
🤗 Happy Reading 🤗
Semenjak kejadian itu, Anastasia tak berani menatap Aaron.Ia mewakilkan Mike untuk menganalisa langsung proyek yang mereka kerjakan, kepada Direktur utama Donisius grup itu.
Bagaimana bisa ia melakukan hal bodoh didepan Aaron.Menangis tapi tak bicara, Ia berlari keluar tanpa mengucapkan apa apa. Sehingga sempat membuat Aaron mengejarnya.
Awalnya dia ingin mengatakan apa yang ada didalam isi hatinya, Namun bibirnya keluh tak sanggup mengatakan kalau ia mencinta lelaki itu, yang ia lakukan justru berlari meninggalkan ruangan Aaron .Ia hanya menangis pada saat itu, Anastasia mengharapkan Aaron kembali padanya. Rasa cintanya yang begitu besar mampu melupakan segala rasa sakit yang pernah terjadi.
Bagaimana ini ? Apa yang harus ia lakukan, Rasa cinta ini semakin membuatnya gila dan menderita.
Apalagi kedekatan Rebecca semakin membuatnya gila. Hatinya semakin sakit, ketika melihat Rebecca pingsan ditempat lokasi proyek. Dengan panik Aaron langsung melarikan wanita itu kerumah sakit ,perhatian Aaron sukses membuatnya cemburu.
"Bagaimana keadaannya dok ?" Tanya Aaron ketika dokter memeriksanya.
Mike dan Anastasia hanya diam ketika dokter memeriksa Rebecca, mereka meyaksikan sendiri ketika wanita itu tiba tiba pingsan didekat Aaron.
"Pasien kelelahan saja pak, Apa anda suaminya?" Tanya dokter.
"Tidak dokter, saya temannya." jawab Aaron cepat.
"Dia hanya butuh istirahat saja, tidak ada yang perlu dicemaskan." jelas dokter langsung permisi meninggalkan IGD.
"Terima kasih dok." dokter sudah berlalu meninggalkan IGD .
"Kalian pulang saja, biar saya yang jaga Rebecca disini." ucap Aaron melihat Mike dan Anastasia yang berdiri didekat Brankar.
"Tidak pak, biar saya yang jaga." ucap Anastasia cepat hingga Mike melirik Anastasia.
"Biar bapak pulang saja,saya yang akan menjaganya disini sampai dia sadar. Rebecca tidak dirawat jugakan pak? nanti saya bisa langsung mengantarnya pulang." ucap Anastasia meyakinkan Aaron .
Bagaimana mungkin Anastasia membiarkan Aaron menjaga wanita ini, tidak..biarlah Anastasia mengorbankan dirinya untuk menjaganya, sungguh Ia tak rela .
"Tak apa apa biar saya....." Aaron berhenti karena Anastasia langsung memotong perkataannya.
"Tidak pak, biar saya saja." Potong Anastasia tak membiarkan Aaron melanjutkan kata katanya.Membuat Aaron mengangkat kedua alisnya.Ia nampak heran dengan sikap Anastasia.
"Percayakan dengan saya pak, saya wanita dan sudah lebih baik saya yang menjaganya. mungkin nona Rebecca akan sungkan jika bapak ada disinikan? serahkan semuanya pada saya saja pak." ucap Anastasia meyakinkan lelaki itu kembali.
"Ada benarnya juga yang dikatakan ibu Tasia pak, sudah lebih baik jika ia yang menjaganya disini." Mike menimpali membuat Anastasia merasa lega ada yang membantunya.
"Tolong jangan menolak pak, aku bisa gila jika kau yang menjaga wanita ini." batin Anastasia ingin menangis,
"Beginikah yang dirasakan Aaron dulu? Maafkan aku Aaron aku tidak menyangka sesakit ini. Aku hampir mau gila tak bisa menahan ini semua." batin Anastasia kembali, hatinya sangat sakit membayangkan Aaron berdua dengan Rebecca saja sudah membuatnya cemburu.
Belum juga Anastasia mendapat jawaban, Rebecca sudah sadar.
"Pak..!" panggilnya membuat kami semua menoleh kearahnya.
"Kenapa juga ia harus sadar sekarang." kesal Anastasia dalam hati ia sudah membuang mukanya tidak suka.
Aaron mendekat, dan berdiri disamping Rebecca.
"Kenapa aku bisa disini pak?" tanya Rebecca sepeti hilang ingatan.
"Tadi kamu pingsan, tapi kamu gak usah cemas karena tidak ada yang perlu dicemaskan kau hanya kecapean dan butuh istirahat."
"Terima kasih pak,Jadi merepoti bapak." mata Rebecca sudah berkaca kaca ingin memangis
"Sudah jangan menangis." ucap Aaron mendekat dan duduk ditepi Brankar.Niat Aaron hanya menenangkan saja, namun yang terjadi Rebecca malah memeluk Aaron dan menangis. Aaron terkejut tubuhnya tegang karena spontan dipeluk.Namun lama lama ia membalas pelukan Rebecca, Aaron seperti memberi ketenangan agar wanita itu tidak menangis lagi.
Mike menyusulnya dan duduk disebelahnya.
Anastasia tersenyum ,sebisa mungkin ia harus bersikap biasa saja.
"Apa lebih baik kita pulang saja Bu Tasia? " tanya Mike melirik sekilas lalu kembali menatap kedepan.
"Tapi mobil Pak direktur masih ada lokasi proyek pak."
"Oh benar juga ya.. ." kata Mike tanpa ekspresi.
Mereka terdiam, menikmati pikiran masing masing. Anastasia merasa bosan, jika tadi mobilnya ia bawa, Anastasia sudah lebih dulu pulang dan tak harus menunggu selama ini.
"Saya kedalam dulu ya pak." Anastasia sudah bangun dari duduknya.ia melangkah memasuki ruangan IGD, Ia mendengus kesal kenapa begitu lama,Bukannya Rebecca sudah sadar? harusnya ia sudah bisa pulang.
Anastasia ingin masuk, namun langkah seperti terpaku tak bisa melangkah.Anastasia diam membeku, tubuhnya menegang, ia bersembunyi dibalik gorden penyekat ruangan. Ia mendengar Rebecca menangis.
"Apa dia curhat?" batin Anastasia masih menguping pembicaraan mereka.
"Tolong saya pak, hanya bapak yang bisa menyelamatkan hidup saya, setiap malam saya diteror sampai tak bisa tidur. Mereka selalu datang untuk mengancam untuk membunuhku.Biarkan saya tinggal dengan bapak untuk sementara waktu." Isak Rebecca memohon,Aaron masih diam tak bicara.
"Apa apaan ini?" batin Anastasia geram.ia sudah masuk tanpa disuruh, ia bahkan tak terima jika Aaron harus tinggal satu rumah dengan wanita rubah ini.
"Tinggal dirumahku saja Rebecca." ucap Anastasia semanis mungkin walau Ia paksakan.Ia sudah masuk, membuat Aaron berbalik melihat kedatangan Anastasia. sementara Rebecca sudah nampak kesal dengan kedatangannya.
"Itu lebih bagus dari pada tinggal dengan lelaki yang tak ada hubungan denganmu.Apa kata orang?" kata Anastasia melanjutkan kata katanya.Terlihat jelas Rebecca tak suka, Anastasia yakin itu akal akalan saja.
"Saya bukan gak ada tempat tinggal ibu Tasia, tapi saya diancam, apa ibu mau kita berdua dibunuh mereka. Sementara tinggal dengan bapak direktur akan aman mereka tak akan berani mengganggu lagi, Aku takut sekali." isak nya kembali menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Anastasia sudah membuang mukanya dengan tidak suka.
Setelah agak lama memikirkan, akhirnya Aaron menyetujui.
"Baiklah tapi untuk sementara."
"Terima kasih pak." ucap Rebecca melirik Anastasia dengan sinis. Anastasia terbelalak tak percaya.
Ia diam tak bisa berkata apa apa. Bagaimana bisa Aaron langsung menyetujui.Ia kecewa melihat Aaron, Anastasia langsung melangkah keluar. Aaron hanya menatap kepergian Anastasia meninggalkan ruangan. Ia begitu kesal dengan sikap Aaron, hatinya sakit tak bisa ia ungkapkan. ia ingin mencoba meluapkan amarahnya, Anastasia sangat takut walau hanya sekedar untuk bernapas saja, hatinya sakit, terlalu sakit dan teluka.
Anastasia melangkah gontai meninggalkan ruangan dan menghampiri mike.
"Aku pulang duluan pak mike, ada hal lain yang ingin aku selesaikan." ucap Anastasia melangkah pergi, ia tak perduli berapa kali Mike memanggilnya. hatinya terlalu sakit untuk menoleh kebelakang.
Sebelum ketemu Mike ia masih bisa menahan air matanya. namun setelah ia berada didalam mobil Taxi Ia bahkan tak bisa membendung Air matanya.ia menatap keluar jendela mobil, sambil menyenderkan kepalanya.Air matanya sudah mengalir tak mau berhenti.Ia sudah berusaha untuk menghentikan namun perasaan sakit yang ia rasakan sakit terlalu besar hingga membuat hatinya seperti diremas sampai membuatnya tak bisa bernapas...
"Kau jahat Aaron tak memikirkan perasaanku."
lirih Anastasia disela sela Tangisannya.
BERSAMBUNG....
## Tuh kan Rebecca jahat 😔
## Salam sehat buat kita semua 😘
🌾 JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU YA 🌾
🌾 KASIH BINTANG JUGA YA 🤗