
Duarrr...
Petir kembali menggelegar, seolah doa Reivan malam ini benar terkabulkan.
"Sana, Aku mau tidur di sofa!" Reivan berusaha melepas tangan Alesya yang memeluknya erat-erat.
"Gak mau! Gara-gara doa kamu ini," lirih Alesya.
Biasanya ia akan mengungsi ke kamar Kenaan, akan tetapi tidak setelah menjadi istri Reivan. Alesya tak tahu lagi harus berlindung pada siapa selain dengan laki-laki itu.
"Kamu beneran takut petir?" tanya Reivan. Setelah dipikir-pikir tak tega melihat wajah Ale yang bersembunyi di dadanya.
"Hm..."
"Masa? Terus kalau di rumah Papa dan Mama lagi ada petir, kamu gimana?" tanya Reivan penasaran.
"Tidur sama Bang Kenaan, masa iya mau nyempil di tengah-tengah Mama sama Papa," gumam pelan Alesya. Reivan terdiam, jadi istri kecilnya ini udah pernah dipeluk-peluk abangnya?
"Astaga," gumamnya mendesah pelan. Kenapa harus overthinking? Reivan merutuki pikirannya. Padahal jelas-jelas Alesya dan Kenaan adalah kakak beradik.
"Ayo tidur!" Reivan membimbing Alesya ke tempat tidur.
Alesya mengangguk, ia tak ingin jauh-jauh dari Reivan. Namun, hal itu tak berlangsung lama saat tanpa sadar tubuhnya menyentuh benda keramat yang tampak tegang.
"Apa itu," gumam Alesya mengigit bibir panik.
"Apa? mikirin apa? Gara-gara kamu nempel terus, aku juga pria normal." Reivan mendumel. Disaat cuaca sedang dingin-dinginnya, ia malah kegerahan dan ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Aku mau mandi," ujar Reivan.
"Bukannya tadi sudah mandi, Mas? Jangan tinggalin aku," keluh Alesya.
"Astaga, kamu gak lihat Juno butuh pele pasan?"
"Gak ada cara lain selain ninggalin aku mandi?" tawar Alesya.
Rasanya Reivan ingin sekali menggigit sang istri agar tak lagi polos.
"Kamu, kenapa? Mau bantu?" tanpa sadar keduanya bersitatap intens tanpa jarak.
Alesya menatap Reivan tak berkedip, "dih sana." Ia lantas membalikkan badan dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal sampai leher.
"Gak mau melayani suami itu dosa lho," sindir Reivan.
Alesya kembali membalikkan badan menatap Reivan, "terus, Mas mau aku gimana?"
"Gimana? Ya layani suamimu ini, di meja makan dan di ranj..." Reivan mengaduh saat Alesya mencubit keras tangannya.
"Astaga, hobi banget kamu KDRT Al!" protes Reivan.
"Habis gemes banget sama Mas, pengen gigit!" ketus Alesya.
"Hm."
Keduanya terdiam dengan mata menerawang menatap langit kamar.
"Mas."
"Al," panggil Reivan dan Aesya bersamaan.
"Kamu dulu!" lagi-lagi keduanya kompak.
"Besok aku masuk kuliah!" lirih Alesya meminta izin. Ia tak mungkin berlama-lama absen. Ale pikir, ada baiknya ia harus masuk dan menyelesaikan semuanya. Menghadapi apapun yang akan terjadi di hari esok.
"Biar Arsen yang antar, setelah mengantarku ke kantor! tak apa kalau mau kuliah, biar aku cari pelayan buat urus rumah." Reivan menoleh ke arah Alesya.
"Kamu ngerasa terpaksa nggak, nikah sama aku? Kalau kamu merasa tertekan bilang ya? aku type orang yang kaku dalam banyak hal. Waktuku lebih banyak terbagi ke pekerjaan, ke depannya aku nggak mau dengar kamu selingkuh gara-gara kurang perhatian. Aku sudah bilang di awal sebelum kita mulai," jelas Reivan.
Alesya menggeleng, ia malah menghadap Reivan. Memperhatikan setiap detail pahatan sempurna wajah suaminya.
Ganteng, itulah yang ada di pikiran Alesya. Dibandingkan dengan Galen, Reivan punya sisi pesonanya tersendiri. Tanpa sadar, tangannya terulur mengusap rahang Reivan yang ditumbuhi cambang tipis.
Reivan semakin kegerahan, Alesya sangat polos hingga tak mengerti gerakan seperti itu benar-benar memancing kelakiannya.
Bukan berhenti, Alesya masih sibuk bahkan kini dengan sengaja menarik bulu tipis itu hingga Reivan memekik.
"Jangan mancing," decak Reivan, mengubah posisi tepat berada di atas Alesya.
Tangannya meraih telapak tangan itu dan mengungkungnya.
"Mas, mau ngapain?" Alesya terkejut, akan tetapi tak kuasa menolak.
Hembusan napas hangat Reivan menyapu wajahnya membuat bulu kudunya meremang seketika.
"Tentu saja mengatasi juno." Reivan menyeringai.
Alesya memalingkan wajahnya, ia gugup sekaligus malu. Apalagi jarak ia dan Reivan hanya beberapa centi.
"Apa harus sekarang?" tanyanya memelas.
"Cuaca lagi mendukung," jawab Reivan. Melirik hujan lebat di luar sana.
Alesya spontan mengangguk saja, situasinya mendesak. Untuk menolak Reivan ia sungguh tak tega apalagi melihat kabut gai rah di mata pria itu.
Perlahan-lahan Alesya mengalungkan tangannya. Mereka saling bertatap lama, sebelum akhirnya bibir Reivan mulai menciumi wajah mulus Alesya. Ringan dan perlahan, lalu beralih ke ceruk leher dan memberikan tanda kissmark disana.
"M-mas," de sah Alesya.
"Hemm..." Layaknya bocah kecil yang haus, dengan tak sabar Reivan menciumi Alesya.
"Mas aku besok kuliah, gimana? Apa sakit?" gumam Alesya pelan.
"Tidak sakit, hanya seperti digigit semut!" jawab Reivan. Meski tak yakin apakah pria itu jujur atau tidak.
"Siap?"
Alesya mengangguk, meski tubuhnya bergetar karena gugup sekaligus takut.
Reivan membuka satu persatu kancing piyama Alesya. Hingga nampak balutan kain penutup terakhir.
"Mas kok aku deg-degan ya," panik Alesya.
"Ck! Pas di hotel aja ngrengek-ngrengek! gak inget kamu," cibir Reivan akan tetapi dengan bibir tersenyum.
"Namanya khilaf," gumam Alesya. Reivan sudah melepaskan pakaiannya dan melempar ke sembarang arah. Pun dengan Alesya, dengan sigap Reivan membuang penutup kain terakhir. Reivan menenggelamkan wajahnya kembali di da da Alesya, dinginnya malam mulai menghilang seiring kehangatan yang mulai tersalur.
"Mas, aku takut!" gumam Alesya sambil menggigit bibirnya kuat. Reivander tak mengindahkan rengekan Alesya, ia meraup bibir merah jambu itu dan melu matnya lembut.
Uh...
Ciuman pertama Alesya akhirnya dimiliki oleh Reivan. Selama ini, ia tak melakukan hal-hal aneh saat pacaran dengan Galen. Mereka hanya sebatas jalan dan bergandengan tangan.
Reivan tersenyum penuh arti, "siap?"
Alesya tak menjawab, entah seperti apa bentukannya saat ini. Yang pasti ia sangat berantakan sekali.
"Ukhh, sakit!" pekiknya kala sesuatu berusaha menerobos masuk.
Alesya memekik bersama tangan yang mencakar punggung Reivan dengan bar-bar.
"Sakit sia lan," maki Ale tak kuasa menahan rasa sakit akibat sesuatu bawah sana yang berhasil dirobek oleh Reivan.
Reivan menyudahi aktivitasnya, ia tak ingin memaksa Alesya lebih lagi melihat noda merah di atas sprei mereka.
"Kamu belum pernah?" tanya Reivan dengan bodohnya.
Alesya menggeleng lemah, "ya belum, emang aku cewek apaan!" gerutunya. Disela sakit, Ale masih sempat memarahi Reivan.
Namun, suaminya itu malah tersenyum lebar.
"Aku bangga sama kamu," gumam Reivan. Kemudian bangkit dan meneruskan aksi solo-nya di kamar mandi.
Alesya termenung, ia bingung harus bersikap seperti apa? Apakah menyerahkan diri pada Reivan adalah keputusan yang tepat?
Alesya terlalu takut, jikalau pria itu akan berakhir sama seperti Galen yang memilih tidur dengan wanita lain.