
π€ Happy Reading π€
Brak!
Aaron sudah mengebrak meja, aura marah di wajahnya sudah terpancar, ia ingin menelan mereka satu persatu. mereka tak berani mengangkat wajahnya.Mereka terlalu takut melihat kemarahan pemimpin Donisius itu.
"Siapa yang menangani masalah ini, apakah mereka sengaja bermain main denganku?" Tanya Aaron sudah mengeraskan rahangnya.
Ia menatap sinis pada karyawan yang duduk hanya diam sambil menunduk.
"Jawab !!" Suara Aaron sudah memenuhi ruangan rapat ,wajahnya sudah terlihat marah.
"Maafkan kami pak direktur, bagian penanganan masalah ini akan datang sebentar lagi. Mereka sudah pergi mengecek langsung ke lokasi." jawab salah satu manager bagian personal dengan takut.
"Apa dia tidak tahu aturan perusahaan ini, sudah berapa tahun dia bekerja disini? sehingga dia berani membuat hal bodoh seperti ini?" Tegas Aaron mengebrak mejanya kembali. Aaron sangat geram, rahangnya bahkan mengeras.
"Maaf pak, ia baru dipindah tugaskan kebagian pemasaran dan bekerjasama dengan perusahaan kita." jelas salah satu karyawan kembali, melihat ekspresi Aaron yang sudah menggila membuat para manager langsung kembali menundukkan kepalanya.
"Apa? baru dipindah tugaskan?" Tanya Aaron tak percaya, ini sungguh hal bodoh.Ia mengernyitkan keningnya.
"Siapa yang berani menempatkan dia dibagian ini, Sementara dia orang baru? kamu tidak tahu berapa kerugian perusahaan setelah menghadapi masalah ini?" kata Aaron, ekspresi wajahnya kaku dengan tatapan tajam. Aaron sudah menatap satu persatu karyawannya. gesture badannya sudah jelas menunjukkan ingin jawaban.Namun mereka hanya diam tak berani membuka suara.
"Baiklah kalian tak ingin menjawab,saya yang akan cari tahu sendiri. Siapapun orangnya, saya tidak perduli.Siapkan diri anda dipecat." kata Aaron dengan nada dingin, lelaki itu tampak marah. Sama sekali mereka tida ada yang memberikan jawaban yang memuaskannya, Aaron langsung melangkah meninggalkan ruangan meeting. Ia berjalan diikuti Rebecca dari belakang.
Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, sungguh hari ini adalah hari terburuk baginya. ini bagian terpenting diperusahaannya. Berani sekali mereka menunjuk orang yang kompeten mengurus hal ini. Aaron nampak memejamkan matanya. Berusaha menahan kemarahannya.
"Pak, apakah anda butuh sesuatu?" Tanya Rebecca memberanikan diri.cukup lama mereka terdiam setelah berada diruangan.
"Buatkan saya kopi ." ucap Aaron masih memejamkan matanya.
"Baik pak." Ucap Rebecca langsung bangkit membuatkan kopi.
Tak berapa lama Rebecca sudah membawakan kopi pesanan bosnya. Ia melihat Aaron sudah bergelut dengan pekerjaannya.Gadis itu sudah tersenyum dan melangkah mendekati Aaron.
"Ini kopinya pak! " ucap Rebecca meletakkan kopi disi kanan bosnya.
Tiba tiba pintu diketuk dari luar
" Masuk..! " ucap Aaron meletakkan berkasnya tepat disamping kopi, membuat kopi tertumpah dan mengenai tangannya. Aaron kaget dan ia mengaduh kesakitan, membuat Rebecca Reflek mengambil tangan Aaron dan meniupnya.
"Apakah panas pak? Maafkan saya pak, kenapa saya harus menaruhnya disitu." sesal Rebecca. Terlihat jelas kalau ia sedang mencemaskan lelaki itu, dan membersihkan tumpahan kopi dengan sapu tangannya yang sudah mengenai baju Aaron. Mereka berdua tidak menyadari ada seseorang yang berdiri memperhatikan mereka.
"Sudah tidak apa apa." Ucap Aaron lembut, agar sekretarisnya tidak cemas.Namun Anastasia yang mendengar dan melihat situasi yang terjadi,membuat ia cemburu. Sederhana tapi berhasil membuatnya sakit hati. Ia sudah menggigit bibir bawahnya,agar perasaan emosi yang sudah bergejolak didalam dadanya bisa ia tahan, agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Anastasia berusaha bersikap profesional.
"Saya obati ya pak." Ucap Rebecca ,namun tiba tiba langkahnya berhenti. Anastasia tersenyum kaku.
"Maaf nyonya kami tidak menyadari kehadiran anda." ujar Rebecca menundukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan ruangan untuk mengambil obat P3k, Aaron mendongak dan Melihat siapa yang berdiri didekat pintu ruangannya.
"Anastasia??" batin Aaron terkejut.
"Bisa saya masuk pak?" ucapnya dengan nada canggung, ia berusaha tersenyum ramah, namun ia tidak bisa menutupi gejolak didalam dadanya, walau ia belum tahu kebenaran hubungan mereka. Namun Anastasia terluka, melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Aaron sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Detak jantungnya berdetak kencang ketika melihat Anastasia berada diruangan yang sama dengannya.
" Anastasia datang ke kantornya? apakah dia sedang bermimpi?" batin Aaron kembali berbicara dalam hati,lelaki itu berusaha menutupi sikap terkejutnya.
Tak berapa lama muncul juga Manager bagian pemasaran dan mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"Masuk!" sahut Aaron kembali, ia melihat posisi Anastasia masih berdiri.
"Silahkan duduk!" ucap Aaron melangkah mendekati sofa yang diikuti dengan manager bagian pemasaran.
"Permisi pak, kita obati dulu ya pak. biar tidak meninggalkan bekas luka karena terkena panas tadi." ucap Rebecca sudah kembali masuk dan dia sudah duduk disebelah Aaron.
Anastasia kembali menggeram melihat tingkah wanita yang didepannya. Entah apa yang ada dipikirannya,kenapa Ia begitu marah, kesal dan sedih? Anastasia tidak terima dengan apa yang dilihatnya.Apalagi melihat Aaron memperhatikan sekretarisnya itu, dia benar-benar melihat wanita itu mengobati tangannya.
"Tatapanmu cukup untukku saja Aaron, tidak boleh ada yang lain." Batin Anastasia ingin menangis. Anastasia berbicara dalam hatinya, sungguh ia terluka, Anastasia merasa takut kalau Aaron sudah berpaling darinya.
Walau ia sadar semua ini adalah kesalahannya.
" Oh Tuhan aku tak terima." batin Anastasia kembali meronta.
"Seharusnya bapak menyalin baju dulu, baju bapak kotor karena kenapa kopi tadi." ucap Rebecca sambil melipat kemeja Aaron keatas .
"Apakah mereka sudah sedekat itu?" batin Anastasia terus berbicara dalam hatinya, ia menatap sinis dengan sekretaris jelek itu.
"Sepertinya bapak menyukai warna baju ini." bisik Rebecca tapi masih bisa didengar orang orang yang ada diruangan. Termaksud Anastasia sendiri dapat mendengarnya dengan jelas.
" Siapa bilang Aaron menyukai warna krem, Aaron menyukai warna putih, bodoh." umpat Anastasia dalam hati.Dia menatap lelaki yang tanpa ekspresi itu, Aaron nampak fokus dengan lukanya.Anastasia ingin menangis, dadanya terasa sakit.
"Tatap aku Aaron, aku merindukan semua hal tentangmu.lihat aku..." jerit Anastasia seperti orang bodoh ia tetap bicara dalam hatinya. Anastasia menarik napasnya dalam dalam dalam.Sungguh terasa sakit hingga ia merasa hatinya seperti dirobek.
Dengan telaten Rebecca mengobati memar ditangan bosnya. memberikan salep ketangan Aaron dengan hati hati.
" Sudah pak! " Ia sudah bangkit dan merapikan kotak obat P3k.
"Siapkan minuman." ucap Aaron ketika Rebecca sudah selesai.
"Baik pak,saya permisi dulu pak." Rebecca sudah melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Sementara Aaron sudah menyenderkan tubuhnya di sofa. Ia sudah mengeraskan rahangnya menatap lelaki yang duduk didepannya.Anastasia dapat melihat kalau Aaron nampak marah. Ia yakin ini mengenai pekerjaan yang mereka tangani.
"Jadi kamu yang bertanggung jawab dalam masalah pengembangan proyek baru dikota xx?" Tatap Aaron memulai pembicaraan, tatapannya masih fokus kepada manager pemasaran.
"Benar pak." jawabnya canggung.
"Siapa orang baru, yang kau tugaskan dalam melaksanakan proyek ini? " Aaron sudah melempar proposal kearah Mike, lelaki berusia 40 tahun itu nampak gugup, Anastasia terkejut.Dia adalah orang yang ditugaskan untuk melaksanakan proyek ini.
"Berapa lama kau bekerja disini Mike? apa aku harus mengajarkanmu kembali mengenai dasar dasar pengembangan proyek?" Aaron sudah kembali emosi, nampak wajahnya terlihat dingin, kaku dan menatapnya tajam.
Kembali Rebecca mengetuk pintu, ia melihat ruangan berubah horor, nampak Aaron sudah menunjukkan wajah murkanya. Rebecca sudah meletakkan teh hangat diatas meja, ia langsung pamit undur diri.
Anastasia menarik napasnya, ia membuka suara untuk mencairkan suasana.
"Maafkan saya pak saya adalah salah satu bagian tim yang mengerjakan pengembangan proyek itu.Saya di pindah tugaskan dari perusahaannya xx untuk ikut dalam melaksanakan pengembangan proyek ini." ucap Anastasia membuka suara.Membuat Aaron bertambah marah, ia menatap Anastasia dengan tatapan tak terbaca. Membuat hati Anastasia menciut sedih.
Aaron menatap sinis, ia tertawa hambar ia nampak geram dan rahangnya mengeras. Anastasia mengernyitkan keningnya.
"Apa kamu pikir perusahaan ini, seperti pabrik pembuat mainan plastik? Kamu bermain main dan tidak mengikuti prosedur yang ada. sehingga perusahaan Donisius merugi triliunan rupiah." ucap Aaron dengan sinis dan kembali melanjutkan kata katanya.
"Perusahaan xx terkenal mendunia tapi kenapa bisa mempekerjakan orang orang yang sama sekali tidak kompeten dalam hal ini." lanjut Aaron menatap Anastasia dengan tajam.
DEG...
Sontak membuat jantung Anastasia terpompa lebih kencang.Sampai membuat tubuhnya gemetar. Wajahnya sudah merah padam,ia merasa terhina.
BERSAMBUNG
## Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan dalam proyek proyekkan ya π€£
##Cerita ini hanya fiksi π
## Salam sehat buat kita semua ππ
πΎJANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA πΎ
πΎ KASIH BINTANG JUGA YA π€