
Jadilah kuat karena kau seorang laki-laki,
Rea~
Revan dan Rea baru sampai di depan ruang rawat Najira. Melihat Bara keluar dengan ekspresi kesal membuat Rea segera mencekal pergelangan tangan laki-laki itu.
"Hah..." Bara sadar masih dikuasai emosi, lalu dengan segera Rea menarik tubuhnya untuk duduk di kursi tunggu luar.
"Mas Revan, masuklah temani Mba Najira," pinta Rea yang diangguki kepala oleh Revan.
Sementara Bara tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
"Mas, ada apa?"
"Tidak ada, ayo pulang! Temani aku sebentar," pinta Bara dengan senyum.
Senyum yang bisa Rea lihat terselip kegetiran disana. Namun, untuk bertanya terus adalah hal yang tak mungkin. Bagi Rea, Bara membutuhkan ruang dan waktu, perihal apa yang terjadi Rea percaya Bara akan jujur dengan sendirinya.
"Ayo, jangankan pulang. Mau kemanapun aku temani, Mas."
Sudut bibir Bara terangkat, ia sudah bisa kembali senyum lega hanya dengan ucapan sederhana Rea.
"Ayo, kalau begitu aku ajak kamu keliling dunia." Bara membuka telapak tangan, Rea dengan segera meraihnya.
"Dengan senang hati, Mas."
Keduanya berjalan meninggalkan bangsal dengan tangan saling bertautan. Sementara di dalam, Revan sendiri tak kuasa menahan sesak saat tahu kenyataan yang ada.
"Aku memang jahat, Mas. Aku masih istri sah Mas Bara waktu itu, tapi aku melupakan satu hal saat denganmu," ucap Najira di sela isaknya.
"Tidak apa, asal kamu baik-baik saja Najira. Jangan terus merasa bersalah, aku yakin lambat laun kekecewaan Bara akan menghilang dengan sendirinya."
Tangan Najira terangkat mengusap pipi Revan. Mungkin jika saat itu ia tak nekad menuruni tangga, Najira tak akan melihat wajah Revan yang menyedihkan seperti ini karenanya.
"Mas Bara itu baik, tolong kamu restui dia sama Rea, Mas."
"Iya iya aku tahu, aku akan merestui mereka demi kamu, demi kebahagiaan Rea juga."
Najira tersenyum, "akhir-akhir ini, aku selalu merasa kamu orang yang tepat."
"Honey, kamu jangan banyak mikir ya. Ada aku yang akan selalu di sisimu. Setiap luka pasti ada obatnya, aku yakin Bara tidak akan selamanya membenci kamu."
"Aku tak begitu yakin." Najira memalingkan wajahnya.
***
"Mas, ada apa? kenapa setelah keluar dari ruang rawat Mba Najira wajahmu jadi murung?" tanya Rea dengan hati-hati
lantaran Bara sedari tadi diam.
"Tidak ada, Rea."
"Baiklah." Rea memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela, berharap sikapnya membuat Bara sedikit peka dan mau berbagi dengannya.
"Kenapa dia masih diam, apa aku tidak cukup dipercaya untuk tahu?" batin Rea bertanya-tanya, ia pun memutuskan mengirim pesan kepada kakaknya. Barangkali, Revan tau kenapa Bara bersikap murung setelah bicara dengan Mba Najira.
Sial sekali, Revan tak membalas bahkan membuka pesan watshapnya.
"Aku mau pulang," ucap Rea setelah berulang kali menghela napas.
"Oke."
Mendengar jawaban Bara, Rea semakin mengerucutkan bibirnya sebal. Kenapa laki-laki itu tak peka kalau dirinya sedang merajuk?
Mobil Bara sudah memasuki gerbang masuk kos-kosan.
Sepi, lantaran tiap hari minggu kebanyakan penghuni kos menikmati waktunya untuk keluarga atau bepergian. Rea turun dari mobil tanpa menunggu Bara dan langsung berlalu menuju kamar kosnya.
Bara menatap Rea yang tak biasa dengan kening mengkerut, akan tetapi langkahnya dengan cepat menyusul sang kekasih.
"Mas," pekik Rea terkejut saat ia masuk dan ingin menutup pintu tapi tubuh Bara sudah berada di hadapannya.
"Kamu marah?" tanya Bara menahan pintu untuk kemudian menerobos masuk.
"Nggak ada, kan biasanya kalau pulang ke kosan Mas Bara masuk ke kamar sebelah." alibi Rea.
"Nggak, kamu pasti marah kan."
"Hm." Rea hanya berdehem.
"Memangnya aku ini apa? adonan donat, yang didiamkan akan berkembang, akan tahu dan peka tanpa dijelaskan?" batin Rea.
Hingga sore menghilang dan berganti malam, Bara masih setia berada di ruangan kecil kamar Rea.
"Sampai kapan Mas mau ngumpet disini?" tanya Rea sebal.
"Sampai kamu nggak kesel lagi sama aku."
"Iya." singkat Rea.
"Duh kesel banget ya, sampai manyun gitu? jelek tau."
"Mass, timpuk nih." ancam Rea.
"Sini, duduk sini! jangan LDR-an padahal nggak sedang jauhan." Bara menepuk sisi sebelahnya agar Rea mendekat.
"Gak mau!!"
"Re, aku cium kalau nggak mau." ancam Bara.
"Huft, Mas Bara ini kenapa? tadi aku nanya diem sekarang bujuk-bujuk, sebel jadinya." gerutu Rea.
"Gak kenapa-napa, cuma lagi kecewa!"
Rea mendekat dan duduk di sebelah Bara.
"Cerita sama aku, aku bisa menjadi pendengar yang baik, selain dari pada itu aku bisa membuat masalah Mas Bara jauh lebih ringan."
"Rea, sudah satu bulan apa kamu tidak hamil?" tanya Bara.
Deg.
Rea terdiam tiba-tiba, "bagaimana mungkin hanya dengan melakukannya sekali dan tanpa kesengajaan akan membuatnya langsung hamil?" batin Rea.
"Rea, aku sangat ingin punya anak." Bara menatap Rea lekat-lekat, Rea hanya mampu meringis tak dapat berkata apa-apa, karena pada kenyataannya ia belum memikirkan hal sejauh itu.
"Mas..."
"Sttt, jangan membantahku." Bara mengubah posisi menjadi menghadap Rea. Tubuhnya ambruk hingga kepalanya tertunduk lesu di bahu gadis itu.
"Mas, sebenarnya ada apa?" Rea membiarkan Bara di posisinya, meski berat ia berusaha menahan beban tubuh Bara.
Biarkan saja, asal laki-laki itu nyaman. Toh tidak akan berlangsung lama.
"Jangan menolakku, aku mau kamu jadi ibu dari anak-anakku, aku mau kita menikah lalu memiliki anak, kamu mau kan?"
"Mas..." Rea tak mampu menjawab apapun, ia hanya bisa mengusap-usap punggung Bara. Tapi, kenapa ia merasa ikut sakit. Rea merasa Bara sedang meluapkan kekecewaannya bukan keinginannya.
"Jawab Rea."
"Iya, Mas! Sudah ya," ucap Rea. Bahkan kini ia bisa merasakan bajunya sedikit basah.
"Mas nangis?" tanya Rea ia meraih lengan Bara agar wajah laki-laki itu mendongkak, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Enggak." elak Bara, langsung menampilkan senyum.
"Ck!" Rea berdecak, akan tetapi tangannya menangkup kedua pipi Bara.
"Mas Bara, kamu harus kuat karena kamu laki-laki. Jadilah kuat untukku," ucap Rea.
"Tentu, aku kuat karena wanita hebat ini, kamu satu-satunya alasan aku baik-baik saja, Rea."
"Oh, ya Mas? kamu manis sekali, aku jadi tenggelam nih."
Rea tersenyum, jarak semakin terkikis hingga membuat hembusan napas keduanya bersautan, tak butuh waktu lama bagi Bara untuk menemukan obatnya. Karena baginya, cukup keberadaan Rea menjadi obat dari segala rasa sakit dan kecewa.
Cukuplah hanya Rea, dan melihat tawa-tawanya membuat Bara bisa melupa tentang kekecewaan dan pengkhianatan masalalunya.
Malam ini, lagi dan lagi Bara habiskan hanya bersama Rea, berada di sisi gadis itu membuatnya selalu merasa tenang. Hingga Bara tak ingin rasanya sejengkal pun lepas memandangi senyum manis nan teduh itu.
***
Rea membulatkan mata, saat pesan Revan masuk ke dalam ponselnya. Bibirnya kelu, lalu pandangannya beralih pada Bara yang terlelap di sisinya, diatas kasur tipis kos-kosan kamarnya. Rea bahkan sampai tak tega membangunkan Bara, malam ini ia kembali berbagi tempat tidur dengannya.
"Aku akan berusaha agar tidak membuatmu kecewa, Mas! Jadilah kuat untukku, kamu berhak bahagia," gumam Rea pelan di depan wajah Bara, tangannya terusik untuk mengusap rahang tegas nyaris sempurna itu.