
"Kalian dengar? Pernikahan ratu kita dengan Galen Adhitama batal! Batal! Batal!" Putra memulai pembicaraan di grup sesuai info yang ia dapatkan tanpa sengaja.
"What? Kok bisa? Bukannya mereka pasangan bucin terbest tahun ini ya?" seseorang menyaut.
"Yoi, dan parahnya! Penyebab jelas itu sahabat sendiri men! Aku punya link-nya, jangan lupa weha kalau mau." Putra kembali membuat panas grup kampus.
"Link, link apa?"
"Link apa itu?"
"Linknya G sama K, 19 detik dijamin geleng-geleng!" putra menimpali kekepoan teman-temannya. Selain mahasiswa di bidang managemen bisnis, ia juga seorang hacker muda.
Percakapan itu masih terus berlanjut, Pro dan Kontra jelas terjadi di grup chat Universitas dimana Galen, Alesya dan Karla menuntut ilmu.
Karla dan Galen dihantam habis, pun juga dengan Alesya yang diolok terlalu naif. Itulah yang menyebabkan Alesya melempar ponselnya kesal. Sekalian biar Ale tak melihat grup ghibah itu selamanya.
Ya, trauma yang dialami belum lagi menghadapi mereka rasanya membuat Alesya ingin menenggelamkan diri saja.
Lain dengan Karla yang memang urat malunya sudah putus, ia malah berbangga karena sebentar lagi usahanya mendapatkan Galen akan berhasil.
"Kalau aku gak hamil kan gampang, bisa pura-pura hamil dulu! Lagian kucing gak mungkin menyia-nyiakan ikan bukan?" gumam Karla merebahkan diri di kamar.
Ramainya notif grup chat kembali terjadi, apakah Putra mengirim video-nya ke grup? Matilah kalau kedua orang tua Karla sampai tahu.
Mata Karla melotot sempurna kala melihat beberapa pict foto Alesya berada di gerai Mall bersama seorang pria dewasa.
Berjass, dan jangan lupakan cambang disekitar dagunya. Namun, meski terlihat seperti Om-Om, laki-laki itu sangat tampan.
"Ck Ck, sekarang jadi simpanan Om-Om! Sok-sokan gak mau tidur sama Galen, heh!" karena greget Karla pun ikut nimbrung ke grup dan memutar sedikit cerita.
"Gak salah Galen milih aku, kan dari awal dia jadi simpanan Om, makanya pas pernikahan Galen ngumpet! Dan bikin sesuatu yang bisa buat bales kelakuan Alesya. Ya begitulah, cuma namanya khilaf gak nyangka bakalan melebar kemana-mana dan malah kalian semua jadi tahu." Karla menulis pesan seolah dia dan Galen melakukan hal itu atas dasar membalas Alesya.
"Oh, jadi begitu."
"Oh gitu ceritanya, kasian ya Galen!"
"Wah jadi sugar baby dong! Yakin penasaran aku mukanya pas masuk kuliah lagi."
"Hahaha, mungkin Galen kurang kaya!"
"Kurang panjang kali, apa kurang gede?" seloroh putra.
"Apa kurangnya aku di dalam hidupmu ╥﹏╥."
Karla tersenyum menyeringai, ia puas membuat Alesya bakal kehilangan muka tuk sekedar datang ke kampus.
***
"Galen!" Alesya memundurkan langkahnya.
"Jadi?" tanyanya lagi kebingungan, apakah Reivander akan membuatnya bertemu dengan Galen dan keluarganya.
Jelas di depan sana ada Tante Liora, dan Ale belum siap untuk bertemu bahkan berdamai dengan mereka. Terlalu cepat baginya melupakan dan memaafkan kesalahan besar Galen.
"Ya, ayo ketemu mereka!" ajak lembut Reivander.
Alesya menepis tangan Reivan dengan kasar , "Nggak!" pekiknya menghindar. Ia malah berlari meninggalkan Reivan begitu saja.
"Alesya!"
Reivan mendekati Liora dan meletakkan ranjang buah itu di pangkuannya.
"Maaf Mbak, nanti aku kesini lagi!"
Sementara Galen melotot sempurna melihat Alesya dan Om-nya yang datang, ia ikut mengejar Alesya mengikuti Reivander.
"Al, jangan gini dong!" mohon Reivander.
"Mas, apa-apaan sih ngajak aku ketemu mereka? Mas pikir hati aku terbuat dari apa hah?" lelehan bening sudah membasahi pipi Alesya, napasnya terengah karena lelah berlari.
Beruntung taman rumah sakit sangat sepi, jadi tak akan ada yang mendengar perdebatan Alesya dan Reivan.
"Maaf, tapi masalah itu harus dihadapi! Bukan dihindari," pinta Reivan.
"Ini baru sehari, Mas? Kamu pikir aku sekuat itu, hah? Kamu pikir aku secepat itu bisa memakhumi mereka dan berdamai dengan masalalu aku? Aku bukan KAMU, Mas!" pekiknya bersama isak tangis.
Hal itu tak luput dari penglihatan Galen yang ada tak jauh dari sana.
"Maaf ya, ya sudah! Kita pulang, aku gak maksa kamu!"
Deg.
Entah kenapa Alesya mulai tenang di pelukan Reivan, bahkan tanpa sadar telah membuat pakaian yang dikenakan basah oleh air matanya. Jika boleh, Alesya mungkin akan meninggalkan ingusnya juga disana.
"Jangan maksa aku buat melakukan hal yang tak aku suka," lirihnya setelah reivan mengurai pelukan.
"Ya, gak akan."
"Janji?" Alesya menyodorkan kelingkingnya.
"Janji Ale," ujar Reivan menautkan kelingkingnya.
"Bisa tunggu disini sebentar? Aku akan bertemu Mbak Liora dan Mas Wilson sebentar! Atau kamu mau tunggu di mobil? Lima menit, dan gak akan lama."
Alesya mengangguk, "aku nunggu disitu!" tunjuknya pada tempat duduk yang terbuat dari batu yang ada di taman rumah sakit.
Reivander kembali masuk ke rumah sakit. Ia akan menemui Liora barang sebentar melihat keadaan mantan iparnya.
Galen menunduk, ia bersembunyi agar Reivander tak melihat keberadaannya.
"Al?" panggil Galen setelah memastikan Reivan tak terlihat.
Alesya menoleh, "G-galen, ngapain kamu disini?" pekik Alesya memundurkan langkahnya.
"Al, aku minta maaf. Bisakah kita berbaikan?" mohonnya bersujud.
"Berbaikan?" sinis Alesya dengan alis menukik.
"JANGAN HARAP!!! Kamu pikir, aku gadis bodoh yang mudah memakhlumi kesalahan kamu, hah? Tiga tahun Galen, tiga tahun kita bareng-bareng dan selama itu kamu khianati aku? Atau jangan-jangan sebenarnya dari awal kamu sudah ada main dengan Karla?" peliknya.
"Alesya aku minta maaf, aku khilaf sayang!"
"Kamu gak lihat, aku sudah nikah sekarang?" Alesya memasang wajah datar dan galak.
"Aku nggak melihat ada cincin melingkar di jari manis kamu, kamu belum nikah kan!" Galen berusaha mengelak kenyataan yang ada. Awalnya ia percaya pada Amber kalau Alesya menikah, akan tetapi tak ada cincin yang melingkar di jari manisnya? Hal itu membuat Galen yakin ini semua hanya sebuah akal-akalan saja.
"Aku nggak perlu buktiin ke kamu aku sudah nikah apa belum! Kamu bukan lagi orang yang penting dalam hidupku. Galen, awalnya aku pikir aku sudah mencintai orang yang tepat, sampai aku memilihmu menjadi pendamping dalam hidup aku. Tapi, aku pikir-pikir Tuhan maha baik ya, sampai aku harus lihat aib kamu tepat satu jam sebelum kita nikah. Coba Karla ngirim videonya telat? Aku gak bisa bayangin sehancur apa hati aku." Alesya menjeda ucapannya.
Rasa sesak tentu masih sangat ia rasakan, apalagi jika harus berhadapan dengan Galen seperti ini. Alesya tak siap, ia bahkan harus menahan tremor karena traumanya mencintai seorang Galen.
"Aku minta maaf! Tapi bukankah selalu ada kesempatan kedua?" mohon Galen.
"Tidak ada!" Alesya meninggalkan Galen begitu saja dan akan menunggu Reivander di parkiran.
"Jangan mengikutiku, kita sudah selesai!" pekik Alesya sebelum pergi.
***
"Mbak! Gimana keadaan Mas Wilson."
"Kamu lihat sendiri kan Rei, karena ulah Galen dia jadi begitu!"
Reivan menatap kaca ruang rawat Wilson, tampak mantan kakak iparnya terbaring dengan mata terpejam.
"Tadi habis minum obat, jadi sekarang tidur! Apa mau aku bangunin," ujar Liora.
"Nggak usah, Mbak! Aku langsung pulang," ujar Reivan.
"Besok saja kesini lagi." sambung Reivander.
"Apa benar, kalau kamu gantiin Galen nikahin Alesya?" tanya Liora.
"Kamu sudah melupakan Alira? Apa kamu nggak akan berhubungan lagi dengan keluarga kami?" cerca Liora.
"Mbak, bukan begitu. Alira memiliki tempat sendiri dalam hatiku sampai kapanpun!"
"Jangan mengelak, kamu bahkan sudah membuang semua foto-fotonya!" seru Liora yang tanpa sadar keceplosan.
"Darimana Mbak tahu?" tanya Reivander. Ia menggertakkan giginya menahan emosi. Bukankah itu artinya ada orang dalam yang memberikan informasi.