The Fate Of My Marriage

The Fate Of My Marriage
Selalu Mencarimu



🤗 Happy Reading 🤗


Hari berganti hari,bahkan bulan juga berganti. Namun Aaron tak pernah berhasil menemui perempuan itu.


Ia hampir putus asa ,Betran dapat melihat kegigihan dari tuannya itu.


Ia pernah menangis dalam kesendirian ketika mimpi buruk itu kembali lagi.


Betran hanya diam melihat situasi yang menyedihkan itu, sungguh ia tak sanggup melihat tuannya larut dalam luka.


Sehingga suatu hari mereka kembali lagi, dan benar saja usaha mereka membuahkan hasil.Dengan cepat Aaron menemui wanita itu, ia sedang masuki rumah yang mereka cari.



" Permisi! " Sapa Aaron ramah


Gadis itu berbalik dan melihat dua orang pria sudah berada dibelakang nya.


"Ya, ada apa tuan? " sahut gadis itu ramah.


"Perkenalkan nama saya Aaron Donisius, teman dari Tasia." Aaron mengulurkan tangannya. wanita itu membalas dengan senyum ramahnya.


"Saya Isabel tuan." ucapnya kembali menyambut tangan lelaki yang bernama Aaron.


"Bisakah saya bertemu nona Tasia?" Tanya Aaron harap harap cemas, semoga ia bisa dipertemukan dengan wanita itu.


"Tasia sudah hampir setahun tak tinggal disini lagi tuan."


"Apa?" Aaron terkejut, pantas saja mereka kerumah ini,tidak pernah menemui siap siapa.


"Rumah ini sudah dijual." sambung isabel.


" Benarkah? Nona Tasia ada dimana ya sekarang?" tanya Aaron kembali, ia ingin tau dimana wanita itu sekarang.


"kalau bisa saya tau ada urusan apa ya mau menemui sahabat saya?" Tanya Isabel penuh selidik.


"Saya temannya." jawab Aaron cepat.


"Saya juga temannya, teman paling dekatnya.Saya tau siapa siapa saja temannya, jangan bohong anda tuan." ucap Isabel curiga, tatapannya penuh selidik.


"Mohon maaf nona, kami hanya ada perlu sedikit dengan nona Tasia." Akhirnya Betran angkat bicara.


Namun Isabel tak mau percaya begitu saja, ia menatap kedua pria itu dari atas sampai bawah. Seakan menyelidiki apa tujuan kedua lelaki ini.


" Sangat tampan, bisa dijadikan pacar nih?!" Batin Isabel tersenyum memikirkan sesuatu, hingga membuat kedua lelaki itu bingung sendiri melihat tingkah wanita yang sedang tersenyum sendiri.


"Bagaimana nona apakah kami bisa menemui nona Tasia?" Ulang Aaron kembali, karena dari tadi reaksi wanita didepan mereka hanya senyum senyum tak jelas.


Isabel berdehem,Ia kembali menunjukkan ekspresi serius.


"Saya mau tahu dulu apa tujuan anda? "


"Ini mengenai kecelakaan orang tuanya." ucap Aaron akhirnya, mendengar itu Isabel berubah.Jelas ia terkejut mendengar itu.


"Kalian tahu siapa pelakunya? biar saya yang menghajar duluan duluan.Dia sudah merenggut kebahagiaan sahabatku,orang tuanya yang dicintainya meninggal tanpa ada pertanggung jawaban darinya. ayo, siapa orangnya? " hardik Isabel sudah kesal dia menunjukkan tatapan marahnya kepada kedua lelaki yang berdiri didepannya.


"Ayo.. katakan siapa orangnya? aku yang akan menghajarnya duluan bila perlu langsung membunuhnya, aku akan menggantikan Tasia untuk membalaskan rasa sakitnya." ucap Isabel emosi.Sontak membuat kedua lelaki itu diam membeku. Aaron jadi bingung dia tidak bisa berkata apa apa.


" Nanti kami akan sampaikan jika bertemu dengan nona Tasia." ujar Betran akhirnya. Ia sudah melihat perubahan tubuh tuannya,sepertinya tuannya merasa tidak enak pada dirinya sendiri.


" Anda bisa datang, seminggu kemudian kesini tuan." ucap Isabel.


" Kenapa harus seminggu lagi nona?" Tanya Aaron balik bertanya, ia tidak mau menunggu lagi.


"Minggu depan aku akan ke panti, kalau kalian tidak mau ya sudah." kata Isabel melengos dan ingin pergi.


"Tunggu nona! " Aaron mencegatnya hingga membuat wanita itu berhenti dan tersenyum melihat tangannya dipegang, spontan Aaron melepaskan.


"Maaf !" ucap Aaron merasa bersalah namun Isabel tersenyum membalasnya.


"Baiklah seminggu lagi kami akan kembali kesini. kalau begitu kami permisi dulu nona." Aaron mohon diri lalu melangkah pergi disusul Betran.


*******


Mobil itu menghantarkan Aaron kembali kerumah, Betran langsung undur diri ketika tuannya sudah benar benar sampai dirumah dengan selamat.


Aaron melangkah masuk, tadi ayahnya menghubunginya.


Dia disambut ibunya dengan pelukan sayang.


"Ayah sudah menunggumu." ucap Maria menghantarkan anaknya keruang perpustakaan.


"Masuklah,ibu akan membuatkan teh hangat buatmu." Maria mengelus lembut pundak anaknya.Aaron hanya mengangguk, setelah ibunya pergi ia mengetuk pintu.


" Masuk!"


Terdengar sahutan dari dalam ruangan perpustakaan.


Aaron melangkah masuk dan melihat ayahnya sedang membaca dengan kacamata minus yang bertengger di hidungnya.


"Duduklah ! " perintah Christian kepada anaknya.


"Apa ada sesuatu yang penting ayah? Biasanya kalau ayah menyuruhku pulang dan bertemu disini, saya yakin ini masalah pekerjaan." kata Aaron tak curiga.


"Kamu benar. " kata Chirstian melepaskan kacamata dan meletakkan bukunya. Ia melangkah duduk di sofa menghampiri anaknya.


"Perusahaan kita di Australia sedang bermasalah, ayah ingin kamu yang mengurusnya." ujar Christian sambil menyeruput kopi nya.Aaron mengernyitkan keningnya. Ia tahu ayahnya pasti sengaja melakukannya.


"Hanya setahun saja, anggap saja ini batu loncatan agar kamu bisa diangkat menjadi wakil direktur." ujar Christian melihat perubahan wajah anaknya.


"Kapan Ayah?" tanya Aaron


" Secepatnya kalau bisa besok." ucap Chirstian menatap Aaron sudah marah.


"Apakah ayah sengaja melakukan ini, Agar aku tidak bertemu dengan gadis itu?" kata Aaron dengan nada dingin dan menatap ayahnya dengan tajam.


"Kenapa kau berpikir seperti itu, perusahaan di Australia memang lagi bermasalah,Ayah tidak mau tahu, lusa kamu harus pergi ! urus semua masalah perusahaan disana dengan baik disana, ayah yakin kamu bisa melakukannya." ucap Cristian tegas tak ada kata penolakan, Ia tidak bisa dibantah.


" Tidak ayah, aku ingin menemui wanita itu.Habis itu terserah ayah mau melakukan apa saja." ucap Aaron dengan nada dingin.


" Tidak ada kata Tidak, besok kamu harus berangkat ke Australia, Betran akan ikut bersamamu." kata Christian tegas.


kilatan marah sudah terpancar di wajah Aaron, sungguh ia sangat marah. Aaron menggeram Mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak menjawab, ia melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. ibunya yang akan masuk ia lewati begitu saja.


Aaaggghhh


Aaron sudah membanting semua barang barang yang ada dikamarnya. Ia tidak bisa menguasai kemarahannya. Emosinya sudah membuncah memenuhi rongga dadanya.Dia tahu kalau ayahnya sudah merencanakan ini semua.


Aaron sungguh merasa lelah.Ia berusaha mengendalikan rasa marahnya Aaron mengambil napasnya dalam dalam, ia berusaha bersikap tenang. walau hatinya sakit, Apakah ia memang harus melupakan apa yang terjadi ? sudah hampir setahun perasaan bersalah ini masih menghantuinya.


Aaron putus asa, apakah memang ia tidak ditakdirkan bertemu dengan wanita itu?


" Maafkan aku Tasia, aku sudah merenggut kebahagiaanmu, Semoga Tuhan mengizinkan kita bertemu di kehidupan yang lain."


ucap Aaron menunduk, Air matanya menetes.



FLASH BACK OFF


BERSAMBUNG ☹️☹️☹️


## salam sehat selalu buat kita semua ##


🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA 🌾


🌾 KASIH BINTANG JUGA YA 🤗