
🤗 Happy Reading 🤗
Aaron berjalan memasuki kantor polisi, ia didampingi asisten nya Betran Reinal.
Celin masih berada di tahanan kantor polisi, wanita itu belum masuk ketahap persidangan, belum mendapat vonis berapa lama ia akan mendapatkan hukuman penjara.
Kunjungan yang dilakukan Aaron dikantor polisi untuk mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.
kunjungan bisa dilakukan setiap hari selasa dan Kamis.
kunjungan sangat dibatasi hanya 20 menit saja dalam satu kali kunjungan.
Setelah tiba di gerbang utama kantor polisi, Betran memasuki ruangan petugas yang sedang berjaga.
Sementara Aaron menunggu diluar. setelah diperiksa dan tidak ada membawa sesuatu yang mencurigakan, petugas penjaga mempersilahkan Betran masuk, disusul Aaron.
Aaron berjalan kearea gedung tahanan.Disana ada meja informasi dan daftar kunjungan.Aaron dipersilahkan masuk, sementara Betran menunggu diluar.
Aaron masuk keruang kunjungan dimana terdapat pemisah diantara berupa tembok dan kaca yang saling berhadapan.
Tak begitu lama muncul Celin.
Aaron menatap sinis wanita yang berjalan menuju kearah kaca pembatas.Sementara wanita itu tersenyum bahagia. Sudah dua Minggu dia ditahan, baru ini Aaron mengunjunginya.Tentu membuat celin senang.
Mereka duduk dan saling berhadap hadapan, menggunakan saluran telepon internal. Agar mereka saling terhubung.
Celin sudah menangis,menatap lelaki yang sangat dicintainya.Dia terisak menahan tangisnya.
"A--aron..." panggilannya terbata Ia menatap lelaki itu dengan tatapan rindunya, Sementara Aaron melihatnya dengan tatapan tak terbaca. Lelaki itu tersenyum miring menatap celin penuh kebencian.
"Kau datang untuk membebaskan ku kan sayang?" ucap Celin dengan suara penuh kerinduan.
"....." Aaron tak menjawab.
Aaron masih diam menatap Celin dingin dan menatapnya tajam, Rasanya dia ingin membunuh wanita itu.
"S-s-sayang..." ucap Celin masih terputus, dia melihat tatapan membunuh dari kekasihnya , sungguh membuat dia takut.
"Aku hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri, Bagaimana rasanya kamu hidup ditempat kumuh ini. " ucap Aaron dengan nada geram rahangnya bahkan mengeras.
"Tidak sayang.." Celin sudah menggeleng, dia yakin lelaki ini akan membantunya.Orang tuanya belum bisa datang untuk mengunjungi nya. Harapannya dia gantungkan dari Aaron, sementara Alexo sudah bebas karena tidak terbukti bersalah, dia hanya menjadi saksi dipersidangan nanti.
"Duniamu akan menyusut, kau biasanya hidup dengan segala kemewahan yang aku berikan, menghabiskan uang yang aku berikan. kau selalu bersenang senang dengan teman sosialitamu, dan sekarang? " Aaron tersenyum sinis.
" Tiba tiba kau berada di tempat kumuh ini, kau hanya bisa melihat dinding penjara,teralis besi,dan teman teman satu sel mu, yang nasibnya sama denganmu.Tak ada jendela dan tak ada matahari. itulah yang akan kau rasakan sampai sisa hidupmu." ucap Aaron menekan setiap ucapannya.Nada suara didalam Kalimat Aaron begitu kental. Ekspresinya sudah sangat gelap.Tatapan iblis nya sudah keluar dan ia mengeraskan rahangnya.
Celin menangis histeris, kata kata Aaron sudah menghancurkan mentalnya, ketakutannya berada di penjara sudah membuatnya takut, ya..takut tidak menikmati hidup bebas, dan takut Aaron akan meninggalkannya. Ia tidak mau tinggal ditempat kumuh ini.
" Tidak..tidak...jangan lakukan itu sayang, aku tau kau hanya menghukumkun kan? kau tidak akan tega melakukan ini. Karena aku tau kau hanya mencintaiku. Tiga tahun kita menjalin hubungan, menghabiskan waktu bersama,masih ingat kan sayang? ." Ucap celin serius dengan setiap ucapanya. ia seperti berucap untuk menyakinkan perkataannya, menghipnotis dirinya sendiri, seperti doa untuk menguatkannya.
Namun Arton tertawa, tawanya bahkan membaha didalam ruangan. Dia tersenyum mengejek, kemudian menatap Celin dengam sinis.
"Aku sudah bilang, penyesalanku seumur hidup adalah mencintai wanita sepertimu, menghabiskan waktuku dengan sia sia, kau wanita yang tidak tahu diri,yang tidak tau berterima kasih. Aku bersyukur Anastasia datang untuk menyelamatkan hidupku dari wanita sepertimu. Aku terlambat untuk mensyukuri atas pernikahan ini." Sinis Aaron dengan suara nyaring di iringi tawa hambar, kemudian ia bangkit. Sebelum dia pergi ia menatap Celin dengan penuh kebencian
"Akan ku pastikan kau membusuk dipenjara, dan tidak akan bisa mengganggu istriku lagi. Jika hal itu terjadi akan kupastikan tangan ini yang akan membunuhmu." tegas Aaron menghardik dengan nada kasar kemudian Ia meletakkan telepon internal nya kembali. Dia melangkahkan kakinya berjalan keluar meninggalkan ruang tahanan.
Betran sudah menyambutnya dengan menundukkan kepala.
Sementara Celin sudah berteriak histeris. Dia berteriak memanggil nama Aaron, lelaki yang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk membantunya.
" Jangan lakukan ini sayang, aku yakin kau akan membebaskanku." Teriak celin masih meronta-ronta, sehingga membuat petugas kewalahan, mereka mendorong tubuh Celin masuk keruang tahanan karena berusaha melakukan perlawanan. Ditahanan ia mendapatkan pukulan karena membuat keributan.
*******
Saat tiba di pintu gerbang panti asuhan Vinsensius putra, Anastasia melangkah kakinya memasuki halaman panti. Rindunya terobati, ketika melihat suasana panti tidak berubah. Dia tersenyum mengingat kenangan kenangan yang dilalui nya ditempat ini.
Dua tahun berada disini, mengabdikan dirinya membuatnya merasa bahagia.
Aaron memberi nya kebebasan, bahkan membelikan mobil untuknya. Namun Anastasia menolak dia hanya ingin menikmati hidupnya seperti biasa. Walau mereka sudah bisa menyesuaikan situasi.
mereka sudah mulai, walau terlihat masih kaku namun Aaron selalu memulai pembicaraan ketika mereka sedang makan atau sedang didalam kamar.
semenjak kejadian sebulan yang lalu, Anastasia sudah mulai membuka hatinya. walau belum sepenuhnya percaya, Anastasia harus bisa belajar mencintai lelaki itu.
Aaron memberikan perhatian dan ketulusan cintanya.
Anastasia disambut pak Bramsa dan istrinya ibu Leria.
Ia memeluk wanita paruh baya itu, Anastasia tersenyum
" Bagaimana kabarmu nak Tasia? " tanya wanita itu kepadanya.
" Aku baik Bu, akan akan sering berkunjung kesini,melihat anak anak panti."
"Duduklah..! " Bramsa mempersilakan Anastasia duduk.
"Kami senang nak Tasia bisa kesini lagi." Bramsa memulai pembicaraan ketika mereka sudah duduk.
Tak lama muncul ibu Leria sudah membawa makanan dan minuman.
"Kami bersyukur karena Tuan Aaron memberikan bantuan dua kali lipat." ucap Leria meletakkan makanan dan minuman diatas meja dan dia kembali duduk.
mendengar itu Anastasia kaget. Selama yang dia tau Aaron tak memberikan jawaban ketika dirinya memohon untuk tidak menarik bantuan itu.
" Benarkah Bu? " Tanya Anastasia bahagia.
" Ya, sudah 4 bulan tuan Aaron memberikan bantuannya. Bahkan tuan Aaron merenovasi sebagian bangunan panti ini. memberikan fasilitas dan mengganti sebagian tempat tidur yang tak layak dipakai lagi." Bramsa berucap.Mereka Sangat bersyukur.
"Syukurlah lah pak, semoga anak anak lebih bahagia lagi menikmati hidup dipanti ini tanpa harus merasa minder dengan anak anak lain.Kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk anak anak panti. " Ujar Anastasia tersenyum.
sungguh ia bahagia karena Aaron mengembalikan senyum senyum anak panti.
Anastasia memasuki ruangan yang biasanya dilakukan anak anak untuk melakukan bimbingan.Karena sudah lama tidak datang ke panti asuhan Vinsensius putra , Banyak wajah wajah baru yang dia lihat. melihatnya datang, sebagian anak anak terlihat malu malu dan sedikit minder.
Anastasia tersenyum dan bergabung bersama mereka. Ada yang melukis, menggambar, dan menjahit. semua mereka lakukan dengan gembira.
Anak anak panti asuhan Vinsensius putra menggantungkan Asah nya di panti ini.
Semoga mereka menjadi anak anak yang berhasil nantinya.
🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA 🌾
🌾 KASIH BINTANG JUGA YA 🤗