
Kau bisa bersembunyi dari kesalahanmu, tapi tidak dari penyesalanmu, kau bisa bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu~
***
"Aku mencarimu kemana-mana? kenapa malah disini?" Revan melingkarkan tangan di pinggang ramping Najira yang menyendiri di rooftop hotel.
"Aku sedang mencari angin, bukankah semua sudah selesai? Rea dan Bara bahkan sudah tak nampak bukan?"
"Ya, aku tahu. Tapi, kau bisa memanggilku kan honey, kalau mau pergi?"
"Hya, maaf. Aku pikir, kamu akan menemukanku dengan sendirinya." Najira menatap Revan, merapikan jass dan dasi laki-laki itu.
"Kau benar-benar wanita idamanku, Na."
Najira tertawa, "kau terus menerus memujiku kenapa? apa kau ingin?" Najira menyipitkan mata.
"Hahahaha... Kau tahu betul tabiatku, ayo!" Revan menarik pinggang Najira kemudian mendaratkan ciuman di kening berulang-ulang.
"Kemana yang lain?" tanya Najira.
"Sudah istirahat, Bara menyiapkan semuanya agar istirahat disini."
Najira mengangguk-ngangguk, kemudian menurut Revan kemana laki-laki itu akan membawanya.
***
Di sisi lain Tama dibuat kerepotan sekali lagi karena Bara memintanya memanggil dokter, alhasil ia harus menunggu dokter panggilannya di lobi hotel dan membawanya ke kamar Bara.
Di lorong, ia berpapasan tanpa sengaja dengan Najira dan kekasihnya membuat Tama hanya menatap sinis ke arah wanita itu, melewatinya begitu saja.
Tama bukan orang yang banyak drama, sejak dari Najira menjadi istri Bara ia sudah tak menyukai wanita itu. Hanya, dia dulu lebih sering menutupinya ketimbang sekarang yang terang-terangan menunjukan rasa benci.
"Ini kamar teman saya, sebentar Dok!"
Dokter itu pun mengangguk.
Tok tok tok...
Tama mengetuk pintu kamar hotel dimana Bara berada.
Bara yang di dalam memang menunggu kehadiran Tama bersama Dokter pun bangkit.
"Tunggu bentar, Sayang. Sepertinya Tama dan dokter sudah datang," ujar Bara. Ia melangkah menuju pintu dan membukanya.
"I-iya, Mas." lirih Rea.
"Siapa yang sakit?" tanya Tama.
"Rea, mari masuk Dok!" ujar Bara, ia menghela napas lega sebab Tama membawa Dokter wanita.
"Kau apakan istrimu, hm?" bisik Tama setelah Bara membiarkan Dokter memeriksa keadaan Rea.
"Apa mungkin hamil?" lirih Bara karena seingat dia, setelah tes negatif waktu itu ia sempat melakukannya sekali lagi tanpa pengaman.
"Hah?" Tama cukup terkejut, Ia tak pernah berfikir hubungan Bara dan Rea belum sampai tahap ituitu.
"Apa yang Nona rasakan?" tanya Dokter dengan lembut.
"Hanya lemas dan pusing," ujar Rea.
Beruntung Bara tadi mengganti gaun pengantinnya, jadi Dokter lebih leluasa memeriksa.
"Apa bisa berdiri Nona? Saya butuh tes urine anda untuk memastikan diagnosis saya benar."
Rea mencoba berdiri, lalu Bara mendekat dan dengan sigap meraihnya.
"Biar ku antar," ujar Bara.
"Aku bisa se..."
"Jangan membantah, Rea." Bara dengan sigap pula membantu Rea berjalan ke kamar mandi, akan tetapi Rea justru terdiam menatapnya.
"Mas kenapa nggak keluar?"
"Kenapa? aku sudah melihat semua bagian tubuhmu," ujar Bara yang tak ingin meninggalkan Rea sendirian di kamar mandi.
Rea tampak ragu, ia sungguh malu terhadap Bara. Namun, sepertinya laki-laki itu sama sekali tak merasa jijik melihatnya seperti ini.
"Biar aku serahkan ke Dokternya."
"Kamu cukup bawa aku kembali," ujarnya lagi.
Bara mengangguk, ia membawa Rea keluar dengan pelan-pelan dan kembali duduk ke atas ranjang.
"Ini, Dok." Rea menyodorkan wadah kecil dan dokter langsung memasukkan tespeck ke dalamnya.
"Seperti dugaan saya, Nona. Saat ini anda kecapekan dan hilang tenaga sehingga tubuh terasa lemas, dan itu semua dipacu oleh hormon kehamilan."
"Hamil?" tanya Rea tak percaya.
"Lihat ini," Dokter menunjukkan hasil tespeck garis dua.
"Hah?" Bara dan Rea terkejut begitupun Tama yang langsung diam di tempat.
"Kapan terakhir kali datang bulan?"
Rea menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menjawab tanggal berapa ia kedapatan tamu.
"Itu artinya usia kandungan anda kurang lebih sudah 3 minggu Nona, saya akan berikan vitamin dan buatkan resep untuk mengurangi lemasnya."
Bara dan Rea mengangguk saja.
Setelah Dokter pergi kini Tama menatap mereka menyelidik serta menggeleng-gelengkan kepala tanpa sepatah kata.
"Tam, masalah ini kamu bisa untuk tidak memberitahu orang tua kami?" tanya Bara.
Tama mengangguk, "aku istirahat, kalian istirahatlah." Tama pamit, ia keluar karena urusannya sudah selesai.
Bara menatap Rea yang jadi terdiam sejak tadi.
"Rea," panggil Bara.
"Aku..." Bara tertunduk.
"Aku seneng, Mas. Tapi, jangan ada yang tahu dulu selain kita bertiga ya?" pinta Rea. Bara mendekat, mengusap punggung tangan Rea dengan lembut.
"Aku minta maaf sudah buat kamu kaya gini," ujarnya.
"Aku nggak keberatan, hanya saja malam pengantin kita jadi tertunda."
"Tidak apa, aku rela menahannya demi calon anakku," ujar Bara, ia naik ke atas ranjang kemudian meminta Rea untuk merebahkan diri setelah minum vitamin dari Dokter tadi.
"Sudah membaik?" tanya Bara.
"Jauh lebih baik, Mas."
Bara meminta agar Rea merebahkan kepala di dekatnya. Rea menurut, dan setelah dirasa posisi nyaman, ia menarik sang istri ke dalam pelukan. Aroma tubuh Bara masuk ke dalam hidung, dan entah kenapa Rea menjadi sangat menyukainya, menjadi candu dan ingin terus berdekatan dengan sang suami.
"Mas, pengen dipeluk lebih lama," gumam Rea.
Bara mendongkak, dan menatap wajah Rea.
"Kenapa, hmm?"
Rea menggeleng, lalu Bara dengan sigap meraup bibirnya dan melu matnya pelan.
Rea tak diam, ia membalas sang suami bahkan jemarinya berani menelusup masuk di balik kaos putih yang dikenakan Bara.
"Aw, kau mau menggodaku!" rajuk Bara, sebab Rea sudah mulai suka menggodanya terang-terangan.
"Tidak, aku hanya..." elak Rea.
"Ngomong-ngomong jika sudah tidak lemas, apa boleh meneruskannya?"
"Apa??"
"Tidak-tidak, aku tidak berani memaksa sayang!" Bara terkekeh. Kembali lagi menci cipi bibir Rea yang selalu membuatnya candu untuk menciumnya lagi, akan tetapi kali ini Bara melakukannya dengan lembut tanpa menuntut.
"Makasih, sudah mau menjadi ibu dari anakku." Bara menarik Rea ke dalam pelukan, kemudian merapatkan tubuh mereka.
"Sama-sama, aku seneng tapi juga agak sedih."
"Ya, aku tahu kekhawatiranmu. Rea, kita hadapi sama-sama ya? Aku yakin, mereka akan mengerti," ujar Bara mengusap-usap punggung Rea. Ia paham kekhawatiran sang istri, ini baru malam pertama mereka dan Rea justru sudah hamil. Bara jadi berfikir, asalkan Tama diam semua akan baik-baik saja bukan?
"Sudahlah, lebih baik tidur. Jangan berfikir yang aneh-aneh, apalagi memikirkan ekspresi orang-orang nanti."
Sebenarnya hati Rea belum siap hamil, akan tetapi ia tak ingin membuat Bara kecewa. Sudah cukup, Najira mengecewakan laki-laki itu sebelumnya. Di pernikahan kali ini, Rea akan menjadikan laki-laki itu suami dan calon ayah yang paling bahagia.