SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 53



Matahari mulai merangkak, sinar cahaya keemasan samar-samar menerobos masuk kamar apartemen milik Bara. Rea mengerjapkan mata, merasa tidurnya begitu nyaman semalaman membuatnya sedikit heran.


"Loh kok." Rea terkejut saat mendapati tubuhnya berada di atas ranjang, matanya menangkap sosok Bara yang masih pulas dengan tangan memeluk perutnya bak guling hidup.


"Pantes berat," gumam Rea kemudian dengan hati-hati memindahkan tangan Bara agar laki-laki itu tak terusik tidurnya.


"Ganteng banget Mas Bara kalau lagi tidur," gumam Rea, "makasih ya udah gendong aku dari sofa semalem, aku ketiduran juga nungguin kamu nggak pulang-pulang." Rea tak jadi bangkit ia malah mengubah posisi menghadap Bara dan mengusap-usap rahang tegas berbulu tipis itu.


Setelah puas memandangi Bara, ia hendak bangkit akan tetapi tangan dan kaki Bara mencekal tubuhnya.


"Mas Bara, dia masih tidur tapi tangannya ih..." Ingin rasanya Rea protes. Namun, urung karena melihat Bara sepertinya sangat lelah.


"Hm, jangan pergi!" Bara bergumam pelan.


"Aku mau mandi, Mas. Jam delapan ada kuliah."


"Tapi aku kangen, apalagi pas denger kamu bilang aku ganteng jadi makin kangen kan." Bara merapatkan tubuhnya dengan kaki menahan tubuh Rea di bawah selimut.


Rea merasakan degup jantungnya berdetak cepat, matanya membulat dengan bibir meringis.


"Mas..."


"Dia jadi bangun kan pagi-pagi, kamu sih yang gak bisa diem."


"Hah?" Rea sama sekali tak paham apa yang dimaksud Bara.


"Apaan sih Mas, aku nggak ngerti kamu ngomong apa?" tanya Rea.


"Haha bukan apa-apa, aku dulu yang mandi." Bara segera bangkit dan berlalu dengan cepat, sial sekali hasratnya harus bangun karena kepolosan Rea. Hal itu terpaksa membuatnya mengguyur badan dengan air dingin agar mereda.


"Apa karena..." Rea mengatupkan mulut, ia sempat merasakan ada yang tegak di bagian bawah tubuh Bara saat menempel dengan kakinya.


Mendadak otak lemotnya traveling dan wajah Rea seketika memerah bak udang rebus.


"Ampun, ini otak me s*m banget sih." Rea memukul-mukul kepalanya yang tiba-tiba membayangkan sesuatu.


"Rea..." panggil Bara dari dalam kamar mandi.


"Iya, Mas? perlu sesuatu?" tanya Rea, ia mencoba mendekat ke arah pintu kamar mandi barangkali Bara memang membutuhkan bantuan.


"Iya, aku perlu bantuanmu. Mendekatlah!" pinta Bara.


"Aku sudah di balik pintu," ucap Rea.


Ceklek, Bara membuka pintu kamar mandi dan langsung menarik Rea masuk ke dalam.


"M-mas." pekik Rea reflek menutup wajahnya.


"Aku memakai baju kenapa harus menutup wajah," ucap Bara, Rea perlahan membuka jemarinya, mengintip sedikit dan betapa terkejutnya ia melihat Bara tanpa sehelai benang pun.


"Mas, baju apaan? astaga!" pekik kembali menutup wajah.


"Ayo tanggung jawab, dia bangun karenamu!" Bara memegang tangan Rea agar membuka wajah dan menatapnya.


Rea menggeleng,


"Aku nggak bisa menahannya sayang!" lirih Bara dengan suara berat.


"Aku harus bantu gimana?" tanya Rea dengan polosnya.


"Menuntaskannya." Bara merapatkan tubuhnya membuat Rea kelabakan.


"Astaga apa itu?" Rea merasakan lagi saat sesuatu tegang di bawah sana menempel pada tubuhnya meski terhalang kain celana.


"Apalagi, kamu yang membuatnya berdiri, kamu juga yang harus menidurkannya," bisik Bara seketika membuat tubuhnya meremang.


Bara menyingkirkan tangan Rea dengan segera agar bisa mencicipi bibir merah jambu itu.


"Mmh..." Napas Rea terengah setelah kedua bibir itu terlepas, dan saat tangan Bara berusaha menyingkap kaosnya, Rea hanya membeku, diam tanpa penolakan.


Tak butuh waktu lama bagi Bara untuk menanggalkan pakaian atas Rea.


"Sempurna!" gumam Bara tak sabar.


"He he, kenapa harus malu. Hanya ada aku sayang." Bara menarik tangan Rea agar menyentuh dada bidangnya.


"Aku juga cuma milikmu," desis Bara.


Rea mengangkat wajahnya sedikit, pipinya masih bersemu dan ini pertama kalinya dalam keadaan sadar.


"Kamu sangat seksi, sayang. Are you ready?"


Merasa tak ada penolakan, Bara membopong tubuh Rea dan merebahkannya ke dalam bathub berisikan air hangat.


"Mas, kita mau ngapain?" Rea masih saja merasa takut meski ia yakin tak akan bisa menolak pesona Bara.


"Hm, ngapain lagi?" tanya balik Bara dengan seringai, Rea memalingkan wajahnya saat tubuh Bara tepat berada di atasnya, sedikit lagi mungkin kejadian waktu itu akan kembali terulang.


Bara menjejaki leher Rea dengan gigitan-gigitan kecil hingga meninggalkan bekas merah. Rea hanya mampu pasrah saat kedua tangan Bara menahan telapak tangannya dan tubuh kekar itu terus menghim pit tubuhnya.


Bara turun ia membuka satu persatu kain penghalang terakhir dan melemparnya ke sembarang arah hingga tubuh polos Rea terekpos matanya, ia berdecak kagum sekaligus menelan saliva tak tahan.


"Angkat kakimu sayang," bisik Bara memerintah. Rea diam, terpaku akan tetapi menurut, kakinya terangkat sedikit dan itu mempermudah Bara untuk melakukannya.


"Akan sedikit sakit, tapi hanya sebentar!" gumam Bara seolah menenangkan Rea.


Rea masih enggan menjawab, ia memalingkan wajahnya lesu. Sedangkan Bara membimbing dirinya untuk awal penyatuan, sedikit sulit sebab melakukannya di kamar mandi.


"Akh..." pekik Rea pelan, Bara langsung meraup bibir itu dengan ciuman, sementara yang di bawah sana ia telah berhasil masuk dengan pelan.


"Mas..." panggil Rea, ia merasakan sensasi aneh saat Bara melakukannya, apakah memang seperti ini rasanya? melakukan hubungan dengan sadar.


"Iya sayang!" Bara tersenyum dengan tubuh naik turun perlahan.


"Kamu sempit," bisik Bara melirik nakal.


"Mas, aku mau pipis." pekik Rea karena ia tak tahu perasaan macam apa ini.


"Hm, tak apa! Keluarkan."


"Eugh..." Rea meringis, ia berusaha menahan suaranya agar tidak mende sah.


Bara menyukainya, Bara semakin menyukai ekspresi polos Rea yang menggemaskan.


"Uhh..." Bara ambruk saat mencapai puncak, ia memeluk Rea erat dengan tubuh terendam air hanya menyisakan kepalanya.


"Mas aku harus ngampus, jam delapan ada kelas." pekik Rea panik, akan tetapi tubuhnya terasa nyeri karena kejadian tadi.


"Bolos saja." Bara memandang Rea memelas.


"Bolos?" tanya Rea.


Bara mengangguk, ia bangkit dari bathub dengan tubuh polosnya.


"Ayo?" Bara mengulurkan tangan untuk Rea, gadis itu menurut dan ikut bangkit. Setelah berdiri, Bara dengan sigap membopong Rea untuk kembali ke kamar.


"Kita lanjut disini," pinta Bara merebahkab tubuh Rea ke atas ranjang dan kembali mengung kungnya.


"Aku mau kuliah, Mas."


"Besok saja, sekalian aku kasih pelajaran Danis itu."


Rea hanya bisa mengangguk lesu, akan tetapi matanya menatap tak berkedip dada bidang milik Bara yang sispack.


"Pegang aja gapapa," goda Bara dengan senyum nakal. Rea mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajah. Baru saja Bara ingin kembali menghentakkan tubuhnya, bunyi perut Rea terdengar keras.


"Oh, kamu lapar sayang. Maaf, aku sudah membuatmu kelaparan." Bara bangkit dan kembali ke kamar mandi. Rea hanya tertegun dengan mata menerawang jauh.


"Apa aku semurah itu sampai tidak bisa menolak perlakuan Mas Bara?" batinnya bermonolog. Hingga laki-laki itu keluar, Rea mendadak hilang semangat. Ia merasa terlalu mudah hanyut dalam perasaan hingga melakukan segalanya atas nama cinta.


"Mas?" panggil Rea setelah melihat Bara sudah mengenakan pakaiannya.


"Ini, pakailah. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan Rea. Tenang saja, aku akan segera menikahimu!" tegas Bara.