SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
98. Sugar season 2



Rumah sakit bangsal melati.


Dengan langkah percaya diri, Karla mendatangi Galen dan orang tuanya. Ia sudah bertekad untuk masuk ke dalam keluarga Galen apapun caranya. Tak perduli harga dirinya yang sudah lenyap, sudah kepalang malu, ia tetap harus bisa memiliki Galen sebagai hasil akhir dari usahanya.


"Galen, Tante!" Karla memasang wajah sangat menyedihkan.


"Ngapain kamu kesini, hah?" bentak Galen. Karla mundur beberapa langkah dengan wajah menunduk seolah takut, ia ingin menarik simpati Liora. Bukankah dia pintar dalam berdrama? Seperti dramanya bertahun-tahun menjadi sahabat terbaik Alesya.


"Galen!" peringat Liora agar tak membuat gaduh di depan ruang rawat papanya. Sehari semalam di ICU, kini Wilson sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Hanya saja, pesan dokter untuk berusaha menjaga Wilson agar tak mendapat tekanan pikiran yang membuat sakit jantungnya kambuh.


"Kita bicara di caffe depan!" Galen menggeret kasar tangan Karla. Membawanya menjauh area rumah sakit.


Disinilah mereka, di sebuah caffe depan rumah sakit. Keduanya saling terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Galen kembali meluapkan kekesalannya.


"Berhenti mengurusi hidupku, berhenti mendekat! Apa kau tak mengerti?"


"Aku sudah berniat menjauh, kamu pikir aku masih punya muka di hadapan Alesya? tapi masalahnya tak sesimpel itu." Karla menunduk, sungguh pintar sekali ia berakting. Mungkin jika ia mengikuti ajang adu bakat, Karla akan menang.


"Terus?" Galen menatap tajam gadis itu, sungguh ia menyesal dan tak ingin lagi berurusan dengan Karla.


"Aku hamil!"


"Jangan gila!" teriak Galen.


"Aku selalu memakai pengaman, jadi mustahil!" pekiknya frustasi. Beruntung suasana caffe sangat rame, perdebatan mereka teredam oleh orang-orang yang sedang berada disana sekedar ngopi sore atau nongkrong.


"Jadi menurutmu? Aku wanita yang suka bergonta ganti pria, hah?" Karla tersenyum kecut.


"Kamu lupa, kalau kamulah yang pertama kali bagiku? Kamu yang merenggut kesucianku lebih dulu," sambungnya lagi.


"Itu kan karena kamu yang menawarkan diri!" elak Galen.


"Lalu? Kamu menyalahkanku karena itu? Bukankah kamu selalu ngeluh Alesya tak pernah tersentuh olehmu? Bahkan hanya sekedar kissing saja tak kamu dapatkan! Galen, sadarlah."


Galen mengepalkan tangan, ia semakin pusing menghadapi Karla. Belum mereda amarah Papanya dan ia? Bahkan kembali mendapatkan masalah dengan kehamilan gadis itu.


Sampai depan ruangan Wilson, Galen terduduk lemas.


"Kenapa? Dimana gadis itu?" cerca Liora.


"Pulang, Ma!" lesu Galen.


"Mama nggak mau tahu, kamu jangan berhubungan lagi dengannya!" tegas Liora.


"Mau nya Galen seperti itu, Ma! Tapi dia hamil," gumam Galen.


Liora tak terkejut, tapi jika dibiarkan Liora khawatir kalau gadis itu akan nekat karena terobsesi dengan Galen.


"Biar mama yang urus! Oh ya, sebentar lagi Reivander akan datang mengunjungi Papamu! Jaga sikap," pinta Liora.


Galen hampir lupa kabar dari Amber kalau alesya sudah ikut tinggal dengan suaminya.


***


Dibantu Arsen, Reivander menurunkan semua foto-fotonya dengan Alira. Butuh satu jam lebih untuk Reivander dan Arsen bebersih. Namun, ia kembali dibuat panik saat menyadari Alesya diantar pelayan ke kamar utama.


"Al?" Panggilnya membuka pintu.


Menghela napas lega saat melihat Alesya tertidur. Segera ia menyingkirkan sisa-sisa foto di kamar itu dan membawanya ke gudang.


Suara gemericik air terdengar, Alesya mengerjapkan mata. Rupanya tadi ia tertidur cukup lama sampai-sampai syok melihat jam di dinding kamar Reivander.


"Lho kok udah bersih? Apa dia yang membereskan semuanya? Perasaan foto-foto istrinya masih ada." Alesya berumam pelan.


Bangkit dari ranjang, Ale sempat mengecek ponselnya yang dimana sejak Karla mengirim video terabaikan begitu saja.


Notif hampir jembol membuatnya menganga tak percaya dengan apa yang terjadi di grup chat kampusnya.


Hya, Alesya masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas ternama di Jakarta. Jurusan management bisnis ia pilih sejak menyandang pewaris kedua keluarga Alnav.


Tarrr!


Alesya melempar ponselnya membentur dinding. Menyadari suara itu, Reivander segera menyudahi mandinya.


"Ada apa?" tanya Reivander begitu keluar dari kamar mandi. Tentu hanya dengan mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Mana sempat ia memakai pakaian di dalam mengingat suara barang terjatuh di kamarnya.


"Tidak ada! Hanya tak sengaja menjatuhkan ponselku hingga rusak."


"Jatuh?" Tanya Reivander, lantas mengikuti arah pandang Alesya tuk kemudian berjongkok dan memungutnya.


"Memang sudah rusak. Bagaimana kalau membeli yang baru?" tawarnya.


"Aku tidak punya uang!" Alesya mendesah pelan. Tak mungkin juga Reivan akan menuruti permintaannya semudah itu mengingat baru sehari semalam mereka menjadi suami istri.


"Aku belikan, sekalian kita beli sesuatu. Mandilah, malam nanti aku ajak kamu bertemu seseorang!" Reivander meletakkan ponsel Alesya di atas nakas lalu beralih ke lemari pakaian.


"Apakah kau juga mau membelikanku gaun, Mas?" Alesya menaik turunkan alisnya.


"Tentu!"


"Oke aku mandi."




"Arsen!" panggil Reivan.



"Kenapa harus selalu bersama Arsen? Apa tidak bisa menyetir sendiri?"



"Bisa! Ya sudah ayo," ajak Reivander mengulurkan tangannya. Alesya terdiam, tapi tangannya tergerak menyambut uluran Reivander.



"Merk apa yang kamu suka?" tanya Reivander.



"Apa aja!"



"Bagaimana kalau itu?" tanya Reivander menunjuk gerai ponsel berlogo apel gigit.



"Aku bilang lagi tak ada uang! Yang murah saja bisa?"



"Pakai uangku! mulai sekarang uangku adalah uangmu! Ayo..."


Alesya tertegun tapi langkahnya mengikuti Reivander yang tampak antusias menyusuri gerai ponsel itu.



"Berapa harga yang ini?" tunjuk Reivander pada ponsel berwarna hijau mint.



"Iph\*ne 14 pro, yang terbaru. Dua puluh lima juta, Pak!" jawab pegawai gerai itu.



"Jangan yang itu," lirih Alesya memegangi tangan Reivan.



"Kamu suka warna apa?" Tak mengindahkan istrinya, ia malah menyusuri warnanya satu persatu.



"Kemahalan, Mas!" pekik Alesya. Bahkan ia sudah mencubit pinggang Reivan saking kesalnya.



"Tak apa kan buat kamu! Ayo pilih satu, kali ini saja!"



"Yaudah terserah warnanya!" Alesya menekuk wajah meski batinnya menjerit kagum pada pria di sampingnya itu.



"Yang ini aja," ujar Reivan menunjuk warna hijau mint.


Pegawai itu mengangguk, setelah melakukan transaksi. Reivander juga meminta pegawai itu mengaktifkan ponselnya sekalian.



Namun, kata kali ini rasanya tak benar-benar membuat Reivander selesai. Ia masih mengajak Alesya menyusuri gerai demi gerai dan membelikan sang istri beberapa baju.



"Mau membeli baju dinas?" tawar Reivan kala mereka melewati gerai pakaian dalam dan segala macam lige rie.



"Ah, sakit Ale!" pekiknya kala Alesya mencubit keras pinggang Reivan.



"Biarin! Aku gak beli ini, emang mau ngapain. Baju kurang bahan gitu kaya saringan air kolam." Alesya memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Sungguh pipinya sudah bersemu merah sekarang.



"Yaudah kita makan." putus Reivander akhirnya.


Puas belanja dan makan, Reivan melajukan mobilnya ke rumah sakit. Ia membeli beberapa buah yang akan dibawa untuk menjenguk Wilson.



"Kesini?"



"Iya, sudah kubilang kan? Aku akan mengajakmu bertemu seseorang!"



Alesya mengangguk, akan tetapi daat ia dan Reivander menyusuri lorong demi lorong rumah sakit perasaannya semakin tak enak.



"Kita mau ketemu siapa sih?" cercanya tak sabar.



"Itu!" tunjuk Reivander pada dua orang yang saat ini tengah duduk di depan ruang rawat.


Seketika tangan Alesya menegang, tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin dengan mata memanas.



"Galen!"