
Tak terasa sudah beberapa hari Rea tinggal di Bandung, meski masih ingin menikmati waktu bersama kedua orang tuanya. Ia harus ikut Bara kembali ke Jakarta, karena bagaimanapun sekarang Bara adalah suaminya.
Pagi tadi, Bara sudah menyiapkan beberapa bingkisan untuk Neya dan Alex, juga untuk para tetangga mereka di Bandung. Namun, untuk tinggal lebih lama rasanya masih belum mungkin. Bara harus kembali bekerja dan Rea harus lanjut kuliah.
Bagaimana kedepannya, Bara serahkan kepada Rea. Mau memilih lanjut atau sementara berhenti tidak masalah sebab tak ada batasan seseorang memuntut ilmu, semua bisa diraih sekarang ataupun nanti.
"Akhirnya kita kembali," ucap Rea, ia tersenyum memandang ke luar jendela.
"Aku punya kejutan untukmu, tapi kita pulang ke rumah Mama sama Papa dulu ya?" ujar Bara.
Rea mengangguk, ia menatap Bara yang fokus dengan stirnya.
"Kejutan apa, Mas. Udah cukup ya kamu ngasih aku ini itu sampai bingung kapan makainya," omel Rea.
"Hahahah, baru beberapa hari jadi istriku kamu mulai bawel ya sayang, tapi gak papa aku suka istri yang bawel, yang ingetin aku ini itu, kalau perlu diomelin juga gak apa-apa asal sampai tua nanti kamu tetep sama aku, gak melenceng apalagi kegoda laki-laki lain," ujar Bara.
"Enggak sih kalau melenceng, asal penggarisnya masih ada hehe."
"Kok penggaris?" Bara mengerutkan kening.
"Iya, biar bisa ngelurusin aku Mas. Kamu penggarisnya, biar aku gak melenceng kan sama yang lain, asalkan kamu gak mulai."
"Aku tuh setia sayang, karena aku menghormati wanitaku seperti aku menghormati Mama. Kalian berdua adalah bagian terpenting dalam hidupku. Mama yang melahirkanku dan kamu yang akan melahirkan anak-anakku."
"Mas, kamu baik banget sih. Terbuat dari apa hati kamu?" tanya Rea.
Bara hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan ucapan Rea.
"Terbuat dari apa ya? yang pasti bukan dari nasi..."
"Ayo makan tiba-tiba aku lapar!" Rea bergumam, menatap keluar, warung-warung berjejeran menyeruakkan aroma masakan, membuat cacing-cacing di perutnya berdemo minta diisi.
"Mau makan apa?"
"Apa aja, tapi kok tiba-tiba pengen makan mangga ya, Mas."
"Hah mangga?" tanya Bara.
Rea mengangguk,
"Kayaknya enak mangga di bikin rujak," ucap Rea.
"Kamu mau, tapi kan ini mangga-mangga baru mau berbunga kayaknya," ujar Bara.
"Tapi aku kepengen." Rea menekuk wajahnya, menatap jalanan.
"Kita makan dulu sayang, makan apa? Nanti aku cariin mangga buat kamu sampai dapat," ujar Bara.
"Oke deh, makan soto aja kayaknya seger."
Bara mengangguk, ia mengajak Rea mampir ke kedai soto. Awalnya Bara ragu, akan tetapi melihat Rea yang sangat antusias membuatnya harus mengikuti kemauan sang istri.
Aroma soto menggoda indra penciumannya. Rea menjadi tidak sabar untuk segera makan. Dan setelah pesanan datang, tak butuh waktu lama bagi Rea untuk segera mencicipinya bahkan menandaskan makanannya.
"Laper banget sayang?" heran Bara, akan tetapi bibirnya mengukir senyum sebab Rea termasuk orang yang doyan makan meski sedang hamil.
"Iya, habis aku pengen banget Mas. Tiba-tiba bayangin aroma soto seger banget," ujar Rea.
Bara hanya terkekeh kecil, ia mengusap sudut bibir Rea dengan tisu. Entah, ia bisa memperhatikan hal-hal kecil jika itu tentang Rea. Padahal, jika dipikirkan dulu ia tak seperti ini saat masih bersama Eliza maupun Najira.
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Bara dengan sigap mendatangi toko demi toko buah untuk mencari mangga. Sayang, ini masih musim berbunga hingga membuatnya sedikit kesulitan menemukan buah itu.
"Kalau nggak ada nggak apa-apa, Mas."
"Aku bakal usahain kok," Bara masuk kembali ke mobil dan mendekat ke arah Rea.
"Demi calon ibu dan anakku," gumamnya seraya mengusap-usap perut datar Rea.
"Mas, makasih ya kamu udah mau nurutin semua keinginan aku, Mas udah nunjukin kalau kamu bener-bener sayang sama aku. Nggak peduli sikap aku yang masih terlalu kekanakan."
"Hey, siapa yang kekanakan? bagiku kamu wanita dewasa, wanita kesayanganku. Mau usiamu masih kecil, tapi pemikiranmu itu udah bisa mengimbangi aku, sayang!"
"Aku seneng, Mas."
"Hm, harus. Istri Bara Alnav harus selalu seneng, bahagia, gak boleh mikirin hal-hal yang aneh, apalagi gak penting."
Rea mengangguk, ia sekarang tahu Bara tak akan lagi menengok ke belakang. Bara tak akan mungkin lagi, mengulang apa yang jadi penyebab ia sakit.
Dan ia harus percaya, dua hati yang disatukan karena sama-sama patah hasilnya akan lebih indah. Sebab, ia pernah mengalami sakit sebelumnya.
Mobil Bara sampai di kediaman Alnav, sayang sekali ia belum bisa menuruti keiinginan pertama Rea. Sebab sepanjang toko buah yang ia datangi tak ada satupun yang menjual mangga di musim buah itu baru ingin berbunga.
"Sayang, ya ampun Mama seneng banget kalian pulang kesini," ucap Rosa yang berada di halaman mengawasi tukang kebun yang sedang merawat tanaman hias favoritnya.
"Mama, bagaimana sehat?" tanya Rea.
Rosa tak menjawab, ia langsung memeluk Rea layaknya putri kandungnya sendiri.
"Anak mama yang mana ini?" sindir Bara dengan raut muka masam sebab Rosa langsung menyambut istrinya bukan dirinya.
"Dih, kamu juga anak Mama. Tapi kan, kamu laki mau minta peluk juga?" tanya Rosa menaik turunkan alis meniru Aron jika sedang mengintimidasi seseorang.
"Ya kalau boleh, kalau Rea nggak keberatan!" ujarnya.
Rosa beralih memeluk Bara, ia tersenyum senang lalu meraih tangan anak dan menantunya agar segera masuk ke dalam rumah.
"Papa mana?" tanya Bara.
"Papa begitu tau kalian pulang sore ini, dia sedang manjat pohon mangga belakang rumah!" jawab Rosa.
"Hah? kenapa, eh maksudnya apa ada buah mangganya?" tanya Bara berbinar.
Rosa menatap Bara menyelidik lalu beralih kw Rea, kecurigaan ia dan Aron semakin menjadi.
Beberapa jam yang lalu,
"Hari ini Bara pulang, Pa. Sebelum pindah ke rumah barunya, dia mau mengajak Rea kesini." Rosa menyampaikan kabar kepada Aron.
"Mama serius?" tanya Aron dibalas anggukan istrinya.
"Iya, kira-kira tebakan Mama kalau Rea hamil benar nggak ya, Pa?"
"Mungkin benar, toh mereka kan sudah pernah melakukannya. Bukankah Bara sendiri yang sudah mengaku?"
"Iya, tapi Mama takut kecewa." Rosa cemberut, ia ingin sekali segera menimang cucu dari lama bahkan dari Bara masih menjadi suami Najira.
"Kita pancing aja, Ma? gimana?"
"Mama ada ide," ucap Rosa seraya membisikan sesuatu. Dan akhirnya Aron setuju, ia melihat pohon mangga belakang rumah ada beberapa biji.
Misi ia dan Rosa nanti begitu Bara datang adalah memancing Rea dengan mangga.