lama Aaron? " Tanya Lionel sambil membuka pintu Apartemennya.
"Belum juga." jawabnya singkat, matanya tak lepas memandang istrinya yang sudah terlihat sehat.Begitu rindunya hati ini.
"Sepertinya mereka harus bicara." bisik Isabel pada Lionel, lelaki itu hanya mengangguk pelan.
" Tasia kalian harus bicara, masuklah.." ucap Lionel ketika sudah membuka pintu Apartemennya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." Ucap Anastasia dingin dan langsung masuk meninggalkan mereka.
"Masuklah, kami akan ke cafe depan." ucap Lionel meninggalkan Aaron yang masih diam terpaku, lelaki itu langsung mengajak Isabel ikut bersamanya.
sementara Anastasia sudah menghempaskan pintu masuk kedalam kamar.
Aaron sudah masuk, namun ia tak berani mendekati kamar Anastasia.
dia masih berdiri disana, langkahnya begitu berat. Hatinya begitu perih, ingatannya kembali dengan apa yang sudah terjadi.Aaron menarik napasnya dalam dalam,dengan sedikit keberanian ia mengetuk pintu kamar Anastasia.
Tok..tok..tok...
Tak ada jawaban, berulang ulang Aaron mengetuk pintu namun Anastasia masih tak membuka suara. Aaron membuka kenop pintu, namun pintu itu terkunci..
Aaron menarik napas pelan.
"Mungkin kau belum mau bicara denganku nas. Aku mengerti. Maaf ini sudah sangat terlambat, tapi aku kesini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahunmu.Panjang umur dan sehat selalu ya, Segala tawa dan tangis silih berganti telah kau lalui, menyertai di setiap langkah perjalanan hidupmu, biarkanlah aku mengiringi kebahagiaanmu di hari ini dan seterusnya, semoga Tuhan selalu menyertai di setiap langkahmu, nas.. Selamat ulang tahun ya maaf atas segalanya." Ucap Aaron tersenyum getir, ia meletakkan bunga dan kotak merah, didepan pintu kamar.
Sebelum Aaron melangkah, pintu sudah terbuka. Membuat Aaron mengurungkan niatnya untuk pergi.Anastasia sudah keluar dan melayangkan tamparan ke pipi Aaron.
Plaakkkkkk!!!!
Sorot matanya yang tajam memandang Aaron. Napasnya menggebu naik turun.
Sementara Aaron hanya diam, dia justru siap mati jika itu yang membuat istrinya lega.
"Lelaki brengsek, Dengan apa yang sudah kau lakukan berani sekali kau datang kesini, menunjukkan dirimu dihadapanku.keluar! " Teriak Anastasia dengan tatapan tajam, napasnya yang masih tersengal dan emosinya sudah memuncak.
"Maafkan aku.." ucapnya lirih.
"Tak cukup kata maaf untuk bisa mengobati semua luka yang telah kau berikan Aaron." Sarkas Anastasia menatap lelaki itu dengan penuh kebencian.
"Apa yang harus aku lakukan nas, agar kau bisa memaafkan aku." ulang Aaron dengan rasa penyesalan.
"Sebegitu ingin minta maaf kah kau padaku Aaron?" sinis Anastasia, Anastasia berusaha tegar,dia tak ingin mengeluarkan air mata untuk lelaki brengsek yang ada didepannya.
"Ya, apapun aku lakukan agar kau bisa memaafkanku." ucap Aaron dengan tatapan sendunya.
"Baiklah aku memaafkan mu." ucap Anastasia menatap Aaron dengan sorot tak terbaca. mendengar itu Aaron mendongak dan memegang tangan istrinya. Namun Anastasia menariknya. Aaron kembali memegang tangan istrinya.
"Benarkah sayang?" ucap Aaron mencium tangan istrinya dengan perasaan bahagia.
"Ya..Aku bisa kembali padamu dan memaafkan semuanya dan melupakan apa yang telah terjadi." ucap Anastasia kembali melepaskan tangannya dan menatap Aaron dengan senyum smirk.
Sungguh Aaron tak bisa membaca situasi ini.
Melihat senyum Anastasia membuat Aaron cemas, kata kata 'memaafkan semuanya' seperti penuh penekanan saja dan membuat Aaron mengernyitkan keningnya. Ia seperti meragukan perkataan istrinya.
"Benarkah nas, kau akan memaafkanku? " ulangnya kembali.
"Ya aku memaafkanmu,tapi kembalikan orang tuaku." ucap Anastasia dengan tatapan iblis nya, sungguh tatapan itu ingin membunuh Aaron, matanya seakan mengintimidasi lelaki itu.
Spontan membuat Aaron terkejut dengan apa yang didengarnya. Ia terdiam tak bisa melanjutkan perkataannya. Aaron menatap istrinya dengan sendu ingin menyalurkan segala perasaannya.
"Kenapa? kamu kaget? "
"Tapi nas.." Ucap Aaron dengan suara tercekat dilehernya.
"Kamu tidak bisa mengembalikan orang tuaku kan? dan memang orang tuaku takkan bisa hidup lagi." Ucap Anastasia dingin dan setiap perkataannya begitu tegas.
"Begitu juga dengan hubungan ini, takkan bisa diteruskan lagi, aku tak bisa hidup bersama lelaki brengsek yang telah membunuh orang tuaku. " Ucap Anastasia sinis,suaranya sudah mulai bergetar namun ia berusaha untuk menahannya, Ia tidak mau mengeluarkan setetes Air mata pun untuk lelaki ini.
lalu ia meninggalkan Aaron yang nampak tertunduk.
"Ambil semua ini, aku tak membutuhkan ini." ucap Anastasia melirik bunga dan kotak merah yang diletakkan didepan pintu kamarnya.
"Jangan kau pernah datang lagi." Ucap Anastasia sudah membanting pintunya dengan kasar.
Aaron benar benar tak bisa berkata lagi, Ia diam dengan posisi berdiri. Langkah seperti terpaku tak mampu untuk mengejar istrinya.Menjelaskan apa yang terjadi 6 tahun yang lalu.
Aaron memejamkan matanya, perkataan Anastasia sudah merobek hatinya.Sungguh Aaron tidak ingin mendengarkan kata kata itu.Hatinya sakit, sungguh lelaki itu tidak ingin berpisah. Dengan langkah gontai Aaron meninggalkan Apartemen milik Lionel.
Mendengar pintu tertutup, Anastasia kembali menangis lagi. kakinya gemetar, ia menjatuhkan dirinya terduduk dibalik pintu. Anastasia memukul dadanya, sungguh begitu sakit.
Anastasia menunduk, bahunya sudah bergetar ia terus menunduk dan memejamkan matanya ia semakin tersedu sedu perasaannya benar benar takut.
" Perasaan yang sakit tidak akan tersembuhkan, yang bisa dilakukannya hanyalah melupakan."
#Hai hai masih ada beberapa episode kilasan balik ya βΊοΈ #
#Salam sehat buat kita semua, Author sehat juga kok π€ #
πΎ JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA πΎ
πΎ KASIH BINTANG JUGA YA π€