
Alesya dijemput Sarah setelah menunggu beberapa saat. Bersama sopir mereka jalan menuju salah satu mall besar.
"Sebenarnya Mama pengen bantu Reivan buat urus semuanya. Tapi dia bilang kali ini pengen dipilih berdua, kamu sama Reivan!" Sarah menatap Alesya hangat.
"Maksud Mama?" tanya Alesya polos.
"Lho memang Reivan belum cerita kalau mau resepsi ulang? Dia juga sudah bilang sama orang tua kamu dan sepakat pernikahannya diadakan di hotel atas nama Reivan."
Alesya malah melongo, "belum? Mau nikah lagi?" tanyanya.
"Kan kalian belum nikah resmi secara hukum, lagian tidak bisa dianggap nikah beneran karena Mama dan Papa nggak ada!" jelas Sarah.
"Tapi Mas Reivan sama Ale udah..." Alesya diam. Mendadak otaknya blank.
"Gak apa-apa, kalian kan udah nikah secara agama. Jadi kalian tetaplah suami istri, cuma belum sah di mata negara."
"Oh iya, Ma!"
Alesya turun pun dengan Sarah. Mereka langsung menuju stand food court mengingat sudah hampir jamnya makan siang.
"Mama nggak nyangka loh bakal punya mantu lagi. Maksud mama yang sesuai," ujar Sarah berbinar.
"Mama ih, jadi malu aku!" Alesya bisa tersipu. Padahal beberapa menit yang lalu ia menangis karena Galen, sekarang sudah tersenyum lebar karena pujian Sarah.
"Kenapa malu, bukan mau membandingkan! Makhlumi anak mama kalau agak kaku dan nggak peka-an. Jujur ya Al, Reivan itu dulu sangat mencintai Alira. Saking cintanya sampai memakhlumi apapun yang dilakukan istrinya. Membiarkan Alira tetap berkecimpung di dunia model. Bahkan rela menunda punya anak demi tak ingin menghancurkan karirnya," jelas Sarah.
Pelayan datang menyodorkan buku menu, setelah memesan beberapa makanan dan minuman. Mereka kembali bercerita.
"Gak apa, Ma! wajar kalau Mas Reivan belum sepenuhnya bisa melupakan Istri pertamanya. Karena jujur, aku pun masih suka keinget masalalu, apalagi aku dan Galen satu universitas. Ma, gak ada yang instan dalam sebuah perasaan apalagi jika itu pria sedewasa Mas Reivan."
Pesanan pun datang, mereka mencicipi beberapa makanan. Sarah memperhatikan sikap Alesya. Wanita muda menantunya ini benar-benar dewasa secara pikiran. Sarah ingat saat pertama kali Reivan memperkenalkan Alira, dimana wanita itu sangat manja dalam segala hal.
Drrttt...
Alesya menerima pesan di ponselnya. Nomer My husband tampak disana membuat wanita itu seketika mengernyit.
"Cih sejak kapan aku save nomernya dengan nama my husband, rasanya gak pernah!" batin Alesya. Meski ia tahu siapa pemilik nomer itu, siapa lagi kalau bukan Reivan.
"Lagi dimana?" tanya Reivan lewat pesan.
"Keluar sama Mama, kan tadi sudah pamit." Alesya membalas pesan itu tanpa embel-embel romantis.
"Aku jemput, kita ke butik coba baju."
Alesya mengernyit, lantas berusaha bersikap tenang.
Belum juga membuka bibirnya bicara, ponsel Sarah berdering. Sejurus kemudian, wanita itu tampak mengangguk-ngangguk berbinar.
"Reivan bilang mau jemput kamu buat fitting baju," ujar Sarah.
"Tapi, Ma. Kita kan baru keluar makan, bahkan belum selesai." Alesya ingin protes rasanya pada Reivan. Sungguh ia sebal dengan suaminya itu yang selalu seenak jidatnya.
"Tak apa, biar segala sesuatunya lekas beres."
Alesya mengangguk, ia dan Sarah berpisah di mall. Sarah melanjutkan jalan-jalannya dengan bertemu teman sosialita sementara Alesya sudah dijemput oleh Reivander.
"Kan bisa nanti sore atau besok-besok!" protes Alesya.
"Kita nikah minggu depan!" jawab santai Reivan.
"Apa?" pekik Alesya terkejut.
"Sample undangan online ntar aku tunjukin, nanti malam sudah harus Arsen kirim." Reivan menatap jalanan depan, kali ini ia tak memaksa Arsen mengikuti segala aktivitasnya.
"Papa dan Mamaku sudah tau?" tanya Alesya. Reivan mengangguk, tentu saja tahu pagi tadi ia membahasnya bersama Bara dan Rea di kantor. Perkara acara dan waktunya.
"Ehm, ya ya Papa dan Mama!"
"Bagus!" Alesya memalingkan wajahnya.
"Kenapa mesti buru-buru sih Mas, mana minggu depan. Aku baru masuk kuliah hari ini masa harus cuti lagi." Alesya mendumel pelan.
"Lebih cepat lebih baik, makin tenang juga kan nanti misal kamu hamil kita sudah resmi menikah secara hukum."
Alesya hanya mengangguk, batinnya sedang menelaah kata hamil. Bukankah mereka baru melakukan percobaan, semudah itukah hamil? Pikirnya.
Tanpa sadar, mereka sampai di depan ruko besar-besar dimana butik langganan Reivan berada. Reivan turun lalu membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo masuk, kita nggak mungkin pesan baju jadi kita cari yang sudah jadi saja."
"Oke." Alesya mengangguk.
"Selamat siang, Pak! Ibu," sapa karyawan menyambut.
"Siang, dimana manager kalian?" tanya Reivan.
"Bukannya ini butik?" Alesya tampak tertegun. Namun, saat manager keluar ia menghela napas lega.
"Butik bekas mantan istri Om kamu yang bunuh diri bukan?" bisik Reivan.
Alesya melotot, "hey, tante Najira itu gak bunuh diri, dia jatuh!" Alesya membekap bibirnya seketika. Meski sudah bertahun-tahun tetap saja merasa horor jika membayangkan. Apalagi, kepergian tante Najira terjadi karena jatuh dari tangga.
Alesya masuk bersama Reivan, "jangan dipikirin! Sekarang yang punya kan orang lain. Dan butik ini tetap ramai lho, bahkan kualitasnya terbilang sangat oke. So! Sekali lagi jangan mikirin tempatnya bekas apa," seru Reivan dengan nada pelan.
Alesya mengangguk, saat menoleh. Reivan merangkul bahunya bahkan mengusap-usap lembut layaknya suami yang berusaha menenangkan istrinya.
"Kan aku emang istrinya," batin Alesya.
Manager menghampiri Reivan, menyambut pria itu dengan keramahan dan senyum yang membingkai wajahnya.
"Apa kabar Pak Reivan? Dan,---" Manager melirik Alesya.
"Istri saya!" Reivan mengenalkan Alesya.
"Bukankah?"
"lebih tepatnya calon istri," seru Reivan.
"Mari," ajak Manager setelah tahu maksud kedatangan Reivan.
Mereka berjalan ke ruangan khusus dimana beberapa baju pengantin dengan berbagai model terpampang disana.
"Bapak dan Ibu bisa memilih, ada beberapa model baju pengantin desain terbaru kami. Barangkali akan sesuai dengan konsep kalian! Atau mau sekalian wedding organizernya dari pihak kami?" tawar Manager.
"Apa saya boleh lihat referensi hasilnya?" tanya Reivan.
Sedangkan Alesya memilih mode nurut.
**
Di sisi lain, tepatnya di sebuah rumah minimalis. Karla menjalani hidupnya seorang diri, terlepas dari Galen dan orang tua yang sedang marah padanya. Karla memutuskan menyewa rumah kecil-kecilan dan memulai hidup baru meski harus bersusah payah kerja serabutan.
Namun, akhir-akhir ini Karla merasa badannya kurang enak dan aneh.
"Bentar deh, kapan terakhir aku datang bulan," gumamnya. Sejurus kemudian ia membulat sempurna saat menyadari sesuatu.
"Astaga," gumam Karla dengan kepanikan mendera ia keluar kontrakan dan berjalan ke ujung gang untuk membeli sesuatu di apotek.
Tak tanggung-tanggung, Karla bahkan membeli lima tespeck sekaligus untuk melihat keakuratannya. Namun, gadis itu tak pernah menduga jika akan berhadapan dengan Kenaan disana. Pria yang sudah Karla anggap seperti abangnya sendiri kini menatapnya dengan sorot mata kebencian bercampur kekecewaan.