
🤗 Happy Reading 🤗
.
.
" Aku rindu mommy...aku ingin bertemu daddy.. " rengek Ivander menangis, ia bersedekap memalingkan wajahnya tidak mau melihat neneknya.
" Sabar sayang, kamu akan bertemu dengan mommy dan daddy, nenek janji." Kata Maria dengan nada lembut.
" Nenek bohong, nenek uda janji tapi sampai sekarang aku belum bertemu dengan mommy....." Ivander kembali menangis. Ia terus merengek ingin bertemu mommy dan daddynya.
Maria nampak bingung bagaimana membujuk Ivander. Biasanya Christian bisa menghadapinya, namun suaminya sudah kembali untuk mengurus perusahaan Donisius. Setelah mengetahui direktur utama mangalami koma, harga saham langsung turun drastis. Malah oknum tidak bertanggung jawab memberitakan jika Aaron dinyatakan meninggal. Ia menarik napasnya, jika ingin mempertemukan Ivander dengan Anastasia jelas itu tidak mungkin, Rumah sakit The Royal Melbourne tidak mengizinkan membawa anak anak kerumah sakit.
" Nanti Kita akan ketemu mommy ya, Ivander harus makan dulu ,oke..." Maria berusaha membujuk Ivander yang masih menangis.
" Aku rindu daddy, aku ingin bertemu daddy! " Ivander masih kekeh tidak mau makan, ia masih tidak mau berhenti menangis. Sampai Nani yang dekat dengan ivander saja kebingungan dan kehabisan akal untuk membujuknya.
Betran melangkah masuk kedalam apartemen, melihat Ivander yang sedang menangis. Ivander yang melihat Betran datang langsung berlari mengadu.
" Uncle....." Isak Ivander berhambur memeluk kaki Betran.Lelaki itu langsung menekuk kakinya agar sejajar dengan Ivander. Maria merasa lega karena Betran datang. Ia duduk melihat tingkah Ivander yang kadang membuatnya terharu.
" Hei... anak pintar kenapa menangis? " tanya Betran membelai rambut Ivander dengan sayang.
" Aku rindu mommy dan daddy uncle, Nenek janji terus tapi sampai sekarang mommy dan daddy tidak pernah datang melihat Ivander." tangisnya mengadu pada Betran, membuat lelaki itu memeluk Ivander.
" Jadi karena itu Ivander nangis? " kata Betran tersenyum melihat Ivander yang sedang mengerucutkan bibirnya dan menunduk tanda ia masih marah.
" Nenek bohong terus uncle...Aku rindu mommy dan daddy. " isaknya semakin pilu dan memeluk Betran. Semua yang berada didalam ruangan itu ikut bersedih, Maria berhasil menjatuhkan air matanya mendengar keluhan Ivander.
Bagaimanapun ia sangat mengerti apa yang dirasakan cucunya. Seorang ibu yang jarang ia temui. Ayahnya yang sudah satu bulan belum sadarkan diri. Sementara Anastasia hanya fokus dengan Aaron, Anastasia menyerahkan kepadanya mengurus Ivander. Betran datang lagi ke Australia setelah selesai melakukan pekerjaan dinegara xx. Betran sendiri harus siap mengorbankan Istri dan anaknya. Beruntung Felin sangat memahaminya. Sehingga semua bisa dilakukan dengan baik.
" Anak hebat dan anak pintar gak boleh menangis, nanti mommy akan datang menemui Ivander disini. Tapi janji gak boleh nangis." kata Betran membujuk Ivander dengan nada lembut.
" Aku juga ingin ketemu daddy. " kata Ivander dengan nada sendu, namun tangisannya sudah bisa ia kendalikan semenjak Betran datang.
" Daddy lagi sakit, kamu mau kan daddy cepat sehat? " kata Betran menatap mata indah milik Ivander.
" Mau uncle...." ucapnya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
" Tapi harus janji dulu, kamu gak boleh nangis. Oke...! " Betran memberikan jari kelingkingnya kepada Ivander agar mereka bisa saling memegang janji.
" Janji Uncle...." ucap Ivander tersenyum dan menautkan jari mereka tanda janji telah mereka sepakati.
Ivander kembali memeluk Betran, lelaki itu seakan menggantikan sosok ayah yang sangat ia rindukan. Maria terharu dan ikut menangis.
" Kamu makan bersama Nani ya, nanti uncle ajak Ivander jalan-jalan, maukan ? " kata Betran.
Ivander hanya menganggukkan kepalanya dan berlari kepada Nani yang selalu menjaganya.
Betran menarik napasnya, sungguh ini sangat menyakitkan. Betran sendiri pernah merasakannya, hubungan antara orangtua dan anak tentu menjadi salah satu jenis hubungan yang ikatan batin yang paling erat. Anastasia yang menghabiskan waktunya dirumah sakit untuk merawat Aaron dan tidak memiliki waktu bersama, membuat Ivander seperti kehilangan sosok ayah dan ibunya.
" Bagaimana keadaan Aaron bu? " Tanya Betran memulai pembicaraan. Maria menarik napas dalam, tatapannya sendu. Ia sudah kehabisan air mata menangisi Aaron yang sudah hampir sebulan masih koma.
" Tidak ada kemajuan nak. " ucap Maria dengan nada sedih.
Tak ada pembicaraan lagi, keduanya kembali terdiam sebelum mereka pergi kerumah sakit.
" Apakah tidak ada harapan hidup buatmu Aaron ? " Batin Betran terasa sakit dibagian dadanya. Bagaimanapun Aaron lah yang membuatnya menjadi sesukses ini. Ia tersenyum getir, lelaki baik dan berhati mulia. Lelaki yang tidak pernah terima akan penghianatan.
***********
" Baik, Nanti saya akan keruangan dokter Ken." sahut Anastasia tersenyum. Perawat kembali menutup ruangan. Anastasia kembali duduk dan menatap suaminya, ia menarik napasnya dalam dalam. Ia tahu apa tujuan dokter Ken memanggilnya.
" Sayangku, aku menemui dokter ken dulu ya. Nanti aku kembali lagi." ucap Anastasia mencium kening suaminya dengan sayang.
Anastasia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tiba tiba tubuhnya lemas mendapati pasien yang didorong beberapa perawat melewatinya. Anastasia memegang dinding rumah sakit karena merasa tubuhnya oleng dan tidak seimbang untuk berjalan. Anastasia mengatur napasnya. Seketika isi perutnya diaduk untuk dikeluarkan, rasa mual yang begitu hebat membuat Anastasia berlari mencari kamar mandi.
" Astagaaa kenapa aku teringat darah itu lagi." ucap Anastasia kembali memuntahkan isi perutnya ketika mengingat darah itu lagi. Volume muntahnya sangat banyak, dan membuat tubuh Anastasia melemah.
" Ada apa denganku? kenapa aku tidak sanggup melihat darah? Ampun begitu menjijikkan. " Anastasia membungkukkan badannya dan kembali muntah. Tubuhnya lemas setelah perjuangan panjang berada dikamar mandi.
" Oh my God..." ucapnya berada didepan wastafel, membersihkan sisa sisa dimulutnya. Anastasia mendengus kasar, semoga ia tidak bertemu hal hal aneh lagi, melihat darah saja membuat perutnya mual.
Anastasia kembali melangkah kan kakinya, setelah dirasanya sudah enak, Ia berjalan menuju ruangan dokter Ken kembali.
TOK TOK TOK
Terdengar sahutan dari dalam, Anastasia membuka kenop pintu dan mendorongnya kedalam. Terlihat dokter Ken duduk sambil sibuk didepan laptopnya.
" Silahkan duduk ! " ucap dokter Ken tersenyum ramah dan menunjuk kursi yang ada didepannya.
" Terima kasih dokter." Ucap Anastasia, ia duduk berhadapan dengan dokter Ken.
" Begini nyonya Donisius, saya ingin membicarakan mengenai perkembangan Tuan Aaron, kita sudah lihat sendiri selama satu bulan ini bagaimana perkembangannya selama ia koma tidak menunjukkan perubahan. Kita sudah berusaha memberikan rangsangan, bahkan kita sudah mengobati bagian otak yang sudah rusak. Biasanya kami melakukan tingkat kesadaran pasien melalui skala koma Glasgow namun tuan Aaron tidak menunjukkan tanda tanda itu sama sekali dari menggerakkan otot mata ataupun jari jarinya. " Sesaat dokter terdiam, ia kembali menunjukkan Layar kepada Anastasia dan menjelaskan isi dari gambar tersebut.
Anastasya mencengkram baju yang ia gunakan. Ia tahu apa yang ingin disampaikan dokter Ken kepadanya.
Tangannya gemetar, perasaannya sangat berantakan. Detak jantungnya berdetak semakin kencang, ia diam menunggu penjelasan dokter lebih lanjut lagi. Walau ia tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya.
" Saya rasa keluarga harus mengikhlaskannya." ucap dokter dengan suara terendahnya.
DEG DEG
Kembali Kata kata itu seperti menghujam jantungnya, terkoyak menyisakan luka yang teramat dalam, Anastasia memejamkan matanya, merasakan hatinya begitu sakit mendengar penjelasan dokter Ken kepadanya. Matanya yang indah sudah mengkristal penuh dengan air bening yang sudah berjatuhan dipipinya. Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah. Anastasia merasa takut dan hampa. Jantungnya berdebar kencang, ia menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Bagaimana seorang dokter mengatakan hal itu, berarti Anastasia harus siap jika dokter akan melepaskan ventilator, alat yang membantu suaminya untuk bernapas.
" Tidak itu tidak mungkin terjadi." isak Anastasia menangis.
Anastasia masih menunggu mukjizat. Ia yakin suaminya akan sadar, ia tidak akan menyerah begitu saja.
Tiba tiba tiba pintu dibuka paksa, seorang perawat muncul dengan mengatur napasnya yang tersengal karena berlari. Anastasia yang melihatnya sontak terkejut.
" Dokter !!! tuan Aaron ....tuan Aaron sudah sadarkan diri....."
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih yang masih setia membaca The Fate Of My Mariage 🤗 salam sehat dari saya yang manis untuk kalian yang paling manis 😍
.
.
🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA 🌾