
Sore itu, di bawah matahari senja yang mulai memudar Bara mengantarkan Rea pulang ke kos. Sebab, Rea tak ingin kedua sahabatnya khawatir dengan hilangnya dia dua hari ini. Namun, baik Bara dan Rea dibuat terkejut saat menangkap Devan keluar dari kamar Amy.
"Van, ngapain?" tanya Bara.
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal melirik ke arah kamar Amy.
"Yang cepet ganti baju kok malah be..." ucap Amy seraya keluar akan tetapi langsung terdiam saat melihat adanya Bara dan Rea disana.
"Yang?" tanya Rea.
"Hehehe, Rea! Itu kami sebenarnya..." Amy terdiam tak melanjutkan.
"Kami pacaran," ujar Devan menarik bahu Amy dan merangkulnya.
"Hah?" Rea terkejut, akan tetapi dalam sekejap merubah ekspresinya.
"Wah selamat, akhirnya temanku ikut bahagia." Rea tersenyum senang.
"Congrats Bro!" Bara menepuk bahu Devan, ia sampai lupa bahwa semenjak Devan kerja di kantornya bahkan belum bertemu laki-laki itu. Belum selesai keterkejutannya satu mobil kembali berhenti di luar gerbang, tepatnya di belakang mobil Bara.
"Siapa lagi itu, Amel mana?" tanya Rea.
Amy mengedikkan bahunya, tak tahu.
"Akhir-akhir ini, aku tak melihat Amel setelah dia pamit pulang waktu itu." jelas Amy.
"Mungkin sibuk, sudahlah. Kami masuk dulu ya," ujar Bara. Devan dan Amy mengangguk.
"Tunggu, Mas. Itukan Mas Tama," ucap Rea sontak membuat mereka bertiga menoleh. Tama keluar dari pintu mobil dan memutar tubuh. Sedikit tak sabar, Rea dan Bara yang ingin tahu pun mengurungkan niatnya untuk masuk.
Tama menggaruk kepalanya, begitu masuk ke jalan dimana kosnya Amel. Ia berulang kali mengelus dada, kok kebetulan!
"Kenapa Mas?" tanya Amel yang bisa membaca keterkejutan Tama.
"Itu bukan kosmu?" tanya Tama sekali lagi memastikan.
"Iya Mas. Wah, itu mobil cowoknya Rea."
Melihat Amel yang terlihat senang, mau tak mau Tama harus mempersiapkan diri bertemu Bara dan Rea.
"Bukannya pagi tadi Bara ke Bandung, kenapa sudah sampai sini saja," batin Tama dengan Tangan sebelah memijat pelipis. Lagi-lagi suara lembut Amel mengagetkannya.
"Kok malah bengong, ayo turun Mas?"
Tama tersadar, ia turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil sisi Amel.
"Makasih Mas Tama," ujar Amel tersenyum manis, tak menyangka jika Tama sangat baik dan perhatian meskipun hubungan mereka berlandaskan perjodohan.
Sebelum Amel melangkah, Tama menahan tangan gadis itu.
"Boleh pinta tolong," ujar Tama.
Amel mengangguk, "iya Mas."
"Tolong jangan kasih tau Bara dan Rea kalau kita berkencan hari ini, kamu cukup bilang bertemu di acara keluarga." Mohon Tama. Amel sedikit mengernyitkan dahi, akan tetapi detik berikutnya ia mengangguk.
"Mel?"
"Tama?"
Bara dan Rea menatap mereka dengan ekspresi tanda tanya, pun juga dengan Amy. Sedangkan Devan sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar kos miliknya.
Tak berselang lama, mereka semua sudah duduk bersama di teras kos beralaskan karpet kecil milik Amy.
Bara masih tak menyangka jikalau Tama dekat dengan Amel.
"Jadi perkataan Amel waktu itu benar?" tanya Rea yang masih mengungat jelas dimana Amel bilang bertemu dengan Mas Tama.
"Hah?" Amel menggaruk kepalanya, ia bahkan lupa pernah bilang seperti itu.
"Iya aku inget, jadi Tama yang ini," Bara melirik ke arah Tama yang gelagapan.
"Kami baru bertemu beberapa kali di acara keluarga," ujar Amel meluruskan.
"Mel, Bara ini Boss yang aku ceritakan?" ujar Tama.
"Waw, jadi Boss yang nyebelin dan egois itu Mas Baranya Rea?" tanya Amel, seketika menutup mulut saat tersadar ucapannya.
"Tam, kamu ngomong apa sama Amel?" Bara menatap tajam ke arah Tama.
Bara mendekus sebal, sekalipun itu benar kenyataannya. Ia menatap sengit Tama seolah laki-laki itu musuhnya.
Rea hanya bisa menepuk-nepuk bahu Bara dan menyabarkannya.
"Makanya Mas jangan suka menindas Mas Tama, yang dia omong bener adanya kok," bisik Rea.
Bara semakin sebal, akan tetapi hanya bisa berulang kali menghela napas menghadapi mereka.
Semenyebalkan itukah diriku?
***
Di sisi lain, Erlangga menyeret Kanaya masuk ke sebuah club malam, tentu saja tanpa pengetahuan sang istri. Ia terus menyeret anak tirinya menyusuri kerumunan orang-orang. Erlangga sudah berjanji akan membawa Kanaya untuk Alan, orang yang bersedia membantu perusahaannya sekali lagi.
"Masuk dan temani Tuan Alan!" perintah Erlangga.
"Sampai kapan Papa mau berhenti? Aku lebih baik mati dari pada harus melayani Om-om itu!" pekik Kanaya berusaha melepaskan diri.
"Masuk!" tegas Erlangga tak menerima penolakan.
"Kalau kamu mati, aku akan menyiksa Mamamu hidup-hidup," ujar Erlangga mengancam.
Deg.
Tubuhnya lemas seiring tangan kekar Erlangga yang mendorongnya masuk ke dalam ruang VIP.
Di sana, Alan sudah menunggunya dengan tatapan dingin dan sinis.
Alan bangkit mengunci pintu, dan mendorong tubuh Kanaya.
"Baby, jangan diam saja! Aku tidak sedang membeli patung untuk menyenangkanku!" bisik Alan.
"Tolong, Om! Lepaskan saya," mohon Kanaya.
"Melepaskanmu? apa kamu bisa mengembalikan uang ratusan juta yang dibawa orang tuamu. Kau sangat menyedihkan, bukankah lebih bagus ikut denganku?" tawar Alan.
"K-kau sudah punya istri," ucap Kanaya bergetar.
"Ck! Siapa yang akan menjadikanmu istri hah? kau tak sebanding dengan istriku, aku hanya akan menyimpanmu! itu lebih baik ketimbang kau kembali ke tua bangka itu, dia bisa menjualmu lagi ke orang kaya lain."
"Ampun," rintih Kanaya saat laki-laki itu mencengkram dagunya.
"Minum!" titahnya meminta Kanaya membuka mulut.
Kanaya hanya bisa pasrah bahkan ketika Alan membuat wajahnya lebam.
"Dasar psi kopat." batin Kanaya, ia harus bisa berfikir bagaimana caranya kabur dari laki-laki ini.
Alan membawa Kanaya pergi dari club, membawanya ke sebuah hotel.
"Dasar mu rahan." maki Alan seraya menggendong Kanaya yang hampir tak sadarkan diri.
Alan menghempas tubuh Kanaya ke atas ranjang, mengikat tangan gadis itu dengan ikat pinggangnya.
"Nikmati permainanku, Baby!"
Alan tersenyum puas, ia bisa melampiaskan dengan kasar pada Kanaya. Rupanya gadis itu masih sama sempitnya seperti pertama kali.
"Ampun!" rintih Kanaya dengan air mata berurai saat Alan berulang kali menghujamnya dengan kasar.
"Hah ampun? Jangan harap, nikmati saja permainanku!" pekik Alan menarik rambut Kanaya agar gadis itu mendongkak dan mau menatapnya.
Setelah puas, ia meninggalkan Kanaya begitu saja dengan uang berserakan di atas tubuhnya.
Saat terbangun, Kanaya hanya bisa menangis histeris meratapi nasibnya.
"Rea, apa kau melihat Kanaya?" sapa Danis begitu melihat mantannya itu memasuki gerbang kampus.
Rea mengerutkan keningnya, "tidak ada, aku tidak melihatnya!" Jawab Rea sambil berlalu.
"Bisa membantuku mencarinya, aku melihat dia semalam diseret paksa Papanya!" mohon Danis, entah kenapa ia merasakan Kanaya sedang dalam masalah.
"Oh, oke!" jawab singkat Rea.
"Baik, aku tunggu disini setelah jam kuliahmu usai."
Rea mengangguk, ia meninggalkan Danis begitu saja. Namun, entah mengapa kali ini ia mempercayai laki-laki itu.