The Fate Of My Marriage

The Fate Of My Marriage
Lembaran baru



🤗 Happy Reading 🤗


💌 Dua tahun Kemudian 💌


Felin memasuki ruangan kerja kakaknya, hari ini dia dihubungi untuk menemui lelaki itu.


Tanpa mengetuk pintu, Felin sudah masuk dan menghempaskan tubuhnya di sofa.


Ia menatap datar lelaki yang masih asyik berkutat didepan laptop.


Felin mendengus kesal.sungguh lelaki tanpa ekspresi, semenjak Anastasia pergi tak ada lagi senyum kebahagiaan diwajahnya.Aaron selalu menghabiskan waktunya di kantor. Pulang kerumah ia kembali lagi mengurung diri diruang kerjanya.Sebisa mungkin ia menyibukkan diri.Agar bisa melupakan wanita itu yang tak lain adalah kakak iparnya,


Huft...Sungguh lelaki yang menyedihkan.Felin masih menatap lelaki itu.sudah 20 menit ia berada disana, namun tak ada kata kata keluar dari mulutnya.


"Buat apa juga kakak menyuruhku kesini, jika yang aku lihat kakak hanya bekerja saja.Sementara aku hanya penonton setia." ucap Felin mendengus kesal, ia membuang mukanya dengan tidak suka.


Aaron hanya melihat sekilas, ia tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kakak.....!" Panggil Felin menggeram.


"Sebentar lagi." Jawab Aaron datar.


"Kenapa gak sekalian besok aja." sinis Felin menatap lelaki itu.


Aaron hanya diam, tak beberapa lama ia menutup Laptopnya.


Ia melangkah duduk didepan Felin.


"Apa ada sesuatu yang penting kak?"


"Sudah berapa lama hubunganmu dengan Betran?" Tanya Aaron langsung tanpa basa basi dan menatap Felin dengan tatapan tak terbaca.


mendengar itu sontak membuat Felin menegang. Ia menunduk malu, ketahuan sama kakaknya. Aaron tetap tanpa ekspresi, ia masih menunggu jawaban Felin.


"Sejak kapan kau jadi pendiam Felin?" Tanya Aaron tersenyum simpul.


Felin mengangkat kepalanya lalu diam diam menatap kakaknya.


Felin cengengesan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gak bisa jawab? atau aku panggilkan Betran untuk membantumu menjawabnya."


"Apa gak bisa kak? Betran kan manusia juga. Dia butuh pacaran untuk merilekskan pikirannya, biar dia tidak kaku seperti kakak.


semenjak dia bekerja dengan kakak selama 10 tahun, ia mengabdikan dirinya bekerja untukmu, dengan sikap kakunya dan tanpa ekspresi.Semenjak kami berpacaran dia sudah bisa tersenyum dengan baik." Ucap Felin Nyerocos tidak berhenti. membuat Aaron melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya.


" Jadi maksudmu kakak kaku,tidak ada senyum dan tanpa ekspresi, gitu?"


Felin mengangkat kedua bahunya lalu tersenyum mengejek kakaknya.


"Jadi sudah berapa lama? " Tanya Aaron kembali sehingga membuat Felin jengkel.


"Apa Betran mau dipecat dulu baru kau menjawab Felin? " Aaron sudah menaikkan alisnya dan menatap Felin dengan senyum smirk.


Felin mendengus kesal dan membuang mukanya dengan tidak suka.


"Dua bulan setelah kakak ipar pergi.." ucap Felin dengan suara terendahnya. Dia masih ingat bagaimana hancurnya Aaron pada saat itu. Dia mengurung diri dikamar dengan menghabiskan waktu dengan minum.


Semenjak saat itulah Betran sering menginap dirumah, mereka menjadi sangat dekat dan menjalin hubungan.


"Sudah lumayan lama juga.." Ucap Aaron seperti memikirkan sesuatu namun dihatinya begitu sakit untuk tidak mengingat hal yang menyakitkan hatinya, tiba tiba ia teringat istrinya.Aaron berusaha menutupi dan tersenyum pada Felin, walau senyum itu seperti dipaksakan.


"Begitulah kak.."


Felin menggeleng pelan, wajahnya tiba tiba berubah sedih.


"Kenapa Felin, Betran sudah sangat ingin menikah,disamping itu usianya sudah 30 tahun, lelaki yang sudah siap untuk menikah. Apa yang kau pikirkan?" Tanya Aaron penuh selidik.Ia terus menatap Felin masih terdiam.


Tiba tiba Aaron mendengar isakan tangis, jelas itu dari Felin. Aaron kaget, selama Felin beranjak dewasa jarang ia terlihat menangis.


Kini Aaron melihat tangisan itu berbeda.


"Aku tak ingin menikah kalau belum melihat kakak bahagia." Ucap Felin akhirnya disela sela tangisannya. Membuat Aaron tersentak. Bagaimana mungkin Felin yang dikenal sebagai gadis pembangkang bisa memikirkan kehidupannya.


"Kenapa Felin? Apa kebahagiaanmu tidak penting?" Tanya Aaron masih bersikap tenang walau dihatinya terasa menggelitik karena sikap adiknya itu.


Felin menggeleng pelan,seolah meyakinkan dirinya.


"Tidak kak, aku tidak ingin menikah kalau kakak masih bersedih. Aku tahu Betran selalu ada untuk kakak, kalau kami menikah bagaimana dengan KK nantinya." Isak Felin kembali menangis.


"Felin.. dengarkan kakak, aku bisa jaga diri sendiri.kau tidak usah memikirkan kakak, kebahagiaan kakak akan datang dengan sendirinya.Apa kau mau menikah di usiamu 40, jika kau memang ingin menunggu kebahagiaan kakak. gimana kalau aku gak mau menikah lagi." tegas Aaron di setiap kalimatnya.


"Tidak kak.." jawab Felin singkat.


"Ya sudah menikahlah.." Ucap Aaron kembali.


"Tapi kak?"


"Kebahagiaan yang kita dapat adalah kebahagiaan untuk diri sendiri dan bisa di sebarkan ke orang lain, jadi kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kakak juga, tak usah memikirkan apapun.Ngerti?" kata Aaron kembali karena melihat adiknya yang sedikit keras kepala.


"Tapi aku gak bisa kak." Lirih Felin ditengah isakannya.


"Tak ada kata penolakan.ingat! Bulan depan kamu bisa menikah dengan Betran." ucap Aron tersenyum tipis kepada adiknya.


sungguh ia tidak menyangka Felin memikirkannya sejauh ini. Biasanya Felin dikenal dengan sebagai gadis yang suka bicara ceplos dan tidak memikirkan perasaan.


"Betran.." Panggil Aaron dari dalam, membuat Felin menghapus air matanya cepat cepat agar tidak terlihat buruk didepan kekasihnya.Membuat Aaron tersenyum melihat reaksi adiknya.


"Betran tidak ada, dia ada tugas diluar." ucap Aaron tertawa.


"Kakak....." ucap Felin bersemu merah, ia sangat malu berulang ulang memukul kakaknya itu.


Tapi ia bahagia, Felin sangat bahagia melihat senyum yang dua tahun telah hilang, kini senyum itu kembali lagi.


mereka lalu tertawa bersama. Felin langsung memeluk kakaknya itu.


Aaron membalasnya lalu membelai rambut adiknya.


"Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki saat ini Felin, jangan menunda atau menghalangi kebahagiaanmu karena kakak.oke...!" ucap Aaron tersenyum lebar kepada adiknya. Felin hanya menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya Tuhan engkau telah mengembalikan senyum kakak Aaron yang dua tahun telah hilang." Ucap Felin Donisius dalam hati, mereka masih posisi berpelukan.



## Aduh senyum Aaron buat kita awet muda ya 😆 ##


## Part ini memang aku buat gak tegang ya, karena dari kemarin author nangis mulu buat yang sedih sedih ##


## Tapi di kisah selanjutnya akan ada peristiwa yang menyedihkan lagi 🙁 ##


## Tetap semangat salam sehat buat kita semua ##


🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA 🌾


🌾 KASIH BINTANG JUGA YA 🤗