The Fate Of My Marriage

The Fate Of My Marriage
Kepedihan Anastasia



🤗 happy Reading 🤗


"Apa yang kau lakukan ibu Anastasia?" Tiba tiba terdengar suara bariton seorang lelaki yang sangat Anastasia kenali.


Reflek Anastasia melepaskan cengkramannya dan mendorong Rebecca, sehingga dengan mudah wanita itu bersandiwara. Ia berpura pura menjatuhkan dirinya agar Aaron semakin membenci wanita itu dan benar saja Aaron langsung berlari membantu Rebecca.


"Kamu tidak apa apa? " ucap Aaron bangkit membantu Rebecca, sehingga berhasil membuat Anastasia membulatkan matanya dengan sempurna, ia mulai jengah melihat tingkah Rebecca.


Rebecca sudah menangis, ia memegang pipinya yang masih berbekas dipipinya.


"Aku tidak tahu, kenapa ibu Anastasia begitu membenciku pak, dia menampar dan


mendorongku." ucap Rebecca berhasil menjatuhkan air matanya, ia menatap Aaron dengan pandangan sayu.


Aaron kaget dan memandang Anastasia tak percaya, ia menatapnya seakan ingin mencari tahu kebenaran, Anastasya yang ia kenal tidak pernah berbuat kasar walau dulu celin sering menyakitinya.


Anastasia sudah mendengus kesal. Ia masih diam tak ingin melakukan pembelaan biarkan Aaron saja yang menilainya. Ia tak mau seperti anak kecil mencari perhatian agar dinilai benar.


"Benarkah begitu ibu Anastasia?"


"Saya tidak melakukan apapun pada sekretaris anda pak." ucap Anastasia dingin, ia sudah membuang mukanya dengan tidak suka.


"Saya melihat anda mendorongnya dan pipinya merah bekas tamparan anda, bagaimana anda mengatakan tidak melakukan apapun." Ucap Aaron sudah menautkan kedua alisnya.


"Terserah bapak saja, saya permisi dulu." ucap Anastasia sudah mengepalkan tangannya geram, langkahnya gontai meninggalkan tempat itu.


"Saya harap anda profesional ibu Anastasia, jangan mengganggu sekretarisku, jika itu tidak menyangkut masalah pekerjaan." kata Aaron berhasil menghentikan langkah Anastasia.


Mendengar kata kata itu, tubuh Anastasia gemetar, Ia memegang dadanya.Terasa sangat sakit ketika Aaron mengatakan itu, seribu anak panah serasa menghujam jantungnya. Tanpa menoleh Anastasia kembali melangkah menuju mobil yang ia parkir ditempat lokasi proyek. Air matanya berlahan lahan turun membasahi pipinya. Ia memejamkan matanya. Tak bisa berkata apa apa.


Ia membenamkan wajahnya disetir mobil, menangisi dirinya yang tak bisa menerima rasa sakitnya. Sudah berapa banyak Air mata ini jatuh.


"Aku harus bagaimana Aaron, aku tak bisa menghentikan cinta ini, aku terlanjur menyukai rasa ini." tangis Anastasia sudah mencengkeram setir mobil dengan erat.Ia berusaha melampiaskan kemarahannya.


Saat hendak menjalankan mobilnya, ia melihat Aaron membuka pintu untuk Rebecca.


"Cih..begitu pintarnya ia bersandiwara untuk mencuri hatimu Aaron, Aku akan menghentikan wanita gila itu agar tidak berada didekatmu lagi, dasar wanita rubah." ucap Anastasia sudah membawa mobilnya meninggalkan tempat lokasi pabrik.


*********


Isabel menekan no pin apartemen temannya, ia langsung memasukinya, Isabel memang diberi kebebasan keluar masuk apartemen Anastasia, karena mereka sudah saling mempercayai.Isabel langsung menuju dapur mengambil minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan nya. Hari weekend nya diganggu karena ia mendapat telepon dari sahabatnya.


Anastasia menangis lagi, membuat ia mendengus kesal, Bagaimana wanita ini bisa kembali menangisi Aaron. Ia melangkah memasuki kamar Anastasia. Melihat wanita masih bersembunyi dibawah selimut.


"Dia masih tidur?" batin Isabel, ia sudah mendekati tempat tidur.


Terdengar Anastasia mengigau, dengan cepat isabel menarik pelan selimut itu.


"Astagaaa Tasia , badanmu panas sekali.." ucap Isabel menempelkan tangannya ke kening Anastasia.


"Ayooo kita kedokter..! " Ajak Isabel sudah menarik tangan Anastasia.


"Tidak Abel, aku hanya butuh istirahat saja." ucapnya kembali merebahkan tubuhnya.


"kamu sakit Tasia, kamu jangan keras kepala..Ayo aku antar ya! " Isabel belum putus asa, dia berusaha membujuk Anastasia.


"Tidak Abel aku mau tidur, buatkan aku makan siang saja ya..aku ingin makan obat." pinta Anastasia memelas.


"Kamu mau makan apa Tasia? " Tanya Isabel menyentuh kening Anastasia.


"Terserah apa aja Abel." ucapnya lemah, ia memijat kepalanya, sakitnya tak tertahankan.Ia memejamkan matanya, tetesan air matanya terjatuh begitu saja.


"Apa sangat sakit Tasia?"


"Ehmmmm.." ucapnya bergumam, Air matanya kembali menetes dipipinya.Ia tidak tahu apakah air mata ini karena menahan sakit kepalanya atau karena sakit di dadanya. air mata itu berhasil menetes lagi.


"Kita kedokter aja ya Tasia, kamu panas sekali." Bujuknya lagi.


"Tidak Abel, aku masih bisa menahannya." ucapnya Anastasia kembali memejamkan matanya."


"Baiklah jika kau tidak mau kedokter, aku buat makanan dulu ya, istirahatlah.." ucap Isabel kembali menyelimuti tubuh Anastasia.


Isabel keluar membuatkan makan siang untuk mereka. Ia seperti berpikir sesuatu, apakah ia harus menghubungi seseorang apa tidak. Ia masih bingung. Isabel masih sibuk mengotori dapur Anastasia. maksudnya memasak hehehe


Tak beberapa lama, makanan yang ia masak sudah tersaji dimeja. Lebih baik ia membawa makanan ini kekamar saja.


Ia mendekat dan melihat Anastasia tertidur.


Anastasia nampak masih mengigau.


"A-a-aron..Aaron aku merindukanmu."


"Sangat menyedihkan.." pikir Isabel menghapus air mata itu. Anastasia masih tidur. namun gigauan itu semakin menyayat hatinya. ia masih menyebut nama lelaki yang sama.


Tak menunggu lama, ia mengambil ponselnya. ia tersadar bahwa no ponsel lelaki yang disebut Anastasia itu tidak ada diponselnya. Aduh....


"Bagaimana ini, aku bisa gila melihatnya menangis seperti ini, obat dokter saja tidak bisa mengobatinya." Isabel sudah menggerutu dalam hati, ia sedikit berpikir. Bagaimana dirinya bisa menghubungi Aaron?


"Ah...benar saja, asistennya yang ganteng itu kan pernah menghubungiku." ucap Isabel tersenyum seperti mendapat pencerahan.


Dengan cepat Anastasia mencari nama yang ia tulis 'Asisten ganteng' ia tersenyum. Isabel keluar dari kamar, agar suaranya tidak menggangu Anastasia yang masih tertidur.


Tak butuh lama sambungan teleponnya tersambung, terdengar suara seorang wanita berbicara.Isabel mengernyitkan keningnya, melihat ponselnya kembali, apakah ia salah nomor apa tidak.


"Hallo bisa bicara dengan Asisten tuan Aaron?" sapa Isabel ramah.


"Siapa ini?" tanya Felin sudah mencurigai penelepon.


"Saya temannya." jawab Isabel kembali.


"Teman yang mana? setahu saya Betran tidak ada teman wanita, jangan bohong kamu." Felin sudah nampak kesal diseberang.


"Saya..." belum lagi Isabel selesai wanita itu sudah memotong perkataannya.


"Kamu mau menggoda suami saya ya?"


" Astagaaa nyonya..."


"Tit...." Felin sudah mematikan ponselnya.


Hubungan sudah telepon terputus. Isabel membelalakkan matanya, Ia tak percaya.


"Astaga wanita itu kasar sekali.." Isabel sudah mendengus kasar.


Ah.. ia tak mau ambil pusing, ia kembali masuk kedalam kamar. Isabel membangunkan Anastasia untuk makan.


"Makan dikit lagi Tasia, kamu baru makan tiga sedok." bujuk Isabel dengan sabar. Namun wanita itu tak sanggup ia berlari kekamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Isabel berlari dan membantu Anastasia untuk bangkit.


"Mari kubantu.." Isabel kembali membawa Anastasia ketempat tidur.


"Ini gak benar lagi Tasia kamu harus kedokter, panasmu semakin tinggi." Ucap Isabel setelah ia membantu Anastasia kembali duduk diatas tempat tidur.


Ia hanya mendapat jawaban gelengan kepala saja.


"Jadi apa maumu Tasia? kamu gak mau makan, semuanya kau muntahkan,kamu ingin mati ya?" ucap Isabel setengah berteriak, sungguh ia sudah kesal.


namun bukan jawaban yang ia terima, Anastasia sudah menangis.Tangisannya sudah memenuhi ruangan. Mata Anastasia sudah basah oleh air mata sementara napasnya tersengal menahan gejolak yang ada didalam dadanya. Dengan cepat Isabel memeluk sahabatnya.


"Maafkan saya Tasia, aku tak bermaksud membuatmu menangis.Sungguh...." Ucap Isabel sangat menyesal.


Anastasia tak menjawab, tubuhnya bergetar ia sudah memejamkan matanya, tatapannya lemah, Anastasia semakin menangis tersedu sedu perasaannya benar benar kacau.


"Ini sangat sakit Abel sungguh aku tak sanggup lagi.." Ucapnya masih menangis,


Isabel hanya diam,membiarkan Anastasia menangis.


Suhu badannya semakin panas, makan obat sudah. Anastasia sudah tertidur, air matanya masih sesekali keluar dari matanya.


jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib.


### Sabar ya Anastasia dibalik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan. Semua akan indah pada waktunya 🤗 ###


### Salam sehat buat kita semua ###


🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA SAYANG SAYANGKUUUU 🌾


🌾 KASIH BINTANG JUGA YA 🤗