SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 81



Kasih sayangmu membekas


Redam kini sudah


Pijar istimewa


Entah apa maksud dunia


Tentang ujung cerita


Kita tak bersama


Semoga rindu ini menghilang


Konon katanya waktu sembuhkan


Akan adakah lagi yang sepertimu


Kukira kita akan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira ini kan mudah


Kau aku jadi kita


Kau melanjutkan perjalananmu


Ku melanjutkan perjalananku...


(Tulus - hati-hati di jalan)


***


'Kau sungguh sudah pergi sayang? kau sungguh membiarkanku sendiri disini, kenapa takdir begitu tega memisahkan kita? Aku tahu, terlalu fatal kesalahan kami di masa lalu, tak bisakah takdir menegurku baik-baik? aku bukan hanya kehilangan istri, cinta, tapi juga separuh hidupku.'


Revan menunduk, ia terus meratapi kesedihan di apartemen kecil miliknya. Barangkali, sebentar saja ia merasakan keberadaan Najira disana. Barangkali, wanita itu tak benar-benar pergi meski raganya tak lagi bisa tersentuh.


Revan menghempas tubuh lemasnya ke atas ranjang, berbaring menatap langit-langit kamar disana. Seluruh ruangan itu bahkan dipenuhi oleh bayangan Najira. Senyumnya, lembutnya, manjanya. Kenapa? kenapa ia harus mengalami nasib seperti ini?


"Arghhhhhhhh..."


Revan memukul-mukul kepalanya dengan tangan berharap setelahnya ia bisa sebentar saja hilang ingatan.


'Aku menaruhmu terlalu dalam di hati ini


Sehingga untuk menghapusmu aku seperti melukai diriku sendiri.'


Revan bergumam, ia benar-benar frustasi ditinggal oleh Najira.


Ting tong...


Ting tong...


Revan menghapus sudut matanya, selain Najira hanya Rea dan orang kantor yang mengetahui tempat tinggalnya. Lantas siapa yang datang malam-malam begini? Revan jadi ingat, Najira memang sering mendatanginya malam-malam dulu jika suaminya ke luar kota.


Mengenang hal itu, ia semakin sesak dan sedih. Dengan tubuh lunglai ia melangkah keluar kamar untuk melihat siapa yang mendatanginya kali ini.


Ting.


Pintu terbuka. Bara berdiri diambang pintu dengan menenteng keresek membuat Revan membelalakkan matanya terkejut.


"Kau tidak sedang ingin bunuh diri bukan? kenapa terkejut melihatku?" tanya Bara dengan wajah datar.


"Aku, aku hanya tidur!" bohong Revan.


"Duh kau menangis kakak ipar! Aku tau kau sedih, tapi disini aku lebih kasian dengan istriku di rumah yang tak henti-hentinya memikirkanmu. Ini makanlah, kata Rea kau belum makan sedari pagi."


"Jangan berlagak lucu, kau sama sekali tak bisa menghiburku!" gerutu Revan.


Namun, sebenarnya kedatangan Bara kali ini cukup ingin membuatnya tertawa.


"Kau bisa mendapatkan gadis manapun yang kau mau, jangan bunuh diri lah."


"Kau!!!" Revan menyeret lengan Bara masuk apartemen, dan menghempasnya di sofa.


Bara membiarkannya saja, toh asal bisa menghibur kakak iparnya yang bodoh, ia tak masalah.


Malam itu, Revan sedikit terhibur dengan kedatangan Bara. Orang yang pernah ia khianati justru adalah orang yang paling perduli dan mampu membuka pikirannya.


Namun, Revan sudah memutuskan menutup hatinya rapat-rapat entah sampai kapan.


***


Hingga tanpa terasa sudah lebih dari tujuh hari kepergian Najira, kedua mertuanya pun pamit kembali ke Bandung sedangkan dirinya dan Rea akan kembali ke rumah baru yang bahkan belum sempat mereka tinggali waktu itu.


"Kami akan pulang, Ma, Pa," Pamit Bara kepada Aron dan Rosa.


"Kalian ini, berbulan madulah. Tak perlu jauh-jauh, asal kamu dan Rea senang," pinta Aron.


"Papamu benar, perusahaan sedang stabil jadi bisa kamu tinggal, ke Bali misalnya."


"Akan aku pikirkan nanti, tergantung bagaimana Rea, iya kan sayang?" Bara melirik Rea.


"Iya, Ma, Pa. Soalnya kondisi badan Rea juga tak menentu, kadang sehat kadang mager gak ketulungan," ucap Rea malu-malu.


"Harus rutin minum vitaminnya sayang, juga banyak makan buah dan sayur. Tapi anak kamu termasuk bandel loh, nggak rewel dia pas kita-kita kemarin dalam suasana hati kurang baik." terang Rosa.


"Eh, iya Ma." Rea menggaruk kepalanya.


"Hm, ya sudah. Kalian hati-hati ya, jaga diri dan kesehatan. Kalau jadi honeymoon kabari saja lewat telepon." perintah Aron.


Rosa mengambil sesuatu ke dapur, kembali menenteng dan menyerahkannya pada Rea.


"Salad buat kamu, ini buatan Mama sendiri."


"Wah Mama, makasih banyak!"


"Iya, pokoknya kalian happy-happy aja. Jangan mikirin yang berat. Oh ya, kata Papa kakakmu sudah mulai bekerja hari ini, jadi Rea! Kamu jangan banyak pikiran."


"Iya, Ma. Itu semua juga berkat bantuan Mas Bara."


"Mama masih gak nyangka loh kalau Bara itu mau berbaik hati sama orang yang pernah menyakitinya."


Deg.


"Mama apaan, kenapa jadi bahas hal itu."


Rea mengangguk, ia paham posisi kakaknya jadi bagaimanapun penilaian orang, dirinya tak akan mengambil pusing.


Kini mereka sudah sampai di rumah baru, akan tetapi sepanjang jalan Rea terus terdiam enggan bicara membuat Bara kewalahan.


"Jangan mikirin omongan Mama sayang, aku tulus kok hibur kakak kamu."


Rea masih terdiam, ia sama sekali tak memikirkan ucapan Mama Rosa. Melihat kakaknya kembali bekerja saja sudah menurutnya jauh lebih baik.


"Sayang, kalau nggak di jawab aku cium nih!" ancam Bara.


"Eh, astaga. Maaf aku ngelamun Mas," ucap Rea. Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan suaminya dan malah asyik dengan lamunannya sendiri.


"Mikirin apa?" tanya Bara, ia sampai menghentikan mobilnya dan menatap dalam sang istri.


"Enggak sih, gak mikir apa-apa."


"Jangan bohong, jangan sembunyiin sesuatu, atau mikirin sesuatu yang gak aku tahu ya? kita itu suami istri loh. Harus saling jujur dan berkomunikasi yang baik, aku nggak mau kalau kamu ditanya cuma jawab 'gak apa-apa', terus tiba-tiba bilang aku gak peka."


"Hehehehe, iya iya Mas!" jawab Rea cengengesan.


Suaminya itu sepertinya sudah mulai bawel dalam banyak hal, mungkin karena dulunya ia cuek dan di hubungan yang sekarang tak ingin terulang lagi lantas membuat Bara sedikit cerewet.


"Aku lagi mikir nih, kayaknya kita emang perlu healing deket-deket deh. Capek banget rasanya padahal gak habis ngapa-ngapain," ujar Rea.


"Oke deh, oke. Besok ya? hari ini pulang dulu, siap-siap dulu, besok kita healing."


"Hm, oke sayang!"


"Panggil sayang aja terus, jangan Mas-mas, tar dikira kita kakak adek!" gumam Bara.


"Hm, gitu ya? Nggak ah, balik Mas aja lagi kalau begitu."


"Hm, panggil s-a-y-a-n-g."


"Iya iya Mas Bara sayang," ujar Rea.


"Nah gitu kan cantik istriku," ucap Bara sebelum akhirnya kembali melajukan mobil pulang ke rumah.


***


Pagi itu, Bara benar-benar mengajak Rea ke pulau seribu. Tempat healing yang paling dekat dan tak beresiko untuk Rea.


Selain liburan, ia juga ingin mengenang masa-masa dimana Rea berhasil membuka pikirannya dan Bahkan membuatnya jatuh cinta dalam waktu yang singkat.


"Kamu seneng sayang?" tanya Bara begitu turun dari kapal dan langsung disambut pemandangan indah pulau seribu.


Rea mengangguk, senyum terkembang di wajah ayunya.


"Aku seneng banget, Mas. Makasih ya udah mau nurutin setiap kemauan aku," ucap Rea.


"Ini belum seberapa, Sayang."